
Musik klasik sudah mulai terdengar. Para tamu nampak mulai berdiri. Bella dan Ricko sudah berjalan menuju ke area tengah ruangan.
"Honey, kau mau apa?" tanya Valko saat melihatku berdiri.
"Hubby, ayo kita ikut ke sana bersama Kak Ricko dan Bella." Tangan kananku menunjuk ke arah area pesta dansa itu.
"Tubuhmu masih lemah. Sudah, duduklah kembali. Tak masalah jika kita tak ikut menari." Valko menarik tangan kananku.
"Tapi, aku ingin ikut, Hubby. Ayo ikut!" Kutarik balik tangan Valko. Kutatap dia dengan tatapan manja.
"Baiklah." Valko pun berdiri. Dia menggandeng tangan kananku. Kakiku mulai melangkah menuju area dansa itu.
"Ayo, Varko! Ikutlah menari!" terdengar suara Bella. Dia nampak lihai berdansa dengan Ricko. Kakinya dengan mudah mengimbangi gerakan kaki Ricko. Sesekali tubuhnya memutar dengan anggun.
Astaga, bisa tidak ya aku melakukannya. Aku kan belum pernah berdansa. Bagaimana nanti jika malah mempermalukan Valko? 😳. Tapi! Jangan menyerah, Zeta! 😤. Kau sudah melangkah sejauh ini. Jangan mau kalah dengan Bella! 😐
"Ayo mulai, Honey!" Tangan kiri Valko mengangkat tangan kananku ke arah atas. Tangan kanannya memggenggam pinggangku. Tatapan mataku memandang ke arah Valko.
"Baik, Hubby."
Kueratkan genggaman tanganku. Valko mulai menggerakkan kakinya untuk menari. Ah! Aku jadi canggung ini pertama kalinya aku berdansa dengan seorang pria. Jantungku berasa berdebar. Jangan sampai membuat kesalahan, Zeta!
"Aduh!" Valko nampak kesakitan. Dia berhenti menggerakkan kakinya untuk menari. "Kau menginjak kakiku, Zeta!"
"Ehm, maaf!" sahutku lirih.
Duh, jadi malu. Zeta, perhatikan langkahmu! Kenapa kau jadi menginjak kaki Valko, sih! 😓. Kulirik ke arah Bella. Dia nampak memandangku dengan tatapan mengejek. Huh! Aku takkan kalah darimu! 😐
"Kau gugup, ya? Ini memang pertama kalinya kita berdansa, Honey," tanya Valko.
"Ehm, i ... ya," sahutku lirih.
"Jangan gugup! Nikmati saja musiknya, Sayangku," bisik Valko. Dia mengeratkan pegangan tangannya di pinggangku. "Sudah, ayo kita menari lagi, Honey."
Valko mulai melangkahkan kakinya lagi. Kulanglahkan kakiku untuk mengikutinya. Tenang, Zeta! Kau pasti bisa! 😐
"Aduh!" Valko kembali berhenti melangkah. "Kau menginjak kakiku lagi, Zeta. Tepat di ujung jempol kakiku."
__ADS_1
"Ma ... af ...."
"Pffft!" terdengar suara tawa ditahan. Kuarahkan mataku ke arah suara itu. Nampak Bella menatap ke arahku. Bibirnya nampak manyun karena menahan tawa.
"Apa ini pertama kalinya kau berdansa, Honey?" tanya Valko. Dia menatao ke arahku. Kuanggukkan kepalaku pelan.
"Iya, ini pertama kalinya aku berdansa. Maaf, Valko ...."
"Hey, kenapa kau harus meminta maaf?" Valko mengangkat daguku. "Kau tak perlu meminta maaf ...."
"Tapi, aku membuatmu malu. Semua orang bisa berdansa dengan baik dengan pasangannya. Aku justru terus menginjak kakimu. Aku istri yang tak becus ...."
"Sssttt!" Valko menutup mulutku dengan jari telunjuk kanannya. "Siapa bilang kau tak becus? Ini hanya menari saja. Hanya untuk bersenang-senang. Jangan terlalu dipikirkan. Kau adalah istri yang baik, Honey. Kau bisa memasak untukku, membuatku nyaman dengan belaianmu, dan merawatku dengan baik. Kau adalah bidadari idamanku. Aku akan menerima setiap kekuranganmu, Zeta-ku Sayang. Jangan pernah mengatakan hal konyol itu lagi, Sayangku, Honey." Valko membelai pipi kananku.
Oh, Valko! Kau membuatku baper, tahu! 😍.
"Bagaimana kau ingin berdansa lagi? Atau ... kita kembali saja?" Valko menatapku.
"Ehm ... aku masih ingin berdansa, Hubby. Ehm ... jika kau tak keberatan ...."
Suara musik itu coba kunikmati. Ternyata menyenangkan juga berdansa. Aku paling suka saat Valko membuatku berputar. Itu menyenangkan sekali. Musik berubah menjadi bertempo pelan dan lambat. Oh, jadi ini saatnya berdansa dengan tempo yang pelan.
