
"Wah! Megah sekali!" ucapku takjub.
Nampak sebuah kamar berwarna bercat dinding warna putih. Lantai kamar itu dilapisi semacam kayu marmer warna putih mengkilap. Terdapat satu ranjang yang besar di kamar itu. Ranjang itu dilapisi sprei berwarna putih. Kepala ranjang mepet ke dinding. Sarung bantal dan selimut juga berwarna putih. Tepat di tengah ranjang ada dua buah handuk putih yang dibentuk menjadi bentuk sepasang angsa. Kedua angsa itu saling menyatukan lehernya sehingga terlihat menjadi bentuk love.
"Luas sekali!" ucapku takjub. "Sofanya sangat empuk!" kucoba duduk di atas sofa warna coklat yang ada di kamar itu.
Kamar ini ternyata juga dilengkapi dengan televisi layar datar warna hitam. Televisi itu ukurannya sangat besar, mungkin sekitar 50 inch. Kulangkahkan kakiku menuju ke arah pintu kaca yang ada di kamar ini. Pintu kaca itu bisa digeser sehingga penguni kamar bisa melihat pemandangan luar. Kulangkahkan kakiku menuju ke arah teras itu.
"Wah, ini keren sekali!" ucapku takjub. "Pemandangannya sangat indah!"
Di balik pintu kaca itu terdapat semacam teras kecil. Di teras itu ada duah buah kursi santai warna coklat yang dapat digunakan untuk duduk dengan posisi terlentang. Tepat di depan teras itu ada kolam renang pribadi. Kolam renang itu berbentuk kotak. Warna airnya biru tua. Dari teras itu nampak pemandangan lautan yang membentang luas. Seluas mata memandang hanya ada lautan berwarna biru nan memesona. Kurasa ini kamar yang berada di tingkat paling tinggi di hotel ini.
"Nyaman sekali!" kucoba mendudukkan diriku di kursi itu.
"Bagaimana menurutmu?" terdengar suara mendekat ke arahku. Rupanya itu Valko. Dia duduk di sampingku.
"Kamarnya sangat luas, megah dan nyaman, Hubby. Aku suka! Pemandangannya indah sekali!" ujarku sambil tersenyum.
"Baguslah jika kau senang, Zeta," ucap Valko.
"Kau mau apa?!" teriakku. Valko tiba-tiba melucuti pakaiannya. Dia dengan cepat melepas dasi, kemeja putih, jas dan celananya.
"Hey, hey, jangan lebay, Zeta! Jangan berteriak-teriak" ucap Valko santai.
"Kau mau apa?!" tanyaku lagi. Valko tak menjawab. Dia langsung mengangkat tubuhku. "Valko, kau mau apa? Turunkan aku!" teriakku.
__ADS_1
"Ck! Diamlah!" sahut Valko. Dia membawaku ke dalam semacam bak untuk berendam.
Ternyata di samping teras ini ada bak itu. Bak itu berbentuk kotak, warnanya putih mengkilap. Ada beberapa keran warna perak di bak itu. Valko menyalakan bak itu. Air mulai mengucur ke dalam bak. Kurasakan air itu semacam memiliki tekanan.
"Aku hanya ingin berendam denganmu di dalam jacuzzi ini!" celetuk Valko. Tubuhku berada di deoan tubuh Valko. Kakiku terapit kedua kakinya yang panjang.
"Oh jadi, ini ya yang dinamakan jacuzzi," sahutku. "Valko! Apa yang kau lakukan?!" teriakku saat Valko menarik-narik pakaianku.
"Hey, kenapa dari tadi kau berteriak-teriak, Zeta. Aku hanya ingin melepas pakaianmu. Ini bukan pertama kalinya kita berendam bersama seperti ini. Kenapa kau masih malu-malu, sih!" celetuk Valko.
"Ehm, tindakanmu membuatku kaget. Bilang dululah," protesku.
"Sudah, cepat lepas!" Valko langsung melucuti pakaianku. Ih, dia selalu saja agresif. "Nah, begini baru menyenangkan!" Valko bersandar di bahuku.
"Ehm!" ucapku saat tiba-tiba Valko mengusap wajahku.
"Hubby, wajahmu yang tampan juga harus dibersihkan," sahutku.
Tanganku membersihkan wajah Valko dari pasir yang menempel. Aku ingin membalas usapannya yang terasa kasar tadi. Tapi nampaknya aku malah menikmati menyentuh wajahnya. Ih, aku malah jadi ingin menciunnya. Sudahlah, cium saja, hihihi.
"Kau suka mencuri-curi kesempatan ya ternyata," sahut Valko.
"Bukankah itu ajaranmu," sahutku sambil membuang pandang. Valko membalas ciumanku. Dia menarik daguku ke arah wajahnya.
"Yang seperti ini baru ajaranku," bisik Valko. Dia memelukku semakin erat. "Seandainya Mama masih hidup, dia pasti bahagia bisa ke sini bersama aku, kau, Papa, Kakek dan Nenek. Itu akan jadi piknik yang indah. Tapi, aku sudah bahagia kau ada di sini bersamaku, Zeta!" Valko mencium pipiku lagi. "Aku sudah bisa tidur nyenyak dan takut lagi pada pantai. Itu semua karenamu, Zetaku Tercinta!"
__ADS_1
"Aku senang jika kau bisa tersenyum, Hubby," sahutku. Terdengar suara ketukan pintu.
"Tuan, Nona, ini saya, May," terdengar suara Sekretaris May.
"Ada apa, May? Jangan masuk ke dalam! Jawab saja dari luar!" perintah Valko.
"Maaf, Tuan. Tuan Fajar meminta Anda untuk segera melakukan pekerjaan yang diminta," sahut Sekretaris May.
"Iya, baiklah. Kau boleh pergi, May!" sahut Valko.
"Padahal aku masih ingin berendam denganmu, Zeta," ujar Valko kecewa.
"Kau bisa berendam denganku kapan pun, Hubby. Sudah sana, lakukan tugasmu dulu," sahutku.
Hihihi, jika Valko bekerja aku kan bisa ikut jalan-jalan dengannya 😄.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Zeta dan Valko bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
__ADS_1
Thank you 😍