Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 120 - Tempat Itu....


__ADS_3

Aku tersadar, mataku kubuka perlahan-lahan. Ternyata aku masih memeluk Valko. Kepala Valko berada tepat di pelukanku. Ini sudah pagi atau masih malam, ya? Aku tak bisa membedakannya, kamar ini tanpa jendela. Kuambil smartphone-ku yang berada di atas rak kecil sebelah tempat tidur ini. Ternyata sudah pagi.


"Ehm...." terdengar suara Valko.


"Selamat pagi, Hubby," ucapku sambil mengecup dahi Valko.


"Sudah pagi, ya?" tanya Valko sambil mengucek-kucek matanya.


"Eh! Valko!" panggilku. Aku hendak bangkit dari tempat tidur tapi Valko memelukku lagi.


"Sebentar lagi! Aku tak bisa tidur nyenyak semalaman. Pikiranku teringat oleh tempat itu! Aku baru bisa terpejam sebentar!" keluh Valko. Dia memeluk tubuhku amat erat.


"Ya sudah," kubelai kepala Valko. "Tidurlah lagi, Hubby," ucapku sambil membenahi rambut Valko. TOK! TOK! Terdengar pintu kamar diketuk.


"Tuan, Nona, ini saya May. Bolehkah saya masuk?" terdengar suara Sekretaris May.

__ADS_1


"Ah! Mengganggu saja!" keluh Valko. "Masuklah, May!" teriak Valko. Sekretaris May nampak masuk ke dalam kamar. Duh, Valko, apa kau masih harus dalam posisi memelukku seperti ini? Aku kan jadi malu.


"Mohon maaf, Tuan. Sudah pagi, ini saatnya untuk berkunjung ke tempat yang diminta oleh Tuan Fajar," ucap Sekretaris May.


"Ehm, beri aku waktu untuk bersiap. Kau boleh pergi, May!" ucap Valko. Dia berbicara tanpa menatap ke arah Sekretaris May. Valko, ha seperti ini tidak sopan.


"Baik, Tuan," Sekretaris May keluar dari kamar. Lebih baik aku mempermudah tugas Sekretaris May.


"ZETA!!!" teriak Valko kencang. "Siapa yang mengijinkanmu bangun! Kembali kemari! Aku masih mengantuk!" teriak Valko lagi.


"Duh, Hubby, aku kebelet ke kamar mandi! Sepertinya aku akan lama! Duh, udah nggak tahan nih!" kakiku segera melangkah ke kamar mandi. Hihihi, Valko, kau tak bisa membantah alasanku ini.


Mobil terus berjalan, Valko diam sedari tadi. Dia tak tidur di pangkuanku seperti biasanya. Kali ini dia memangku tubuhku. Tubuhku dipeluknya dengan sangat erat. Kepalanya bersembunyi di punggungku. Valko tak bicara sepatah kata pun. Kupegang tangan Valko, kerungat dingin kekuar dari kedua tangannya. Kurasa dia tidak sedang baik-baik saja. Sebenarnya tempat apa yang ditakuti Valko? Menurut tebakanku pasti itu tempat pembunuhan mendiang Nyonya Parama.


"Tuan, Nona, kita hampir sampai!" ucap Sekretaris May. Valko diam saja, dia tetap tak bicara apa pun.

__ADS_1


Mobil ini masih melaju. Pagi ini cuaca cerah, tak mendung. Langit biru terlihat amat menawan. Ternyata mobil ini melaju di jalanan aspal. Jalan aspal itu berada di tepi daratan. Laut biru nampak dari jendela mobil.


"Astaga! Indah! Lautnya cantik sekali!" ucapku spontan. Laut itu nampak berombak. Deburan ombaknya terdengar cukup kencang. Tubuh Valko terasa bergetar. Tubuhku dicengkeramnya semakin kuat.


"Hubby," panggilku. "Apa kau baik-baik saja?" tanyaku lirih.


"Aku takut, Zeta. Aku takut pantai....pantai adalah tempat Mamaku terbunuh. Aku takut! Takut! Deburan ombak itu seolah mengingatkanku pada kejadian pembunuhan itu," ucap Valko lirih. Dia memelukku semakin erat.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Zeta dan Valko bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍


__ADS_2