Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 21 - Belaian dalam Air


__ADS_3

KRUK!!! Terdengar bunyi perut yang keroncongan. Astaga, itu suara perutku. Aku memang belum makan sejak pagi tadi. Valko memandangku dengan tatapan tajam. Astaga, kenapa perutku harus berbunyi nyaring saat ini sih? 😣 Aku malu 😣


"Kau lapar, Tupai?" tanya Valko padaku. Aku hanya menggangguk-angguk. "Jangan khawatir, Tuanmu ini akan merawatmu dengan baik!" sahutnya. Mengapa aku melihat senyum kelicikan di wajahnya. Apa yang ingin dia lakukan kepadaku? Valko membawa tubuhku berenang menuju tepi kolam. Tubuhku dicengkeram erat di bagian pinggang.


"Tu...an...." ucapku spontan. Valko menggendongku keluar dari kolam renang. Astaga, ternyata dia sejak tadi hanya memakai celana dalam saja. Kepalaku menyandar di dadanya yang bidang. Kaki jenjang nan mulus Valko terlihat jelas. Aku sedikit mencuri pandang saat kepalaku tertunduk. Kakinya sungguh mulus seperti kaki boneka manekin pria di toko. Apa yang kulakukan? Seharusnya aku mengkhawatirkan diriku bukan mencuri pandang seperti ini! 😣


Astaga, saat aku hendak melompat kabur dari gendongan Valko, ternyata aku sudah berada di dalam kamar mandi. Kamar mandi itu sangat luas, nuansanya serba putih. Ada bathtub putih bundar yang besar di salah satu sudut kamar mandi ini. Shower dengan dua keran ada di salah satu sudut bathtub itu.


"Terlambat, Tupai!" ejek Valko saat aku hendak meloncat kabur. Dia sudah membawa diriku ke dalam bathtub. Air hangat mengucur deras dari shower di atas bathtub. Apa aku akan mandi bersama Serigala Gila ini? Dia duduk di belakang punggungku. "Aku kan sudah bilang akan merawatmu, Tupai Kecilku!" bisik Valko.


Kurasakan kedua kakinya bergerak-gerak. Sesuatu dilempar keluar dari dalam bathtub. Astaga, itu celana dalam Valko. Apa sekarang dia...aku aku geli membayangkannya. Mataku otomatis terpejam. Kurasakan kedua kaki jenjang Valko dalam posisi lurus. Tubuhku membelakanginya, terapit diantara dua pahanya. Tangan Valko menyenggol tubuhku, otomatis mataku terbuka. Ternyata dia menuangkan sabun cair ke dalam bathtub. Busa putih mulai memenuhi bathtub ini. "Apa yang kau lakukan, Tupai? Ayo, cepat lepas pakaianmu!" perintah Valko. WHAT? Aku tak mau! 😣 Kedua tanganku terus ada di bagian depan tubuhku.


"Valko! Hentikan! Valko, hentikan!" teriakku. Sial, dia terus menggelitiki tubuhku dengan kedua tangannya itu. Tubuhku merasa geli. "AAAA!!!" saat aku lengah, tangan Valko sudah menarik kaosku sehingga lepas dari tubuhku. "VALKO!" aku berteriak.


"Lepas sendiri atau aku yang akan melakukannya!" bisiknya di telingaku.


Hiks, sial! 😢 Aku tak punya pilihan. Lebih baik kulakukan sendiri daripada Serigala Gila ini yang melakukannya. Kulepas pakaianku seluruhnya. Untung saja air yang bercampur busa dalam bathtub ini setinggi leher. Kedua tanganku terus ada di depan tubuhku. Kedua tanganku kupakai untuk melindungi area dada dan bawah perutku dari ancaman Valko. Untung saja aku membelakanginya.


"Valko!" teriakku. Kedua tangan Valko mencengkeram tubuhku. Tangan kiri mencengkeram perutku. Tangan kanannya melingkar di depan leherku. Punggungku bersentuhan langsung dengan dada Valko. Dia menarik tubuhku sehingga menyadar ke belakang, bersandar pada tubuhnya.


