
"Aku harus kembali ke kantor...." ucapnya sambil pergi begitu saja. Astaga, apa dia malu karena aku menciumnya di depan Ogi dan Della? 😮 Sudahlah,lupakan hal itu.
"Gaes, aku kangen kalian!" Ogi dan Della langsung kupeluk.
"Aku juga kangen padamu, Zeta!" ucap keduanya kompak.
"Ih, kok kalian nggak ngasih aku kabar sih, kalo butik kita dipindah kemari?" ucapku sambil berkacak pinggang.
"Tuan Valko yang nyuruh, Ta. Dia bilang ingin ngasih kejutan ke kamu!" sahut Della.
"Iya, dia yang nyuruh!" sahut Ogi.
"Eh, Ta, ngomong-ngomong kamu tambah berani aja, nih!" Della menyikut bahuku. "Dulu kayaknya masih malu-malu sekarang malah main serang aja! Cie...cie...kayaknya ada yang makin lengket nih! Hahaha!" ejek Della. "Ehm...jangan-jangan udah ada kabar baik, nih!" Della menyentuh perutku. "Jangan-jangan udah ada dedek kecil di sini!" ceketuk Della.
"Apaan sih!" aku kan jadi malu. Kurasa benar, aku tadi terlalu agresif pada Valko. Duh, kok sekarang jadi malu sendiri ya! 😳 "Eh, apaan tuh!" perhatianku teralihkan oleh benda bulat panjang keci berwarna abu-abu yang tertempel di seluruh pakaian. "Wuih, ini kan sistem sensor yang kayak di toko pakaian besar itu!" sensor itu untuk melindungi baju dari kasus pencurian. Jika ada orang yang nekat membawa baju dari dalam sini sebelum alat kecil ini dilepas, maka saat di pintu keluar sendor akan berbunyi.
"Iya, Ta. Suamimu yang ngasih. Dia sama karyawannya yang ngurus semua ini. Aku sama Della cuma di suruh datang aja," ucap Ogi.
Valko, kau bahkan mempersiapkan segalanya hingga sedetail ini? 😍 Rasanya hatiku jadi hangat. KRUK!!! Terdengar suara nyaring perut.
"Hehehe, sepertinya perutku minta jatah," ucap Ogi malu-malu.
"Hahaha!" aku dan Della tak bisa menahan tawa.
"Ya sudah, ayo makan yuk! Aku yang traktir, deh!" ucapku sambil menggandeng tangan Ogi dan Della.
__ADS_1
"Anda mau kemana, Nona?" beberapa pengawal wanita berseragam serba hitam sudah berbaris di depan ruko ini. Duh, apa mereka nggak bisa berhenti mengikutiku sejenak? 😦
"Makan siang!" sahutku singkat. Suatu ide terlintas di pikiranku. "Kalian tetap di sini dan jaga toko ini!" perintahku.
"Maaf, Nona. Tapi, Tuan Valko bilang kami harus selalu berada di dekat Nona," balas salah satu pengawal itu.
"Oh, kau berani membantah perintahku?!" teriakku sambil berkacak pinggang. "Kau ingin kuadukan pada Valko?"
"Tidak, Nona. Tidak, maafkan dia, Nona. Dia anak baru di sini!" sela pengawal wanita lain. "Baiklah, jika itu perintah Nona. Kami akan menjaga toko ini dengan baik!" ucap pengawal itu.
"Bagus! Ini!" kusodorkan beberapa lembar uang warna merah. "Anggap saja sedikit tambahan uang saku dariku!" kutaruh gulungan uang itu ke tangan salah satu pengawal.
Hihihi, uang saku bulananku dari Papa dan Mama masih lancar ditransfer ditambah uang jajan bulanan dari Valko. Hal ini membuatku tak perlu takut menghadapi akhir bulan. Tak apalah jika sedikit kubagi pada para pengawal ini.
"Ayo, kita makan!" kugandeng Ogi dan Della kembali.
Senang rasanya bisa bebas dari para pengawal itu sejenak. Aku dan kedua temanku berjalan menyusuri bagian depan mall ini. Ada banyak ruko-ruko yang menjual berbagai produk. Salah satunya yang pasti ada yaitu kuliner.
"Kamu nggak sayang ngasih sebanyak itu ke para pengawal itu?" tanya Ogi.
"Gi, udah deh, jangan banyak tanya. Suaminya Zeta kan tajir, bagi-bagi sedikit ke orang lain kan nggak masalah!" sahut Della. "Eh, kita makan di sini aja!" Della mengajak masuk ke sebuah stand makanan. Stand makanan ini menyediakan menu ayam geprek pedas dengan berbagai macam sambel.
"Boleh-boleh!" ucapku sambil menarik Ogu masuk ke dalam. Nampak pengunjung cukup ramai di sini.
"Duduk di sini aja!" Ogi memilih duduk di kursi kosong dekat jendela kaca.
__ADS_1
"Boleh-boleh!" sahutku dan Della kompak.
"Selamat datang, Kak. Mau pesan apa?" tanya pelayan restoran ini.
"Ayam geprek keju, cabenya lima ya!" ucapku antusias. Entah kapan terakhir kali aku bisa bebas makan bersama teman-temanku seperti ini. Jujur, aku rindu hangout bersama teman, bukan hanya dengan Valko saja. "Sama...." kulihat daftar menu. "Jus alpukat jumbo!" ada menu jus alpukat dalam gelas berukuran besar.
"Aku juga ayam geprek keju, cabenya sepuluh ya! Sama jus jambu jumbo!" celetuk Della.
"Aku ayam geprek, cabe satu tapi separuh aja!" ucap Ogi lirih. Dia memang nggak doyan pedas. "Sama...jus melon jumbo!" ucapnya sambil menunjuk daftar menu.
"Baik, Kak!" ucap pelayan itu. "Mohon tunggu sebentar ya!" dia pergi meninggalkan kami.
"Ada apa Del?" tanyaku pada Della. Dia nampak menatap jendela kaca sejak tadi.
"Itu kasihan Pak Tua itu!" tangan Della menunjuk ke arah pojok depan restoran ini.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1