
Apa segini sudah lembut?" tanya Valko. Tangan kanannya berhenti menggerakkan ulekan itu. Kuamati hasil ulekan di atas cobek. Nampaknya sudah cukup halus.
"Sudah, Hubby," sahutku sambil menambahkan kacang tanah yang sudah diblender ke dalam cobek. "Nah, sekarang campur kacang tanah ini dengan bumbu tadi!" ucapku. "Ini sendoknya!"
"Baiklah," sahut Valko. Tangannya mulai mencampur kacang tanah itu dengan bumbu yang sudah halus tadi. "Bagaimana? Sudah belum?" tanya Valko.
"Sudah, sekarang pindahkan ke mangkuk ini," kusodorkan mangkuk ke arah Valko. Valko mulai memindahkan bumbu setengah jadi itu.
"Sudah, sekarang apa lagi?" tanya Valko.
"Tinggal di tambah air saja," kutuangkan air dari dalam teko kaca bening itu. "Ehm...rasanya enak juga," kucolek sedikit bumbu itu dengan tanganku.
"Akhirnya sudah selesai...." ucap Valko.
"Belum, Hubby. Kupaskan dan potong buahnya juga ya, Hubby," pintaku dengan manja.
"Apa? Zeta, tak bisakah kau...." ucap Valko.
"Ya sudah, jika kau tak mau...." kupasang wajah sedih dan kecewa. "Sini, biar aku sendiri!" ucapku ketus. Kucuci buah jambu dan timun itu sambil memasang muka cemberut.
"Iya, iya, Zeta Sayang. Sini biar aku yang mengupasnya. Jangan marah lagi, ya," ucap Valko. Hihihi, siasatku berhasil 😆. Valko mengambil timun itu. Dia menaruh timun itu di atas talenan.
"Aku ingin potongan seperti bunga!" ucapku.
"Hah? Potongan seperti bunga?" ucap Valko. Dia nampak tertegun. "Bagaimana caranya? Zeta, kenapa sih hari ini kau aneh sekali," celetuk Valko.
"Aku tak aneh. Aku kan hanya ingin makan masakanmu, Valko. Seperti ini caranya," kupraktekkan hal yang kumaksud. Sisi-sisi timun itu dikikis sedikit sehingga jika dipotong membentuk bentuk bunga. "Nah, lanjutkan, Hubby," kuserahkan timun itu lagi pada Valko.
"Ehm....." sahut Valko. Dia mulai memotong timun itu. Setelah timun, Valko memotong buah nanas dan jambu.
"Jangan lupa bengkoangnya, Hubby," ucapku sambil menyerahkan bengkoang pada Valko. "Kenapa langsung kau potong? Kupas dulu kulitnya!" teriakku spontan.
__ADS_1
"Oh begitu ya? Aku tak tahu...." ucap Valko lirih. Jangan bilang jika ini pertama kalinya dia melihat buah bernama bengkoang 😟. "Ini pertama kalinya aku tahu ada buah-buahan seperti ini, hehehe!" celetuk Valko. Astaga, Valko, lalu waktu kecil apa yang kau pelajari? 😟. Sudahlah, lupakan 😧.
"Ya sudah, sini biar aku yang mengupas bengkoangnya!" kukupas bengkoang itu. Kucuci bengkoang yang berwarna putih bersih itu. Ah, rasanya lidahku sudah tak sabar untuk mencicipi bengkoang yang renyah dan nampak segar ini. "Ini, potong," kuserahkan bengkoang itu pada Valko. Valko mulai memotong bengkoang itu.
"Akhirnya selesai juga," ucap Valko.
Kurasa dia mulai peka, potongan buah itu ditatanya di atas piring bundar yang lebar. Sambal lotis itu ditata di bagian tengah. Perpaduan buah nanas, jambu, bengkoang dan timun seolah seperti pelangi yang nampak menggoda untuk dimakan.
"Sudah jadi, Tuan Putri,"ucap Valko. Dia melepas apron serta sarung tangan plastik itu. Aku pun melakukan hal yang sama. Valko membawa piring itu ke atas meja makan yang ada di dapur ini. Aku pun duduk di salah satu kursi.
"Hubby...." panggilku manja.
"Ada apa lagi, Zeta?" tanya Valko.
"Peluk aku! Aku ingin makan sambil disuapi. Aku juga ingin disayang-sayang," pintaku dengan manja. Ujung kemeja Valko kutarik dengan kedua tanganku.
