Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episide 131 - Pulau Pribadi


__ADS_3

"Hah? Hamil?!" teriakku spontan.


Bagaimana mungkin aku hamil? Valko kan pernah memanggil dokter untuk memberiku obat penunda kehamilan. Itu kan obat dari dokter pasti manjurlah.


"Tidak mungkin, Valko. Kau pernah memanggil dokter untuk memberiku obat penunda momongan. Mana mungkin aku hamil." Kutatap mata Valko.


"Kau yakin meminum obatnya dengan benar?" tanya Valko lagi.


"Ahm ... soal itu ...."


Duh, benar juga. Aku tak begitu ingat apakah aku meminum obat itu secara teratur. Ah, tapi mana mungkin aku hamil.


"Tuh, kan. Kau tak bisa menjawab dengan yakin pertanyaanku. Mungkinkah benar-benar ada makhluk kecil yang sedang bertumbuh di perutmu?" Valko menyentuh perutku.


"Bagaimana kau bisa begitu yakin? Bisa saja kan aku hanya mabuk karena naik kapal!"


"Kenapa kau bertanya padaku? Apa kau tak sadar jika kau pernah bersikap aneh?" ujar Valko.


"Aneh? Aneh bagaimana?" tanyaku balik. Aku tak merasa jika bersikap aneh. Sikap aneh mana yang dimaksud Valko 😯.


"Kau tidak ingat? Kau pernah bersikap manja. Kau memintaku untuk memotong buah untukmu, bahkan aku menumbuk sendiri bumbu untuk makaan yang kau inginkan. Kau bahkan memanjat pohon jambu di halaman belakang rumah, Honey," ucap Valko sambil membelai dahiku lagi. "Sikap manja dan aneh itu bukanlah itu yang katanya disebut nyidam?"


Oh jadi, saat itu yang dimaksud oleh Valko. Padahal waktu itu aku benar-benar hanya ingin makan buah jambu saja. Juga ingin makan rujak buah yang dibuat oleh Valko. Jujur tak ada maksud lain sih.


"Itu kan karena aku ingin saja. Lagipula waktu itu alu juga baru merindukanmu. Wajar kan jika aku manja," sahutku lirih.


"Iya, kau adalah ratuku. Ratu paling cantik dan paling manis," ucap Valko. Dia mencium dahiku lagi. Aku merasa masih bermimpi. Kukira dulu Valko takkan bisa bersikap seperti ini padaku. "Aku tak membawa dokter yang bisa memeriksamu saat ini. Kukira kau sehat-sehat saja. Sudah, sekarang istirahatlah, Honey," Valko membelai dahiku.


"Jika aku benar-benar hamil bagaimana?" Kutatap mata Valko.


"Itu adalah anugerah. Anugerah yang indah untuk kita berdua dan keluarga kita. Sudah, jangan pikirkan hal itu terlebih dahulu. Yang terpenting kau sehat. Aku tak yakin Tyo memiliki dokter di pulau pribadinya. Jika ada pun aku takkan begitu saja mempercayakan dokter itu untuk memeriksamu. Kau harus diperiksa oleh dokter wanita kepercayaan keluargaku. Aku tak ingin terjadi kesalahan apalagi jika berhubungan denganmu ...." sahut Valko.


"Apa tadi kau bilang? Pulau pribadi?"


"Iya, pulau pribadi. Kita sedang menuju pulau pribadi milik Tyo. Dia mengadakan pesta di sana. Kau tahu, Honey, untuk pertama kalinya aku akan pergi ke pesta yang diadakan di sekitar pantai setelah sekian lama. Ketakutanku pada pantai sudah cukup berkurang. Ini semua karenamu." Valko memelukku dengan erat. Ada satu pertanyaan yang mengganjal di pikiranku.


"Hubby, kenapa kau tak mengingatkanku untuo meminum obat yang pernah kau berikan? Jika kau belum menginginkan ...."


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku memikirkan banyak hal. Mana sempat untuk mengingatkan hal semacam itu. Sudahlah, jika kau memang benar-benar hamil itu tak masalah. Justru keluargaku pasti akan senang. Jangan jadikan ini beban berat untukmu, Honey." Valko mencubit pipi kananku. Terdengar suara pintu diketuk dari arah luar.

