
Mataku terbangun kembali. Ternyata perutku berbunyi. Aku lapar rupanya. Ada dua orang dalam satu tubuh. Nampaknya aku harus makan banyak.
"Sabar ya Dek, Mamamu bangun dulu, hehehe," ucapku geli.
Pandanganku tertuju pada Valko. Entah jam berapa ini. Dia masih tidur sambil memeluk tubuhku yang dibatasi guling. Dia berasa seperti kucing kecil yang tidur meringkuk dengan nyenyak.
Valko badannya besar ya. Memandangnya saat sedang tidur tetap saja memesona. Seperti tokoh anime yang keluar dari layar. Bibit unggul memang tak bisa bohong. Mama Parama sangat cantik wajahnya. Itu menurun ke Valko.
"Dek, semoga besok kamu good looking ya kayak bapakmu, hehehe," aku geli membayangkannya. "Valko junior atau Zeta junior! Kalau cewek dipasang pita pasti lucu. Kalo cowok, dipakein kostum pilot gitu pasti juga lucu."
Valko tumbuh menjadi pria yang cukup baik. Dia sudah melewati banyak masa sulit di hidupnya mesti bergelimang harta. Kalo terkadang masih ada jiwa inner child-nya yang tertinggal, kurasa aku harus lebih maklum dan sabar.
"Terima kasih ya Hubby, Valko, sudah bertahan dan tumbuh sejauh ini. Kamu anak yang hebat!" Aku tak tahu mengapa ingin mengucapkan kalimat itu. "Terima kasih sudah bertahan dan berjuang sejauh ini ya, Valko. Mama Parama pasti bangga padamu. Valko sudah jadi anak yang hebat sekali. Jika Valko sedang tidak baik-baik saja, bisa kok bilang ke Zeta di masa depan. Aku siap memdengarkan." Aku malu mengatakan hal ini tapi tidak tahu. Rasanya ingin mengatakannya saja. Mungkin ucapan terima kasih sebagai istri yang sudah dirawat dengan cukup baik juga. Kening Valko kukecup pelan.
Suara tangisan mulai terdengar. Mata Valko nampak memerah. Aku bingung pada apa yang terjadi. Apa aku salah ucap? Seharusnya kan ini momen yang manis. Bukan sedih.
"Ze ... ta ....!" Teriak Valko histeris. Dia memelukku lebih erat daripada sebelumnya.
"Ada apa? Apa aku salah ucap? Ucapanku menyakitimu ya?" Kusibak rambut Valko yang berantakan.
"Tak pernah ada yang bilang seperti itu padaku. Mereka hanya memuji pencapaianku saja tapi tak pernah memuji , jika aku sudah bertahan dengan duka tanpa orang tua dan ibu selama 29 tahun hidupku. Sakit Zeta! Harta tak bisa menggantikan kekosongan karena tak punya orang tua. Aku hanya bisa memakai topeng kuat terus-menerus. Baru kau saja yang mengucap terima kasih karena aku sudah bertahan. Bukan karena hartaku tapi karena diriku," Valko menangis lagi.
"Ehm ... Aku tak tahu harus bilang apa ... Maaf jika membuatmu tak nyaman," Aku jadi merasa bersalah. Valko menatapku. Aku tak tahu dia sedang berpikiran apa. Satu serangan di bibir membungkamku.
"Kau istri yang memang dikirim untuk menemaniku. Aku akan menjagamu seumur hidupku. Takkan kubiarkan kau menderita, Sayangku," Mata Valko menatapku. Aku suka momen dan kata-kata ini. Bunyi perutku yang lapar seolah merusak suasana.
"Sepertinya ada dua orang yang lapar ya. Iya, Nak. Tenang ya, Papamu tidak melupakan kehadiranmu kok," Valko membelai perutku. Ah, manisnya. Aku suka hal ini.
Valko membawaku ke restoran hotel ini. Lantainya dari marmer warna putih. Catnya bernuansa krem. Lampu gantung kristal tingkat tiga nampak kokoh tergantung di atap ruangan. Nuansanya bergaya Eropa. Patung-patung artistik menghiasi ruangan ini.
__ADS_1
Aku sudah duduk berdua saja dengan Valko. Berbagai hidangan tersaji di meja makan bertaplak putih ini. Aku sampai bingung mau mencoba yang mana. Lebih bingung lagi melihat tingkah Valko. Apa yang kuucapkan tadi mantra ajaib ya. Dia jadi seperti ini.
