
Kubuka mataku, kurasa sekarang sudah pagi. Kugerakkan tubuhku. Tunggu, dimana Valko? Bukankah dia seharusnya ada di pelukanku? Aku beranjak duduk lalu menengok ke arah kiri dan kanan.
"Kau mencariku?" seseorang keluar dari kamar mandi. Nampak Valko sudah rapi dengan kaos warna abu-abu cerah dan celana jeans biru. Sial, apa semua kaosnya setipis itu? Aku tak bisa berpaling dari otot sixpack yang terlihat menonjol itu. "Kau ingin sesuatu?" tanya Valko sambil mendekat ke arahku. Sial, kenapa aku deg-degan. "Kau kenapa? Kenapa pipimu memerah?" tanya Valko. Sial, aku harus jawab apa. Dia memeng memesona dan membuatku terkesima.
"Aku ingin mandi!" kulangkahkan kakiku turun dari tempat tidur. "Valko!" tiba-tiba saja tubuhku sudah terangkat di gendongannya.
"Aku dengan senang hati akan membantumu mandi, Tupaiku Sayang," ia tersenyum licik.
"Biarkan aku mengambil baju gantiku dulu, Tu...an...ehm...maksudku...Cayang...." Pintu kamar mandi sudah terbuka. Aku berusaha memutar otak agar dia tak ikut masuk ke kamar mandi.
"Biar aku yang membuka koper untukmu," Valko membukakan koper untukku. "Kau hanya mengemas celana panjang dan pakaian saja dalam koper ini?" Valko melihat ke arahku. Aku menggangguk. Koper ini kan berisi pakaianku untuk hangout, mana aku tahu kelak akan diajak kemari. Aku kan mengepak pakaian di koper ini untuk pindah ke rumah Valko, bukan untuk kemari. Tentu saja isinya hanya celana panjang dan kemeja. Kurasa Valko tak membongkar koperku ini. Kurasa pelayan di rumahnya hanya menambahkan skincare dan make up-ku saja. "Untung saja nenekku cerdas. Dia sudah membelikan pakaian untukmu. Ini pakailah ini...." Valko menyerahkan beberapa tumpuk pakaian. Saat kubuka lipatan pakaian itu, ternyata itu celana pendek berbahan kain dan kain katun. Bukan celana kolor tapi celana pendek yang cocok untuk hangout.
"Aku suka ini!" ada sebuah gaun langsungan warna pink berbahan katun. Modelnya simpel tapi elegan.
"Pakai celana pendek!" perintah Valko. Mukanya nampak tak suka, dia menyodorkan celana pendek berbahan jeans warna putih ke arahku. Kau sendiri yang memberiku pakaian ini. Kau juga yang melarangku memakainya. Aku menghela napas, kurasa bahkan pakaianku pun akan diatur olehnya mulai sekarang. "Aku ingin mengajakmu pergi. Aku tak ingin orang lain terpancing melirikmu karena gaunmu itu!"
"Ehm...iya, Tu...an....ehm...maksudku Ca...yang...." lidahku masih terasa kelu mengatakan kata cayang.
"Pakai ini!" Valko menyerahkan kaos warna abu-abu seperti yang dipakainya.
Jadi, dia ingin memakai baju couple denganku. Astaga, apa ini! 😨 Di belakang kaos itu ada tulisan : "Sudah ada yang punya 😎 Berani lirik langsung cekik! 😠 ". Dia sama saja melabeliku dengan kaos ini. Sudahlah, aku malas berdebat dengannya.
"Valko!" tubuhku sudah ada di gendongan Valko. Gawat! Aku lengah. Kesempatan untuk kabur sudah lewat. Apa yang harus kulakukan sekarang? Valko sudah menggendongku memasuki kamar mandi.
"Ehm...Cayang...." panggilku. "Bolehkah aku mengambil handuk dan bathrobe?"
"Ehm...." sahut Valko lirih. Astaga, dia tak menurunkanku, hanya mendekatkanku ke arah gantungan handuk dan bathrobe di dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Cayang...." aku tersenyum. "Kau bisa menurunkanku sekarang!"
"Aku sudah bilang akan membantumu mandi, Tupai Kecilku!" ia tersenyum licik. Sial, Serigala ini tetap saja sulit dikalahkan. Tubuhku sudah berada di dalam bak mandi. Kuletakkan pakaian gantiku, handuk dan bathrobe di lantai dekat bathtub. HUA! Bagaimana aku mau mulai mandi jika Valko masih di sini. "Kenapa kau belum mulai mandi? Cepatlah! Kita harus segera berangkat! Bukankah tadi malam kau sangat antusias, Tupai Kecilku?" ia tersenyum licik.
"Cayang...." panggilku lirih. "Ehm...bisakah kau ehm...membiarkanku sendiri...ehm...kau tahu kan...aku masih seekor tupai yang polos dan amat pemalu...." kuharap dia mengerti kodeku.
"Kenapa aku harus membiarkanmu sendiri? Kau istriku. Takkan ada yang protes jika aku bersamamu di dalam kamar mandi," ia tersenyum licik. Sial! Serigala Gila ini semakin sulit didebat! 😡
"Cayang!" mukaku kubuat khawatir. "Sepertinya ada yang mengetuk pintu tadi. Bisakah kau melihatnya? Mungkin saja itu Oma yang membawakan obat untukku. Tadi malam obatku belum kuambil...."
