Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 102 - Berbagi....


__ADS_3

Terdengar suara kokok ayam jantan. Kubuka mataku perlahan-lahan. Sudah pagi hari ternyata. Terasa dua tangan kekar memegang tubuhku. Ternyata aku masih ada di pelukan Valko.


Valko nampak masih tidur seperti bayi. Dia semakin terlihat manis jika tidur dengan tenang seperti ini. Ah iya, aku harus menghubungi Ayah Mertua, sebaiknya kuundang juga Kakek Fajar dan Nenek Vani. Kubuka smartphone-ku. Lampu kamar sengaja tak kunyalakan agar Valko tak terbangun. Segera kuketik chat kepada Ayah Mertua. Tunggu, kenapa aku tak bertanya dulu ya dimana panti asuhan itu? Aku kan belum tahu nama dan lokasi panti asuhanannya. Ah, sudahlah, yang penting sekarang hubungi dulu Ayah Mertua dan


Selamat pagi Ayah 😊


Hari ini adalah hari lahir Ibu Mertua. Aku dan Valko mengadakan acara peringatan dengan memgadakan acara kecil di sebuah panti asuhan. Valko akan memberikan bantuan kepada panti asuhan itu. Acaranya nanti sore dimulai sekitar pukul 4 sore.


Aku berharap Ayah Mertua bisa datang ke acara ini. Nanti akan kukirimkan denah lokasinya. Ayah, aku tahu hubungan Ayah dengan Valko belum juga membaik. Kuharap Ayah bersedia datang ke acara ini. Aku sengaja tak memberitahu Valko. Aku hanya bilang pada Valko jika aku mengundang keluargaku. Ayah adalah keluargaku. Jadi, kuharap Ayah bisa datang.


Bagaimana Ayah? Apakah Ayah bisa datang?


Kupencet tanda 'send'. Segera kusalin pesan itu lalu kukirim kepada Kakek Fajar. Tinggal mengganti sapaannya saja.


"Eh!" tubuhku terasa dipeluk dari arah belakang. Duh, Valko pasti sudah terbangun. Segera kumatikan layar smartphone-ku. Pipiku terasa dicium dengan lembut. "Selamat pagi, Hubby," ucapku sambil menatap ke arah Valko.


"Aku tak suka kau melakukan hal itu!" ucap Valko. Aduh! Apa maksudnya? Apa dia tahu jika aku baru saja mengirim pesan kepada Ayah Mertua?


"Ehm...aku bisa menjelaskannya...."


"Kau bisa menjelaskannya di kamar mandi!" Valko memggendong tubuhku yang masih terbungkus selimut. "Jangan pernah menatap smartphone sebelum aku terbangun. Hanya aku yang boleh kau tatap pertama kali setiap kau bangun, Zeta. Sebagai hukumannya, kau harus memanjakanku saat mandi!" ucap Valko. Pintu kamar mandi itu sedikit ditendang dengan kakinya. Sudahlah, turuti saja. Syukurlah jika Valkp belum tahu rencanaku.


***


"Apa acara untuk nanti sore sudah siap, May?" tanya Valko saat mobil mulai berjalan. Nampaknya aku tak perlu bertanya sendiri.


"Sudah, Tuan. Semua persiapan untuk acara di Panti Asuhan XXX sudah selesai. Tuan dan Nona tinggal datang saja," jawab Sekretaris May.


"Aku jadi mengundang keluargaku!" selaku sambil menatap ke arah Valko. "Boleh kan, Hubby?" tanyaku sambil memasang senyum selebar mungkin.


"Terserah padamu, Zeta," sahut Valko sambil merebahkan kepalanya di pangkuanku. Mobil mulai berjalan. Kubelai lembut kepala Valko seperti biasanya. "Seandainya saja ini hari libur, aku pasti lebih memilih tidur seharian bersamamu, Zeta....hoahm...." ucap Valko sambil menguap.


Terasa getaran suatu benda. Kurasa itu getaran dari chat masuk. Kuambil smartphone dari dalam tas jinjingku. Tangan kananku tetap membelai kepala Valko. Tangan kiriku dengan hati-hati membuka layar smartphone itu. Ada chat yang masuk.

__ADS_1


Ayah Mertua:


Aku akan datang, Nak. Tak akan kusia-siakan kesempatan yang sudah kau usahakan. Dimana alamat panti asuhan itu?


Ada juga chat dari Kakek Fajar.


