
Ayah mertua, salah satu tujuan utamaku kemari adalah mendengar penjelasanmu tentang hal ini....😐
"Ayah mertua!" panggilku. "Selama belasan tahun ini Ayah kemana saja? Valko mengira Ayah sudah tiada!" ucapku spontan. Semua di ruangan ini tertuju padaku. "UPS!" mulutku secara refleks langsung kututup dengan tanganku. Kenapa aku bicara begitu sih? Duh, suasananya jadi canggung nih.
"Bukan salah Valko jika dia mengganggapku sudah tiada. Aku memang ayah yang buruk...." ucap Tuan Kenrick lirih. Mata Tuan Kenrick nampak menahan air mata.
"Ayah mertua! Ehm...ma...af...." ucapku spontan. Duh, aku jadi merasa bersalah! 😢
"Tak apa-apa, Nak. Kau tak salah apa-apa. Tak perlu meminta maaf," Tuan Kenrick menarik napas panjang. "Saat Rara meninggal aku kalut dalam amarah. Aku sangat mencintai Rara melebihi cintaku pada Valko. Bagiku Rara lebih penting daripada Valko. Saat aku mendapat kabar bahwa Rara meninggal karena pergi berlibur bersama Valko, aku merasa sangat murka. Kehadiran Valko dari awal sudah kuanggap menyusahkan karena saat lahir, Rara harus menjalani operasi caesar agar Valko bisa lahir dengan selamat...."
"Tapi, Ayah....Valko pernah bilang jika dia rindu bermain mainan remot kontrol denganmu. Bukankah itu berarti Ayah menyayangi Valko?" tanyaku penasaran. Smartphone di dalam tas selempangku terasa bergetar tapi aku mengabaikannya.
"Perasaanku berubah-ubah. Dulu sewaktu Valko masih bayi bagiku dia menyusahkan, tapi ketika dia tumbuh besar dan bisa memanggilku dengan kata Papa. Entah mengapa ada rasa bahagia yang melonjak di dalam hatiku. Sejak saat itu aku jadi bisa merasakan kebahagiaan menjadi seorang ayah. Aku senang saat melihat senyum bahagia Valko dan rasa terima kasihnya saat aku membelikannya mainan remot kontrol. Dia bermain dengan sangat antusias dan tak henti tersenyum mengucap terima kasih. Tapi, saat dia nakal dan membuat Rara sedih, perasaanku berubah menjadi rasa tak suka," sahut Tuan Kenrick.
"Aku memukul Valko ketika Rara meninggal karena larut dalam amarah. Aku sudah bilang, tak bisa menemani pergi berlibur dan jangan pergi berlibur tapi keduanya malah tak menurut. Seharusnya aku tak menyalahkan Valko, itu semua sudah takdir. Seharusnya sebagai seorang ayah, aku memeluk Valko dan melindunginya, bukan malah memukul dan memakinya," air mata Tuan Kenrick tak bisa terbendung lagi.
"Ayah...." aku jadi turut hanyut dalam kisah penyesalan Tuan Kenrick. "Jangan menangis!" kuserahkan tisu pada Tuan Kenrick. Smartphone-ku bergetar lagi tapi tetap kuabaikan.
"Setelah pemakaman Rara, aku pergi dari rumah begitu saja. Hanya membawa pakaian yang menempel di badan serta dompet yang berisi uang tunai yang tak begitu banyak. Agar tak ada orang yang mengenaliku kututupi wajahku dengan masker dan kacamata hitam. Aku pergi ke sembarang arah, menumpang angkuran umum yang kutemui. Saat itu rasanya hidupku tak lagi berarti. Hidupku, kekayaanku, jabatanku rasanya tak ada artinya. Untuk apa aku hidup, jika Rara yang kucintai dengan segenap hidupku sudah tiada. Mungkin bisa dibilang aku nyaris depresi karena kehilangan Rara. Perjalananku sampai di sebuah terminal bus. Aku tak tahu tempat itu. Smartphone-ku tak kubawa saat itu. Di terminal itu aku merasa hampa, rasanya ingin bunuh diri saja. Pikiranku kosong, sampai suatu ketika saat aku berjalan ternyata aku sudah berada di jalan raya. Aku terserempet mobil!" Tuan Kenrick memperlihatkan bekas jahitan di pipinya. Bekas jahitan itu tak terlihat, jika tak diamati dengan detail.
"Ayah! Kau kecelakaan?!" ucapku panik.
