
"Hahaha! Tertipu!" teriak Valko sambil tertawa terbahak-bahak.
Valko, kau menyebalkan! 😭. Katanya sayang padaku tapi kenapa sifatmu yang jahil tak berubah, sih? 😭 Aku tetap saja tertindas karena kejahilanmu. Huh! Kencan tapi masih jahil. Kau bukan tipe tuan muda yang manis dan lembut yang suka memanjakan wanita seperti di komik-komik yang pernah kubaca. Kau adalah tuan muda yang terkesan agak badboy dan suka jahil. Aku selalu saja jadi korban saat kejahilanmu kambuh. Aku harus membalas kejahilanmu, Valko! 😡 Tapi, bagaimana caranya? 😯
"Sudahlah," Valko menyeka wajahku dengan handuk putih. Astaga, Valko, kau tulus tidak sih menyeka wajahku? Kau terlalu keras menggosok wajahku. "Sepertinya kau sudah lelah, Zeta. Kalo begitu sudahi saja nge-gym kali ini," ucap Valko.
"May!" panggil Valko.
"Apa yang kau lakukan?" ucapku saat Valko menggendong tubuhku.
"Iya, Tuan," nampak Sekretaris May dibalik pintu. Dia membawa sebuah tas hitam yang cukup besar. "Ini yang Anda minta. Kamar mandi juga sudah siap, Tuan," jawab Sekretaris May sambil tetap membawa tas itu.
"Ehm..." sahut Valko. Dia membawaku keluar dari ruangan ini.
"Kau mau apa? Turunkan aku!" ucapku.
"Ih, jangan galak-galak, Zeta. Hari masih panjang. Aku ingin jalan-jalan bersamamu, tapi tentunya setelah kita mandi. Atau tepatnya mandi bersamamu...." Valko mencium pipiku. Dia sudah membawaku masuk ke dalam kamar mandi.
Kamar mandi itu bernuansa biru muda. Dinding dan keramiknya berwarna biru muda. Tubuhku sudah dimasukkan ke dalam bathtub. Valko ingin mengajakku jalan-jalan. Bisa saja dia menjahiliku lagi. Aku masih kesal karena kejahilannya tadi. Ingin rasanya kubalas dia. Tapi, bagaimana caranya? Dia itu cerdik dan posesif. Jika aku menunjukkan kekesalanku dengan cemberut itu bukan pembalasan yang setimpal. Tunggu, Valko posesif? Hihihi, kurasa ini bisa kumanfaatkan! 😆
"Hubby," sahutku sambil bergelayut manja di bahu kanan Valko. Eskalator yang kunaiki mengarah ke lantai dua mal ini. "Kenapa kita tidak naik lift saja?" tanyaku sambil membuka masker hijau di mulutku.
Valko menyuruhku memakai masker warna hijau, topi hitam dan kacamata hitam. Valko menyuruhku memakai kaos warna hitam. Katanya agar cocok dengan hoodie hitam yang dipakai Valko. Aku tak masalah memakai kaos ini tapi tulisan di belakangnya yang membuatku merasa geli. Ada tulisan putih yang berbunyi : 'Sudah ada yang punya! Berani lirik langsung cekik! 😡'. Aku terlihat bucin sekali 😣.
"Jika naik lift bisa saja ada pria yang melirikmu! Aku tak suka itu, Zeta!" ucap Valko. "Pakai maskermu dengan benar!" tangan Valko menempelkan masker itu kembali ke hidungku.
"Lalu dimana pengawalmu dan Pak May? Kau tak mengajak mereka?" tanyaku sambil melirik ke segala arah.
"Mereka mengawasi dari jauh. Aku tak mau jika para pengawal pria itu melirikmu!" sahut Valko lagi.
Eskalator itu sudah sampai di ujungnya. Valko menggandengku berjalan. Area lantai dua mal ini adalah tempat berbagai produk fashion dijual.
"Ayo, Zeta! Aku ingin membelikanmu pakaian!" ucap Valko. Dia menggandengku masuk ke salah satu store pakaian salah satu brand yang produknya memiliki harga selangit. Valko menggandengku menuju area produk berupa midi dress. Dia mulai sibuk memilih midi dress. Ada beberapa manekin di bagian tengah store ini. Suatu ide jahil terlintas di kepalaku.
"Ah! Tampan sekali!" teriakku kencang agar Valko mendengarnya.
__ADS_1
"Zeta!" teriak Valko. Wajahnya sudah mengkerut saat kulirik sekilas. Aku berjalan menuju manekin pria yang memakai jas warna biru dongker itu.
"Ah! Tampan sekali!" kudekati manekin itu. Manekin itu memiliki kulit kuning langsat. Matanya berwarna biru. Rambutnya pirang. "Bukankah dia tampan, Hubby? Aku jadi terpesona!" kubelai pipi manekin itu. Mungkin tingkahku konyol tapi aku suka melihat wajah Valko yang mengkerut karena cemburu! 😂
"Huh!" ucap Valko sambil menyilangkan kedua tangannnya di dada. Hihihi, aku merasa lebih tertantang lagi untuk melakukan aksi selanjutnya 😆.