"Ehm, baiklah!" Valko beranjak pergi. Meski sulit didebat tapi dia masih mudah dikelabui, hihihi 😆. Aku harus cepat sebelum dia kembali. Kulepaskan bajuku seluruhnya, aku sangat hati-hati ketika melepas celana panjangku. Jangan sampai menyentuh luka di telapak kaki kananku. Kunyalakan air hangat sambil menuang sabun cair. Kaki kananku kuangkat setinggi mungkin ke atas untuk bersandar pada tepi bathtub agar tak terkena air. Syukurlah, sekarang aku sudah tertutup air dan gelembung sabun. Aku mulai menikmati mandiku.
"Tak ada siapa pun, Tupai!" terdengar suara masuk ke dalam kamar mandi. Astaga! Valko masuk ke kamar mandi lagi. "Aku sudah mencari Oma langsung tadi. Obatmu sudah kuambil dan dia bilang dia tak pergi ke kamar kita...." Valko memandangku dengan tajam. "Kau tak bermaksud mengusirku kan?"
"Cayang, apa maksudmu?" aku deg-degan. "Aku hanya menceritakan apa yang kudengar tadi. Ehm...mungkin saja telingaku sedikit ehm...bermasalah...."
"Nanana...psycho...psycho....psycho...." terdengar suara. Yes! Itu bunyi dering smartphone-ku. Itu nada dering bunyi panggilan telepon masuk.
"Cayang, ada telepon," aku memasang muka memelas. "Ehm...itu nada dering panggilan masuk khusus untuk keluargaku. Bisakah kau menjawabnya?"
"Ehm...." Valko mendengus lalu keluar dari kamar mandi. Yes, kurasa keberuntungan sedang berpihak padaku. Segera kubuang air dalam bathtub. Kukeringkan tubuhku dengan handuk secepat mungkin. Kupakai pakaian gantiku secepat kilat. Aku tak peduli siapa yang menelepon tapi panggilan itu sudah menyelamatkanku, hihihi 😆. Nampak Valko masuk ke dalam kamar mandi. Aku memasang muka biasa.
"Siapa yang telepon, Cayang?" tanyaku.
"Ibumu!" sahutnya ketus. Hihihi, kurasa dia kecewa karena tak bisa bersamaku saat aku mandi. "Dia bertanya kemana aku membawamu pergi," sahut Valko.
"Lalu kau jawab apa?" aku penasaran.
__ADS_1
"Kujawab...." Valko mendekatkan mulutnya ke arah telingaku. "Pergi untuk melakukan perintah kakekku tercinta, Kakek Wijaya." mukaku langsung memerah ketika mendengarnya. "Hey, mengapa mukamu memerah? Aku memang disuruh kakek melakukan sesuatu dan melapor padanya saat menjenguknya di rumah sakit nanti," Valko menatapku. "Kau tak berpikir hal lain kan, Tupai Kecil?" Valko tersenyum licik. Sial, apa dia baru saja menggodaku.
"Apa maksudmu? Tentu saja, aku tak memikirkan hal lain. Ehm, Cayang, aku sudah selesai mandi!" aku tersenyum ke arahnya.
"Ehm..." dengus Valko. Dia segera mengendongku dan mengeluarkanku dari dalam bathtub. Aku didudukkan di atas kasur. "Biarkan aku mengganti perbanmu dan memberi obat pada lukamu...." Valko duduk di dekat telapak kaki kananku yang terlentang.
Perban di telapak kakiku mulai dilepas, nampak kulit yang masih melepuh. Tangan Valko sudah memegang salep dan cotton bud. Cotton bud itu sudah diolesi salep pada bagian ujungnya. Pasti rasanya sakit. Kupejamkan mataku.
"Berbaringlah!" perintah Valko. HAH? Dia menyuruhku berbaring tapi dia justru beranjak pergi keluar kamar. Tak berselang lama nampak Valko datang bersama dokter wanita. "Tolong ganti perbannya, Dok. Dia sangat penakut...." ucap Valko. "Jangan khawatir kakinya tak akan bergerak-gerak. Aku akan membantu memegangi kaki kanannya," kurasa Valko tersenyum licik.
Sial! Dia hanya modus ternyata. Dasar Serigala Gila bilang saja jika kau ingin memegangi paha dan betisku! Paha dan betisku sudah dipegang oleh tangan Valko. Dia memegangnya dengan sangat erat. Salep luka itu mulai dioleskan ke kakiku. Hiks, rasanya tetap saja pedih. Kupejamkan mataku sambil menggigit bibirku untuk menahan rasa pedih itu. Bisa kurasakan perban baru sudah diterapkan di kakiku.
"Saya undur diri, Tuan Muda, Nona," terdengar suara dari dokter itu. Valko langsung memelukku.
"Aku tak tahu jika lukanya separah itu...." ucapnya dengan nada sedih."Maafkan aku...."
"Sudahlah, aku sudah memaafkanmu," kukecup dahinya. Lebih baik kutenangkan dan kujauhkannya dia rasa bersalah. "Sudah, sekarang ayo kita jalan-jalan," Valko menggangguk. Dia melepas pelukannya dari tubuhku. Dia hendak menggendongku lagi. "Tunggu, biarkan aku memakai skincare dan make up dulu!" aku tentu tak bisa melupakan hal ini, hihihi 😆.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1