"Bukankah ini menyenangkan?" ucapnya. Kepalanya bersandar di bahu kananku. Kurasa sekarang dia menghirup-hirup aroma rambutku. "Aku merasa rileks, Tupai. Kurasa aku akan mandi bersamamu setiap saat sekarang!" dia mengecup pipi kananku. Serigala Gila! Kau menyebalkan! 😣 Wajahku berada dekat sekali dengan wajahnya. Aku tak menatapnya, mataku kupejamkan rapat-rapat. "Hey, bukankah aku sudah sering menyentuhmu, Tupai!" bisiknya di telingaku. "Aku sering menyentuhmu secara langsung saat kita tidur. Ini hanya bersentuhan secara langsung tanpa dibatasi pakaian apa bedanya dengan saat kita sedang tidur bersama? Jadi, buka matamu, Tupai Kecil!" aku tak mendengar perintahnya. Mataku tetap terpejam. Tubuhku tak kugerakkan sedikitpun.


"Valko, hentikan! Valko!" teriakku. Sial, Valko menggelitiki tubuhku lagi. Dia menggelitiki tubuhku pada bagian pinggang dan perut. Mataku pun terbuka.


"Anggap saja ini perkenalan untukmu, Tupai Kecil," bisiknya di telingaku. Perkenalan? Apa maksudnya? "Aku akan membuatmu terbiasa bersentuhan secara langsung dari kulit ke kulit," dia mencium pipi kananku lagi. "Aku bukan binatang buas yang kasar. Aku sendiri yang akan membuatmu tumbuh dari Tupai Kecil menjadi Serigala Betina Ganas yang siap tempur!" bisik Serigala Gila ini lagi. Serigala Betina Ganas siap tempur? Aku geli membayangkan maksud bisikan gila dari Valko.


"Bohong!" sahutku dengan muka cemberut. "Kau itu kan pria, mana mungkin bisa menahan diri untuk tak memakanku secepatnya!"


"Hey, aku bisa bertahan bertahun-tahun demi Vio, Tupai. Meski dikelilingi banyak wanita tapi aku bisa bertahan menjaga diriku agar tak menyentuh para wanita itu. Tahu!"

__ADS_1


"Apa kau benar-benar masih murni? Kau kan playboy!" sahutku ketus.


"Aku ini masih murni, Tupai. Aku hanya mengajak para wanita itu makan dan berbelanja. Tak lebih, tahu!" balas Valko.


"Valko!" teriakku. Valko semakin erat memegang tubuhku.


"Anggap saja ini perkenalan kita," ia menempelkan pipi kirinya di pipi kananku. "Anggap saja ini belaian di dalam air, Tupai!" kurasa dia menikmati memeluk tubuhku dari arah belakang. "Kau kecil sekali ya! Tubuh Vio kurasa lebih besar ukurannya. Kurasa porsi makanmu harus ditambah, Tupai," ejek Valko.


Kecil? Ini namanya langsing! 😠 Dasar Serigala Gila! Tunggu, dia bisa merasakan ukuran tubuh Kak Vio?


"AAAA!!! Sakit!" teriak Valko. Aku mencubit pahanya dengan keras dan kuat.


"Kau pernah mesum pada Kak Vio ya?!" ucapku gusar. Mukaku tertekuk sambil menatapnya. "Bagaimana kau tahu tubuh Kak Vio lebih besar daripada tubuhku?"


"Hey, jauhkan pikiran negatifmu, Tupai. Aku dan Vio hanya pernah berpelukan saja. Tak lebih!" ia menyentil hidungku. "Aku tak pernah menyentuh wanita sedekat ini, Tupai. Kau yang pertama, tahu!" bisiknya di telingaku. "Kau enak dipeluk, Tupai," pipi kananku dicium lagi.


"Valko!" panggilku. Suatu pertanyaan terlintas di benakku. "Kau punya banyak wanita. Ada berapa? Apa tante-tante saat aku kabur itu juga termasuk?" tanyaku. Tunggu! Mengapa aku menanyakan hal bodoh ini? 😣


"Tidak! Aku hanya ingin tahu berapa wanita yang mungkin akan datang melabrakku karena menikahimu!" sahutku ketus.


"Mereka takkan berani melakukan itu, Tupai! Aku ini bukan pria bodoh! Hubunganku dengan mereka sebatas bos dan karyawan. Aku membuat kontrak tertulis sebelum mengklaim mereka menjadi pacar palsuku. Mereka boleh meminta barang mahal apa pun dengan batas harga 1 milyar sebagai imbalan selama menjadi pacar palsuku. Setelah aku tak butuh mereka dan memutus dukungan finansial pada mereka maka mereka tak bisa protes," jawab Valko.


Astaga, bayaran jadi pacar palsu Serigala ini mencapai 1 milyar? Itu pun hanya menemani makan dan berbelanja saja tanpa harus bermain di ranjang. Pantas saja banyak wanita tak menolak.


