Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 41 - Ekspektasi....


__ADS_3

Aku berjalan tertatih-tatih memasuki ruangan itu. Nampak dapur dengan kitchen cabinet berwarna perak. Kurasa kitchen cabinet ini pasti kualitas premium. Peralatan memasaknya juga kualitas premium. Peralatan itu nampak kokoh dan memiliki sinar keperakan yang terkesan mewah.


Ada seseorang yang berdiri membelakangiku di ruangan itu. Dia nampak sibuk mengaduk-aduk suatu masakan di dalam sebuah panci perak. Di dalam ruangan itu juga terdapat meja makan dan kursi dari kayu. Warna meja dan kursi itu berwarna coklat muda. Kulangkahkan kakiku dengan tertatih-tatih menuju meja makan itu.


"Kau sudah selesai mandi?" Valko berbalik menghadap ke arahku.


Astaga, dia benar-benar cinta kebersihan ternyata. Valko memakai piyama warna pink serta sebuah celemek berwarna putih. Kedua tangannya terbungkus sarung tangan karet. Rambut panjangnya dicempol dan dimasukkan ke dalam topi koki yang putih nan tinggi itu.


"Apa aku memesona dengan tampilan seperti ini? Matamu sampai tak berkedip," Valko mencolek daguku. Sial, dia memang terlihat berbeda dan mengesankan sih.


"Siapa yang terpesona! Aku hanya memastikan kau tak membakar dapur ini, tahu!" sahutku ketus.


"Ck! Kau semakin berani padaku," Valko menyentil dahiku.


"Apa aku harus memanggilmu tuan lagi dan terus merendah saat berbicara denganmu?" ucapku sambil menatap ke arah Valko. "Kau bilang ingin menjadikanku istri yang sesungguhnya. Apa seorang istri harus terus merendahkan diri saat berbicara di depan suaminya seperti hubungan majikan dan bawahan?" kutatap dia terus.


Tunggu, aku kenapa sih? Mengapa aku seakan-akan berkata benar-benar ingin menjadi istri Valko dan ingin diberi kesetaraan dalam berbicara. Ini aneh sekali.


"Aku hanya bercanda," sahut Valko. "Ck! Mengapa kau mengganggapnya serius sih?"


Valko berbalik lalu mengaduk-aduk masakan itu lagi. Dia semakin membuatku penasaran. Apa sih yang dia masak? Nampak ada cangkang telur di samping kompor itu. Ada potongan bakso, potongan sosis, potongan daun bawang, potongan wortel dan potongan kubis di atas talenan.


"Cayang...." panggilku manja. "Apa yang sebenarnya kau masak?" aku tersenyum.


"Ini masakan yang amat populer," jawab Valko singkat.


Masakan yang sangat populer? Apa dia memasak masakan western? Ada telur, wortel, kubis, sosis dan bakso. Apa dia memasak sayur sop? Tapi, di dalamnya ada telur. Bukankah sayur sop tidak memakai telur? Ehm...mungkin ini bukan sayur sop. Mungkin dia memasak sup telur, bukan sayur sop. Nampak Valko mulai memasukkan potongan bahan di atas talenan itu.

__ADS_1


"Apa ini masakan western?"tanyaku penasaran.


"Bisa jadi," Valko nampak mencicipi kuah masakan itu. Dia nampak pandai dalam memasak. "Nah, sudah siap!" tangan Valko mematikan kompor itu.


"Sudah siap?" aku tertegun. Cepat sekali memasaknya. "Kau tak menambahkan bumbu atau rempah-rempah lagi?"


"Tak perlu, rasa bumbu instannya sudah terasa enak," jawab Valko.


Dia memakai sarung tangan tahan panas lalu mengangkat masakan itu ke atas meja. Bumbu instan? Ehm...mungkin dia memakai bumbu sup western instan yang dijual di pasaran. Aku semakin penasaran dengan masakan Valko. Valko menaruh sebuah mangkok porselin besar di hadapanku. Dia lalu duduk amat dekat di sampingku. Valko mengambil masakan itu dengan sebuah sendok sayur. Aku sangat terkesan, ternyata dia pandai menasak masakan western.


