Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 116 - Menunjukkan Taring....


__ADS_3

Kai nampak ragu untuk berjalan mendekat ke arahku. Dia nampak melihat ke segala arah. Nampaknya Kai sengaja ingin menghindari dari Valko. Tapi nampaknya semua kursi sudah penuh. Duh, Apa ini siasat Valko lagi?


"Nampaknya meja lain sudah penuh," ucap Kai sambil duduk di kursi di dekatku. Duh, kenapa sih ini harus terjadi. "Kuterima tawaran Anda, Tuan Valko. Oh ya, aku juga memohon ijin untuk bergabung, Tuan...." ucap Kai sambil menatap Tuan Eka.


"Eka. Panggil saja aku Eka," Tuan Eka mengulurkan tangannya kepada Kai. Kai menerima uluran tangan itu. Keduanya berjabat tangan.


"Namaku Kai Ava Putrakusuma. Panggil saja aku, Kai," balas Kai dengan ramah. Kai, kenapa sih kau harus duduk di sampingku. Aku kan jadi canggung, tahu.


"Nampaknya semuanya sudah menikmati makanan," ucap Valko.


"Eh, Hubby," panggilku. Saat kupanggil Valko dengan sebutan itu nampak Kai menatapku tajam. Apa aku salah ya? Ini sudah jadi kebiasaanku.


"Ada apa?" sahut Valko.


"Biar aku saja yang mengambilkan makanan untukmu. Kau tunggu di sini saja," ucapku sambil hendak beranjak bangkit. Sebenarnya aku hanya ingin lepas sejenak dari kondisi ini.


"Duduklah, Zeta. Aku tak mau kau hilang lagi, Sayang. Hubby-mu ini pasti takkan membiarkanmu kelaparan," ucap Valko sambil merangkul bahuku.


Posisi dudukku jadi sangat dekat dengan Valko. Bahkan bisa dibilang menempel erat. Valko juga memberi penekanan pada kata 'Hubby'. Kai sungguh, aku tak bermaksud menyakitimu. Tapi mau bagaimana lagi, sudah menjadi kebiasan bagiku untuk memanggil Valko dengan sebutan Hubby.


"May," panggil Valko. Nampak Sekretaris May muncul bersama dua orang pelayan.


"Ini hidangan yang Anda pilih, Tuan," ucap Sekretaris May. Kedua pelayan itu meletakkan piring berisi makanan serta minuman di atas meja.


"Terima kasih, May. Kau boleh pergi," ucap Valko. Sekretaris May bersama kedua pelayan itu pergi.

__ADS_1


Valko hendak mengambil minuman dari gelas. Minuman itu berwarna merah. Entah sengaja atau tidak gelas itu jatuh dari tangan Valko. Gelas itu jatuh berantakan di atas meja. Tumpahan minumannya menyembur memgenai wajah Nyonya Vivi.


"Aduh, maafkan aku. Aku benar-benar tak sengaja," ucap Valko.


"Ehm, tak apa-apa, Tuan Valko. Ini hanya kecelakaan kecil," ucap Tuan Eka.


"Seseorang biasa berbuat salah. Ini hanya sebuah kecelakaan kecil," ucap Nyonya Vivi sambil menyeka wajahnya.


"Apa Anda sudah memaafkanku, Nyonya Vivi? Jangan khawatir, aku akan mengganti biaya perawatan wajah Anda. Aku tak mau dituntut karena hal ini," ucap Valko sambil menatap tajam Nyonya Vivi.


"Ah, tak perlu, tak perlu, Tuan Valko. Ini hanya kecelakaan kecil. Istri saya pasti sudah memaafkannya," ucap Tuan Eka.


"Oh, benarkah? Dia memaafkan seseorang semudah itu? Padahal Zeta-ku tadi tak sengaja membuat kesalahan yang sama. Tapi Nyonya Vivi tidak memaafkannya semudah itu. Tuan Eka, Nyonya Vivi marah kepada Zeta-ku. Padahal dia benar-benar tak sengaja menabrak istri Anda. Nyonya Vivi bahkan memarahi Zeta-ku serta mengancam akan melapor kepada polisi jika Zeta-ku tidak memberi ganti rugi. Padahal Zeta-ku tak sengaja dan dia juga sudah meminta maaf. Untung saja tadi ada Tuan Putrakusuma yang membantu Zeta-ku. Jika tidak mungkin istriku tercinta sudah ada di kantor polisi sekarang," Valko memelukku erat. Dia bahkan mengelus-elus kepalaku. Valko, kau ingin membalaskan Nyonya Vivi karena sudah membentakku ya.