Nampak Tyo dan Vina berdansa dengan jarak yang amat dekat. Hampir seperti berpelukan. Valko menggenggam erat pinggangku dengan kedua tangannya. Gerakannya hanya melangkah ke kiri dan kanan. Kulirik ke arah Bella. Dia nampak canggung saat ini. Dia menatap ke arahku. Hihihi, ini kesempatan emas untuk membalas Bella 😆.
"Hubby," panggilku. Kueratkan genggaman kedua tanganku pada pinggang Valko. Kutatap mata Valko. Bella, rasakan ini! 😆. Kukecup lembut pipi kanan Valko. "Terima kasih, Hubby. Aku bahagia bisa menari bersamamu, Sayang!" Kukeraskan suaraku. Rasakan ini Bella, hihihi! 😆.
"Bella! Bella!" terdengar suara Ricko. Nampak Bella melangkah pergi begitu saja dari ruangan ini. Ricko nampak kebingungan dibuatnya.
"VALKO!"
Aku sungguh terkejut. Valko tiba-tiba memberikan ciuman tepat di bibirku. Duh, ini di depan banyak orang .
"Kenapa berteriak? Aku hanya membalas tanda terima kasihmu, Honey. Lipstick-mu menempel, tahu!" Valko menyeka bekas lipstick yang ada di pipi kanannya dengan tisu. Ah, sudahlah. Yang penting Si Pengganggu itu sudah pergi.
Akhirnya pestanya selesai. Kakiku terasa sakit juga akibat terlalu lama menggunakan highheels. Valko hendak menggandengku keluar dari ruangan ini.
"Hubby, aku mau ke toilet dulu!"
__ADS_1
"Baiklah, ayo kutemani kau, Honey." Valko menggandengku melangkah mencari toilet. Akhirnya ketemu juga. "Kutunggu kau di sini!" Valko menunggu di depan pintu masuk toilet. "Ehm, mungkin aku akan mebmnunggu di pintu keluar ruang pesta saja, Honey. Bagaimana?"
"Tak masalah, Hubby. Aku tak mau orang berpikir aneh-aneh tentangmu, hehehe."
Valko segera meninggalkanku. Kulanglahkan kakiku masuk ke dalam toilet itu. Toilet ini sepi, nampak ada dua buah wastafel dan lima buah bilik toilet. Segera kulaksanakan tujuanku. Rasanya amat lega.
Saat aku hendak mencuci tangan nampak seorang perempuan sedang mencuci tangan di salah satu wastafel. Dari pantulan wajah di cermin kukenali dia. Astaga! Kenapa Pengganggu ini bisa ada di sini, sih! Sudahlah, abaikan. Aku tak mau membuat ribut. Segera kucuci tanganku di wastafel sebelahnya.
"Apa yang membuatmu begitu percaya diri? Apakah kau tak punya cermin?" terdengar suara Bella.
Dia mau apa, sih? Dasar Pengganggu! Yang seharusnya berkaca itu kau! Sabar, Zeta! Sabar! 😧
"Apa maksud Kak Bella? Aku punya banyak cermin yang besar di rumahku oh maksudku rumahku dan Hubby-ku, Valko. Bahkan aku paling sering berkaca di cermin yang paling besar. Di kamar tidurnya Valko, tentu saja, hehehe," sahutku sambil berusaha tersenyum.
"Jauhi dia! Atau kau akan tahu akibatnya!" teriak Bella.
"Mengapa aku harus menjauh? Kau yang seharusnya menjauh dan berkaca! Aku ini istrinya! Jangan salahkan aku karena sudah menikah dengan Valko! Kau seharusnya menyalahkan dirimu sendiri! Kenapa kau tak mengejarnya saat ada kesempatan ketika kalian masih bersama? Kau seharusnya tahu diri, Nona Bella! Jangan ganggu Valko! Atau kau akan berhadapan denganku!" Kutatap Bella. Ini pertama kalinya aku berkata kasar seperti ini kepada seorang wanita. "Kuharap kau bisa memjaga sikapmu!" Kulangkahkan kakiku keluar dari toilet itu.
"Aku akan memberimu pelajaran!" terdengar suara Bella.
"Silahkan saja! Aku tak takut padamu!" teriakku kencang.
Huh! Valko, kenapa sih kau terlalu memesona! Aku jadi harus berhadapan dengan wanita pengganggu, tahu! 😧
________________________________________
Terima kasih sudah setia membaca, memberi like, vote dan komentar pada novel saya 😍
Mohon maaf mungkin sampai bulan Oktober, novel ini hanya akan update setiap hari Sabtu 😊
Hal itu karena author sedang fokus mengejar target wisuda tahun ini 😁
Mohon doanya ya agar author diberi kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi 😊
Mohon doanya juga semoga bulan Agustus ini bisa selesai dalam menyusun skripsi 😄 dan semoga bisa segera sidang dengan lancar dan tak banyak revisi 😊
Thank you 😍
__ADS_1