Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 119 - Teman....


__ADS_3

"Wah!" mulutku hanya bisa ternganga.


Nampak landasan pacu ada di sekelilingku. Tak jauh dari hadapanku nampak sebuah pesawat jet. Pesawat jet itu berwarna putih. Nampak dua buah mesin jet di kedua sayapnya.


"Apa aku sedang bermimpi?" ucapku. Kakiku tak bisa menahan diri untuk berjalan mengamati sekaliling pesawat jet itu. "Wow!" ucapku lagi sambil menyentuh sisi bawah badan pesawat jet itu. "Ini benar-benr pesawat jet, ya!" aku masih tak percaya. TOK! TOK! Tangan kananku tak bisa kutahan untuk mengetuk-ngetuk pesawat itu.


"Zeta, apa yang kau lakukan? Ayo, cepat masuk!" terdengar suara Valko.


"Hubby, apa aku sedang bermimpi? Cubit aku! Jangan-jangan aku bermimpi! Aku tak percaya bisa benar-benar melihat pesawat jet pribadi. Cubit aku, Valko!" pintaku.


"Kau memintaku mencubitmu? Sudah, ayo cepat naik! Kau bisa membuktikan sendiri sedang bermimpi atau tidak!" Valko menarik tangan kananku.


Pintu pesawat itu sudah terbuka. Pintu itu menjulang ke arah bawah dan berubah menjadi tangga untuk naik ke atas pesawat itu. Nampak dua orang wanita berpakaian rapi dengan seragam warna hitam.


"Selamat datang Tuan Valko, Nyonya Zeta," ucap kedua wanita itu.


"Ehm...." sahut Valko singkat. Dia menggandengku menaiki tangga pesawat itu.


Mataku tak bisa berhenti terpesona oleh interitor di dalam pesawat.


Jadi, ini yang namanya pesawat jet pribadi? Lebih bagus daripada yang pernah kulihat di sosial media. Saat memasuki pesawat itu nampak kabin yang didominasi warna putih pada bagian atas. Lantainya dilapisi karpet warna krem. Ada sekitar 12 kursi di dalam pesawat itu. Kursi-kursi itu berwarna putih tulang. Jendela berbentuk kotak nampak menampilkan pemandangan di luar pesawat.


"Wah, keren sekali!" ucapku takjub. "Apa aku boleh duduk di sini?" tanyaku sambil menyentuh salah satu kursi yang berada di dekat jendela.


"Kenapa kau ragu, Zeta? Duduk saja! Kau istriku, ini pesawat milik keluargaku. Tak ada yang akan memarahimu jika kau duduk di situ," Valko duduk di kursi di sebelahku. "Aku sudah duduk. Kau duduklah, kita segera terbang!" ucap Valko.


"Baiklah," kududukkan diriku ke kursi itu.


Pesawat ini mulai terasa bergerak. Mataku seakan tak berkedip memandang ke arah jendela. Aku sudah pernah naik pesawat, tapi pesawat komersial yang besar. Bukan pesawat jet pribadi seperti ini. Bagaimana ya rasanya naik pesawat ini?

__ADS_1


"Hubby, kita mau kemana?" tanyaku.


"Kau akan tahu nanti. Nikmati saja perjalanannya, Zeta," Valko merapikan poniku.


"Tapi, aku belum siap-siap, Hubby," protesku.


"Tenanglah, apa kau pernah kekurangan sesuatu saat kuajak pergi?" tanya Valko.


"Tidak, hehehe," sahutku.


Pesawat ini mulai take off. Mataku sibuk menatap ke arah jendela. Nampak pemandangan landasan pacu yang berlapis aspal. Pesawat ini mulai terbang semakin tinggi.Pesawat ini terbang semakin tinggi di angkasa. Cuaca sedang cerah. Langit yang berwarna hitam seakan menyapa pesawat ini. Awan-awan seputih kapas menambah elok pemandangan yang nampak dari jendela.


"Hubby," ucapku saat Valko memelukku dari arah belakang.


"Akhirnya aku punya teman naik pesawat. Teman yang bisa kupeluk dan kucium," Valko memelukku dari arah belakang. Dia mencium pipiku berulang kali. Pipiku menempel dengan pipi Valko. "Kau itu memang manis, Zeta," ucap Valko. Mataku kembali memandang ke arah jendela.


"Iya, Hubby. Maaf ya. Pemandangannya indah. Aku tak bosan melihatnya. Sudah lama aku tak naik pesawat, hehehe," kusentuh pipi Valko.


"Maaf, Tuan, Nyonya, sudah masuk jam makan malam," ucap seorang wanita berseragam hitam.


"Bawakan saja steak. Dua porsi jadikan dalam satu piring," perintah Valko.


Pramugari itu menyiapkan meja lipat. Meja lipat itu menempel di dinding pesawat. Jika tak digunakan meja lipat itu seperti sebuah lemari kecil berwarna hitam.


"Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar," ucap pramugari itu. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa peralatan makan dan steak. Nampak dua potong daging steak yang menggugah selera. "Silahkan, Tuan, Nyonya" ucap pramugari itu.


"Sini, aku suapi," tanganku mulai memotong steak dengan pisau. Kutusuk potongan itu dengan garpu. Potongan itu disuapkan kepada Valko. Valko menerima suapan itu dan mulai mengunyahnya.


"Rasanya jadi lebih lezat karena suapan dari tanganmu, Zeta. Ah, senangnya bisa punya teman naik pesawat sekarang," ucap Valko. Dia tetap saja memelukku erat.

__ADS_1


"Apa biasanya kau sendirian? Bukankah ada Pak May dan pramugari?" tanyaku.


"Itu kan berbeda. Apa mereka bisa kupeluk dan kucium semauku sepertimu? Tidak bisa kan!" ucap Valko. "Suapi lagi! Aku belum makan saat di acaranya Tyo," celetuk Valko. Jadi dia lapar ya sekarang? Aku pun menyuapi Valko lagi. Dia makan dengan lahap. "Yah habis, padahal kau belum sempat makan," ucap Valko.


"Tak masalah, aku masih kenyang kok, Hubby," sahutku. "Mulutmu kotor," kubersihkan noda di mulut Valko dengan jariku. Valko mencium pipiku lagi.


"Aku suka ada yang memperhatikanku. Aku merasa spesial, Zeta," kepala Valko bersandar di bahuku.


"Sudah kewajibanku untuk merawatmu, Valko," kubelai dahi Valko.


"Karena ada kau aku jadi berani menghadapi ketakutan yang masih tersisa pada diriku, Zeta. Aku sudah bertahun-tahun tak pernah pergi ke tempat yang kutakutkan itu," ucap Valko lirih.


"Memang tempat seperti apa yang membuatmu takut?" tanyaku.


"Tempat itu...." jawab Valko.


"Maaf, Tuan, Nyonya. Pesawat aka segera mendarat," ucap seorang pramugari. Valko melepaskan pelukannya padaku. Dia menempatkan dirinya pada posisi duduk tegak kembali. Aku pun mengikutinya.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Zeta dan Valko bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2