"Jangan panik, Nak. Aku masih diberi kesempatan hidup. Saat aku terserempet aku ditolong oleh anak-anak remaja. Mereka ternyata adalah anak-anak yang tinggal di suatu panti asuhan. Panti asuhan itu mengenaskan kondisinya. Mereka serba kekurangan. Mereka tak mengenaliku sama sekali, itu yang mengejutkanku, padahal bisa dibilang aku pengusaha yang cukup terkenal. Ternyata, di panti asuhan itu tak ada fasilitas listrik bahkan barang elektronik sederhana seperti radio atau televisi pun tak ada. Pengurus panti asuhan itu usianya sudah renta, mereka adalah sepasang suami istri yang tidak dikaruniai keturunan. Oleh sebab itu, mereka mendirikan sebuah panti asuhan. Mereka tak banyak bertanya tentangku, bahkan mereka menawariku untuk tinggal di sana. Meski penuh dengan keterbatasan, tapi aku bisa melihat tawa ceria kakek dan nenek itu. Hal itu karena anak-anak panti asuhan itu. Berada di tengah mereka bisa membuatku paham apa arti bahagia yang sebenarnya. Bahagia itu pilihan, bukan orang lain yang memberi tapi ketika kau bisa merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kau miliki. Kau bisa merasakan kebahagiaan. Kakek dan nenek itu bisa bahagia meski dikelilingi oleh anak-anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Mereka bahkan tak pernah memukul anak-anak itu senakal apa pun mereka. Aku jadi tersadar, jika aku salah. Kebahagiaanku itu pilihan, meski Rara sudah tiada tapi seharusnya aku bisa bahagia karena masih ada Valko."
"Ayah, lalu mengapa kau tak muncul selama belasan tahun? Apa kau tak kasihan dan rindu pada Valko?" tanyaku.
"Nak, aku rindu pada Valko. Tapi, rasa bersalahku terus membayangiku. Aku tak memiliki keberanian untuk melangkah kembali pulang dan menatap wajah Valko. Lagipula, aku juga merasa harus membalas budi pada kakek dan nenek itu. Aku ingin membantu anak-anak itu. Akhirnya aku pun mencoba membuka usaha untuk mengubah nasib anak-anak itu. Aku tak ingin diriku dilacak karena itu aku menghindari mengambil uang dari ATM atau bank. Sebagai modal, kujual cincin emas putih yang kupakai...."
__ADS_1
"Ayah!" teriakku spontan. "Kay menjual cincin kawinmu?" aku hanya asal menebak.
"Tentu tidak!" sahut Tuan Kenrick. "Aku tak mungkin menjual cincin kawinku dengan Rara! Cincin itu masih ada!" Tuan Kenrick memperlihatkan sebuah kalung logam. Ada sebuah cincin emas putih dengan batu berwarna biru langit sebagai hiasannya. Cincin itu menjadi liontin kalung itu. "Aku selalu menyimpan cincin ini."
"Oh begitu, kalo begitu lanjutkan ceritamu, Ayah!" pintaku. "Oh ya, siapa nama kakek dan nenek yang menolongmu?"
"Namanya Kakek Fajar dan Nenek Vani. Aku tak tahu ini kebetulan atau apa, tapi aku juga terkejut mengapa namanya bisa sama dengan nama orang tuaku. Singkat cerita usaha kuliner yang kurintis bersama anak-anak panti itu berjalan hingga sukses. Aku membuat usaha bakso sapi tujuh warna pelangi. Warna bakso itu dibuat dari bahan-bahan alami. Syukurlah usaha itu bisa sukses sehingga membuat panti asuhan itu semakin sejahtera. Aku di sana bisa dibilang menjadi kakak yang paling tua. Setelah adik-adikku atau anak-anak panti itu sukses, satu demi satu mereka memilih jalan hidupnya masing-masing. Sebagian memilih untuk pindah tapi sebagian ada juga yang memilih trtap tinggal. Kakek dan nenek itu juga semakin renta. Keduanya meninggal hampir di saat yang bersamaan. Sebelum meninggal, mereka berpesan padaku untuk juga pergi dan kembali membangun hidupku sendiri. Untuk usaha dan panti asuhan ini mereka menyerahkan sepenuhnya padaku, keduanya mengganggapku sebagai anak tertua dan pemimpin bagi adik-adik panti. Aku pun berdiskusi dengan adik-adik panti asuhan itu. Akhirnya, kami mengubah usaha bakso itu menjadi perusahaan skala kecil yang menaungi panti asuhan itu. Perusahaan bakso itu kini masih berjalan dan semakin berkembang sehingga bisa membiayai panti asuhan itu untuk menolong lebih banyak anak lagi. Adik-adik pantiku memintaku untuk tetap tinggal bersama mereka tapi aku tetap tak mau. Saat kudengar berita pernikahan Valko, aku pun memutuskan untuk kembali kemari. Meski sebenarnya aku memiliki pakaian yang lebih baik, tapi aku memilih berpakaian lusuh. Aku ingin tahu seperti apa gadis yang Valko nikahi dan agar tak ada orang yang mengenaliku."
