
(Note: upload ulang karena salah pilih jenis bab)
Ini ulang tahun yang indah. Valko memberiku banyak hadiah. Tulisan di kolam itu sangat cantik.
"Terima kasih, Sayang. Aku suka hadiahnya!" ucapku sambil menatap Valko.
"Hadiah?" Valko menatapku bingung. "Ini bukan hadiah Zeta. Ini cuma tulisan. Ini hadiahmu!"
Ada sebuah meja di sana. Nampak sebuah benda aneh seperti ember cat berwarna putih. Ada juga sebuah tas berbentuk aneh dan abstrak. Tas itu sepertinya dari kulit buaya.
"Ah, ya, aku menyukainya ...." ucapku sambil berpura-pura tersenyum. Valko memberiku tas mahal. Beberapa tas mahal dengan model yang aneh, apalagi brand internasional memang bentuknya unik. Tapi harganya ratusan juta rupiah.
"Kau suka? Biasanya wanita suka tas langka dan mahal. Aku sengaja membelinya untukmu."
"Iya, aku suka, Sayang. Makasih ya." Aku tak mau mengecewakan Valko. Circle dan kelas memang tak bisa dibohongi. Aku hanya tahu merek beberapa tas mahal tapi tak sampai mengikutinya. Itu pun karena idol K-Pop favoritku dijadikan brand ambassador merek itu.
Valko dibesarkan di lingkungan high class dengan circle ekonomi tingkat atas. Wajar jika dia suka pakai benda bermerek. Aku heran, kenapa keluargaku bisa menikahkanku dengan Valko. Keluargaku memang cukup kaya tapi tidak sekaya keluarga Valko. Kelasnya berbeda. Tapi jika aku insecure takkan berguna. Mungkin, aku harus terbiasa dengan hal itu dan menjaga diri agar tidak norak. Meski tak paham kenapa tas aneh itu jadi mahal, tapi aku harus pura-pura bahagia agar Valko tak kecewa.
"Apa ini juga hadiahku?" Mataku langsung tertuju pada deretan benda-benda merchandise K-Pop. Lightstick grup boyband idolaku dengan identitas berupa lambang seperti kompas nampak ada di situ. Aku ingin berjingkrak-jingkrak saat menyentuh lightstick itu.
"Aku suka! Makasih, Sayang!" Valko langsung kucium di pipi. Dia memberikanku merchandise K-Pop dari berbagai edisi yang belum kumiliki. "Kau memang suami yang paling pengertian. Tampan dan baik!" Valko kupeluk.
"Iya, menyenangkanmu itu mudah ya. Diberi merchandise berharga murah seperti ini saja sudah sangat bahagia. Kalo besok kau ngambek, tinggal kusuap dengan benda seperti ini. Aku sudah punya chanel untuk mendapatkannya."
Sepertinya bagi Valko merchandise K-Pop ini seperti memberi permen. Benda seharga ratusan ribu itu dianggap murah sekali oleh Valko. Duniaku sekarang adalah Valko dan Valko.
Hampir setahun menikah dengan Valko ya. Rasanya nano-nano. Tapi, mau seperti apa pun harus disyukuri. Dia cukup baik meski kadang sikapnya aneh. Namanya juga manusia, tak ada yang sempurna 100%.
"Valko, aku pusing!" Kepalaku tiba-tiba pusing di saat seperti ini. Sepertinya aku terlalu lelah. Baru juga berjalan dua bulan, masih ada perjuangan 7 bulan lagi.
"Astaga! Ayo, Zeta. Kita ke kamar!" Valko mendudukkanku di kursi roda lagi.
Ternyata sudah ada kamar yang dipersiapkan untukku tak jauh dari kolam renang itu. Astaga, seperti pengantin baru saja. Kamar bernuansa putih itu ditaburi kelopak bunga mawar. Ada juga handuk putih yang dibentuk seperti dua ekor angka yang saling berhadapan. Sudahlah, aku mau tidur. Tanpa pikir panjang, tubuhku sudah kubaringkan di ranjang.
__ADS_1
Kubuka mataku, aku tak tahu berapa lama aku tertidur. Aroma semprotan parfum yang familiar semakin membuat mataku terjaga. Ada punggung putih mulus yang sedang berdiri di depan kaca. Bukankah itu pemandangan yang indah? Mau diliat ribuan kali pun, tubuh pria yang atletis dan jenjang memang indah. Valko sepertinya selesai mandi. Dia wangi dan hanya memakai celana panjang. Aku langsung berlari kecil dan memeluknya.
"Wangi, aku suka!" Aku suka saat Valko seperti ini. "Kenapa mandi sendiri?"
"Kau butuh istirahat, masih bersih juga. Ayo lepas, biar aku pakai baju dulu," ucap Valko lembut.
"Nggak mau, aku suka begini." Pelukanku kueratkan.
"Jadi ingat waktu kau dulu begini. Waktu jalannya cepat ya. Ya sudah, sekarang mau makan atau gimana?" Tanya Valko.
"Aku mau tidur, ayo temani!" Kutarik tangan Valko. Begitu dia berbaring langsung kupeluk lagi.
"Kau ingin hadiah tubuhku ya? Manja banget, aku siap jika kau ingin," goda Valko.
"Apaan sih, pengen peluk aja kok. Aku kan udah pernah ngerasain. Nih, di perutku hasilnya."
"Iya, iya. Giliran aku deh yang bobok." Valko memelukku. Kepalaku sejajar dengan kepalanya. Embusan napasnya terasa di pipiku.
