
Valko menggandengku keluar dari toko pakaian itu. Hatiku rasanya puas sudah menjahili Valko. Aku berusaha menahan tawaku sekuat mungkin. Bibirku mengkerut karena menahan tawa. Wajah Valko masih saja mengkerut. Itu membuatku ingin tertawa terbahak-bahak. Untung saja aku memakai masker warna hijau, jadi jika aku sedikit tertawa kurasa tak masalah.
KRUK!!!! Terdengar suara yang nyaring. Astaga! Itu suara perutku. Ih, kenapa sih jika aku lapar pasti suaranya nyaring. Ini memalukan! 😣
"Pfffttt!!!" terdengar suara tawa yang ditahan. Kulihat Valko menutup mulutnya. Kurasa dia pasti menertawakanku. "Tak kusangka perutmu bisa berbunyi senyaring itu, Zeta! Suaranya merdu sekali!" ejek Valko. Aku hanya diam saja. Ini sungguh memalukan. "Ayo, kita makan siang!" Valko menggandeng tanganku. Dia mengajakku berjalan menuju eskalator yang mengarah ke lantai bawah.
Tangan kananku masih digandeng oleh Valko. Kakiku sudah menginjak pijakan di eskalator itu. Valko sedang membuka smartphone-nya. Aku pun memanfaatkan waktu untuk membuka smartphone-ku. Meski aku kadang sebal pada Valko, tapi aku selalu berusaha menghargainya. Jika dia tidak membuka smartphone, aku juga tak berani membukanya. Pesan di smartphone bisa dibuka nanti. Memberi perhatian pada orang di dunia nyata lebih penting bagiku daripada memberi perhatian pada dunia maya.
Ada sebuah pesan dari akun sosial media butikku. Pesan masuk di @briallen_boutique. Pesan itu langsung membuat jantungku berdegup kencang. Peneror itu mengirim pesan kembali. Pesannya berbunyi : 'NYALIMU BESAR JUGA! INGAT, AKU SELALU MEMBAYANGIMU! KURASA POT ITU TAK MEMBUAT OTAKMU WARAS! JAUHI VALKO ATAU MATI !'.
"Ada apa, Zeta?" tanya Valko. Dia melirik ke arah smartphone-ku.
Aku tak boleh merusak momenku dengan Valko. Dia sudah meluangkan waktunya untuk mengajakku pergi jalan-jalan. Aku tak boleh membuatnya khawatir.
"Tak apa-apa. Ehm...aku hanya kaget saat membaca gosip tentang salah satu artis lokal. Dia padahal terkenal baik tapi siapa sangka dia terjerat kasus obat-obatan terlarang," sahutku singkat. Aku terpaksa berbohong.
"Oh...jangan terlalu banyak baca gosip, Zeta. Daripada memikirkan orang lain lebih baik pikiranmu digunakan untuk memikirkanku, Sayang," Valko mencolek daguku. Ih, Valko, ini di depan orang banyak tahu. Aku malu! 😶.
"Hubby, dimana tempat makan yang kau maksud?" tanyaku sambil memasukkan smartphone ke dalam tas selempangku.
__ADS_1
"Ada di gedung seberang, Zeta. Tanggung jika naik mobil. Lebih baik kita menyeberang jalan. Aku suka bergandengan tangan denganmu," ucap Valko. Dia mencium tanganku. Valko, meski kau suka jahil dan posesif tapi tetap saja aku merasa baper jika diperlakukan seperti ini 😍.
Jalan raya yang cukup besar nampak di depanku. Udaranya panas, untung saja aku memakai topi. Untungnya lagi, tubuhku lebih pendek dari Valko. Jadi, bayangan Valko membuatku terhindar dari teriknya mentari. Ini salah satu keuntungan punya tubuh pendek, hihihi! 😂
Valko memakai tudung kepala di hoodie-nya. Kacamata hitam juga dipakainya. Tanganku dipegang dengan erat. Para pengawal Valko membukakan jalan. Rasanya seperti orang penting saja. Ada pengawal pria berjas dan berkacamata hitam di sekitarku. Para pengawal Valko bersiaga mengamankan jalan.
Kakiku sudah melangkah di bagian tengah jalan raya ini. Di seberang jalan nampak restoran yang menarik perhatianku. Astaga, itu restoran yang menyajikan makanan korea. Ah! Valko, kau memang tahu seleraku. Kepalaku sudah berisi berbagai macam makanan yang sering kulihat di drama korea.
"AWAS!!!!" terdengar teriakan memengkakkan telinga. BRAK!!! Tiba-tiba saja ada sebuah mobil hitam yang melaju kencang. Mobil itu langsung menghantam tubuh para pengawal Valko. Mereka terpental akibat jatuh akibat tertabrak mobil itu. Mobil itu melaju ke arahku.
"AAAA!!!!" teriakku.
"VALKO!!!" teriakku kencang. "VALKO!!!" teriakku lagi. Nampak tubuh Valko tergeletak di atas aspal. Nampak darah mengucur dari kepalanya. Kepala Valko berlumuran darah. "Valko!!!" aku menangis sambil mengguncang-guncang tubuhnya.
"VALKO!!!" terdengar teriakan seseorang. Nampak seseorang memakai hoodie warna hitam dan celana jeans warna biru dongker. Wajah orang itu nampak jelas. Dia sedang menangis. Aku terperanjat pada apa yang kulihat.
"Ka...kak...Ha...na...." ucapku terkejut. Itu adalah Kak Hana, teman kuliah Valko. Aku pernah bertemu dengannya saat di reuni waktu itu. Bagaimana dia bisa ada di sini? Kenapa dia bisa muncul tiba-tiba?
"Valko...." ucap Kak Hana sambil menangis. "Ini salahmu! Kau memang wanita pembawa sial! Seharusnya aku melenyapkanmu dari awal! Dasar wanita pembawa sial!" teriak Kak Hana. "Rasakan ini!" Kak Hana mengarahkan tangannya padaku. Refleks, kututup mataku.
__ADS_1
"Jangan ganggu istriku!" terdengar suara. Mataku refleks terbuka.
"Va...val...ko...." ucapku kaget. Nampak Valko menahan tangan Kak Hana.
"Tangkap dia!" terdengar teriakan. Nampak Sektetaris May. Dia datang bersama para pengawal Valko. Mereka segera menangkap Kak Hana.
"Apa yang terjadi?" aku tak percaya ini. Para pengawal Valko yang tertabrak tadi bangun. Valko juga bangun dengan santai.
"Ini yang disebut memancing ular keluar dari sarangnya...." ucap Valko.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
__ADS_1
Thank you 😍