
"Kau ternyata mirip dengannya...." bisiknya lirih. "Diamlah sebentar, Tupai. Biarkan aku memelukmu!" nada sedih keluar dari mulutnya. Ada apa ini? Apa dia memiliki kenangan buruk yamg berhubungan dengan usaha yang kurintis? Siapa yang dia maksud mirip?
"BOS!" terdengar suara memanggilku. Nampak beberapa orang menghampiriku. Valko, tak bisalah lau melepasku? Orang-orang itu semakin dekat. Astaga, mereka menatapku dengan tatapan heran.
"Tuan, bisa tolong lepaskan aku?" ucapku manja . Valko segera melepas pelukannya. Dia lalu memasang wajah sok cool.
"Gi! Ada Tuan Valko!" celetuk Della, salah seorang temanku.
"Astaga!" terdengar teriakan Ogi. Temanku yang lain. "Del, ini Tuan Valko! Tuan Valko yang kaya raya itu!" teriak Ogi. HAH? Dia kenal Valko?
"Kalian mengenalinya?" aku heran. Bukankah seharusnya lingkungan kelas atas saja yang mengenalinya?
"Bos!" teriak Ogi. "Kau yakin tak mengenalinya? Dia ini CEO yang sangat terkenal di dunia bisnis. Beliau dijuluki Serigala Muda dari Keluarga Wijaya. Beliau sangat hebat, Bos!" Ogi terus memujinya. Apa dia seterkenal itu? Aku hanya mengenalnya sebagai CEO Playboy. Itu pun kudapat dari selentingan gosip dari sepupuku sebelum kami menikah.
"Sepertinya karyawanmu jauh lebih pintar, Tupai!" ejek Valko. "Dia bisa mengenali orang sehebat diriku!"
"Tu...pai....?" ucap Ogi dan Della bersamaan. Kurasa mereka terheran-heran.
"Bos, mengapa Tuan Valko memanggilmu Tupai?"
"Dia suamiku!" sahutku singkat.
"HAH!" teriak Ogi dan Della bersamaan. "BOS, KAU SUNGGUH-SUNGGUH MENIKAH?!" teriak mereka seolah bisa memecahkan gendang telingaku. Keluargaku memang tak mengijinkanku mengundang orang luar hanya keluarga besar saja yang boleh hadir.
__ADS_1
"Apa kalian pikir aku bercanda?" aku berusaha cuek.
"Bos, lalu bagaimana dengan Ka...." secepat kilat kupelototi Della. Kurasa dia ingin menanyakan hubunganku dengan Kai. "Ehm...maksudku bagaimana dengan karya baru kita....yah karya baru berupa produk kita," dia menyadari sinyalku.
"Ayo kita foto dan segera lauching!" kutarik tangan Ogi dan Della masuk ke ruko itu. Di sinilah mimpiku yang lain kutanam dan kupupuk. Memang belum besar tapi setidaknya mulai tumbuh.
"D' Briallen Boutique?!" terdengar suara Valko. Ia membaca papan nama berwarna kuning dengan background pink itu. Kakinya melangkah masuk ke dalam ruko dengan tatapan merendahkan. "Apa kau tak punya nama lain yang lebih aneh lagi, Tupai?" ejeknya. "Nama butikmu aneh!" ia duduk di kursi sofa putih yang ada di lobi.
"Tuan, Briallen itu memiliki arti yang sama dengan namaku Zeta," aku hanya tersenyum.
Valko mulai melihat-lihat koleksi pakaian dan gaun yang ada di butikku ini. Sebenarnya butikku mengkhususkan diri menjual produk untuk kaum wanita tapi karena ada konsumen yang request produk couple jadinya menyediakan juga untuk kaum pria. Butikku ini memproduksi pakaian casual hingga berbagai macam gaun. Aku, Della dan Ogi yang mendesainnnya. Kami ini teman sejak SMA yang kebetulan satu kampus. Aku mengambil jurusan manajemen, Della dan Ogi memgambil jurusan tata busana. Jangan tanya aku mengapa Ogi tertarik mengambil jurusan itu. Kurasa dia memang punya ketertarikan khusus di bidang ini. Butik ini lahir dari keisengan kami mengikuti lomba wirausaha muda saat masih semester awal di bangku perkuliahan. Siapa yang menyangka kami menang dan mendapat hibah modal usaha.
Sebenarnya aku tak pantas dipanggil Bos di usaha ini. Ehm...tapi itu mungkin terjadi karena aku memberi modal yang cukup besar yaitu ruko ini. Ruko ini sebenarnya adalah toko alat jahit milik kakek dulunya. Karena kakek sangat sayang padaku maka dia mewariskannya padaku. Kurasa ketertarikanku pada bidang fashion memgalir dari darah kakekku. Ya, meski bidangnya agak jauh berbeda dari yang ditekuni kakek. Dalam usaha tetap saja harus ada pemimpin meski usaha antar teman. Aku pemimpin di butik ini alasannya karena aku jurusan manajemen. Della dan Ogi jadi terbiasa memanggilku 'Bos'.
