Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 121 - Melawan Ketakutan....


__ADS_3

"Aku takut, Zeta. Aku takut pantai....pantai adalah tempat Mamaku terbunuh. Aku takut! Takut! Deburan ombak itu seolah mengingatkanku pada kejadian pembunuhan itu," ucap Valko lirih. Dia memelukku semakin erat.


"Tuan, Nona, sudah sampai," ucap Sekretaris May. Dia menatap ke arah Valko. "Tuan, Anda baik-baik saja?" tanya Sekretaris May. Valko tak menjawab. Dia tetap bersembunyi di balik punggungku. Keringat dingi terasa menetes dari tubuhnya. "Tuan, apa perlu saya panggilkan dokter?" tanya Sekretaris May.


"Pak May, kau dan Pak Sopir keluarlah terlebih dahulu. Tunggulah di luar. Biar aku yang menemani Valko," perintahku.


"Baik, Nona," sahut Sekretaris May. Dia keluar dari dalam mobil bersama dengan Pak Sopir.


Kutatap ke arah jendela mobil. Mobil itu sudah berhenti tepat di dekat pantai. Lautan yang biru nampak jelas terlihat. Pasir pantai yang putih bersih berkilauan seakan memanjakan mata. Deburan ombak terdengar sangat jelas dari sini.


Valko benar-benar memelukku dengan erat. Keringat dingin menetes dari tubuhnya. Tangannya terasa amat dingin. Aku bisa memahami ketakutannya. Ibundanya terbunuh saat mereka sedang berlibur di daerah pantai. Valko mengalami trauma mendalam hingga sekarang. Aku tak tahu tempat apa yang akan dikunjungi Valko. Mungkinkah tempat dimana Nyonya Parama terbunuh? Sudahlah, jangan pikirkan hal itu dahulu.


"Hubby," panggilku. Valko tak menjawab panggilanku. Wajahnya penuh oleh keringat dingin. Kuambil beberapa lembar tisu dari yang tergantung di bagian belakang kursi mobil baris pertama. Kuseka keringat di wajah Valko. "Tenanglah, semua baik-baik saja," ucapku sambil membenahi rambut Valko.


"Aku takut, Zeta! Takut! Suara ombak itu mengingatkanku pada peristiwa itu. Suara ombak terdengar sangat jelas di penginapan saat peristiwa itu terjadi. Suara tembakan itu seakan terdengar lagi di telingaku!" ucap Valko. Aku turun dari pangkuan Valko. Kupindahkan posisi dudukku ke sebelah Valko.


"Aku ada di sini untukmu, Hubby," Valko kupeluk. Kepalanya kubelai dengan lembut. "Tak ada yang akan menyakitimu. Semua baik-baik saja. Tak perlu takut, Zeta ada di sini untuk Valko. Kukecup dahi Valko. Aneh, seharusnya kakek dan nenek Valko tahu trauma ini, tapi mengapa mereka tetap menyuruh Valko kemari. Mungkin ini usaha agar Valko mau memghadapi trauma masa lalunya. "Hubby," panggilku. Valko tetap tak menyahut panggilan itu. "Ayo, kita turun ke laut!" bisikku di telinganya.


"Tak mau! Aku takut!" teriak Valko.


"Aku ada bersamamu, Valko. Tak akan ada yang menyakitimu. Cara untuk berdamai dengan ketakutan adalah menghadapinya. Valko!" panggilku. Kutegakkan kepala Valko. "Tatap aku, Valko!" kupegang kedua pipi Valko. "Kau harus berani, Valko! Valko yang kukenal selama ini berani dan tak takut pada apa pun! Ayo, kita coba keluar!" ajakku.

__ADS_1


"Tapi, Zeta...." sela Valko.


"Ssst! Aku ada bersamamu, Valko. Kau tak sendirian," bujukku.


"Ba...iklah," sahut Valko.


Kubuka pintu mobil itu. Kugandeng tangan kanan Valko. Kutarik tangan itu, kaki Valko melangkah keluar dari dalam mobil. Valko langsung memelukku dengan erat. Tubuhnya bersandar padaku.


"Ayo, jalan, Hubby. Jangan takut, aku ada bersamamu," bisikku di telinga Valko. Kutuntun Valko menuju tepi pantai. Mau tak mau dia harus menghadapi ketakutannya. Hanya itu cara yang kutahu. "Ayo, kita mendekat!" bisikku lagi.


"Zeta, ayo kita kembali!" tolak Valko.


"Hubby, pantai mungkin menyimpan kenangan mengerikan. Tapi ingatlah, pantai juga menyimpan kenangan indah. Kenangan indah saat kau berlibur bersama mamamu. Coba, ingatlah saat itu. Lawanlah ketakutanmu. Kenanglah saat kau dan mamamu tersenyum dengan ceria. Saat kalian berdua menikmati waktu bersama dengan ceria. Coba pikirkan dan ingat itu, Valko. Pantai bukan tempat yang menakutkan. Pantai adalah tempat yang indah. Tempat saat kau dan mamamu berlibur bersama. Coba ingatlah senyuman mamamu saat kau dan dia bersama bermain di pantai. Ingatlah hari yang indah itu. Kenanglah, Valko! Kenanglah!" bisikku lagi.


"Ayo, kita mendekat ke tepi laut," ajakku. Kugandeng tangan Valko menuju tepi laut. Langkah Valko terhenti sampai di sini.


"Tidak! Aku tak bisa melakukan ini!" tolak Valko. Dia berjongkok, kedua tangannya menutupi kedua telinganya. Suatu ide terpikirkan di kepalaku. Kurasa aku harus mencoba cara itu.


"Ah, Valko, tolong! Tolong! Tolong, aku!" teriakku. "Valko! Tolong, aku!" teriakku kencang. Kujatuhkan diriku di atas pasir. "Valko! Tolong aku!" teriakku lagi. Aku pura-pura memegangi kakiku.


"Zeta!" teriak Valko. Dia langsung menghampiriku. "Apa yang terjadi?" tanya Valko.

__ADS_1


"Rasakan ini!" kucipratkan air dari kubangan yang ada di pasir ke arah Valko. Valko tak bisa menghindarinya. Pakaiannya basah akibat cipratan air itu.


"Beraninya kau membohongiku!" teriak Valko kesal.


"Tangkap aku jika kau bisa!" teriakku sambil berlari menjauhi Valko.


"Tunggu, jangan lari! Awas, kau, Zeta!" Valko mengejarku. Kurasa caraku berhasil. Dia benar-benar melupakan ketakutannya meski pun itu karena teralihkan akibat kemarahannya padaku.


"Ah!" teriakku saat Valko dengan sigap menangkapku. "Valko, turunkan aku!" Valko menggendongku. Dia lalu menjatuhkanku tepat di atas kubangan air yang besar. Tubuhku basah seluruhnya. "Ah! Valko!" teriakku. Dia tak berhenti sampai di sini. Valko juga melemparkan cipratan air bercampur pasir pantai.


"Rasakan itu! Hahaha!" Valko tertawa. "Ini! Rasakan!" Valko kembali melempar pasir basah ke arahku. Jika begini kurasa dia sudah benar-benar melupakan ketakutannya pada pantai.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Zeta dan Valko bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2