Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 40 - Idamanmu...


__ADS_3

"Nampaknya aku harus memotong rambutku...." ucap Valko lirih. Tunggu, memotong rambut? Apa dia ingin tampil berambut pendek seperti artis idolaku?


"JANGAN!" teriakku kencang. "Jangan potong rambutmu! Jangan! Jangan!" ucapku berapi-api. Aku sampai menyilangkan kedua tanganku. Entah mengapa aku tak suka saat dia berkata seperti itu.


"Kenapa? Bukankah tampilan cowok idamanmu seperti itu? Rambutku panjang. Idolamu tak ada yang berambut seperti ini," Valko memegang sedikit rambutnya. Wajahnya terlihat lesu.


"Kau itu Pangeran Serigala berambut panjang. Kau itu pangeran dalam negeri dongeng fantasiku. Aku selalu ingin punya pangeran berambut panjang seperti dalam komik fantasi. Jika kau memotong rambutmu, pangeranku yang nyata hilang!" ucapku histeris.


Tunggu, apa yang baru saja kukatakan? Aku membekap mulutku. Mengapa aku menyebut Serigala ini sebagai pangeranku sih? 😭


"Aku tak menyangka punya tempat seistimewa itu di dalam pikiranmu, Tupai Kecilku Tersayang," Valko memeluk dan mencium pipi kananku.


"Valko!" teriakku.


Aku berusaha melawan kali ini. Sekarang dia malah menyerang bibir dan leherku lagi. Hiks, padahal aku sudah diserang habis-habisan tadi siang 😢. Kali ini aku tak mau pasrah dan diam saja.


"HENTIKAN!"teriakku.


Kuhempaskan kedua tangan Valko dengan kasar. Aku berbalik dan menjauh menuju pojok bak mandi ini. Kakiku yang sedang terluka tak kupedulikan.


"Dasar serigala, kau sudah membuatku tak berdaya, tahu!" teriakku lagi padanya.

__ADS_1


Tangan kananku menunjuk ke arahnya. Aku sudah kecolongan tadi. Ehm...aku memang wanita yang aneh, sangat aneh. Padahal tadi siang, aku sudah membiarkannya menyentuhku secara bebas, tapi kali ini aku justru melawan. Valko nampak tertunduk, pasti dia akan marah. Pasti dia akan marah. Aku yakin, sangat yakin. Apalagi aku sudah terang-terangan memakinya dan menolak sentuhannya.


"VALKO!" tangan kananku ditarik dengan kencang.


"Dasar Mawar Nakal!" teriak Valko. "Apa yang kau lakukan? Kakimu sedang terluka, dasar ceroboh!" Valko tak marah. Dia justru memegangi lututku lalu mengangkat kaki kananku ke atas menuju tepi bathtub.


Tunggu, mengapa dia tak marah? Aku kan sudah memakinya dengan kata kasar, bahkan secara terang-terangan menyebutnya serigala. Aku juga sudah menolak sentuhannya. Seharusnya kan dia marah, mengapa sekarang malah memeluk pinggangku semakin erat? 😮


"Va...val...ko!" panggilku terbata-bata.


"Ada apa?" ia justru tertegun.


Dia kan seharusnya marah. Bukankah seorang suami harusnya marah jika dimaki oleh istrinya? Bukankah seperti itu adegan di komik, novel maupun film? Kenapa Valko tak marah? 😦


"Kau mau memanggilku serigala sejuta kali pun aku takkan pernah marah. Namaku Valko memang berarti serigala, ada juga yang mengartikannya sebagai elang. Tapi...kata kakekku, Valko dalam namaku itu artinya serigala. Dia ingin aku memiliki sifat kuat dan tahan banting seperti serigala. Begitu Mawar Nakal!" Valko menyentil hidungku.


"Ma...war Nakal?" aku tertegun.


"Bukankah arti namamu Zeta itu berarti mawar kan? Mengapa kau bingung?" Valko justru balik bertanya.


"Kau tak marah? Aku ehm...menolak kau sentuh tadi...."

__ADS_1


"Untuk apa marah? Itu hakmu untuk mengingatkanku jika aku berlebihan. Lagipula kau tidak memakiku. Memang aku ini serigala. Arti namaku itu serigala," sahut Valko santai. "Aku justru senang kau menyebutku serigala. Itu berarti kau memujiku sesuai arti namaku, Tupai Kecilku Tersayang," Valko justru mencium pipi kananku lagi. "Mulutmu memang pandai memuji, aku suka itu." Valko memelukku semakin erat.


Astaga! 😭 Bahkan makian pun dianggapnya pujian. Makianku justru dianggap kata-kata manis. Hiks, ini anugerah atau apa sih? 😢 Bahkan, ternyata makianku dengan terus menyebutnya serigala berarti sama halnya dengan terus memanggil namanya. Berarti jika aku terus memaki Valko dengan menyebutnya serigala dalam hati dan pikiranku itu sama saja aku terus menerus memanggil namanya dong 😭.


KRUK!!!! Terdengar bunyi perut kelaparan yang sangat nyaring. Perut, kenapa kau selalu harus bernyanyi keras sih saat lapar? 😔 Ini kan memalukan.


"Kau lapar?" tanya Valko. Aku menggangguk. "Baiklah, aku akan memasak untukmu," Valko melepas pelukannya. Dia bangkit lalu keluar dari dalam bak mandi. Aku lebih memilih memalingkan muka.


Ck! Aku memang aneh, tetap saja geli pada Valko. Sebaiknya aku segera keluar dari sini. Aku segera memakai bathrobe lalu keluar dari kamar mandi. Kupakai baju ganti berupa piyama warna pink. Baru kusadari ada pintu warna coklat yang terhubung ke suatu ruangan di kamar ini.


Apa itu dapur? Kumasuki pintu itu, ternyata benar itu sebuah dapur. Nampak seseorang berdiri di sana. Kurasa itu Valko, dia bisa memasak? Apa yang dimasaknya? 😮


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2