"Aku tahu Zeta-ku bersalah tapi bukankah itu pemerasan namanya jika meminta ganti rugi lebih dari nilai barang yang tak sengaja dirusak? Kurasa aku harus membicarakan ini dengan pengacaraku. Tuan Eka, Anda tak masalah kan?" ucap Valko. Tuan Eka nampak menatap tajam ke arah Nyonya Vivi.


"Be...be...nar, Tuan Valko. Mohon maafkan saya. Saya memang kurang bisa mengendalikan emosi tadi. Saya tak bermaksud melakukan pemerasan. Mohon maafkan saya yang terlalu panik dan kalut. Ini ceknya saya kembalikan," ucap Nyonya Vivi.


"Saya benar-benar minta maaf, Tuan Valko. Saya harap Anda dan Nyonya Zeta bersedia memaafkan istri saya. Dia benar-benar sedang panik sehingga tadi kurang bisa mengendalikan emosinya dan berpikir jernih," ucap Tuan Eka.


"Tidak semudah itu, Tuan Eka. Meski kita adalah rekan bisnis tapi tetap saja keputusan ada di tangan Zeta-ku. Dia mungkin saja sudah mengalami trauma secara psikis akibat peristiwa ini. Zeta, bagaimana? Kau ingin membawa masalah ini ke jalur hukum?" tanya Valko.


"Hubby, tak perlu. Itu tadi salahku. Nyonya Vivi juga sudah meminta maaf. Tak perlu membawa perkara ini sampai ke jalur hukum, Hubby. Aku sudah melupakan masalah ini," ucapku sambil tersenyum. Valko, kenapa ya rasanya aku senang. Kau sengaja menunjukkan taringmu untuk melindungiku.


"Ah, baiklah. Jika itu maumu. Tuan Eka, anggap saja masalah ini sudah berlalu," ucap Valko sambil tersenyum. Nampak Tuan Eka dan Nyonya Vivi menghela napas lega. Valko, kau benar-benar pintar. Kau melempar balik senjata yang digunakan oleh Nyonya Vivi. Tuan Putrakusuma, ini kukembalikan cekmu," ucap Valko sambil menatap ke arah Kai. "Ah, ayo makan, Zeta!" ucap Valko. Duh, aku canggung nih. "Ayo, kusuapi, Zeta," Valko menyuapkan makanan ke mulutku. Aku pun menerimanya.

__ADS_1


Mau bagaimana lagi. Aku di sini sudah resmi menjadi istri Valko. Meski pun ada Kai, tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku tak mungkin menolak suapan dari Valko. Jika itu kulakukan, itu akan membuatku terlihat sebagai istri yang buruk. Nama baikku dan keluargaku bisa tercoreng.


"Ini makan lagi!" Valko menyuapiku lagi. Aku pun menerima suapan itu. "Mulutmu kotor, Sayang," ucap Valko sambil menyeka mulutku.


Kucuri pandang ke arah Kai. Kau nampak tertunduk, dia pura-pura fokus dengan makanannya. Valko, kau memang cerdik. Kau sengaja menunjukkan taringmu di depan wajah Kai, kau ingin menunjukkan jika kau lebih hebat daripada Kai. Kau juga ingin menyiksa Kai secara tak lamgsung. Kau tak salah Valko, memang hakmu untuk menunjukkan sikap manis padaku. Tapi, jika itu dilakukan di depan muka Kai, itu sama saja menyiksa perasaannya. Jika Kai memang masih memiliki perasaan padaku. Dia pasti akan merasa sakit dan cemburu.


"Saya pamit undur diri. Ada urusan keluarga yang harus saya urus," ucap Kai sambil berlalu pergi.


Kai, kuharap aku bisa bertemu lagi denganmu untuk menyelesaikan semua ini. Kuharap saat itu, kau sudah bisa menemukan penggantiku sehingga hidup kita berdua bisa tenang di jalan takdir masing-masing. Aku tak mungkin meninggalkan Valko, meski belum yakin untuk bisa berkata bagwa aku mencintainya tapi aku tak ingin lepas dari sisinya. Dia terlalu rapuh untuk kutinggal sendirian dan aku tak kuat jika melihat Valko bersedih.


"Hubby," panggilku. "Ayo sini, kusuapi!" ucapku sambil mengarahkan suapan ke arah mulut Valko.


"Aku sudah kenyang, ayo kita pulang saja!" ucap Valko sambil beranjak bangkit. Wajahnya nampak berubah drastis menjadi datar dan dingin. Sorot matanya amat tajam.


Kenapa dia berubah drastis sih? Apa dia sebenarnya memendam amarah? Duh, Valko, kau masih saja sulit ditebak.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2