Kakek Fajar :


Kenrick sudah memberitahuku. Aku pasti akan datang bersama Belenda juga. Kuharap momen ini bisa menjadi awal hubungan baik antara Valko dan ayahnya. Dimana alamat panti asuhannya?


Syukurlah, mereka bisa datang. Segera kucari alamat Panti Asuhan XXX di internet. Kukirimkan denah lokasi itu kepada Ayah Mertua dan Kakek Fajar. Semoga rencanaku berhasil.


***


Mobil ini terparkir di depan sebuah bangunan. Bangunan itu cukup luas. Warna bangunannya didominasi warna hijau muda. Atapnya berwarna hijau tua. Jendela dan pintunya berwarna coklat tua. Ada papan nama yang cukup besar di depan bangunan itu. Nampak papan nama yang besar berupa bertuliskan 'Panti Asuhan XXX'. Akhirnya waktu yang ditunggu tiba juga.


"Ayo, Zeta!" Valko menggandeng tangan kananku. Dia menuntunku masuk ke dalam area panti asuhan itu.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya Valko Wijaya," sapa seorang pria berjas hitam rapi. Kurasa dia pemimpin dari panti asuhan ini. Pria ini ditemani oleh beberapa orang yang memakai seragam warna hijau muda. "Silahkan masuk," ucap pria itu lagi. Mereka menyambut tepat di lobi panti asuhan ini.


"Selamat datang kami ucapkan kepada Tuan dan Nyonya Valko," ucap pria dan wanita itu bersamaan. Kurasa mereka berdua adalah MC dari acara ini.


"Ayo, Zeta! Kita naik ke atas panggung!" bisik Valko sambil menggandengku.


"Acara selanjutnya adalah penyerahan secara bantuan dari Tuan Valko Varrel Wijaya. Kepada anak-anak mohon antri dengan tertib," ucap MC wanita.


Ternyata acaranya sudah mulai. Tak apa, yang penting Ayah Mertua pasti datang. Anak-abak panti asuhan itu mulai berbaris. Beberapa pengawal Valko membawakan beberapa kardus ke atas panggung. Kardus itu pasti berisi bantuan.


Anak-anak sudah bersiap untuk mulai menyalami Valko. Sekretaris May memberikan sebuah tas kecil padaku. Saat kubuka nampak puluhan amplop kecil ada di dalam tas. Valko, meski kau terkadang menyebalkan padaku tapi rupanya kau murah hati juga ya pada sesama.


"Terima kasih, Pak!" ucap anak-anak itu sambil menyalami Valko. Sesuai rencana, anak laki-laki diberi bantuan tas sekolah warna abu-abu, sedangkan anak perempuan diberi tas sekolah warna pink.


"Terima kasih, Bu," ucap anak-anak itu sambil menyalamiku. Bisa kulihat keceriaan dimata mereka saat menerima amplop dari tanganku. Barisan antrian anak-anak semakin berkurang. Tak terasa tiba pada giliran anak terakhir.

__ADS_1


"Terima kasih kepada Tuan dan Nyonya Valko yang telah bersedia hadir untuk menyerahkan bantuan secara langsung. Acara selanjutnya adalah hiburan berupa sulap dari Mr. XXX," ucap MC pria itu.


Aku dan Valko segera turun dari panggung. Valko menggandengku ke arah belakang kerumunan anak-anak. Di atas panggung nampak seorang pria dengan riasan badut. Pria itu mulai melakukan aksi sulap yang kocak.


"Hahaha!" tanpa sadar aku juga turut tertawa melihat aksi sulap dari badut itu.


"Bagaimana menurutmu, Zeta?" tanya Valko.


"Apa yang kau maksud, Valko?" tanyaku balik.


Kau juga merasakan kebahagiaan itu kan?" ucap Valko. "Kebahagiaan dari mata anak-anak itu. Entah mengapa hatiku turut merasa senang saat melihatnya. Mungkin ini yang namanya rasa senang dari melakukan aksi memberi pada sesama," ucap Valko lagi.


"Ya, aku merasakannya, Hubby," sahutku singkat.


"Oh ya, dimana ayah dan ibumu?" tanya Valko sambil menatapku.


"Ehm...mereka...." aku harus menjawab apa nih.


"Putraku...Valko!" terdengar seseorang memanggil dari arah belakang.


Aku dan Valko pun berbalik ke arah belakang. Nampak seorang pria berdiri dengan kedua tangan siap memeluk Valko.


"Ayah Mertua!" ucapku spontan.


"KAU!!!!" teriak Valko kencang. Suaranya sangat menakutkan. "APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?!" teriak Valko lagi.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍


__ADS_2