"Kau kenapa? Mengapa terus-menerus tersenyum?" Valko bertanya sambil melepas sarung tangan, topi dan celemek itu.


"Ehm...aku hanya terkesan. Kau ternyata pandai memasak, ya," kupuji Valko dengan tulus.


"Tentu, hal seperti ini sangat mudah bagiku," Valko mungkin merasa terbang melayang akibat pujianku.


"Ayo, makan! Kau pasti sudah lapar!" Valko mengambil sumpit, garpu dan sendok.


Astaga, ternyata masakan yang membuatku heboh itu mie instan 😧. Pantas saja dia bilang masakan ini populer dan mudah melakukannya. Pantas saja waktu untuk memasaknya amat singkat dan hanya perlu bumbu instan. Ini di luar ekspektasiku 😔.


"Mengapa kau tertegun? Aku tahu jika kemampuanku ini mempesona. Simpan saja pujianmu untukku, Tupai Kecilku," Valko kurasa masih merasa terbang melayang akibat pujianku tadi. Sudahlah, setidaknya dia mau memasak untukku. Kuambil sumpit yang ada di atas meja.


"Sudah, ayo makan," ucapku sambil menyumpit mie kuning itu.


Mie itu kumasukkan ke dalam mulutku. Valko juga menyumpit mie kuning itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Kusedot mie kuning yang panjang itu hingga masuk ke mulutku. Valko juga melakukan hal yang sama.


Astaga, apa yang terjadi? 😭 Bibirku justru bertabrakan dengan bibir Valko. Aku tak menyangka potongan mie kuning yang kumakan ternyata ujungnya dimakan oleh Valko. Saat di tengah-tengah potongan mie, bibirku menubruk bibir Valko.

__ADS_1


Valko justru menekan kepalaku agar bibirku lebih kuat lagi menempel ke bibirnya. Hiks, bahkan saat makan pun tak bisa lepas dari bayang-bayangnya sejenak 😢. Acara makan mie ini malah jadi ajang ciuman. Ini anugerah atau musibah sih? 😭. Valko tetap saja menahan bibirku cukup lama.


"Mie ini rasanya semakin enak," mata Valko berkilau puas.


Kenapa aku merasa selalu apes sih? 😢. Saat ingin menghindar atau membuat Valko menjauhiku malah jadi momen dia semakin dekat ke arahku. Sudahlah, aku lapar.


Kuambil sendok lalu makan dengan sendok itu. Kuambil kuah mie itu, ini cara menikmati mie instan yang paling nikmat. Kuah dimakan terlebih dahulu sambil meresapi aroma mie yang nikmat. Baru kemudian memakan mie ini. Kali ini kupastikan, mie kupotong dengan sendok terlebih dahulu sebelum masuk ke mulutku.


"Kau sama seperti Vio. Dia suka menikmati mie instan dengan sendok seperti itu...." ucap Valko. Kak Vio lagi, Kak Vio lagi. Kenapa sih aku selalu dibandingkan dengan Kak Vio?


"Apa aku hanya pelampiasanmu karena Kak Vio sudah meninggal?" ucapku spontan.


Tunggu, mengapa aku mengatakan hal konyol ini sih? 😣 Mengapa seolah-olah aku cemburu pada Kak Vio? Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku ini sih? 😢


"Apa maksudmu?" sahut Valko dengan nada meninggi. Valko mencengkeram daguku, mataku otomatis menatap ke matanya.


"Aku merasa aku hanya sebagai alat pelampiasanmu saja. Kau selalu menyamakanku dengan Kak Vio. Kau memperlakukanku dengan cukup baik hanya karena kau butuh seseorang untuk melampiaskan rasa kesendirianmu karena kehilangan Kak Vio. Bukan karena kau memang menyayangi orang tersebut!" ucapku berapi-api.


Astaga, mulutku langsung kubekap. Aku kenapa sih? Kenapa seolah-olah benar-benar cemburu karena terus dibandingkan dengan Kak Vio. Yang benar saja, masak aku cemburu pada orang yang sudah meninggal? 😮


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2