Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 53 - Kejam


__ADS_3

Aku terduduk, bersimpuh di tanah tepat di depan ruko ini. Siapa yang tega melakukan hal ini? Aku tak pernah mencari musuh. Valko bilang semua pacarnya adalah pacar sewaan. Mantan Valko yang paling dicintai adalah Kak Vio. Kak Vio sudah meninggal. Siapa yang ingin memiliki Valko?


Betapa teganya orang itu. Teganya dia merusak ruko warisan kakekku sampai seperti ini. Apalagi dicoret-coret dengan tulisan warna merah. Tunggu, warna merah. Warna merah tua mengingatkanku pada seseorang. Siapa lagi yang bisa melakukan ini selain dia, Si Nenek Sihir Merah! Aku pun bangkit berdiri.


"Ze...ta...." terdengar suara seseorang. Tangan orang itu memegang pundak kananku. "Tenangkan dirimu, Zeta," ucap orang itu lagi. Kertas ancaman itu masih kubawa.


"Lihat ini!" kutempelkan kertas itu ke dada Valko. "Lihat apa yang sudah diperbuat teman kecilmu itu!"


"Apa maksudmu?" Valko nampak bingung. Dia membaca kertas itu. "Kurang ajar! Berani sekali pelaku itu!" tangan Valko meremas kertas itu. "Tenang Zeta, polisi pasti akan menyelidikinya. Tenangkan dirimu...." ucap Valko sambil memegang kedua pundakku. "Tenanglah, sebaiknya kita, Ogi dan Della pulang ke rumah saja, ya. Barang-barangmu di sini sebagian besar sudah dipindahkan ke butik baru di area kantorku...." Valko memegang bahuku, matanya menatapku.


"Pulang? Pulang, kau bilang?!" teriakku emosi. "Bagaimana aku bisa pulang melihat ruko ini hancur hingga seperti ini!" kutunjuk ke arah ruko itu. "Ini pasti ulah temen masa kecilmu itu! Vita!" kutunjuk ke arah Valko. "Siapa lagi yang bisa melakukan hal ini selain dia!"


"Cukup! Hentikan!" teriak Valko. "Jangan menuduh tanpa bukti, Zeta! Vita tak mungkin melakukan ini! Aku lebih mengenal dirinya daripada kau! Jadi, berhenti menuduhnya!" Valko nampak murka.


"Ya, kau memang mengenalnya! Dia teman masa kecilmu, bela terus saja dia! Bela terus!" aku berjalan ke arah jalan raya.


"Kau mau kemana?" teriak Valko. Teriakannya tak kuhiraukan. Hanya satu di pikiranku, aku harus membuat perhitungan dengan Nenek Sihir Merah itu.


"Zeta, tunggu!" teriak Valko. "Berhenti!"


tangan kananku terasa ditarik. "Dengarkan perintahku! Aku ini suamimu!" teriak Valko.


"Suami?" aku berbalik menghadapnya. "Suami mana yang membela wanita lain di depan istrinya sendiri!" teriakku tak mau kalah. "Apa benar kau suamiku? Aku ini hanya mainanmu saja!" teriakku kencang. Tatapan semua orang tak kupedulikan.


"Jika kau membelanya, silahkan! Biar aku sendiri yang membuat perhitungan dengannya!" aku berbalik dan berjalan menuju jalan raya lagi. "VALKO!" Valko menggendongku dengan paksa.

__ADS_1


"Ogi, Della!" panggil Valko. "Kalian pulanglah! Masalah ini biar aku yang mengurusnya!" ucap Valko. Valko membawaku ke dalam mobil. "Pulang ke rumah! Cepat!" teriak Valko.


"Lepaskan aku! Lepaskan!" aku terus meronta-ronta. "Lepaskan aku, Valko! Biarkan aku pergi!" teriakku terus menerus.


Valko semakin erat memegang tubuhku. Valko hanya diam saja sedari tadi. Dia tak berkata apa pun tetapi wajahnya nampak menyimpan kemurkaan. Itu sangat terpancar dari tatapan matanya yang seakan ingin membunuh.


"Lepaskan aku!" teriakku terus menerus. "Sakit, Valko!" teriakku.


Setiap aku berteriak, Valko mencengkeram tubuhku semakin kuat. Cengkeramannya lama-kelamaan membuat tubuhku sakit.


"Ki...ta...su...dah...sam...pai, Tu...an...." ucap Sekretaris May.


Valko diam saja, dia keluar dari mobil. Tatapannya dingin dan terkesan ingin membunuh seseorang. BRUK!!! Tubuhku dibanting di atas ranjang. Kedua tanganku dicengkeram oleh Valko. Kedua kakiku ditindih oleh Valko.


