
Sampai di sini dulu lah mengerjakan Bab 1-nya. Kuklik save pada file word itu. Sudah siang, waktunya aku pergi. Nampak pada jam di layar laptop sudah menunjukkan waktu tengah hari. Kumatikan laptop itu. Tunggu, sebelum aku pergi menemui Mama sebaiknya kucek dahulu make up-ku. Kulihat wajahku di kaca yang terdapat pada wadah bedak itu.
"Masih cukup bagus," ucapku sambil mengamati area leher.
Aku menghela napas. Aksi Valko tadi malam membuat leherku memiliki banyak tanda darinya. Tentu aku harus menutupi tanda itu dengan foundation dan bedak agar tak memancing perhatian orang lain. Lebih baik aku juga memakai syal warna pink yang sudah kusiapkan dari rumah tadi. Segera kuambil tas selempangku. Aku siap pergi.
"ZETA!!!" terdengar suara seseorang memasuki kamar.
"Valko!" ucapku kaget. "EH!" Valko langsung menubrukku hingga badanku terbaring jatuh ke atas ranjang di kamar ini.
"Zeta!" panggil Valko manja. Dia memelukku dari arah samping kiri. Duh, kalo begini bisa-bisa aku nggak jadi pergi.
"Ehm...Hubby, ehm...bolehkan aku per...gi?" tanyaku. "Ehm...ini sudah siang, ehm...Mama sudah menungguku...." ucapku lirih.
"Kau tega meninggalkanku? Aku sedang sakit!" celetuk Valko sambil cemberut.
"Kau kenapa?" ucapku sambil meraba dahi Valko. Dahinya tak panas, suhunya terasa normal.
"Kepalaku sakit karena meeting, kau tega meninggalkanku saat sedang begini?" sahut Valko. Aku menghela napasku. Dasar manja! 😧
"Kau ingin minum obat?" tanyaku sambil berusaha tersenyum. Valko, kau sangat manja sekali sekarang! 😧
"Aku ingin dibelai!" pinta Valko. Aku pun membelai kepalanya. Valko terlihat menikmati belaianku. Duh, jika dia tertidur kapan aku bisa pergi.
"Permisi!" nampak seseorang masuk ke dalam kamar ini. Duh, itu Sekretaris May. Dia nampak salah tingkah saat melihatku dan Valko. "Maaf Nona, Tuan, saya masuk untuk mengantarkan makan siang," ucapnya sambil berlalu pergi.
"Hubby," panggilku. "Ehm...bagaimana jika kau makan? Aku akan menyuapimu!" ucapku. Bangunlah, Valko! Ayolah! Aku harus pergi secepat mungkin! 😣
"Tak mau! Aku ingin tidur siang sambil dibelai olehmu!" Valko menutup matanya kembali.
Valko, kau jadi manja sekali, sih! Aku jadi rindu saat kau masih cuek dan sedikit kasar padaku, setidaknya aku bisa lebih bebas. Tunggu, nampaknya Valko sudah tertidur pulas. Jika aku pergi diam-diam kurasa tak masalah. Aku berusaha melepaskan pegangan tangan Valko.
"Kau mau kemana?!" Valko tiba-tiba saja terbangun. Wajahnya nampak cemberut.
"Valko! Kau sudah janjikan jika aku boleh pergi siang ini menemui mamaku. Aku sudah melakukan yang kau minta tadi malam!" ucapku tegas.
"Ya sudah, sana pergi!" Valko bergerak membelakangiku. "Aku memang tak penting bagimu!" ucap Valko. Duh, kok dia jadi ngambek sih.
"Valko, kenapa kau bilang begitu? Kau tentu penting bagiku...." ucapku sambil duduk di hadapan Valko. Valko berbalik membelakangiku lagi. Dia manja sekali, sih! "Kau ingin apa, Hubby? Jangan marah lagi, ya," ucapku. Lebih baik aku mengalah, tak baik membantah Valko. "Kau ingin dibelai?" aku kembali membelai kepala Valko. Dia tetap tak berbalik menghadap ke arahku. "Iya, baiklah, aku akan menemanimu tidur siang. Aku takkan pergi jika kau tak mengijinkannya, Hubby," ucapku.
"EH!" Valko menarikku ke dekapannya. Dia memberikan ciuman ke arah wajahku. Sudahlah, terima saja. "Jangan pake bedak tebal-tebal, Zeta!" protes Valko. "Bedakmu jadi menempel di bibirku, tahu! Kenapa kau berdandan, hah?" tanya Valko. Tatapannya nampak menunjukkan kecurigaan.
__ADS_1
"Hubby, aku berdandan untukmu. Untuk siapa lagi aku berdandan jika bukan untukmu," aku berusaha meladeni Valko dengan sabar.
"Lainkali, tak usah pakai make up! Kau sudah cantik, Zeta!" ucap Valko. Valko, kenapa ya kadang aku merasa berbunga-bunga karena ucapan dari mulutmu.
"Iya, Hubby," sahutku sambil membelai kepala Valko.
"Aku lapar," ucap Valko.
"Kau ingin aku suapi?" tanyaku sambil menatapnya.
"Aku ingin suapan spesial!"
"Suapan spesial?" aku tertegun. Valko, permintaan aneh apalagi ini.
"Suapi aku, setiap satu suapan kau harus memberi kecupan di wajahku. Aku sedang sakit kepala, Zeta!" ucap Valko manja. Valko, kau sakit kepala tapi minta diobati dengan cara seperti ini. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau menolak? Kau menolak merawatku saat aku sedang sakit seperti saat ini?" ucap Valko lagi. Sakit? Mana ada sakit kepala dirawat dengan cara seperti ini? Valko, tingkahmu ada-ada saja.
