Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 99 - Iri....


__ADS_3

"Hubby, memangnya acara apa yang ingin kau persiapkan?" tanyaku penasaran.


"Acara untuk mendiang mamaku," sahut Valko lirih.


"Acara apa? Apa semacam ehm...upacara peringatan hari kemati...an...?" tanyaku lirih.


"Acara ulang tahun, Zeta," sahut Valko. Langkahnya terhenti, dia menatap ke arahku. "Aku selalu memperingati hari dimana mamaku dilahirkan. Aku memang tak bisa selalu mengunjungi makamnya setiap waktu, tapi aku pastikan untuk selalu memperingati hari ulang tahunnya...." Valko kembali berjalan.


"Oh, begitu...ehm...kau ingin memperingati dengan cara seperti apa?" tanyaku penasaran. "Kau ingin memasak makanan kesukaan mamamu?"


"Tidak seperti itu. Aku biasanya memberikan bantuan ke panti asuhan. Biasanya kuserahkan semuanya pada May. May yang memilih panti asuhannya dan menyalurkan bantuannya. Aku biasanya hanya menerima laporannya saja. Tahun ini berbeda. Aku ingin menyiapkan bantuannya bersamamu, Zeta. Setiap tahun, aku selalu berbagi pada anak-anak saat ulang tahun mamaku. Aku merasa diriku tak jauh berbeda dengan mereka. Meski hidup bergelimang harta, tapi masa kecilku seperti seorang yatim piatu. Aku tak punya orang tua yang mendampingiku. Meski dibesarkan oleh kakek dan nenek tapi tetap saja rasanya tentu berbeda. Zeta...." panggil Valko. Dia menatapku kembali. "Aku iri padamu...."


"Hah?" ucapku tertegun. "Kau iri padaku?"


"Ya, aku iri karena kau punya keluarga yang lengkap hingga kau dewasa. Kau punya ayah, ibu serta saudara. Hidupmu di masa kecil pasti lebih menyenangkan daripada aku. Kau bisa merasakan kasih sayang ayah dan ibu dari saat kau kecil hingga sekarang. Kau juga punya saudara yang bisa jadi teman dan tempatmu berbagi duka. Bagi orang lain mungkin hidupku terasa sempurna, bergelimang uang sejak kecil. Hidup di lingkungan yang dikelilingi fasilitas mewah dan juga pelayan. Tapi, tak semua hal bisa dibeli dengan uang. Contohnya kasih sayang orang tua dan keluarga yang lengkap. Aku benar-benar iri padamu, Zeta...." ucap Valko. Suaranya terdengar bergetar. Bisa kurasakan rasa sedih di kedua mata Valko.


"Hubby...." kutatap mata Valko. Kedua tanganku menyentuh kedua pipi Valko. "Keluargaku adalah keluargamu juga. Kau suamiku, tentu kau adalah putra dari mama dan papaku juga. Kau tak perlu iri lagi. Papa dan mamaku pasti juga menyayangimu, Hubby. Kau tak perlu iri lagi ya," ucapku sambil tersenyum. Valko memelukku dengan erat.


"Aku bersyukur bisa menikahimu, Zeta. Kau selalu bisa membuatku merasa terhibur saat aku merasa sedih...." Valko memegang daguku. Dari tatapan mata Valko, kurasa dia ingin menciumku. Duh, kalo itu terjadi bisa-bisa nggak jadi belanja nih.


"Ayo, mulai memilih barang, Hubby," ucapku sambil mengambil alih troli. Aku bergantian berjalando depan Valko. "Kau ingin memberi bantuan seperti apa, Hubby?" tanyaku lagi.


"Biasanya aku meminta May memberikan uang tunai. Terkadang May juga membelikan barang. Tahun ini aku ingin memberi uang tunai. Tapi aku juga ingin ada barang-barang agar bisa ada acara penyerahan yang bisa kuhadiri bersamamu, Zeta," sahut Valko.

