Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 137 - Terjerat Perangkap Sendiri


__ADS_3

"Hubby, aku takut. Kak Bella mengancamku! Kau bisa lihat buktinya di video ini!" Kuserahkan smartphone-ku kepada Valko.


"JANGAN!" terdengar teriakan Bella. Dia tiba-tiba saja bangkit. Kedua tangannya berusaha meraih smartphone itu.


"Kenapa?" teriak Valko. Tangan kanan Valko mengangkat smartphone itu ke atas hingga Bella tak mampu menjangkaunya.


"Zeta memfitnahku, Varko!" teriak Bella. "Dia pasti sudah menyiapkan bukti palsu! Serahkan HP itu padaku!" teriak Bella.


"Huh! Wajahmu nampak ketakutan! Pasti kau yang sudah menjebak istriku!" Tangan kanan Valko langsung membuka smartphone itu.


"Jangan! Jangan!" teriak Bella. Dia masih saja berusaha merebut smartphone itu. "ADUH!" teriak Bella. Valko mendorong Bella dengan tangan kirinya.


Mata Valko fokus menatap ke arah smartphone itu. Dalam sekejap tatapannya berubah menjadi mengerikan seperti tatapan mata elang yang siap membunuh mangsa. Valko menatap tajam ke arah Bella.


"DASAR LANCANG!" teriak Valko. Tangan kanannya menarik dagu Bella dengan kasar. "BERANINYA KAU MENJEBAK ISTRIKU! AKAN KUPASTIKAN KAU MASUK PENJARA!" Valko dengan kasar menghempaskan wajah Bella. "RICKO!" teriak Valko. "Beritahu Tyo! Katakan padanya untuk mengucap salam perpisahan pada sepupunya ini! Ayo, Honey!" Valko menarik tanganku keluar dari dalam kamar mandi itu. "May!" teriak Valko.


"I ... ya, Tuan," sahut Sekretaris May.


"Suruh pengawal menangkap Bella! Panggil polisi malam ini juga! Aku ingin dia masuk penjara sekarang juga!"


"Ehm ... maaf, Tuan. Apa yang terjadi?" tanya Sekretaris May.


"Bella sudah menjebak istriku! Kau bisa lihat buktinya di HP ini! Siapkan pengacara yang paling mahal! Aku ingin wanita jahat itu dipenjara seumur hidupnya!" teriak Valko.


"Baik, Tuan," sahut Sekretaris May.


Sekretaris May nampak berbicara lewat semacam headset yang terpasang di telinganya. Tak berselang lama beberapa bodyguard berpakaian serba hitam datang. Mereka masuk ke kamar mandi itu.


"Varko! Ampun! Ampun! Varko!" terdengar teriakan Bella. "Ampun, Varko! Ampun! Lepaskan aku, tolong!" teriak Bella. Kedua tangannya nampak terborgol di belakang. Ini benar-benar mirip adegan penangkapan penjahat di film yang pernah kutonton. Pengawal Valko menyeret Bella dengan kasar. "Ampun, Varko! Ampun!" Bella nampak menangis.


"TAK ADA AMPUN BAGIMU!" teriak Valko. Dia memalingkan wajahnya. "Ayo, Honey!" Valko menggandeng tanganku meninggalkan lorong itu.


"Bye!" Kutatap Bella sambil tersenyum.


"Ini belum berakhir, Zeta! Tunggu pembalasanku!" teriak Bella.


Aku tak peduli dengan ucapannya. Aku tak merasa memiliki salah padanya. Untuk apa aku takut jika aku ada di pihak yang benar. Kakiku terasa pegal. Aku sudah lelah berjalan. Jadi ingin digendong saja.


"Ehm ...."


Kurebahkan tubuhku di lengan kanan Valko. Kakiku berhenti berjalan. Kutatap Valko dengan tatapan manja. Kuharap dia peka.


"Kau lelah, ya?" tanya Valko. Aku tak menjawab sepatah kata pun. Hanya saja mataku terus menatap ke arahnya. "Baiklah, sini kugendong!"