"Tapi, kau tetap melakukan cipika-cipiki dengan tante-tante itu!" sahutku ketus. Astaga, ada apa sih dengan mulut terkutukku ini? Mengapa aku terlihat seperti wanita yang sedang cemburu? 😣


"Kau ternyata posesif seperti Vio, ya! Tante yang kau maksud bukan wanitaku, dia rekan bisnis kakekku yang mencariku untuk urusan bisnis," Valko menatapku. "Apa dulu kau kabur karena terbakar api cemburu? HAH? Taku kusangka kau begitu tergila-gila padaku, Tupai."


"HUH!" aku membuang muka. "Aku kabur karena lapar, tahu!" sahutku. "VALKO!" teriakku kencang. "Apa yang kau lakukan?" kurasakan tangan Valko mulai nakal. Kedua tangannya mulai menggosok-gosok tubuhku.

__ADS_1


"Kita sedang mandi, Tupai. Jika tak digosok bagaimana tubuhmu bisa bersih?"


"Aku bisa melakukannya sendiri!" kujauhkan kedua tangan Valko dari tubuhku.


"Baiklah, baiklah!" ucap Valko. Astaga, kau setuju tapi kedua tanganmu masih mencengkeram tubuhku di posisi semula? 😣


"Kalau begitu lepaskan tanganmu, Valko!" protesku.


"Gosok saja tubuhmu, aku hanya memegangi perut dan lehermu, Tupai," dia mencium pipi kiriku sekarang. Lehernya berganti menyandar di bahu kiriku. "Tanganku takkan nakal, asalkan mulutmu yang berisik itu diam! Aku hanya ingin berendam sambil memelukmu saja, Tupai," Valko memeluk tubuhku semakin erat. Kepalanya juga menyandar semakin manja. "Bantal tidur yang enak dipeluk," ucapnya sambil menggosok-gosokkan pipi kanannya ke pipi kiriku. "Ada untungnya aku menuruti pilihan kakek. Aku punya Tupai yang bisa membuatku tidur dan mandi dengan nyaman sekarang." mata Valko terpejam.


Astaga, mengapa jadi begini sih? 😣 Aku kan seharusnya saat ini jadi istri tertindas yang berubah jadi pelayan yang terus dibentak-bentak dengan kasar. Bukankah seperti itu adegan di film atau novel saat istri melayani suaminya mandi? Kenapa sekarang malah aku dipeluk Serigala ini? 😣 Berendam satu bathtub pula. Aku tak suka ini 😣.


Tubuhku masih menyandar di tubuh Valko sekarang. Valko diam saja, matanya tertutup. Kurasa dia tertidur. Aku menghela napas. Setidaknya dia diam sekarang. Kumatikan shower itu. Kugosok-gosok tubuhku dengan hati-hati. Jangan sampai Valko terbangun.


Ehm...aku sudah selesai mandi. Valko belum bangun juga. Airnya hangat sih jadi tak membuat menggigil. Mataku menatap wajah Valko yang tertidur di bahu kiriku. Wajahnya terlihat lebih tampan saat tertidur.


Mau bagaimana lagi, mataku ini suka melihat wajah-wajah yang bening ehm...meski sudah ada Kai yang ada di hatiku. Valko manis, hidungnya mancung. Kulitnya putih mulus seperti idolaku boyband korea. Bibirnya tebal, warnanya merah memesona. Aku tak tahu apa yang merasuki diriku tapi entah mengapa bibirku terus bergerak mendekati bibir merah menggoda milik Valko.


Mungkin ini gila tapi aku tak bisa menahan diriku dari panggilan liar bibir Valko. Jarak bibirku dengan bibir merah itu tinggal beberapa mili lagi. Jantungku terasa berdebar kencang. Tak perlu khawatir, Valko sedang tertidur. Jika aku benar-benar menyentuh bibirnya itu takkan membuatku kehilangan citra diri sebagai istri yang cuek.


"Valko, bibirmu sangat menggoda!" ucapku lirih. Kugerakkan bibirku perlahan-lahan menuju bibir merah itu. Aku merasa berdebar dan geli. Tapi hatiku merasa antusias untuk melakukan ini. Bibirku tinggal beberapa mili dari bibirnya. Valko, jangan bangun dulu ya, hihihi! 😆 Bagaimana rasanya mencium bibir Serigala Gila ini, ya? 😆


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2