Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Season 2 Part 2 Ultah Zeta


__ADS_3

"Kau senang melihatku seperti ini?" tanya Valko. Dia nampak agak badmood tapi cute.


Rambutnya masih blonde tentu saja. Rambut itu kukuncir dua di bagian kanan dan kiri, seperti anak kecil.


Hihihi, Valko tak boleh menolak. Ini salah satu list keinginanku. Dia kan sudah janji akan menuruti seluruh keinginanku. Cowok idol K-Popku sering live, mereka suka bertingkah lucu dengan menguncir rambutnya. Pengen juga bikin kayak gitu. Valko lah korbannya, hihihi.


"Kalo aku harus turun dengan kunciran seperti ini, lebih baik aku di dalam mobil saja. Kau bimbingan saja sendiri. Nanti kutunggu di parkiran mobil fakultasmu," Valko nampak cemberut.


"Kau marah? Sayang marah ya padaku ...." aku bergelayut manja di lengan kiri Valko. Kepalaku menyandar manja di bahunya. Wangi parfum Valko tercium. Aku suka bau parfumnya.


"Aku tak marah. Cuma jika kau menyuruhku keluar dengan kunciran seperti ini. Aku tak mau Zeta. Ini hari ulang tahunmu, jika kau minta benda mahal pasti kubelikan! Tapi, jika aku harus keluar dengan kunciran seperti anak kecil begini! Aku tak bisa!"


"Aku kan cuma menguncir rambutmu di dalam mobil. Aku tak minta kamu keluar dengan tampilan seperti ini." Kulepas kedua kunciran itu. Rambut Valko kembali kusisir agar rapi. Orang ganteng itu gini ya. Udah sering diliat pun tetep aja memesona. Hidungnya itu lho mancung banget. Gen cantik mamanya Valko emang tak perlu diragukan.


"Sudah, kalo kamu malu punya rambut blonde pake topi saja," kupakaikan topi ke kepala Valko.


"Anaknya Bu Parama emang ganteng ya," bisikku di telinga Valko.


"Ehm ...." sahut Valko singkat. "Mamaku memang cantik. Bagiku dia perempuan paling cantik di dunia ini. Nomer duanya kau, istriku, Zeta."


"Iya, aku nurut sama pendapatmu aja, Mas Sayang," bisikku di telinga Valko jahil.


"Kau memanggilku apa? Mas Sayang?" Valko nampak heran.


"Iya, memangnya kenapa? Salah ya? Kau kan memang lebih tua dariku,hihihi."


"Ehm, terserah kaulah," sahutnya mengelus dahiku.


"Ini hari ulang tahunku lho, kamu nggak mau balas panggilanku?"


"Kau dipanggil apa? Dek Zeta gitu? Adek Sayang?" Valko bertanya sambil menatapku. Mobil itu tiba-tiba saja berhenti. Nampak pemandangan parkiran fakultas tempatku belajar.


"Eh, sudah sampai parkiran. Dosen pembimbingku pasti sudah menunggu nih."


"Hati-hati keluarnya. Dosenmu pasti sudah paham dengan kondisimu. Aku sudah menghubunginya kemarin," Valko membawakan tas dan stopmap berisi bahan bimbinganku.


"Hah? Tahu keadaanku? Maksudmu kamu chat dia?"


"Iya, aku chat dekanmu (dekan \= sebutan untuk kepala fakultas), kepala program studimu, dosen pengampu akademik (dosen yang bertindak seperti wali kelas) dan juga dosen pembimbingmu. Mereka harus tahu kondisimu lah. Tanggung jawabku bukan cuma anakku, tapi juga dirimu, ibunya. Kalau kamu sampai tertekan atau sakit gara-gara skripsi bagaimana? Aku tak mau itu terjadi." Valko menggandengku saat turun dari mobil.


"Sini, aku bawa tas atau mapku. Aku kuat kok." Tanganku hendak mengambil tas selempang atau map yang dibawa Valko.


"Sudah aku saja. Kau jalan dengan baik dan hati-hati saja. Jika sampai tersandung nanti kududukan di kursi roda, lho," ancam Valko. Aku pun menggangguk patuh.