Valko langsung menggendongku.


Ah, Valko! Aku suka jika kau peka seperti ini. Valko menggendongku menuju ke kamar tidur. Dulu aku benci digendong seperti ini, tapi sekarang malah jadi ketagihan.


"Sudah, sampai!"


Sekretaris May membukakan pintu kamar. Valko langsung masuk ke kamar itu. Dia menurunkanku tepat di atas tempat tidur.


"Ehm!"

__ADS_1


Kupeluk erat tubuh Valko. Aku sudah benar-benar lelah. Apalagi aku harus meladeni drama konyol dari Si Bella.


"Zeta, ayo ganti pakaian dulu," bisik Valko lirih. Aku tak peduli. Hanya satu hal yang kuinginkan yaitu tidur secepat mungkin. Kueratkan pelukanku di tubuh Valko.


"Aku sudah lelah. Aku ingin tidur!"


"Iya, Honey. Tapi, ayo ganti baju dulu, ya," bujuk Valko.


"Tak mau! Aku sudah mengantuk!"


"Baiklah, jika itu maumu," Valko melepas pelukanku.


"Ehem! Jangan pergi!" Kutarik ujung kemeja Valko.


"Aku tak pergi. Aku hanya ingin melepas sepatumu dan sepatuku."


Kakiku terasa bebas. Highheel itu pasti sudah dilepas. Valko melepas jas putih yang yang dipakainya. Tangan kanannya nampak menempelkan sesuatu di wajahku.


"Apa yang kau lakukan!" protesku.


"Tenanglah, ini hanya tisu basah. Aku hanya ingin membersihkan make up-mu."


Wajahku merasakan sapuan lembut dari tangan Valko. Rasanya menyenangkan. Pasti menyenangkan jika bisa memakai masker yang dioleskan dari tangan Valko. Kurasa lain kali aku harus meminta hal itu.


"Rambutmu juga harus dirapikan dulu. Berbahaya jika hiasan rambut masih dipakai saat tidur. Aku tak mau kepalamu tertusuk." Valko melepas hiasan rambut di kepalaku. Kedua tangannya dengan lembut menyisir rambutku dari arah belakang.


Ah, Valko! Kenapa baru sekarang, sih. Kenapa ya aku dari dulu tak memintamu untuk menyisir rambutku. Rasanya menyenangkan. Hatiku jadi merasa hangat dan bahagia.


"Akhirnya selesai juga." Valko langsung kupeluk kembali dengan erat. Dia tak berbaring. Tangannya masih sibuk menyisir rambutnya. Akhirnya, Valko berbaring tepat di sebelah kananku. Dia langsung kupeluk erat. "Kau jadi manja sekali, Honey."


"Kenapa ya aku merasa akhir-alhir ini kau jadi semakin manja saja, Zeta."


Mataku sudah terpejam. Ucapan Valko masih terdengar. Aku suka bau parfum yang dipakainya. Kurasa dari banyak parfum yang dipakainya ini yang paling enak baunya. Fix, mulai besok akan kuminta Valko agar memakai parfum ini saja.


"Gaun putih dan jas putih. Jadi, ingat pernikahan kita. Bagaimana jika pernikahan kita diulangi saja, Zeta?"


What? Diulangi? Apa maksudnya? Meski Valko mengatakan hal itu dengan lirih tapi tetap saja terdengar jelas di telingaku.


"Apa maksudmu?" Kutatap Valko.


"Aku ingin kita mengulang pesta pernikahan kita ...."


"Kenapa?" tanyaku balik.


"Aku merasa bersalah padamu. Aku belum memberikan pesta pernikahan yang layak untukmu. Pesta pernikahan kita dulu tidak kudiskusikan dulu denganmu. Aku juga menyiapkannya asal-asalan. Kau wanita, Zeta. Kau pasti punya konsep pernikahan impian. Katakan padaku dengan jujur. Aku takkan marah. Kau pasti iri kan dengan pesta pernikahan Tyo dan Vina?" tanya Valko.