"Aku akan menuruti keinginanmu, Hubby," sahutku sambil berusaha tersenyum. Aku pun bangkit dan duduk di tepi ranjang. Valko tetap memelukku dari sebelah kiri. Dia menyandar dengan sangat manja.
"AAA!!!" Valko membuka mulutnya. Aku pun menyuapkan sesuap nasi goreng padanya. Kok mulutnya tetap diam sih? Kenapa tak mengunyah? 😮
"Kenapa? Kenapa kau tak mulai mengunyah?" tanyaku sambil menatapnya.
"Kenapa, Hubby?" ucapku sambil berusaha tersenyum. Valko, kau mau apa lagi, sih? 😧
"Ehm...." Valko menunjuk ke arah pipinya.
Astaga, jadi aku juga harus memberi kecupan di pipimu juga ya. Sudahlah, lakukan saja agar makan siang ini cepat selesai. Kuberi kecupan di kedua pipi Valko. Valko akhirnya mengunyah makanan di mulutnya. Tanganku kembali menyuapinya lagi. Kecupan tentu kembali kuberikan.
"Makan siang yang menyenangkan," celetuk Valko. Dia masih bersandar manja di tubuhku. Matanya mulai terpejam. Sudahlah, turuti saja apa yang diinginkan Valko, Zeta. Aku menghela napas. Tubuhku kembali berbaring di ranjang bersama Valko. "Zeta!" mata Valko kembali terbuka. Valko, kau mau apa lagi, sih?
"Iya, Hubby?" tanyaku sambil menatapnya.
"Puk-puk! Tepuk-tepuk tubuhku," pinta Valko dengan manja.
"Baiklah, Hubby," sahutku sambil melakukan perintahnya. Valko, jika suatu saat kau benar-benar sakit, aku tak berani membayangkan seperti apa tingkah manjamu.
"Aku siap untuk bekerja kembali!" ucap Valko sambil merapikan kembali jasnya. Akhirnya, aku bisa pergi. Kakiku hendak melangkah keluar. "Zeta!" Valko sudah berdiri di depan pintu kamar. Kedua tangannya menyilang di dada. Astaga, dia ingin apalagi, sih? 😧
"Iya, Hubby?" ucapku sambil berusaha tersenyum. Sabar, Zeta! Sabar! Ingat sekonyol apa pun tingkah Valko, dia tetap suami yang harus kau patuhi dan hormati! 😧
"Kau melupakan sesuatu!" ucap Valko sambil cemberut. Melupakan sesuatu? Apa yang kulupakan? 😦
__ADS_1
"Apa yang kulupakan, Hubby?" tanyaku sambil menahan emosiku. Valko, sampai kapan kau akan menahanku di sini?
"Ehm...." Valko menatap ke arah bawah tepat ke arah dasinya. Astaga, kau ingin aku merapikan dasimu? Baiklah! Aku segera mengikat kembali dasi di leher Valko agar rapi. Kakiku berjinjit agar bisa meraih leher Valko.
"Sudah, Hubby," ucapku lagi. Aku sudah melakukan segala keinginanmu, Valko. Sekarang jangan halangi aku lagi, please.
"Kau melupakan sesuatu lagi!" ucap Valko. Astaga, Valko, kau ingin bermain apa lagi sih? 😧
"Hubby, Sayangku, Suamiku Tercinta!" panggilku. Panggilan ini mungkin terlihat mesra tapi sebenarnya ini caraku untuk menahan emosiku. "Bisakah kau memberi tahu apa yang kulupakan?"
"Aduh!" Valko menggenggam tangan kananku lalu menempelkan tangan kanannya ke wajahku. Punggung telapak tangan kanan Valko mengenai wajahku. Kau ingin aku berpamitan dengan cara mencium tanganmu? 😯
"Ingat ini!" ucap Valko.
"Baik, Hubby," sahutku sambil berusaha tersenyum. Aku hendak melangkah keluar dari kamar pink itu.
"Tunggu!" Valko menahan tanganku. Aduh, Valko, kau ingin main apa lagi sih. "Pakai ini dan juga ini!" Valko memakaikan kacamata hitam, masker berwarna hijau dan juga topi warna hitam. "Aku tak suka jika pria lain melirikmu! Ingat! Kembali kemari sebelum jam pulang kantor! Jangan....." Valko berbicara panjang lebar.
"Cepat pergi ke Rumah Sakit XYZ!" ucapku saat tiba di mobil. Mobil ini sudah terparkir didepan lobi kantor.
"Baik, Nona!" sahut Pak Sopir ini. Akhirnya, aku bisa lepas sementara dari Valko. Akhirnya, aku bisa pergi ke rumah sakit.
"Berhenti!" nampak segerombolan wanita mencegat mobil ini saat hampir tiba di pintu keluar area kantor.
"Ada apa?" tanyaku kepada segerombolan pengawal wanita itu.
"Maaf, Nona, Tuan Valko memerintahkan agar Nona pergi dengan bus yang telah disiapkan!" nampak sebuah bus kecil berwarna hitam seluruhnya.
"Kenapa? Apa mobil ini rusak?" tanyaku pada pengawal wanita itu.
"Tidak, Nona, Tuan hanya tidak ingin pria lain menatap Nona dari balik kaca mobil. Jika pergi dengan bus, Nona bisa duduk di tengah, di antara para pengawal wanita sehingga wajah Nona tak terlihat dari luar," sahut pengawal wanita itu. Astaga, Valko, kenapa kekonyolanmu belum berhenti, sih? 😭
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1