"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi!" teriakku lagi. Aku berusaha membebaskan tangan dan kakiku tapi tetap saja kekuatanku tak sebanding dengan Valko. "Terus saja bela Vita! Bela dia! Aku hanya mainan bagimu! Sana pergi! Cari Vita, jika perlu nikahi dia!"


"Hubungan? Hubungan apa? Kau terus mempermainkan dan menindasku, Valko! Aku hanya mainan bagimu!"


"Bagaimana denganmu, hah? Kau juga terus mempermainkanku!" teriak Valko. Aku tertegun mendengar ucapannya. "Kau hanya memasang wajah palsu tanpa perasaan! Kau tetap berhubungan dengan Kai! Aku juga tak lebih dari sekedar mainanmu saja!"


"Val...ko...kau sudah tahu?" aku terkejut.


"Ya, aku sudah tahu. Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah memberimu kesempatan untuk menjelaskan semuanya padaku tapi kau tak juga berbicara! Jadi, jangan salahkan aku jika aku mengambil tindakan, Zeta! Setiap hal yang kumiliki pasti aku akan menyelidikinya terlebih dahulu, termasuk kau, Zeta! Jika ada yang berani mengusik apa yang kumilikki aku takkan segan untuk mencabik-cabiknya!"


"Kau kejam, Valko! Kau kejam! Kau hanya bisa menyiksa orang lain!" teriakku kencang.

__ADS_1


"Aku kejam? Lalu bagaimana denganmu? Aku menunjukkan kekejamanku secara terang-terangan. Sedangkan kau!" Valko menunjuk ke wajahku. "Kau menyiksaku secara diam-diam. Aku memang pernah memiliki kesalahan padamu, tapi aku terus berusaha memperbaikinya. Aku bahkan sudah memberimu kesempatan untuk menjelaskannya padaku saat kekasihmu itu menghubungimu. Tapi mulutmu justru terkunci rapat. Kau terus memasang wajah palsu seolah-olah tulus menyayangiku padahal di hatimu ada pria lain. Ya, aku memang salah di masa lalu, aku hanya menjadikanmu mainan. Tapi, sekarang aku ingin memperbaiki kesalahanku. Aku serius dalam menjalin hubungan ini! Karena pernikahan bukanlah sebuah mainan, Zeta...." ucap Valko lirih.


Valko melepaskan cemgkeramannya. Matanya menyiratkan aura kesedihan. Valko terus melangkah masuk menuju kamar mandi.


Valko mengganggap pernikahan ini bukan mainan. Jadi, dia serius mengganggapku sebagai istrinya? Dia benar-benar mengakuiku dan tak menjadikanku mainan? Aku memikirkan ucapan Valko.


Benar, pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan mainan. Entah bagaimana pun cerita pernikahan ini terjadi, tapi tetap saja ini bukanlah suatu hal yang bisa dijadikan mainan.


Kurasa benar apa yang dia katakan. Aku memang kejam, dia sudah benar-benar memperlakukanku dengan tulus bahkan sudah membawaku ke makan ibunya. Sedangkan aku? Aku terus memasang wajah palsu seolah-olah menyayanginya. Dia ingin memperbaiki kesalahannya, tapi aku justru terus bermain api di belakang Valko. Mengapa aku jadi merasa sesak melihat Valko bersedih? Apa yang terjadi padaku? Aku masih terus memikirkan Kai tapi aku tak tega jika melihat Valko sedih.


Kakiku melangkah menuju kamar mandi itu. Kubuka pintu kamar mandi itu. Nampak Valko berendam di dalam bathtub. Rambut panjangnya menutupi seluruh wajahnya.


"Apa yang kau inginkan?" terdengar suara Valko. "Pergilah! Aku sudah berusaha menekan amarahku agar tak terjadi konflik secara fisik, Zeta!" ucap Valko.


Valko, kau pergi karena berusaha meredam amarahmu? Dia pergi untuk menahan dirinya agar tak menyakitiku? Valko, ternyata kau sangat memperhatikan pengendalian dirimu, ya, ketika marah. Apa yang harus kukatakan?


Aku sudah mengucap banyak kata kasar tadi. Meski hatiku masih bimbang tapi Valko adalah suamiku. Aku tak suka terjebak dalam situasi seperti ini lebih lama lagi. Sudahlah, jika Valko ingin memperbaiki kesalahannya mengapa aku tak memberinya kesempatan? Tak ada salahnya memberinya kesempatan.


Tapi, bagaimana caranya aku memberi sinyal permohonan berhenti berkonflik. Bagaimana jika mencoba belaian dalam air? Aku pun mulai melepas pakaianku lalu masuk ke dalam bathtub itu. Valko tak mungkin kan melemparku? Jujur, aku takut 😣. Dia kan tetap seorang pria yang bisa kasar padaku. Aku masuk ke dalam ujung bathtub di sisi satunya. Aku berendam di dalam bathtub dalam posisi kaki yang tertekuk. Apa yang harus kukatakan?


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2