"Hah? Iri? Kenapa aku harus iri?"


Kenapa aku harus iri? Hal yang diucapkan Valko saja tak pernah terpikir di kepalaku.


"Jujurlah, Honey. Aku takkan marah. Tyo menggelar pernikahannya sesuai dengan apa yang diimpikan Vina."


Oh, jadi itu rupanya. Jadi, ternyata hal itu yang mengganggu pikiran Valko. Valko, aku tak tahu jika pikiranmu bisa sampai sedalam ini.

__ADS_1


"Aku tak iri, Hubby, sungguh. Aku bahkan tak pernah memikirkan hal ini. Sudahlah, jangan membebani pikiranmu dengan hal ini. Kau dan aku sudah menikah secara resmi. Kau sudah merawat dan memperlakukanku dengan baik. Kau juga menyayangiku dengan tulus. Itu sudah cukup untukku. Tak perlu mengulang pesta pernikahan. Itu hanya menghambur-hamburkan yang. Lebih baik uangnya dipakai untuk keperluan lain saja. Seperti keperluan ehm ... anak kita mungkin ...." sahutku lirih. Aku masih merasa canggung dan malu saat membahas soal anak.


"Tumben kau membicarakan soal anak ...." Valko menatapku.


"Ehm ... memangnya kenapa? Aku kan ehm ... wanita normal. Suatu saat pasti ingin jadi ibu," sahutku lirih.


"Baiklah, aku takkan membahas hal ini lagi. Sudah, sekarang tidurlah. Besok kita pulang ke rumah kedua." Valko memelukku semakin erat.


Rumah kedua? Mungkin saja menginap di tempat Kakek Fajar. Tunggu, aku ingin sesuatu.


"Hubby, bolehkah aku minta sesuatu? Aku benar-benar menginginkannya."


"Kau mau apa? Katakan saja. Berapa pun harganya pasti akan kuberikan."


"Ini bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang ...."


"Apa? Katakan saja, Zeta. Jangan membuatku penasaran."


"Ehm, aku ingin pulang ke rumah orang tuaku ...."


"Hanya itu? Itu hal yang sangat mudah. Iya, besok aku akan mengantarmu pulang. Kita akan berkunjung dan menginap di sana."


"Tapi, bukan hanya itu yang kuinginkan ...."


"Apa? Kau ingin pulang dengan pesawat jet? Atau kau ingin naik helikopter? Aku bisa dengan mudah mewujudkannya, Honey. Tenanglah."


"Ehm, aku rindu masakan yang dibuat oleh Mama. Tak ada yang bisa menyaingi kelezatannya ...."


"Oh, jadi kau rindu masakan ibumu? Iya, besok akan kuantar kau memgunjungi orang tuamu. Mamamu pasti akan memasak untukmu. Sekarang tidurlah," Valko kembali membelai kepalaku.


"Tapi, bukan hanya itu yang aku inginkan!"


"Lalu apa pagi yang kau inginkan, Zeta? Jangan berbelit-belit. Aku tak suka itu!"


"Aku ingin kau memasak masakan untukku sesuai resep dari Mama, hehehe."


"Apa? Aku memasak?"


"Iya, aku ingin kau yang memasak!"


"Astaga, Zeta. Kenapa tingkah dan permintaanmu semakin aneh saja, sih."


________________________________________


Maaf baru update Sabtu dan Minggu kemarin author sedang ada acara keluarga


Terima kasih sudah setia membaca, memberi like, vote dan komentar pada novel saya 😍


Mohon maaf mungkin sampai bulan Oktober, novel ini hanya akan update setiap hari Sabtu 😊


Hal itu karena author sedang fokus mengejar target wisuda tahun ini 😁


Mohon doanya ya agar author diberi kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi 😊

__ADS_1


Mohon doanya juga semoga bulan Agustus ini bisa selesai dalam menyusun skripsi 😄 dan semoga bisa segera sidang dengan lancar dan tak banyak revisi 😊


Thank you 😍


__ADS_2