__ADS_1


Jadi, membayangkan jika besok anakku lahir. Ah, Valko gendong anak. Kayaknya lucu,hihihi. Aku bawa tas isi peralatan bayi, dia gendong anak. Tapi, kayaknya besok pake pengasuh deh. Ah, aku mikirnya terlalu jauh. Skripsi saja belum sidang. Pikirkan skripsimu dulu,Zeta. Kau harus dapat acc buat ambil data.


"Sayang, aku bisa bawa tasnya sendiri. Kamu nggak malu bawain tasku?" tanyaku sambil berusaha mengambil tasku.


"Sudah, aku bawa saja. Sudah mau sampai ruang dosen pembimbingmu juga. Perhatikan langkah kakimu. Jangan sampai tersandung." Valko menggandeng tanganku lagi. Perutku kan belum besar. Masih kecil juga.


"Nah, duduk di sini," Valko menyuruhku duduk di kursi depan lorong dosen pembimbingku itu. "Jadi kangen masa kuliah. Aku dulu bimbingan sendirian karena kaum ambisisius. Sering teringat jika Vio ada. Pasti aku akan ambil jurusan dan kampus yang sama dengannya. Dulu suka berkhayal, sehabis pulang kuliah, jika kami satu kampus mungkin aku akan mengantar jemput dia. Setiap malam minggu nonton atau ngemall. Tapi rupanya khayalan itu ditakdirkan untuk terwujud denganmu,Zeta. Vio adalah masa lalu yang akan selalu kuingat, tapi kau adalah masa depan yang ditakdirkan untukku. Kalo kau tidak sedang hamil, mungkin aku akan mengantarmu ke kampus naik motor. Itu akan lebih menyenangkan."


"Oh, jadi di khayalanmu kau ingin mengajakku bimbingan naik motor? Kayak di FTV gitu? Dulu aku belum hamil, kau mengajakku ke sini naik mobil kok."


"Kita kan belum begitu dekat waktu itu. Bagaimana jika kau loncat dari motor? Aku nanti yang disalahkan."


Valko, khayalanmu terlalu berlebihan. Mana mungkin aku loncat dari motor. Aku juga masih sayang nyawaku. Sudahlah, yang penting kan sekarang.


"Sana, bimbingan dulu. Mumpung belum ada yang antri." Valko menyerahkan map berisi naskah proposal skripsiku. Aku masuk ke ruangan itu. Nampak dosen pembimbingku itu mengetahui kehadiranku. Dia menyambutku dengan ramah.


"Zeta ya? Sini, masuk," sapanya ramah. Dia melihat-lihat proposalku.


Seperti pejuang skripsi pada umumnya, corat sana sini pasti tak bisa dihindari. Suamiku kaya, bisa saja aku pake calo atau joki skripsi, tapi untuk hal seperti ini, Valko sangat menjunjung integritas. Dia benci pada hal seperti itu, lebih baik lama lulusnya asal berintegritas katanya. Pokoknya gelarku harus murni hasil kerja otakku.


"Revisinya sedikit saja. Nanti hasilnya bisa dikirim ke email saya. Terus ambil data saja. Kamu jaga kondisi ya. Sebentar lagi selesai kok. Nanti saya bantu juga biar semester ini bisa sidang," ujar dosen pembimbingku.


"Terima kasih, Bu. Akan segera saya perbaiki," kuterima proposal itu. Dosen pembimbingku tumben baik banget. Rejeki dedek bayi kali ya,hihihi. Dosennya jadi ramah dan nggak galak.


Saat aku keluar dari ruangan itu. Nampak Valko sedang asyik berbincang dengan seseorang pria berjas rapi. Aku tak terlalu mengenal pria itu. Kurasa itu pejabat fakultas lain.


"Wah, ini istrimu? Cantik ya. Pasti besok anakmu cantik juga," ujar pria itu.


"Mohon doanya saja, Bro! Kau juga segeralah menikah, hahaha," sahut Valko.


"Doakan ya Bro! Aku baru mau lanjut S3 ini. Udah dulu ya. Ditunggu meeting di rektorat aku," pria itu menyalami Valko dan bergegas pergi.


"Dia siapa?" tanyaku penasaran.


"Teman lamaku waktu kuliah di luar negeri dulu. Aku tak menyangka bisa ketemu dia di sini. Sudah bimbingannya? Gimana? Ada revisi lagi?" tanya Valko sambil mengambil proposal di tanganku.


"Revisi sedikit terus disuruh ambil data. Dosenku jadi ramah. Rejekinya dedek bayi kali ya."