"Apa maksud Tuan? Tupai ini tak memgerti," aku mengelak sambil menunduk. "Tupai ini tidak bermaksud berdandan tak layak di hadapan Tuan. Ehm...jika yang Tuan maksud berdandan dengan memakai kaos dan celana kolor seperti waktu itu...ehm...itu karena saya tak tahu jika Tuan akan mengajak Tupai ini pergi jauh. Saya kira Tuan hanya akan mengajak Tupai ini pergi mengelilingi kompleks perumahan saja untuk adaptasi lingkungan. Makanya saya berdandan seperti kebiasaan saya saat di rumah. Ehm...saya suka memakai kaos dan celana kolor saat di rumah,Tuan," aku tersenyum palsu. "Jika tak percaya Tuan bisa bertanya pada teman-teman saya sejak SMA!" kutunjuk ke arah Della dan Ogi. "Del, Gi, bener kan aku suka pake celana kolor sama kaos kalo lagi di rumah?" tanyaku. Please, kawan kali ini bantu aku ya! Kumohon! Valko menoleh ke arah keduanya.
"Iya, Tuan...iya...." jawab keduanya kompak.
"EHM...." dengus Valko. Dia kembali duduk di sofa putih itu. "Cepat selesaikan pekerjaanmu, Tupai! Aku hanya memberimu waktu hingga jam 8 malam!" perintah Valko. Aku hanya menggangguk.
Aku, Della dan Ogi segera menuju ruang di belakang ruang display produk itu. Segera kuganti bajuku dengan produk gaun yang ingin di lauching. Ya, kami melakukan lauching secara online. Segera kududuk di meja rias, dengan sigap Della dan Ogi mulai mendandaniku. Ogi bagian hairstylist dan Della bagian make up.
"Kukira kau bercanda saat bilang libur untuk menikah!" celetuk Della sambil membersihkan wajahku.
__ADS_1
"Siapa yang bilang aku bercanda! Aku kan sudah meminta maaf karena ini acara terbatas sehingga hanya mengundang keluarga dekat saja," balasku.
"Kau seharusnya tak perlu meneruskan skripsimu, Ta!" celetuk Ogi. "Tuan Valko sudah kaya hingga tujuh turunan. Kau tinggal menjadi Tupai Kecil yang penurut saja! Hidupmu pasti makmur dan sejahtera!" Ogi tertawa. Kalian tidak tahu saja apa yang sebenarnya terjadi. Jika kalian tahu pasti kalian lebih baik memilih menikah dengan orang biasa.
"Nah, selesai!" ucap Ogi dan Della bersamaan. Akhirnya proses itu selesai. Riasan flawless dan rambut tergerai bergelombang sudah diterapkan kepadaku. Aku cukup suka apalagi kali ini gaunku berwarna ungu lavender. Tunggu, ungu lavender? Mengapa bisa sama seperti warna kesukaan Si Serigala itu? Aku menghela napas. Kebetulan yang mencegangkan. Produk yang ku-lauching kali ini adalah sebuah gaun. Gaun itu mengekspos bagian punggung secara jelas. Panjang gaunnya juga di atas lutut.
"Ayo, kita foto!" aku siap berpose di depan background berupa kain warna putih.
"Eh, pakai dulu sepatunya!" Della menyodorkan high heel warna emas setinggi 10 cm. Segera kupakai benda itu. Aku sudah siap berpose dengan gaya berdiri menghadap ke belakang membuat punggungku terekspos dan kakiku yang tak seberapa jejang ikut terlihat cukup jelas.
"Siap....satu...dua..." Ogi sudah siap membidik dengan kamera beresolusi tinggi.
Ya, aku yang menjadi model bagi foto produkku sendiri. Orang-orang bilang sih aku cukup manis saat di foto. Bahkan ada yang menyarankanku menjadi model saja. Ehm....sayangnya, aku tak memiliki tinggi badan yang ideal untuk catwalk. Usahaku adalah usaha dengan skala yang masih kecil. Jadi, daripada menyewa model lebih baik diperagakan sendiri saja bergantian antara aku dan Della.
"HENTIKAN, TUPAI!" terdengar teriakan. "APA YANG KAU LAKUKAN?" Valko terlihat marah. Kemurkaan sangat jelas tergambar di wajahnya. Aku kan hanya berfoto saja. Apa ada yang salah? Mengapa dia marah?
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