
"Berjanjilah, kau hanya akan perhatian padaku saja! Berjanjilah! Berjanjilah!" Valko mendesakku sambil menangis.
"Iya, aku janji mulai sekarang aku hanya akan memperhatikanmu saja. Aku takkan marah jika kau ingatkan saat perhatianku padamu mulai beralih...." ucapku lembut.
Valko memelukku semakin erat. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku sambil menutup matanya. Dia melakukan hal ini cukup lama, kurasa dia berusaha menenangkan pikirannya terlebih dahulu secara internal. Matanya sekarang kembali terbuka, tatapannya kembali dingin dan penuh misteri. Kurasa dia sudah tenang.
"Apa es krimnya enak, Tupai?" ucapnya ketus. Ck! Dia rapuh tapi aku jengkel juga jika dia kembali menyebalkan seperti ini.
"Enak, kau mau coba, Cayang?" kutawarkan es krim yang kumakan.
Isi es krim di cup ini masih banyak. Entah cup keberapa ini. Habisnya, rasa es krim ini lembut dan gurih. Rasanya itu alami, beda dengan es krim di toko yang pernah kumakan sebelumnya.
"Ehm...makanlah...." kusuapi Valko.
Valko menerimanya dengan lahap. Akhirnya, es krim di cup kecil itu habis. Mataku tertuju pada meja makan tempat cup es krim lainnya di letakkan.
"Wow! Ini tempat yang indah, Valko!" ucapku.
"Ck! Kau baru menyadarinya sekarang? Daritadi apa yang dilakukan oleh matamu?" tanya Valko ketus.
"Aku menonton drama korea!" sahutku dengan nada meninggi. Aku tak mau kalah darinya.
Ruangan ini menghadap langsung ke arah taman bunga. Nampak bunga-bunga warna-warni membentuk tulisan 'PARAMA GARDEN' dari kaca jendela di ruang makan ini. Ada sebuah meja bundar dengan taplak putih dan dua kursi warna putih. Kursi itu dari kayu. Ruangan ini dihiasi dengan bunga mawar warna pink. Ehm...mawar kan bunga kesukaanku. Apa Valko sengaja menyiapkannya? Ruangan berwarna putih dihiasi mawar pink di setiap sudutnya. Sungguh ehm...romantis menurutku. Kenapa ya aku tadi harus marah. Ck! Itu berlebihan. Ada lilin di meja itu, ehm...jika ini makan malam mungkin ruangan ini dipakai untuk candle light dinner. Valko masih memelukku dengan erat. Kepalanya masih menyandar di bahu kiriku. Kuhentikan suapan es krimku.
"Ada apa?" tanya Valko. "Es krimnya belum habis kok!" protes Valko.
"Ehm...Cayang...ehm...Tupaimu ini lapar...." ucapku malu-malu. Aku sudah memarahinya tadi. Masa sekarang minta makan kan lucu.
"Ck! Kalau kau tak memakai acara marah-marah sudah dari tadi kita makan!" protes Valko. "May! Panggilkan koki itu kemari!" perintah Valko.
Nampak Sekretaris May membuka pintu putih itu. Oh, ternyata, daritadi Sekretaris May ada di luar, di balik pintu ruangan ini. Segera masuk dua orang koki berpakaian putih dengan topi putih itu. Mereka mendorong sebuah meja logam tingkat dua. Kurasa itu peralatan memasak. Koki itu berada beberapa meter dari hadapanku.
__ADS_1
"WOW!" mulutku ternganga.
Koki itu beratraksi memanggang sepotong daging di atas sebuah panggangan hitam. Api merah nampak menyala dari panggangan itu. Kurasa itu daging steak. Dia membakar daging steak itu hingga aroma lezat yang menusuk hidung keluar.
"Ehm...tunggu!" ucapku tiba-tiba. Koki itu menghentikan aksinya. Valko menatap tajam ke arahku.
"Ada apa?" tanya Valko. "Kau tidak suka dengan atraksinya?"
"Bukan...bukan...atraksinya bagus kok," ucapku. Bagaimana aku harus mengatakan hal ini. "Ehm...Cayang...aku ini Tupai jenis lokal. Aku bisa makan steak tapi yang ehm...memakai rempah-rempah lokal dalam negeri...dan ehm...tanpa sentuhan saos mayonais dan tak berbau keju...."
