Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 101 - Minta Ijin....


__ADS_3

"Nona, apa yang Anda lakukan?" tanya pelayan di dapur itu. "Jika Anda butuh sesuatu biar saya saja..."


"Aku ingin membuat segelas susu hangat untuk Valko. Aku ingin membuatnya sendiri," sahutku sambil membuka pintu rak di bagian atas dapur itu.


"Oh, silakan, Nona," ucap pelayan wanita itu.


Mungkin ini pertama kalinya aku membuat segelas susu hangat untuk Valko. Jika dipikir-pikir, aku memang jarang memasak untuknya. Kurasa hidupku bisa dibilang terlalu santai. Aku tak terbebani oleh tugas-tugas rumah tangga.


Aku juga tak menyangka Valko akan memperlakukanku sebaik ini. Kukira dulu dia akan terus menindasku seperti adegan di film-film yang tayang di televisi. Aku jadi ingin minum susu juga. Akhirnya, dua porsi susu hangat jadi.


"Biar saya bantu, Nona," ucap pelayan itu.


"Tak perlu, aku bisa membawanya sendiri," jawabku sambil membawa nampan dengan dua buah mug putih berisi susu coklat.


"Saatnya menjalankan ide tahap kedua," ucapku sambil memasuki pintu kamar. Kuletakkan nampan itu di atas meja. Kuganti piyamaku dengan minidress warna merah.


"Astaga!" ucapku saat melihat diriku di cermin.


Minidress itu terkesan seksi. Model minidress itu tanpa lengan. Bagian depan minidress itu memiliki potongan yang rendah sehingga menampakkan belahan dada. Bagian rok minidress ini juga pendek, di atas lutut.

__ADS_1


"Aku seperti seorang wanita penggoda saja. Apa aku lepas saja, ya. Tapi, aku harus membuat Valko mengijinkanku mengundang keluargaku. Agar aku bisa mengundang Ayah Mertua secara diam-diam. Ayolah, Zeta! Percaya dirilah!" kuyakinkan diriku sendiri. "Aku harus menata rambutku juga. Diurai ke samping sepertinya bagus. Pakai sedikit make up juga boleh. Apalagi ya?" kulihat penampilanku di depan cermin.


"Kurasa ini saat yang tepat memakai barang spesial itu," ucapku sambil membuka laci meja rias ini. Nampak sebuah kotak yang dilapisi kain beludru warna merah. Ada sebuah botol di dalamnya. "Ini parfum kesayanganku. Aku sangat irit dan jarang sekali memakainya. Untuk membelinya perlu menabung beberapa bulan untuk menyisihkan uang sakuku dan uang dari hasil jualan baju. Sayang banget kalo dipake banyak-banyak harganya kan mahal. Jutaan rupiah....tapi, Valko kan memberiku kartu emas itu, hihihi. Kurasa tak masalah jika aku memakai parfum ini sebanyak mungkin sekarang," kusemprotkan parfum itu ke tubuhku. Aroma wangi khas bunga mawar tercium pekat. "Astaga! Kenapa aku terlihat sangat ingin menggoda Valko, ya? Tapi, dia kan suamiku. Kurasa tak masalah jika aku berdandan seperti ini, lagipula baju ini dia juga yang membelikannya."


Aku segera mengangkat kembali nampan berisi susu coklat itu. Kulangkahkan kakiku keluar dari kamarku. Tibalah aku di depan pintu ruang kerja Valko. Pintu ruang kerja itu tidak tertutup sepenuhnya. Kubuka pintu itu dengan kaki kananku. Nampak Valko sedang sibuk berbicara dengan Sekretaris May.


"Hubby...." panggilku.


"Tidurlah duluan, Zet...ta...." ucap Valko. Dia nampak tertegun ketika melihatku. Matanya seolah tak berkedip.


Apa aku nampak aneh, ya? Atau...dia sangat terpesona padaku? Sudahlah, lebih baik segera kuantarkan mug itu.


"Hubby, aku...." ucapku sedikit keras.


"Kurasa kau sedang sibuk, Hubby. Ehm...aku hanya ingin mengantarkan segelas susu coklat hangat," kuletakkan mug itu di atas meja. "Jangan bekerja terlalu keras, Hubby," ucapku sambil memainkan rambutku. "Jika lelah istirahat saja, ya," ucapku sambil mencium dahi Valko. "Aku menunggumu di kamar," bisikku ke telinga Valko.


Aku segera melangkahkan kaki keluar dari ruang kerja itu. Astaga! Tadi itu aku kenapa, sih? Kok malah jadi seperti benar-benar menggoda Valko. Kenapa aku merasa deg-degan ya sekarang? Kulangkahkan kakiku dengan cepat menuju kamarku. Kubaringkan diriku di atas ranjang.


"Apa tadi itu aku benar-benar menggoda Valko? Astaga! Kenapa aku jadi merasa malu sekarang!" ucapku sambil menutupi wajahku dengan bantal. "Tunggu! Aduh, mug berisi susu coklat untukku malah ketinggalan. Kurasa usahaku sia-sia. Valko tak menyusulku kemari. Sudahlah, setidaknya aku sudah berusaha. Lebih baik aku tidur saja," kuselimuti tubuhku dengan selimut. Kupeluk boneka beruangku. Mataku pun terpejam. Baru beberapa saat aku terpejam kurasakan ada gerakan dari arah depan. Kubuka mataku perlahan.

__ADS_1


"Valko!" nampak Valko memeluk tubuhku. Dia memaksa untuk berada di dekapanku. "Hubby, apa laporannya sudah selesai?" tanyaku.


"Anggap saja sudah! May yang mengurus sisanya...." Valko menatap ke arahku.


"Ehm...kalau begitu...." kurasa ini saat yang tepat untuk membahas hal itu dengan Valko. "Hubby...kap...." bibirku dicium oleh Valko.


"Paling nyaman memang istirahat di pelukanmu, Zeta," ucap Valko. Bibirku kembali diciumnya. Duh, kurasa Valko benar-benar tergoda padaku. "Zeta...." panggil Valko. Sudah, ini saatnya mengatakan hal itu.


"Hubby, bolehkan aku mengundang keluargaku saat acara di panti asuhan itu?" ucapku dengan nada meninggi. Kutatap mata Valko. Kedua pipi Valko kupegang agar dia tak mencium bibirku sejenak.


"Undang saja, terserah padamu," jawab Valko. "Jangan membahas hal itu lagi. Aku ingin istirahat sekarang!" Valko memelukku semakin erat. Bibirku kembali dicium lagi oleh Valko. Baiklah, kurasa aku bisa melaksanakan rencanaku saat acara itu. "Tapi, sebelum tidur aku ingin...." ucap Valko. Tangannya mulai melucuti minidress-ku. Sudah kuduga, pasti akhirnya seperti ini.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍


__ADS_2