"Kenapa kau tambah random, Zeta. Menyebutku kucing lagi. Aku ini Valko, didoakan agar jadi serigala. Bukan jadi kucing." Valko protes.
"Dulu serigala menyeramkan, sekarang kamu itu kadang nyebelin, kadang nyenengin, kadang imut seperti kucing. Masih suka tidur juga kayak kucing."
"Terserah kamulah, aku jadi puppy, kucing atau serigala terserahlah. Yang penting kau senang." Valko kucium di bibir. Dia pasrah sekali. "Ya sudah aku kucing sajalah. Biar bisa dimanja terus. Sepertinya harus sering-sering staycation ya, Zeta. Biar nggak bosan." bisik Valko.
"Kau bikin dekorasi kamar seperti pengantin baru. Kan kita udah lama nikahnya."
"Masih baru, kan belum satu tahun. Apa aku nggak kerja aja ya, nemenin kamu gitu. Lebih menyenangkan tiduran seperti ini," Valko memelukku.
"Kerja aja, kalo kamu nggak kerja terus cuma tiduran kan bosan juga. Tapi opsi staycation boleh juga. Kita check ini hotel tiap minggu."
"Kenapa tiap minggu? Tiap hari aja, biar suasananya beda. Kau belum pernah kan tidur di kamar hotel yang lain? Aku juga belum pernah. Ayo, mulai besok kita staycation saja." Valko nampak antusias.
Aku mulai menghitung berapa uang yang dihabiskan Valko jika rencana itu terjadi. Kurasa staycation di hotel tiap hari tak masalah buat Valko. Rasanya mungkin seperti membayar parkir seharga Rp2.000 saja. Harga ratusan ribu seperti tak berharga.
__ADS_1
"Seperti apa parenting di keluargamu?" kata-kata aneh itu melontar begitu saja dari mulutku. Valko langsung menatapku tajam. Kedua alisnya mengernyit.
"Kau bicara apa? Parenting? Kenapa bicaramu makin random, sih, Zeta?" Valko nampak bingung.
"Entahlah, kita kan sudah mau jadi orang tua. Apalagi kau anak tunggal. Anak di perutku ini kan salah satu yang diharapkan dalam keluargamu. Dia calon penerusmu kan. Makanya aku tanya tipe parenting di keluargamu seperti apa? Keras atau lembut? Biar aku bisa ehm menyesuaikan mungkin."
"Kenapa pikiranmu jauh sekali seperti di luar angkasa. Aku tidak tahu, aku cuma tahu cara bisnis. Kakek nenekku mendidikku dengan disiplin. Harus berjuang jika ingin mendapatkan sesuatu. Itu saja yang kutahu. Tapi ... Ibuku mendidikku dengan lembut dulu. Masa kecil bersama Mama adalah memori paling indah di masa kecilku. Aku suka tidur dipelukanku sambil dibelai, Zeta. Itu mengingatkanku pada belaian ibuku dulu. Rasanya hangat dan menenangkan. Jangan bahas hal rumit. Aku ingin tidur. Anaknya belum lahir kok," protes Valko.
"Aku cuma tanya, Sayang. Kalau mau tidur ya sini, kamu pasti capek ya," Valko kubelai seperti bayi.
"Kuharap besok anak kita punya wajah sepertimu ya. Cantik atau tampan. Wajah good looking kan privilege di hidup ini," ucapku sambil menatap Valko.
"Kalo good looking tapi nggak pintar juga percuma. Gampang dibohongi orang. Doakan dia juga pintar. Pintar akting sepertimu juga bagus. Dia pasti bisa lah menempatkan diri di berbagai situasi dengan bakat ekspresi akting," sahut Valko.
"Iya, iya, aku pengen besok punya anak perempuan. Biar bisa didandani kayak berbi. Tapi kalo cowok juga boleh. Biar bisa jaga adiknya."
"Apa pun jenis kelaminnya yang penting sehat, Zeta. Ibu dan bayinya sehat."
"Aku ingin anakku ada yang jadi pengusaha sepertimu, Valko. Pengusaha yang baik, biar bisa buka banyak lapangan pekerjaan dan bantu banyak orang."
"Aku justru ingin anakku jadi dokter. Biar besok jika kita tua ada yang merawat, Zeta. Aku dulu ingin jadi dokter tapi sepertinya otakku tidak sampai. Besok anakku, aku ingin salah satunya jadi dokter. Dia mau kuliah di universitas luar negeri pun siap aku penuhi."
"Jangan di luar negeri, nanti jenguknya susah. Tapi kalo yang masih dekat negara kita juga nggak papa sih. Tiap weekend bisa pulang dengan jet privadimu kan, hihihi." Entah mengapa membayangkan masa depan membuatku senang.
"Kalo anaknya cewek dikasih nama siapa? Kalo cowok kasih namamu saja. Farel, kan lucu Farel junior gitu. Atau Valko, Valko junior, hahaha. Lucu."
"Namanya jangan yang ejaannya sulit dan maksimal tiga kata saja. Parama, Zeta atau Belvia juga bagus. Parama junior. Biar bisa jadi perempuan baik seperti mamaku." Nata Valko berbinar.
"Boleh, Parama junior. Pasti dia nanti anak perempuan yang cantik."
"Aku pengen masukin nama salah satu idolaku boleh kan? Lino. Biar bagus kalo anak cowok."
"Boleh, biar dia pekerja keras kayak idolamu. Aku sudah tak sabar anak kita lahir. Tapi masih ada 7 bulan masa berjuang lagi. Tak masalah, ada aku di sini. Ada keluargaku dan keluargamu juga. Aku pasti akan menjagamu baik-baik, Zetaku Sayang."
__ADS_1