"Ayah, apa aku memenuhi kriteria menantu yang kau inginkan?" tanyaku lirih. Entah mengapa aku menanyakan hal ini.
"Tentu saja, Nak. Kau gadis yang amat baik," ucap Tuan Kenrick sambil membelai kepalaku. "Valko beruntung bisa memiliki istri sepertimu."
"Oh ya, Ayah, jika kau hanya ehm...berpura-pura menjadi gelandangan ehm...mengapa kau pernah berkata jika kau kehabisan uang?"
"Aku sebenarnya memiliki uang yang cukup. Tapi, sebelum sampai di komplek perusahaan Valko, aku menjadi korban pencopetan sehingga justru menjadi gelandangan sungguhan. Aku tak menyangka jika Valko bisa mengembangkan perusahaan sebesar ini. Dia memang anak yang ulet dan pandai."
DRT! DRT! DRT! Smartphone-ku bergetar. Kubuka smartphone-ku ternyata itu dari Valko. Astaga, dia terus mengirim chat bahkan sempat meneleponku berulang kali. Isi chat itu hampir sama semua. Bunyi pesannya : Ingat! Ingat! Kembali sebelum jam pulang kantor! 😐. Valko mengirim pesan itu berulang kali. Kurasa dia tahu jika aku tak membacanya sehingga dia meneleponku juga berulang kali.
"Kurasa cucu kita sudah menyuruh istrinya untuk segera kembali," celetuk Kakek Fajar.
"Ehm...iya, Valko menyuruhku kembali ke kantor sebelum dia pulang ke rumah," sahutku lirih.
"Kau dibawa ke kantor oleh Valko?" ucap Tuan Kenrick.
"Ehm...iya, Ayah...." sahutku.
"Dia benar-benar mirip denganmu, Ken. Kau juga selalu membawa Rara ke kantor saat hari kerja." celetuk Kakek Fajar.
__ADS_1
DRT! DRT! DRT! Smartphone-ku kembali berdering. Astaga, Valko, kau mau mengirim pesan berapa kali, sih? Iya, iya, aku ingat dan akan segera kembali.
"Saya pamit dulu, Ayah, Kakek, Nenek, Mama," sahutku sambil menyalami tangan mereka semua. Aku keluar dari ruang perawatan itu bersama Mama.
"Mama, maaf aku tak bisa pulang ke rumah," ucapku saat sudah sampai di parkiran rumah sakit.
"Tak apa-apa, Sayang. Mama bisa memahami hal itu. Kau sudah menyempatkan waktu untuk menemui Mama dan menjenguk ayah mertuamu, aku sudah merasa bahagia. Oh ya, bawa ini!" Mama menyerahkan bungkusan tas kain yang sejak tadi dibawanya. "Ini makanan kesukaanmu! Aku memasaknya khusus untukmu!" Mama memelukku. "Hati-hati di jalan, ya!" ucap Mama lagi.
"Iya, Mama," ucapku sambil naik ke dalam bus.
Kupandangi Mama yang melambaikan tangan ke arahku. Ih, aku merasa seperti seorang anak perempuan yang baru pertama kali pergi ke rumah suaminya saja. Mungkin ini efek karena sudah lama tak berjumpa dengan Mama.
"Jika Valko bertanya bilang saja aku bertemu dengan Mama di rumah sakit!" ucapku pada Ninda.
"Mengapa Nona? Bukankah Anda tadi juga berjumpa dengan Tuan Kenrick?" tanya Ninda.
"Sampaikan saja dan jangan banyak bertanya!" ucapku sambil menatap Ninda. "Kau paham?"
"Paham, Nona!" ucapnya.
Aku tak mungkin bilang jika aku menjenguk ayahmu, Valko. Kau pasti akan marah padaku. Aku harus mencari cara untuk menyatukanmu dan ayahmu kembali, Valko....😐
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
__ADS_1
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