"Astaga!" ucap Valko. Dia nampak menghela napas sejenak. "Baiklah, baik," sahut Valko. Dia menyeret kursi lalu duduk.di atas kursi itu. Kursi itu di dekatkan ke arahku. Aku dengan sigap langsung menghambur ke pelukan Valko.
"AAA!" kubuka mulutku lagi.
Valko kembali melakukan suapan itu lagi. Kali ini aku disuapi dengan bengkoang. Sungguh nikmat, perpaduan rasa manis pedas dan tekstur yang renyah benar-benar memanjakan lidah.
"Hubby, aku pengen dielus-elus," ucapku sambil menatap ke arah Valko.
"Kenapa hari ini kau sangat manja, Zeta? Apa kau sangat rindu padaku?" ucap Valko. Dahiku diberikan kecupan lembut. Tangan kiri Valko mengelus-elus rambutku.
"Aku kangen...rasanya aneh jika tak ada kau. Tadi malam tidurku tak nyenyak, Valko. Tak ada yang memberiku pelukan dan belaian...." sahutku. "Hubby, AAA!!!" kubuka mulutku kembali.
Tangan kanan Valko mengambil irisan bengkoang. Tapi setelah dicolek ke sambal lotis, irisan itu justru digigit Valko dengan mulutnya. Valko mengarahkan mulutnya ke arahku. Oh, dia ingin suapan dari mulut ke mulut. Hihihi, dengan senang hati. Kuterima suapan itu, gigi depanku sudah berhasil memotong irisan bengkoang itu. Valko justru menekan bagian belakang kepalaku. Tentu saja bibirku jadi menempel ke bibir Valko. Ih, dasar modus! Bilang saja jika ingin dicium. Tapi, aku rela kok jika diberi suapan seperti ini lagi 😍.
"Suapan istimewa, ya?" ucapku sambil menatap Valko.
__ADS_1
"Anggap saja iya," Valko kembali menyuapiku dengan mulutnya.
"Sekarang giliranmu!" ucapku. Kuambil potongan bengkoang lalu kucolekkan pasa sambal itu. "Ayo, buka mulutmu!" ucapku. Valko menerima suapan itu. Dia mulai mengunyah suapan itu. "Bagaimana rasanya?"
"Akan lebih nikmati jika kau menyuapiku dengan bibir mungilmu itu, Zeta," bisik Valko.
Ih, dasar tukang modus. Sudahlah, turuti saja. Kuambil buah jambu lalu kucolekkan pada sambal itu. Ujung satunya kugigit dengan gigi depanku. Valko menerima suapan itu. Area belakang kepalaku ditekan kembali. Ciuman itu terjadi lagi. Ih, dia benar-benar mencuri-curi kesempatan, deh. Aku dan Valko lanjut menyuapi satu sama lain hingga buah dari piring itu habis tak bersisa.
"Sudah habis, kau sudah puas?" tanta Valko sambil menatapku.
"Sudah, sekarang ayo kita...eh...." belum selesai aku berbicara Valko sudah menggendong tubuhku. "Valko, apa yang kau lakukan?" tanyaku. Dia membawaku menuju ke arah lantai atas.
"Tidur, Zeta. Apa kau pikir semalam aku bisa tidur dengan nyenyak?" ucap Valko sambil membuka pintu kamar dengan kaki. "Nah, aku ingin istirahat!" ucap Valko sambil membaringkanku di atas ranjang.
"Tapi, Valko, bagaimana dengan Ayah Mertua? Beliau kan...."
"Ada Kakek dan Nenek yang menjaga Papa. Papa sendiri yang menyuruhku pulang," ucap Valko. Dia menarikku ke dalam pelukannya. "Sudah, ayo tidur!" Valko mencium dahiku.
Apa Valko tidak pergi ke kantor? Ah, tapi dia kan CEO. Sudahlah, menurut adalah pilihan yang terbaik. Lagipula aku juga mengantuk. Entah mengapa, aku ingin memeluk Valko secara langsung. Kubuka kancing kemejanya. Nampak dada bidang dan otot perut yang memesona. Apalagi kulit Valko putih bersih. Ah, Valko, kau memang guling yang paling perfect.
"Zeta," nampak Valko terbangun. "Apa yang kau lakukan?" ucapnya. Aku tak menjawab, langsung saja dia kupeluk kembali. Mataku langsung kututup kembali. "Hari ini kau sangat manja sekali. Sudahlah, tidurlah kembali," ucap Valko. Tangan kanannya memeluk tubuhku. Tangan kirinya menepuk-nepuk tubuhku dengan lembut. Valko, kau memang benar-benar guling yang paling perfect 😙.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
__ADS_1
Thank you 😍