
"Baik, Tuan," terdengar suara dua nakhoda itu.
Valko mengajakku duduk di sofa yang paling luas. Sofa itu berada di bagian yang paling belakang.
"Nah, duduk di sini!" perintah Valko.
Aku pun mendudukkan diriku di sofa itu. Setelah aku duduk, Valko langsung berbaring di pangkuanku. Kepalanya menyandar tepat di pangkuanku. Kapal terasa mulai berjalan.
"Pelayan, ambilkan cemilan favoritku!" perintah Valko.
Seorang pelayan nampak membawakan sepiring mangkok berisi buah anggur. Nampak berbagai macam buah anggur ada di sana. Ada anggur berwarna merah, ungu dan hijau. Mangkok itu diletakkan di atas meja coklat di depan sofa.
"Sudah lama aku tak naik kapal," ucap Valko sambil melepas kacamata hitamnya. "Kau tahu, Sayang. Ini pertama kalinya aku naik kapal kembali setelah bertahun-tahun. Sejak Mamakuu meninggal, aku jadi tak pernah lagi naik kapal. Aku paling suka bebaring di pangkuan Mama saat kapal berlayar. Mama selalu menyuapiku dengan buah kelereng itu," ucap Valko sambil menunjuk ke arah mangkok berisi anggur.
Astaga, Valko! Kau memang tidak tahu namanya atau bagaimana sih. Itu namanya buah anggur. Bukan buah kelereng.
"Pppfffttt!!!" tawaku berusaha kutahan semaksimal mungkin.
"Kenapa kau tertawa?" Valko menatapku tajam.
__ADS_1
"Hubby, hahaha. Itu namanya buah anggur atau grape. Bukan buah kelereng!"
"Terserahlah, kau mau menyebutnya apa. Bagiku itu tetap buah kelereng. Suapi, aku!" pinta Valko.
"Iya, iya," sahutku sambil mendekatkan tanganku ke arah mangkok berisi anggur itu.
Kupetik anggur berwarna merah. Kusuapkan sebutir anggur itu ke arah mulut Valko. Valko makan dengan lahap. Valko membuka mulutnya. Aku pun terus menyuapinya.
"Nostalgia yang menyenangkan. Kurasa aku harus mengagendakan untuk berlayar setiap akhir pekan. Aku sudah tak kesepian lagi sekarang. Ada kau yang akan selalu menemaniku," ucap Valko sebelum menerima suapan anggur dari tanganku.
"Hubby, sebenarnya kita mau kemana?" tanyaku penasaran.
"Kau akan tahu nanti, yang jelas pergi ke acaranya Tyo," sahut Valko. "Aku sudah kenyang. Giliranmu makan, Sayangku," Valko menyuapkan buah anggur ke arahku. Tumben dia mulai memanggilku Sayang.
"Taeyang sulit diucapkan. Lebih baik kau kupanggil Sayang. Lebih singkat dan ... tunggu! Kenapa kau menanyakannya? Kau tak suka, ya? Baiklah, aku paham kodemu, Zeta. Sayang terlalu mainstream. Baiklah, kau akan kupanggil Honey, mulai sekarang. Jangan protes lagi!" ucap Valko sambil menyuapkan anggur ke mulutku lagi.
Valko, padahal aku hanya bertanya kenapa kau jadi memanggilku berbeda. Biasanya kau kan memanggilku dengan nama saja. Ehm, mungkin ini efek dari pertemuan dengan mantan tadi. Yah, apa pun itu tak masalah. Yang penting Valko sudah tak marah lagi. Ah, jadi ingin memgecek smartphone-ku. Aku sudah lama tak membukanya. Kubuka smartphone yang ada di saku celana panjangku. Jantungku langsung berdegup lebih kencang. Astaga, ada chat dari dosen pembimbingku di deretan chat teratas.
Bunyi chat itu : Mbak Zeta, jangan lupa proposalnya dikerjakan ya. Oh ya, buat instrumen berupa angketnya juga, ya. Saya tunggu segera untuk bimbingan, ya.
__ADS_1
"Uhuk! Uhuk!"
Aku terbatuk-batuk. Anggur di tenggorokanku rasanya tak mau tertelan. Duh, baru mau liburan malah dapat chat dari dosen pembimbing skripsi.
"Ada apa?" tanya Valko. Dia langsung mengambil smartphone-ku. "Kukira apa, ternyata hanya chat dari dosen pembimbingmu saja. Sudah, santai saja, Honey. Kau masih lunya banyak waktu menyelesaikan skripsimu."
"Hubby," panggilku. Suatu ide terlintas di kepalaku. "Hubby, Sayangku, bantu aku menyusun angket, ya," pintaku sambil membelai kepala Valko. "Hubby, kau kan orang yang pandai dan juga baik. Mau ya, bantu aku."
"Tak mau!" sahut Valko.
"Kenapa? Kau tak mau membantuku? Teman-temanku sudah banyak yang sampai bab akhir dan wisuda. Temanku di kampus semakin sedikit. Aku sudah tak punya teman lagi."
"Hey, ada aku yang menemanimu 24 jam dalam sehari, Honey. Memangnya kenapa jika temanmu sudah lulus dan wisuda? Masih ada semester depan!"
"Tapi aku ingin segera lulus, Valko!"
"Kenapa? Orangtuamu tak mau membayarmu semester depan? Jangan khawatir, biar aku yang membayarnya."
"Bukan begitu, aku ingin segera lanjut S2 agar sama denganmu, Valko. Aku tidak mau jika tak sebabding denganmu. Aku istrimu, aku harus bisa mengimbangimu," sahutku sambil menatap Valko.
__ADS_1
"Padahal aku tak pernah mempermasalahkan hal itu, Honey. Tapi, baiklah, jika itu yang kau inginkan. Aku akan membantumu. Tapi ... tentu ada bayarannnya!" ucap Valko. Matanya berkilau licik.
Ih, dia selalu saja seperti ini jika kumintai bantuan.