"Sudah, duduk dulu. Setelah ini kau mau apa?"


"Aku pengen ke kantin kampus, boleh ya Mas Sayang?" panggilku manja. Berbagai makanan dan minuman lezat sudah tertata rapi di khayalan otakku. Rasanya pengen makan.


...----------------...

__ADS_1


Ini hari yang buruk. Aku rasanya ingin mengumpat dan mengutuk. Menyebalkan, kenapa kantin di kampusku harus tutup dan direnovasi saat ini. Aku cuma ingin makan di sana. Sepanjang mobil berjalan rasanya sudah badmood.


"Sayang," panggil Valko. Dia berusaha mendekatiku. Aku sedang tidak mood membalas sapaannya. Rasanya benar-benar ingin mengumpat.


"Jangan cemberut. Nanti kuminta koki di rumah masak masakan yang kau inginkan. Jangan cemberut ya," bujuk Valko.


"Rasanya nggak sama," protesku. "Aku cuma ingin jajan di kantin kampus. Nanti kumakan sesendok saja tak masalah. Aku cuma pengen nostalgia suasananya."


"Kucari info penjualnya ya. Nanti biar masak buatmu di rumah. Kamu mau makan apa?" tanya Valko lagi.


"Rasanya nggak sama,Valko. Aku cuma pengen jajan di kantin kampusku. Biar pun yang masak pedagangnya nanti nggak sama."


"Kamu baru ngidam ya?" tanya Valko.


"Nggak tahu," jawabku singkat. Entah ngidam atau apalah, aku tak tahu. Cuma itu yang ada di kepalaku.


"Jangan cemberut. Nanti kasihan dedek bayinya. Kamu mau makan apa? Nanti aku usahakan, tapi jangan cemberut begini. Ini hari ulang tahunmu, lho, Sayang. Kamu mau cemberut? Nggak mau liat sesuatu dariku?"


"Sesuatu?" aku menatap Valko.


"Aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu, tapi jika kamu sedang badmood. Baiklah, tak apa jika kita pulang saja," goda Valko.


"Jangan pulang! Jangan pulang! Ayo lihat hadiahmu!" aku penasaran.


Valko tak mungkin menyiapkan sesuatu yang akan membuatku kaget. Dia juga tak mungkin menjahiliku saat ini. Aku penasaran dia menyiapkan kado apa ya.


"Kau jangan jahil ya! Diperutku baru ada dedek bayi," kuingatkan Valko.


"Ck, kau terlalu negatif thinking. Aku sudah tak pernah jahil padamu, tahu!"


Mobil itu berhenti di depan sebuah bangunan. Dari kaca mobil terlihat sebuah lobi hotel mewah bernuansa putih. Beberapa pria berjas rapi menyambut kedatanganku dan Valko.


"Sudah, ayo turun," Valko menggandeng tanganku. Dia memastikanku turun dengan baik tanpa tersandung. Hotel ini sangat wangi.


"Kau menyiapkan kejutan apa? Apa kita akan menginap di sini?" tanyaku.


"Kalo kau ingin menginap boleh, Sayang. Nanti bisa Mas atur," sahut Valko. Dia tak melupakan panggilanku pagi ini rupanya. "Hampir sampai," Valko menghentikan langkahku. "Nggak seru dong kalo ...."


"Iya, aku tutup mata. Aku tutup mata nih."


Mataku pura-pura kututup. Padahal mengintip sedikit. Valko menuntunku menuju ke bagian belakang hotel itu. Bau harum tercium dari sana.


"Sudah, nggak perlu mengintip lagi, Zeta," bisik Valko. Dia ternyata tahu jika aku mengintip dari tadi ya. "Kau bisa buka matamu sekarang!"

__ADS_1


Saat kubuka mataku, nampak sebuah kolam renang penuh kelopak mawar merah. Ada mawar putih yang ditebar di antara ratusan kelopak mawar merah yang teralung itu. Mawar putih itu membentuk tulisan HAPPY BIRTHDAY MY LOVE ZETA.


"Selamat Ulang Tahun untuk Istriku, Kekasihku, Ratuku, Zeta Belvia Nugraha. Happy Birthday My Love," bisik Valko dari arah belakang. Dia memelukku dari arah belakang. Ah, Valko, ini hadiah yang manis dan romantis.


__ADS_2