"Foto dulu ah!" kukeluarkan smartphone-ku. Aku ber-selfie dengan manekin itu. Kucium pipi kiri manekin itu untuk berfoto.
"Zeta!" teriak Valko.
"Ada apa, Hubby? Ehm...maaf, aku hanya mengagumi manekin ini. Dia terlihat tampan seperti pria sungguhan," ucapku tanpa rasa bersalah. "Ayo, kita memilih midi dress lagi!" kutarik tangan Valko. Sebenarnya aku berusaha menahan tawa saat melihat wajah Valko yang cemberut.
"May!" ucap Valko setengah berteriak. Seorang pria dengan kacamata hitam mendekati Valko. "Beli manekin sialan itu dan musnahkan!" perintah Valko. Hihihi, aku rasanya ingin tertawa terbahak-bahak 😂.
Kugandeng Valko kembali ke area midi dress. Mataku tak sengaja melihat area penjualan kacamata. Berbagai jenis kacamata terpajang di etalase kaca. Ada foto yang memperagakan kacamata-kacamata itu. Foto itu dicetak dalam ukuran yang besar. Salah satu modelnya seorang pria bule. Matanya kuning keemasan. Rambutnya warna hitam. Kulitnya tentu saja putih mulus.
"Gagah sekali!" teriakku kencang sambil melepas gandengan tangan dari Valko. Kakiku melangkah menuju area kacamata.
"Zeta!" teriak Valko. "Apa yang kau lakukan?" teriak Valko. Hihihi, wajahnya kembali cemberut lagi 😆.
"Zeta!" teriak Valko. Mukanya sudah mengkerut. Kedua tangannya kembali menyilang di dada. Aku berusaha menahan tawaku sekuat mungkin.
"Ada apa, Hubby? Aku hanya mengagumi foto ini. Model pria di foto ini bisa membuat produk kacamata itu menjadi terlihat luar biasa. Oh! Fotonya amat menawan," ucapku. "Ayo, kita kembali memilih midi dress," kugandeng kembali tangan Valko.
"May!" teriak Valko.
"I...ya,Tuan...." ucap pria yang daritadi berdiri di samping Valko.
"Beli foto terkutuk itu dan bakar!" ucap Valko. Mukanya masih saja mengkerut. Hahaha, menjahili Valko seperti ini amat menyenangkan 😂. Aku pura-pura tak mendengar percakapan itu. Kugandeng kembali Valko menuju area midi dress.
"Ada apa, Hubby? Kenapa kau cemberut?" tanyaku.
"Jaga pandanganmu, Zeta!" ucap Valko dengan nada meninggi. Dia mulai memilih-milih midi dress itu lagi.
Hatiku merasa puas sudah menjahili Valko. Aku berdiri dengan santai di dekat Valko sambil mendengarkan alunan musik yang diputar di store ini. Lagu yang diputar beragam mulai dari dari artis lagu lokal hingga artis mancanegara. Aku merasa biasa saja saat mendengarkan lagu-lagu itu. Sampai terdengar lagu yang membuat emosiku bergejolak. Ini adalah lagu dari boyband luar negeri favoritku.
__ADS_1
"Ah!" teriakku sambil melompat-lompat.
"Kau kenapa, Zeta?" tanya Valko.
"Mereka sangat keren dan tampan! Suaranya merdu sekali!" ucapku histeris. Mungkin ini terkesan lebay tapi aku tak bisa membohongi diriku. Aku adalah seorang fans fanatik. Tentu saja saat mendengar lagu dari idolaku diputar, secara refleks aku menjadi histeris. "Ah! Memang pria idaman!" ucapku. Telingaku serasa dimanjakan oleh suara mereka. Mendengar suara mereka, aku merasa bahagia seolah terbang di udara.
"Siapa mereka?" terdengar suara Valko. Saat aku sadar ternyata Valko sudah memegang bahuku dengan erat. Mukanya sangat menyeramkan. "Zeta! Siapa yang kau maksud mereka?" tanya Valko sambil menatapku tajam.
"Ehm...ehm...mereka boyband idolaku. Ehm...lagunya baru saja diputar...." sahutku lirih.
"May!" teriak Valko kencang.
"I...i...ya, Tu...an...." ucap Sekretaris May terbata-bata.
"Beli seluruh isi toko ini. Ambil alih usahanya dan buat peraturan! Jangan pernah memutar lagu dari boyband yang baru saja diputar!" teriak Valko kencang. Dia menggandeng tanganku keluar dari store ini. Wajahnya nampak cemberut.
Astaga! Valko, kau cemburu lagi? 😂 Padahal aku tak aku tak bermaksud menjahilimu, lho 😂.
Maaf ya jika update-nya lama 😢
Author masih pemula, jadi kadang butuh waktu yang lama untuk membuat alur cerita dalam satu episode
Jika alurnya belum matang, author belum berani melakukan update
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
Thank you 😍
__ADS_1