Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 91 - Jaim....


__ADS_3

"Kau terlalu memesona hingga aku tak bisa berkedip untuk tak menatapmu, Valko!" ucapku kencang. Mulutku langsung kubekap. Ah! Aku jadi malu! 😳


"Hahaha! Hahaha!" Valko tertawa terbahak-bahak. Tangannya sampai memukul-mukul lantai. Dia tertawa kencang sekali.


"Apaan, sih! Mengapa kau tertawa?!" ucapku.


"Hehe...kau lucu, Zeta. Akhirnya kau mengaku jika kau menjadi bucin terhadapku. Iya, kan, Sayang?" Valko mencolek daguku. Apaan, sih! Aku jadi tambah malu. Ingin rasanya aku menghilang saja! 😳.


"Aku suka jika kau jadi bucin. Itu berarti aku sudah masuk ke dalam hatimu. Iya, kan, Sayang?" Valko kembali mencolek daguku. Apaan, sih! Tak bisakah kau berhenti, Valko! 😳


"Sudah, ayo lanjutkan olahraga!" ucapku sambil bangun dari pangkuan Valko.


Kulihat ada beberapa barbel berwarna abu-abu di ruangan ini. Kudekati barbel itu. Tangan kananku sudah menyentuh sebuah barbel.


"Hey, apa yang kau lakukan, Zeta?!" ucap Valko. Dia mendekat ke arahku setelah mematikan musik pada speaker.


"Aku mau mencoba yang ini!" ucapku sambil berusaha memgangkat barbel dengan tangan kananku.


"Zeta, itu berat! Coba yang lain saja! Tubuhmu kurus seperti lidi. Kau takkan kuat!" ucap Valko.


Kurus seperti lidi? Valko! Tubuhku ini langsing dan sehat! 😡 Akan kutunjukkan jika aku ini kuat dan tubuhku tak lemah.


"Lihat saja!" ucapku sambil tetap berusaha mengangkat barbel itu.


Kok berat sekali, sih! 😟 Jangan menyerah! Tunjukkan pada Valko jika kau bisa, Zeta! Semangat! 😤. Kucoba mengangkat barbel itu lagi. Barbel itu sama sekali tak terangkat. Tangan kananku justru sakit.


"Aku menyerah!" ucapku sambil menjatuhkan diri ke atas lantai. "Berat!" keluhku.


"Sudah kubilang berat. Kau tetap tak mendengarkanku," Valko mendekati barbel itu. "Lihat, ini!" Valko memegang salah satu barbel dengan tangan kanannya.


"Wow!" ucapku.


Mataku fokus menatap ke arah Valko. Dia bisa mengangkat barbel itu. Bahkan menggerakkan tangannya naik dan turun. Otot di lengannya semakin terlihat jelas. Ah! Valko! Kenapa kau jadi makin memesona, sih! 😍. Aku tak bisa menampik jika ini pemandangan yang indah! 😙


"Jangan lupa berkedip, Zeta!" celetuk Valko. "Aku tahu jika kau terpesona padaku, Sayang!" ucapnya lagi.


"Apaan, sih! Aku selalu berkedip kok," sahutku sambil membuang muka.


"Jangan sok jaim! Kalo mau tatap, tatap saja, Sayang. Akuilah jika aku membuatmu jadi bucin! Hahaha!" celetuk Valko. Huh! Siapa juga yang jadi bucin! 😕

__ADS_1


"Sudahlah, aku mau lanjut senam saja!" ucapku sambil mendekat ke arah speaker.


"Oh, mau lanjut senam. Padahal aku ingin angkat besi. Kau yakin tak mau melihatnya, Sayangku?" ucap Valko.


"Sana! Lakukan sesukamu. Aku mau senam saja!" ucapku ketus.


Aku harus jaim. Perkataanku tadi sudah membuatku malu. Terdengar suara barbel diletakkan. Suara itu berganti menjadi suara langkah Valko. Dia beneran mau angkat besi? Memangnya kuat? 😯


Rasa penasaranku membuatku tak bisa menghentikan diri untuk memutar leherku ke arah belakang. Kuputar leherku dengan hati-hati dan perlahan-lahan. Jangan sampai Valko memergokiku. Mataku berusaha mencari keberadaan Valko.


Ada semacam tempat berbaring dari besi di salah satu sudut ruangan. Di atasnya ada tongkat besi. Di ujung kedua tongkat besi itu ada lempengan besi warna hitam. Valko sedang menambah lempengan besi di kedua ujung tongkat besi itu.


"Aku merasa ada yang mencuri pandang ke arahku!" ucap Valko keras sambil menata lempengan besi itu. Leherku kuputar kembali. Sial! Apa aku ketahuan lagi?! 😨


"Jangan ge-er! Aku tak menatapmu, tahu!" teriakku kencang.


