Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 24 - Balasan....


__ADS_3

"Tak apa-apa, Kak Varrel. Aku sabar menantimu bahkan jika butuh seribu tahun lebih aku siap," sahut Nenek Sihir ini. Aku menemukan bau-bau kode cinta darinya untuk Valko. Jangan harap kau bisa merebutnya sekarang! Aku tak rela jika liburanku terganggu karenamu! Kau yang sudah merusak momen gila yang kuinginkan tadi! Rasakan pembalasanku, Nenek Sihir Merah! 😡


"Sayang...." panggilku manja. Mungkin ini gila memanggil Valko dengan kalimat mesra tapi biarlah. Aku tak mau kalah dari Nenek Sihir itu. "Apa aku ehm...boleh ikut?" ucapku dengan tatapan memelas dan manja. "Aku takkan mengganggu, aku hanya ingin ikut denganmu, Sayang. Bolehkah?"


"Maaf, Kak Varrel, restoran tempat pertemuan ini sangat laris. Aku hanya berhasil memesan tiga tempat saja," sahut Nenek Sihir Merah itu. "Kuharap istri Kak Varrel tidak kecewa. Aku tak tahu jika istri Kak Varrel ingin ikut," ucapnya dengan nada sedih.


"Tak apa-apa, Vita. Itu bukan salahmu. Kau tetap di rumah, Zeta!" sahut Valko cuek. HUH! 😠 Kau seharusnya membelaku, Dasar Serigala Menyebalkan. Valko melihat ke arah jam tangannya. "Masih ada waktu, Vita. Ayo, cek lagi berkas untuk meeting nanti!" ucap Valko.


HUH! 😡 Kau baru saja berkata manis padaku tadi sekarang kau justru membela wanita lain? 😡 Dasar Serigala Playboy! 😡 Kurasa kehadiranku hanya akan seperti obat nyamuk bakar saja, dicueki. Lebih baik aku memasak makan malam. Tunggu, makan? Sebuah ide terlintas di kepalaku.


"Opa, Oma, ayo kita masuk ke dalam. Biarkan Varrel menyelesaikan urusan bisnisnya yang penting itu," ucapku dengan nada cuek dan ketus.


"Ayo, Sayang," sahut Opa Dedy. Kubantu dia berdiri. "Opa, Oma, Tata ingin memasak. Ada resep sup spesial untuk cuaca dingin seperti ini. Tata ingin masak Cream Soup Senyum Rembulan...." kuucap kata-kata itu dengan keras. Valko nampak tertegun sejenak ketika mendengarnya.


Hihihi 😆, ini kan makanan favoritnya. Kak Vio sering memasak makanan ini untuknya. Sebenarnya sih resepnya sama seperti cream soup pada umumnya hanya namanya saja yang ditambahi kata-kata Senyum Rembulan agar terasa spesial. Kak Vio sering memasak makanan ini ketika aku mengunjunginya, saat dia sedang rindu berat pada Valko. Aku bahkan diajari resepnya.


"Tata ingin masak spesial untuk Opa dan Oma," aku merangkul manja bahu Oma. "Ini resep istimewa yang diajar oleh sahabat Tata, Putri Bintang!" ucapku dengan suara keras.


Hihihi, Valko nampak tertegun lagi dan melirik ke arahku. Aku sok cuek dan tak meliriknya. Ruang makan rumah ini bergabung dengan ruang dapur. Letaknya ada di belakang ruang tamu, hanya dibatasi pintu kaca saja. Opa dan Oma sudah duduk di meja makan. Aku dibantu Bibi Ella mulai memasak. Hihihi 😆, dari tadi Valko terus mencuri pandang ke arah dapur. Kurasa dia mulai tertarik pada umpan yang kuberikan.


"Nona, mau masak berapa porsi?" tanya Bibi Ella.

__ADS_1


"Empat saja, Bi...." ucapku sambil mulai mengaduk-aduk kuah sup itu. "Untuk Opa, Oma, Tata dan Bibi Ella saja!" ucapku kencang.


"Nona, Tuan Varrel bagaimana?" Bibi Ella nampak bingung.


"Hah?! Varrel?" sahutku kencang. "Tak perlu, Bi. Varrel akan segera pergi. Dia tak usah dihitung atau disisakan! Dia pasti sudah kenyang makan malam di restoran bersama Kak Vita!" ucapku dengan keras. Hihihi, Valko nampak menatap terus ke arah dapur. Reaksinya bisa terlihat jelas dari balik pintu kaca.


