
"Apa yang kau lakukan?" teriak Valko saat aku melompat turun. Aku mendarat dengan sempurna di atas rumput. Tentu saja dengan banyak jambu di genggamanku, hihihi 😆.
"Hubby...." panggilku. Aku tak tahu apa yang merasukiku tapi langsung kudekatkan kepalaku ke arah wajah Valko. Pipi kanan Valko kuberikan kecupan lembut.
"Ze...ta!" ucap Valko. Dia nampak tertegun, kedua matamya menatapku.
"Aku kangen, Hubby...." kusandarkan kepalaku ke bahu kanan Valko.
"Kau manja sekali sekarang, Zeta," ucap Valko sambil menggendongku. Ah, Valko, aku suka jika kau bersikap manis seperti ini . "Aku khawatir, tahu! Saat aku pulang kau tak ada di dalam rumah!" ucap Valko sambil berjalan membawaku masuk kembali ke dalam rumah.
"Hubby, jangan marah. Aku hanya berjalan-jalan di halaman rumah ini saja. Aku tak keluar kemana-mana kok. Sudah ya jangan marah lagi. Jangan marahi para pelayan juga. Ini bukan salah mereka. Maaf sudah membuatmu panik," kuberi satu kecupan lembut di pipi kanan Valko lagi.
"Jangan ulangi lagi, Zeta! Kau membuatku khawatir tadi! Jangan memanjat pohon lagi! Jangan keluar rumah sembarangan lagi!" ucap Valko sambil menatapku.
Keluar rumah sembarangan? 😟. Valko, aku kan hanya berjalan-jalan di halaman rumahmu. Bukan pergi ke tempat lain. Sudahlah, aku tak mau hal ini diperpanjang. Nampak pelayan berjajar di ruang tamu. Mereka nampak menunduk lesu. Astaga! Nampaknya Valko akan memarahi mereka. Aku tak boleh membiarkan ini terjadi.
"Hubby...." panggilku manja. "Bisakah kau membawaku ke dapur? Bisa kan Valko, Sayangku, Suamiku Tercinta," ucapku dengan manja.
"Ehm....tentu saja," sahut Valko. Dia berjalan menuju ke arah dapur. Aku awalnya hanya ingin mengalihkan perhatian Valko saja. Tapi kenapa ya sekarang malah jadi ingin makan makanan yang dibuat oleh Valko? 😮.
"Sudah sampai, Zeta," ucap Valko sambil menurunkanku di dapur. Kuletakkan jambu merah di tanganku ke atas meja makan yang ada di dapur ini.
"Hubby!" panggilku manja. Kupeluk tubuh Valko. Kepalaku kusandarkan ke bahu kanannya. Pipi kanan Valko kucium kembali. "Hubby, aku ingin sesuatu....bisakah kau memenuhinya untukku?" pintaku dengan manja.
"Kau ingin apa? Tak biasanya kau sangat manja seperti ini. Apa kau ingin belanja online? Jika kau ingin sesuatu beli saja. Jika saldo di kartu yang pernah kuberikan kurang akan kutambah...."
"Aku tidak mau beli sesuatu. Ini bukan hal yang bisa dibeli dengan uang," sahutku.
__ADS_1
"Kau ingin apa sebenarnya, Zeta? Jangan membuatku bingung," ucap Valko sambil mengangkat daguku.
"Aku ingin...." ucapanku sengaja kutahan.
Aku segera berjalan ke arah kulkas warna perak yang ada di dapur ini. Kulkas itu besar, pintunya ada dua buah. Seperti dugaanku isinya lengkap dengan berbagai bumbu dan bahan makanan. Kuambil kacang tanah, gula merah, cabe rawit dan asam. Ternyata secara kebetulan ada nanas, timun dan bengkoang. Nanas sudah dalam keadaan terkupas. Wah, pasti rujaknya semakin lezat. Apalagi bumbu untuk sambal lotis juga tersedia.
"Zeta, kau ingin apa sebenarnya?" tanya Valko. Dia mendekat ke arahku.
"Hubby, aku ingin kau memasak untukku, hehehe," ucapku sambil menatap ke arah Valko.
"Hah? Zeta, kenapa tak meminta koki saja untuk melakukannya? Aku tak begitu ahli memasak...." ucap Valko.
"Aku inginnya kamu yang memasak! Pokoknya mau makan masakanmu! Tidak mau yang lain!" ucapku sambil memasang muka cemberut. Valko hanya diam saja. "Ya sudah, jika kau tak mau. Hik...hik...." aku pura-pura akan menangis.
"Baiklah, baiklah. Aku akan memasak untukmu, Tuan Putri Zeta," ucap Valko. Dia mengambil apron lalu mencuci tangannya. Sarung tangan plastik kemudian diambilnya dari dalam lemari kayu. Aku pun segera memakai apron dan mencuci tangan. Kusiapkan penggorengan berserta minyak goreng untuk memasak kacang tanah itu.
"Kau ingin aku memasak apa?" tanya Valko sambil menatap ke arah kompor.
"Rujak? Makanan apa itu, Zeta? Apa itu sejenis salad?" ucap Valko sambil menatapku dengan tatapan bingung.
"Valko, kau sungguh belum pernah mendengar masakan bernama rujak?" tanyaku. Valko menggelengkan kepalanya. "Kau akan tahu nanti!" ucapku sambil mengambil blender. Kacang tanahnya sebaiknya di blendet saja. Tapi, untuk sambal lotisnya tentu harus Valko yang menguleknya.
"Belum, baru kali ini aku tahu ada makanan itu," ucap Valko.
"Kalo begitu kau harus mencoba membuatnya untukku, Hubby," ucapku sambil mencari-cari cobek dan ulekan di rak dapur bagian bawah. Nampak cobek dan ulekan yang masih nampak baru. Kurasa dua benda ini jarang dipakai.
"Untuk apa dua benda dari batu ini?" ucap Valko. Dia nampak tertegun. "Aku baru tahu jika ada benda seperti ini di dapur rumahku." ucap Valko. Dia nampak takjub mengamati cobek dan ulekan itu. "Ini dari baru asli. Pasti sulit membuatnya. Seharusnya ini jadi benda karya seni," ucap Valko. Aku berusaha menahan tawaku.
__ADS_1
"Pfft! Hubby, ini namanya cobek dan ulekan. Gunanya untuk membuat bumbu. Nah, sekarang kau buat sambal lotis untukku, ya," ucapku sambil menaruh gula merah, cane rawit serta garam ke dalam ulekan. "Nah, Hubby, tumbuk ini," kusodorkan cobek itu kehadapan Valko.
"Hah? Kau memintaku menumbuk?" celetuk Valko. "Zeta, kenapa tak diblender saja?"
"Rasanya nanti berbeda. Hubby, kau sayang padaku kan? Ehm...aku tak meminta benda mewah, aku hanya ingin makan masakan yang dibuat oleh tanganmu langsung."
"Baiklah, baik. Ck! Kenapa hari ini tingkahmu aneh, Zeta," ucap Valko sambil menumbuk bumbu di atas cobek. "Kenapa tak lembut-lembut juga sih!" keluh Valko. Dia nampak kesulitan menumbuk bumbu itu.
"Semangat Hubby, Sayangku. Kau pasti bisa!" ucapku menyemangati Valko.
"Hah! Apa segini cukup?" tanya Valko.
"Masih kurang lembut!" sahutku.
"Heh, merepotkan...." keluh Valko.
"Hubby, kau...." ucapku sambil memasang muka sedih.
"Tidak, tidak. Tak ada yang merepotkan untukmu, Zetaku Tercinta," sahut Valko.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
Thank you 😍