"Kukira apa! Ck! Ternyata hanya hal sepele. Iya, aku tahu kau tak suka makanan western. Aku meminta koki ini menyiapkan steak dengan rempah lokal. Ini steak sapi berbumbu lokal. Kau tenang saja!" sahut Valko. "Sudah, lanjutkan aksinya. Aku sudah lapar!" perintah Valko.
Koki itu kembali melanjutkan aksinya. Tak lama kemudian sepotong besar daging steak tersaji di atas meja. Baunya sungguh menggoda.
"Silahkan, Tuan Muda, Nona!" ucap Koki itu ramah.
Segera kuambil garpu dan pisau. Kupotong daging steak itu. Aku ingin segera memasukkannya ke mulutku tapi entah memgapa aku malah teringat Valko. Padahal dia tak memintaku menyuapinya, tapi aku justru mengarahkan potongan itu ke mulutnya. Dia menerima suapanku dengan lahap.
"Valko!" panggilku. "Apa koki ini bisa masak spaghetti?"
"Kau ingin spaghetti? Bukankah katamu kau tak suka makanan western?" alis Valko mengkerut karena heran.
"Ehm...untuk spaghetti itu pengecualian...."
"Tentu, kami bisa memasaknya, Nona," sahut Koki itu.
"Kalau begitu, tolong cepat masak untukku ya, Pak Koki," pintaku sambil tersenyum.
Koki itu segera memasak spaghetti. Tak berselang lama spaghetti tersaji di atas meja. Mie spaghetti berwarna kuning dihiasi saus kemerahan nan menggugah selera makan. Aku pun segera memakan spaghetti itu. Rasanya enak sekali. Oh ya, aku belum menyuapi Valko. Kugulung mie itu lalu kusuapi Valko. Hihihi, di mulut Valko belepotan saus merah. Kurasa aku tak bisa menahan tawaku.
"Ck! Apa yang kau tertawakan?" Valko penasaran. "Ck! Dasar Tupai Jelek! Rasakan ini!" sial, dia menyadari ulah jahilku.
__ADS_1
"Valko!" teriakku sebal.
Ah! 😣 Dia menggunakan mulutnya yang penuh saus untuk mencium pipi kananku. Hiks, pipiku sekarang kotor karena saus spaghetti. Aku ingin membalasnya. Tunggu, tapi sayang jika kucolek saus spaghetti itu lalu kucolekkan ke pipi Valko. Suatu ide terlintas di pikiranku.
"Cayang...." panggilku manja. "Suapi aku!" kutatap dia dengan manja.
"Ehm...." Valko menggulung mie spaghetti itu dengan garpu di tangannya.
"Yang banyak sausnya!" pintaku manja. HUH! Aku akan membuat wajahmu penuh saus, Serigala Menyebalkan! 😆
"Ehm...." Valko menyuapkan gulungan mie penuh saus itu. Kuterima suapan itu dengan manja. Setelah sebagian mie memasuki separuh mulutku. Kuratakan sausnya agar menyebar di rata di sekitar mulutku.
"Cayang...."panggilku manja. "Suapi aku lagi!" pintaku manja.
Valko kembali fokus menggulung mie spaghetti itu untukku. Rasakan ini, Serigala Menyebalkan! HUH! Aku akan membuat seluruh wajahmu penuh saus, hihihi 😆. Aku hendak menyerang pipi Valko. Wajahku sudah dekat, dekat sekali dengan pipi kanannya itu. Valko masih saja sibuk menggulung mie spagetti untukku.
Satu...dua...kuhitung dalam hati sebagai aba-aba untuk maju menyerang dengan tepat. Tiga...waktunya menempelkan saus di seluruh wajahnya. Mulutku sudah sangat dekat dengan wajahnya.
"DUAR! DUAR!" terdengar suara petir yang mengangetkanku.
"AAAA!!!" aku kaget. HUA! Mengapa jadi begini? 😭 Mengapa mulutku justru menempel ke bibir Valko 😭. Mengapa aku jadi seolah-olah malah menciumnya sih? HUA! 😭
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1