__ADS_1


"Bagaimana jika memberi peralatan sekolah saja? Pasti akan bermanfaat untuk mereka," ucapku sambil menatap ke arah tas-tas yang di gantung di dinding. Nampak beragam tas gendong tergantung di dinding itu.


"Boleh juga," sahut Valko.


"VB?" ucapku saat mengambil salah satu tas berwarna pink. Nampak simbol huruf 'VB'.


"Valko's Bag. Jika disingkat jadi VB. Supermarketku tentu harus menjual produkku. Produk perusahaanku tentu harus mendominasi di sini. Baiklah, warna pink untuk anak perempuan dan warna abu-abu untuk anak laki-laki," ucap Valko sambil mengambil tas berwarna abu-abu. "Masukkan saja di troli, nanti akan kusuruh May menyiapkan tas dengan desain itu," ucap Valko sambil kembali mendorong troli.


"Hubby, berikan juga alat tulis," kuambil satu pack buku tulis. "VS?" ucapku heran saat melihat lambang merek di sampul buku tulis itu.


"Valko's Stationery. Jika disingkat VS. Aku tak mau kantorku memakai produk alat tulis kelas rendahan. Jadi sebaiknya kubuat pabrik alat tulis. Sekalian menjadi usaha," ucap Valko.


Kuamati pensil, bolpen serta alat-alat tulis yang terpajang di rak supermarket ini. Astaga, semuanya berlogo VS. Valko, kau punya berapa pabrik dan usaha sih sebenarnya? Jangan-jangan makanan yang kau makan pun juga berasal dari pabrik milikmu sendiri? 😮. Aku berjalan di depan Valko. Langlah kakiku tak terasa sampai ke area tempat berbagai perlengkapan bayi. Mataku tertuju pada baju-baju untuk bayi yang dipajang di area ini.


"Ah! Yang ini juga lucu!" kuambil lagi satu baju bayi berwarna biru muda yang terbuat dari bahan katun. Kurasa baju ini untuk bayi laki-laki. Baju itu dijual sepasang dengan celana panjang. Gambar emoticon yang sedang tertidur membuatku merasa gemas saat melihat baju itu. "Pasti bayi jadi tambah menggemaskan jika memakai ini!" ucapku sambil tersenyum.


"Ehem!" terdengar Valko berdehem. Refleks, aku mengalihkan pandanganku ke arahnya. "Apa kau sedang memberi kode padaku?" ucap Valko sambil menatapku.


"Kode? Kode apa?" tanyaku balik. "Apa maksudmu?" tanyaku lagi.


"Kau memegang baju bayi, Zeta. Bukankah itu artinya kau memberi kode kepadaku jika kau ingin punya anak?"


"Hah?!" aku tertegun mendengar ucapan Valko. "Aku memegang baju ini karena merasa gemas, Valko. Tak ada maksud lain."

__ADS_1


"Ck! Tak usah malu, Zeta. Aku selalu siap untuk mewujudkan keinginanmu itu. Bahkan jika kau ingin malam ini, aku siap! Aku selalu siap untuk mewujudkan Zeta junior atau Valko junior...." bisik Valko di telingaku.


Valko, tak bisakah kau tak membahas hal itu di tempat umum seperti ini. Aku malu tahu! Bisa kulihat seorang pegawai supermarket menahan tawanya.


"Kau ingin punya berapa? Aku selalu siap, Sayang...." bisik Valko lagi. Hanya ada satu cara membuat Valko diam dan berhenti membahas hal ini.


"Hubby...." panggilku sambil berjinjit. Kucium bibir Valko.


"Zeta!" ucap Valko sambil memegangi bibirnya. "Aku mau ke kamar mandi dulu!" Valko bergegas meninggalkanku.


Hihihi, wajahnya nampak memerah. Lucu sekali, dia tak tahu malu saat bersikap di depan umum ketika bersamaku. Tapi saat kucium dia justru malu-malu 😂.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍

__ADS_1


Maaf ya reader, beberapa hari author tidak update 😢


__ADS_2