
"PAPA!!!" teriak Valko. Tepat di depanku dan Valko, Ayah Mertua pingsan tertimpa batang pohon yang besar. Kepalanya nampak memgeluarkan cairan kemerahan.
"PAPA!!!" teriak Valko lagi. "PAPA...." panggil Valko sambil menangis. Air mata nampak keluar dari kedua matanya. Kedua tangan itu berusaha menyingkirkan batang pohon itu. "ZETA!!!" teriak Valko. Suaranya terdengar bergetar. "CEPAT ANGKAT TUBUH PAPAKU!!!" teriak Valko. Kedua tangannya berusaha mengangkat batang pohon itu.
"Eh....i...ya...ya...." sahutku tergagap. Batang pohon itu nampak sudah terangkat. Aku pun memegang kedua bahu Ayah Mertua. Tubuh itu lalu kutarik menjauh dari batang pohon itu.
"PAPA!!! PAPA!!!" teriak Valko. Air mata memgalir dari kedua matanya. Kepala Ayah Mertua dipindahkan oleh Valko ke pangkuannya. "Papa...ayo, bangun! Papa!" panggil Valko.
"Apa yang terjadi?" terdengar suara seseorang. Nampak Kakek Fajar dan Nenek Vani. Keduanya berlari ke arahku dan Valko.
"ASTAGA!!! KENRICK!!!" teriak Nenek Belenda. "Apa yang terjadi pada Kenrick? Kenapa dia bisa terluka seperti ini?"
"Papa menyelamatkanku dari batang pohon besar itu...dia begini karenaku...." ucap Valko sambil menangis. Aura kemarahan dan kebencuan itu seolah hilang seketika dari wajah Valko. Dia nampak seperti seorang anak yang anat takut kehilangan orang tuanya.
"Papa...bangun, Papa!!!" ucap Valko.
"Tenanglah, Nak. Semua akan baik-baik saja," ucap Nenek Vani. Nenek Vani berusaha menyeka darah di kepala Ayah Mertua dengan sapu tangannya.
"May! Cepat kemari! Kenrick sedang terluka! Cepat bawa mobil kemari!" ucap Kakek Fajar. Tak berselang lama Sekretaris May muncul bersama beberapa orang pengawal.
"Tuan Fajar!" sapa Sekretaris May.
"Tak perlu basa-basi! Cepat, bawa Kenrick ke rumah sakit!"
"Baik, Tuan!" sahut Sekretaris May dan para pengawal itu. Tubuh Ayah Mertua segera diangkat oleh para pengawal itu. Sebuah mobil sedan warna biru metalik sudah datang.
"Aku akan menemani Kenrick di dalam mobil. Fajar, kau temani Valko dan Zeta!" ucap Nenek Vani sambil masuk ke dalam mobil.
Kepala Ayah Mertua disandarkan di pangkuan Nenek Vani. Mobil itu segera melaju pergi. Tak berselang lama, mobil Valko muncul. Sekretaris May membuka pintu mobil itu.
"Ayo, Valko, Zeta!" ajak Kakek Fajar. Dia memilih duduk di depan dekat sopir.
__ADS_1
"Ayo, Hubby," ucapku sambil menarik tangan Valko. Mobil itu mulai melaju.
"Ini salahku! Ini salahku! Aku membuat Papa celaka! Aku memang pembawa petaka!" ucap Valko histeris. Dia mulai menangis.
"Ini bukan salahmu, Hubby. Tenanglah, Ayah pasti baik-baik saja," ucapku sambil membelai kepala Valko. Kepala Valko kusandarkan ke bahu kiriku. "Jangan menangis. Ayah pasti baik-baik saja. Ini bukan salahmu. Tenanglah, Hubby," ucapku terus-menerus.
Kakek Fajar nampak mencuri pandang dari kaca mobil di bagian atas. Mungkin dia ingin mengecek perkembangan hubunganku dan Valko. Ya, jika sekarang, apa pun yang kulakukan untuk Valko bisa dibilang tulus dari dalam hatiku. Jujur, aku tak ingin melihatnya bersedih.
Mobil ini tiba di sebuah rumah sakit. Rumah sakit itu nampak megah. Bangunannya berupa gedung bertingkat. Mobil yang kutumpangi berhenti di halaman depan rumah sakit ini.
"Papa!!!" teriak Valko. Dia langsung berlari keluar dari dalam mobil.
"Valko! Tunggu!" teriakku kencang. Valko tak menggubris panggilanku.
"Ayo, kita susul Valko, Zeta!" ucap Kakek Fajar. Aku dan Kakek Fajar pun berjalan dengan cepat menuju ke bangunan rumah sakit itu. Nampak Sekretaris May menyambut di lobi rumah sakit itu.
"Dimana Kenrick?" tanya Kakek Fajar.
"Tuan Kenrick sudah diobati. Beliau sekarang ada di Bangsal Melati nomer 17, Tuan," jawab Sekretaris May.
Sekretaris May hanya menggangguk. Dia berjalan di depan untuk menuntunku dan Kakek Fajar. Rupanya bangsal yang dimaksud berada di lantai dua. Perlu naik lift untuk mencapainya.
"Ini kamar perawatan Tuan Kenrick," ucap Sekretaris May sambil membuka pintu.
Ada tulisan yang berbunyi 'Ruang Melati No. 17'. Aku dan Kakek Fajar segera masuk ke kamar itu. Nampak Ayah Mertua terbaring lemah di atas ranjang. Kepalanya dibalut perban. Tangan kanannya nampak terbalut gips. Alat bantu pernapasan terpasang di hidungnya.
"Papa...." terdengar suara isakan.
Nampak Valko duduk di sebelah ranjang Ayah Mertua. Valko memegangi tangan kiri Ayah Mertua. Nenek Vani nampak berdiri di belakang Valko.
"Bangun, Pa! Bangun! Maafkan aku, Papa. Maafkan aku!" ucap Valko. "Maafkan aku, Papa. Maafkan aku. Kumohon jangan tinggalkan aku...."
__ADS_1
"Hubby...." panggilku. Aku mendekat dan duduk di sebelah Valko.
"Jangan menangis, Ayah pasti baik-baik saja," ucapku sambil mengusap airmata Valko.
"Aku takut, Zeta! Takut! Aku takut Papa akan meninggalkanku seperti Mama...." ucap Valko. Dia menangis di pelukanku.
"Sudah, jangan menangis ya. Ayah pasti baik-baik saja...." ucapku sambil membelai kepala Valko.
"Ehm...dimana aku...." terdengar suara seseorang.
"Kenrick, kau sudah sadar?" teriak Nenek Vani.
"Papa!!!" teriak Valko. "PAPA!!!" panggil Valko lagi. Dia langsung memegang tangan kiri Ayah Mertua. Tangan itu ditempelkan Valko ke pipi kanannya.
"Val...ko...putraku...." ucap Ayah Mertua. "Maafkan aku, Nak...."
"Tidak, Papa. Aku yang seharusnya meminta maaf. Papa jadi begini karena aku...." ucap Valko sambil menangis.
"Sudah, jangan menangis, Nak," tangan kiri Ayah Mertua berusaha menghapus air mata Valko. "Sudah tugasku untuk melindungimu. Kau putraku, meski harus mengorbankan nyawa pun aku rela asalkan kau selamat, Nak."
"Papa!!!" Valko memeluk Ayah Mertua.
Syukurlah, semoga ini menjadi awal yang baru bagi hubungan Valko dan Ayah Mertua.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
Thank you 😍