"Kak Varrel, ehm...mungkin meeting-nya akan berlangsung hingga larut malam. Bagaimana jika kita menginap di hotel saja? Jangan salah paham, Kak. Banyak hal yang harus dibahas. Mungkin saja bisa sampai pagi menjelang," terdengar suara Nenek Sihir Merah itu. Oh, jadi dia bisa membaca strategiku. Nenek Sihir itu ingin menahan Valko agar pergi lebih lama. Kurasa dia ingin melancarkan banyak strategi tersembunyi.


"Ehm...." Valko nampak berpikir. "Aku tak bisa, Vita. Aku harus pulang." jawabnya. Aku mengawasinya sambil terus mengaduk kuah cream soup. Jawabannya sudah kuduga. Dia kan tak bisa tidur tanpa memelukku. Sebuah ide terlintas di kepalaku. Mengapa aku tak mempermainkan Valko saja?


"Bibi, Bibi suka nonton film nggak? Nanti temani Tata nonton film yuk, Bi" ucapku.


"Iya, Non. Nanti saya temani," Bi Ella fokus memperhatikan sup dalam panci.


"Ada apa, Kak?" tanya Nenek Sihir itu. "Mengapa dari tadi kau melihat ke arah belakang?"


"Bukan urusanmu!" sahut Valko dengan ketus. Kurasa perasaannya sedang buruk sekarang. Rencanaku cukup berhasil. "Ayo, pergi! Lain kali jangan menggangguku malam-malam! Aku lelah tahu!" Valko memarahi Vita. Aku merasa puas akan hal itu.


Kusajikan cream soup itu di atas meja makan. Kuah kekuningan cerah dengan isian berupa bakso, sosis dan crab stick. Sungguh membuat perutku meronta.


"Silahkan, Opa, Oma, Bibi Ella," ucapku ramah sambil menuangkan sup itu ke piring mereka. Mereka melahapnya dengan antusias. Aku juga makan dengan lahap. Hihihi, sup itu sungguh-sungguh tak bersisa sekarang. Kulihat smartphone-ku, astaga, ada alarm pengingat bahwa drama yang diperankan oleh salah satu idolaku tercinta akan kembali update malam ini. Aku harus menonton ini.

__ADS_1


"Bibi, Tata mengantuk," ucapku saat menuju kamar tamu. Aku sudah membawa guling, smartphone, selimut rangkap dua dan headset.


"Ya, sudah, Non. Non, tidur saja. Bibi tak masalah menonton filmnya ditunda," Bi Ella merapikan kamar tamu itu.


Alasan lain aku memilih kamar ini karena ranjangnya sempit, hanya muat untuk satu orang saja. Jika nanti Valko nekat menyusulku dan menerobos masuk kemari, entah bagaimana caranya. Dia takkan punya tempat yang nyaman untuk tidur.


"Terima kasih, Bi," kukunci pintu kamar tamu ini dari dalam kamar.


Malam ini tidurlah sendiri Valko. Aku segera membungkus diriku dengan selimut tebal rangkap dua. Kupeluk sebuah guling, kupakai headset di telingaku. Ini namanya surga dunia, meski di desa tapi rumah ini punya akses wifi yang cepat dan lancar. Sangat mendukung untuk streaming drama korea di aplikasi nonton film. Aku berbaring menghadap ke arah tembok. Yes, drama korea favoritku hampir mulai. Aku menontonnya di smartphone dalam keadaan terbaring miring. Sebenarnya ini posisi yang tak baik untuk mata, tapi ini posisi yang ternyaman untukku.


"Ehm..." kurasakan ada sesuatu yang bergerak di belakangku. Tunggu, apa itu Valko? Tak mungkin, dia tak mungkin pulang secepat ini. Dia tak mungkin masuk, pintunya kukunci dari dalam. Atau jangan-jangan itu hantu?


"Tupai, jangan marah. Ayolah, aku juga ingin makan cream soup. Aku juga ingin tidur nyenyak sambil kau belai!" nampak suara memohon yang kukenali. "Ayolah, Tupai! Berbaliklah, jangan marah padaku....." Valko terus memohon. Hihihi, aku tak tahu jika strategiku berhasil sampai sejauh ini 😆.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2