"Yang bilang kau menatapku siapa, Zeta? Kenapa kau marah? Jika kau memang tak menatapku, kau tak perlu marah. Oh, jangan-jangan kau mencuri pandang ke arahku, ya? Makanya kau marah karena ketahuan? Hahaha! Sudah, jangan sok jaim. Kalau mau tatap, tatap saja. Akui saja jika kau bucin karenaku!" ucap Valko.


"Aku tak menatapmu! Jangan ge-er!" ucapku ketus.


Ah, aku tetap saja penasaran seperti apa Valko jika melakukan angkat besi. Jangan, Zeta! Jangan! Kau sudah membuat dirimu malu tadi! Sudahlah, lebih baik aku senam sendiri saja. Tapi, bagaimana cara menyalakan speaker ini? Daripada bertanya pada Valko lebih baik aku searching saja. Kukeluarkan smartphone-ku.


Kunyalakan kamera depanku. Kuarahkan layar smartphone itu ke arah Valko. Nampak Valko sudah berbaring di atas tempat berbaring dari besi itu. Kedua tangannya sudah memegang tongkat besi itu.


"Wow!" ucapku spontan.


Valko ternyata berhasil melakukan angkat besi. Oh! Dia seperti binaragawan sungguhan! 😍 Aku harus memotret pemandangan ini. Kuatur zoom pada layar smartphone-ku. Ah! Masih kurang jelas! Sepertinya aku harus mundur beberapa langkah. Kakiku melangkah mundur beberapa langkah. Ih! Kok masih kurang jelas, sih! Berarti harus mundur lagi. Kaki kananku tiba-tiba saja tersandung sesuatu. Tubuhku kehilangan keseimbangan.


"AAA!!!" teriakku spontan. BRUK!!! Aku terjatuh ke arah belakang. "Sakit!!!!" teriakku lagi. Punggungku terasa sakit.


"Zeta!" terdengar suara Valko. "Kau kenapa?" dia membantuku berdiri. "Kau ini kenapa? Kenapa bisa jatuh? Apa kau tak lihat jika ada barbel di sini?" ucap Valko.


Astaga, bagaimana aku harus menjelaskan hal ini? Tindakanku konyol sekali. Sudah gagal motret, jatuh lagi. Apes sekali aku! 😭


"Sudah! Duduk dulu!" Valko mengajakku duduk di sudut ruangan. Tunggu, dimana smartphone-ku? 😨


"Dimana HP-ku?" ucapku spontan sambil melirik ke segala arah.


"Ehem! Nampaknya ada yang mau memotretku diam-diam tapi gagal! Ck! Ck! Ck! Kasihan... sudah gagal dapat foto malah jatuh tersandung barbel. Malang sekali nasibmu, Zeta...." ucap Valko.

__ADS_1


Astaga! Ternyata smartphone-ku ada di tangan Valko. Kamera depannya masih terbuka. Nampak foto yang blur di layarnya. Sial! Aku ketahuan lagi! 😳.


"Sudahlah, tak usah jaim, Zeta. Aku memang untukmu," ucap Valko sambil mencengkeram pinggangku. Kepalaku jadi bersandar di bahu kanan Valko. "Hentikan tingkah konyolmu. Aku tak ingin kau terluka, Sayangku," Valko mencium dahiku. "Jika kau ingin sesuatu bilang padaku. Tak usah malu-malu. Kau jadi celaka sendiri kan," tangan kanan Valko mengelus-elus punggungku. Dahiku juga kembali dicium. Ah! Valko, aku tak keberatan dibelai seperti ini lebih lama! 😍


"Apa masih terasa sakit?" tanya Valko.


"Ti...dak...." sahutku.


"Minumlah dulu!" Valko menyerahkan botol plastik berisi air mineral. Kuterima botol itu lalu segera kuminum.


"Zeta!" panggil Valko.


"Ada apa?" sahutku singkat.


"Aku bisa bermain sulapan, lho!" ucapnya.


"Sulapan? Memangnya apa yang bisa kau lakukan?" ucapku penasaran.


"Aku bisa memasukkan koin ke dalam botol minuman ini!" ucap Valko sambil menunjuk botol berisi air mineral yang berdiri tegak di lantai. Kuamati botol itu.


"Mana koinnya tak ada, kok!" ucapku.


"Kau harus melihatnya dari dekat. Sini mendekatlah! Lihatlah dari arah atas sini!" ucap Valko. "Aku pernah belajar sulap waktu menempuh S2 di Eropa, Zeta! Ayo, lihatlah! Hari ini kutunjukan padamu untuk pertama kalinya! Ayo, kemari!" ucap Valko. Aku pun mendekat ke arah botol itu. Wajahku sudah ada tepat di atas lubang botol itu.


"Mana uang koin....." sahutku.


BYUR!!! Air tiba-tiba mencuat keluar dari dalam botol itu. Wajahku basah terkena air dari dalam botol. Valko ternyata menekan bagian bawah botol itu.


"Hahaha! Tertipu!" teriak Valko sambil tertawa terbahak-bahak. Valko, kau menyebalkan! 😭


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2