"Hubby, aku mau makan," ucapku lembut. Kedua tanganku dipegang oleh Valko. Dia terus mencium punggung tanganku. Sesekali menempelkan tanganku di pipinya.
"Tanganmu lembut dan hangat. Rasanya nyaman," Tangan kiriku masih menempel di pipi Valko.
"Ayo makan, Kucing Kecilku tak boleh lapar," Kusuapkan makanan ke mulut Valko. Dia menerimanya begitu saja. Baru mode bucin dan manja rupanya."Kau mau apa?" Valko mulai usil. Dia menggeser kursinya begitu dekat denganku.
"Kucing kan nggak bisa jauh dari ayangnya," Valko rupanya ingin menyuapiku. Aku tak terima hal itu. Mungkin jadi seperti lomba suap-suapan ya. Semangko bakso porsi kecil berasa sangat menggoda. Aku menyicipi kuahnya dengan sendok. Juga mencoba baksonya.
"Rasanya enak. Aku suka. Kokinya pindahkan aja ya ke rumah," celotehku asal.
"Boleh, jika kau suka. May, kau dengar itu!" Valko berteriak. "Pindahkan koki hotel ini ke rumah pribadi! Zeta suka masakannya!"
"Siap laksanakan, Tuan," sahut Sekretaris May.
"Tentu, ini hotel milik keluargaku. Jika ada yang kau suka bisa kita angkut ke rumah. Kakekku takkan keberatan," sahut Valko santai. Mulutku masih menganga tak percaya. "Bahkan jika kau ingin tinggal di sini juga tak masalah. Ini gampang dilakukan."
"Ya, terima kasih, Hubby." Aku harus mulai hati-hati dengan candaanku.
Seorang pelayan menghidangkan sebuah buah melon yang nampak segar. Kurasa ini melon mahal dari luar negeri yang pernah direview oleh artis di chanel yutub itu. Buahnya besar dan sangat kuning.
"Kau pasti akan suka. Ini melon kesukaan Mamaku. Impor dan rasanya amat manis," Valko menyuapkan sepotong ke mulutku.
Rasa melon ini sungguh manis. Pikiranku tiba-tiba ingat pada seseorang. Seseorang yang juga suka pada melon. Nenek! Bagaimana kabar nenek di kampung? Aku sudah lama tak menjenguknya. Air mata langsung turun membasahi pipiku.
"Zeta, kenapa kau menangis?" Valko panik.
"Aku ... Aku ...." Mulutku berasa kelu menjelaskan perasaan aneh ini.
__ADS_1
"Anakku, kamu menangis?" Terdengar suara yang amat kukenali.
"Dek, kamu nggak papa?" Nampak kakak sudah ada di sampingku bersama mama dan papaku. Ada juga kakek dan nenek Valko serta Ayah Mertua.
"Kamu apakan Zeta? Ini seharusnya pesta kejutan, kau malah membuatnya menangis!" Oma Wulan memarahi Valko.
"Aku menyuapkan melon. Aku tak menyakitinya sungguh," Valko nampak bingung.
"Ada apa, Dek? Kok kamu nangis?" Tanya Kak Brian lembut.
"Aku kangen nenek di kampjng, Kak. Nenek suka melon. Kita udah lama nggak mudik. Lama banget nggak mudik berempat," kutatap Kak Brian.
"Astaga, Zeta. Jika kau ingin pulang kampung bilang saja. Aku siap ambil cuti untuk liburan," Valko menatapku nakal.
...----------------...
Thor, Valko itu wajahnya kayak apa?
Mungkin banyak reader yang tanya seperti itu.
Author bikin novel ini waktu jaman kuliah saat sedang nge-fans dengan salah satu member boyband K-Pop, grupnya bernama Stray Kids 🤩 (sekarang pun masih suka 🤣)
Valko terinspirasi dari wajah Hwang Hyunjin Stray Kids. Yang penasaran bisa searching ya. Pokonya wajahnya Hyunjin itu ganteng dan cantik jadi satu, rambutnya panjang. Tidak bisa author tampilkan di karya ini karena hak cipta.
Baca juga ya karya author yang lainnya
➡️ Rektorku, Dosenku,Suamiku
Dijamin seru juga 🤣
__ADS_1