__ADS_1


"Tuan, ini saya, May. Saya membawakan minuman untuk Nona." terdengar suara Sekretaris May.


"Masuklah, May," perintah Valko. Sekretaris May masuk ke dalam. Di tangannya terdapat nampan berisi sebuah cangkir.


"Ini, Tuan." Sekretaris May menyerahkan cangkir itu pada Valko.


"Apa ini, May? Ini minuman apa?" tanya Valko.


"Tuan, saat saya menuju dapur, Tuan Fajar menelepon. Dia khawatir pada keadaan Anda dan Nona. Saya menceritakan keadaan yang terjadi. Beliau lalu menyuruh membuat ramuan herbal yang resepnya di wariskan turun-temurun. Ini ramuan herbal untuk mengatasi efek mabuk laut."


"Oh begitu. Ini, minum dulu, Honey." Valko membantuku duduk tegak. Dia membantuku memegang cangkir itu. Rasanya sedikit pahit, aku tak tahu apa ini tapi rasanya berasa hangat di tenggorokan.


"Tuan Fajar juga berpesan untuk memperlakukan Nona dengan lebih hati-hati. Mungkin saja cicit Tuan Fajar sedang berkembang di perut Nona," celetuk Sekretaris May.


Ucapan itu membuat rongga tenggorokanku berasa tertutup. Rasanya minuman itu tersangkut di tenggorokanku. Kenapa cucu dan kakek itu bisa sepemikiran dan menyangka aku hamil sih? 😦


"Uhuk! Uhuk!"


"Honey, minumnya pelan-pelan. Tuh, kan, kakekku juga punya firasat seperti itu. Aku tak sabar untuk pulang ke rumah dan memeriksakan kondisimu ke dokter kepercayaan keluargaku. Biasanya firasat orang tua itu bisa menjadi kenyataan, hahaha." Valko nampak tertawa ceria.


Valko, kau justru membuatku semakin memikirkan hal ini, tahu.


"Ehm, kau boleh pergi, May," ucap Valko.


"Terima kasih, Pak May." Kutersenyum ke arah Sekretaris May.


"Zeta!" teriak Valko. Mukanya nampak cemberut. Dia menatapku tajam. Aku menghela napas. Pasti Valko cemburu. "Kau tidak boleh tersenyum pada pria lain! Kenapa kau berterima kasih pada May? Aku yang ada di sampingmu setiap waktu, tahu!" protes Valko.


"Hubby, sudah sewajarnya jika kita berterimakasih pada orang-orang yang bekerja di bawah naunganmu. Meski kau adalah atasan mereka, tapi mereka sudah mengabdi dengan sepenuh hati padamu. Hidup kita jadi lebih mudah karena bantuan mereka."


"Baik, mulai sekarang aku akan sering mengucap terima kasih," sahut Valko. Mukanya masih nampak cemberut. Bibirnya bahkan mengerucut. Kucium bibir Valko.


"Aku tak lupa untuk berterima kasih padamu, Hubby. Valko, suamiku tercinta. Terima kasih sudah merawat dan menyayangiku."


"Kau bilang apa? Aku tak dengar!" sahut Valko. Ini reaksi yang tak terduga. Dasar, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Dia pasti menjahiliku. Sudahlah, yang penting dia bahagia.


"Terima kasih, Hubby. Suamiku, Valko-ku Tercinta. Terima kasih sudah merawatku dan menyayangiku." Kupandangi Valko sambil tersenyum.


"Sama-sama, Honey. Oh ya, ayo kita bersiap untuk bersandar di dermaga."

__ADS_1


"Aku bisa berjalan sendiri!" protesku saat Valko tiba-tiba saja menggendongku.


"Kau tak ingat pesan kakekku? Kau harus diperlakukan dengan hati-hati. Apalagi kau sedang kurang sehat! Jangan protes dan jadilah penurut!" Valko menatapku tajam.


Baiklah, sebaiknya aku menurut. Valko membawaku menuju ke bagian atas kapal. Aku dan Valko duduk di yang berada di belakang kursi nakhoda. Dari jendela kapal nampak sebuah pulau berpasir putih. Sebuah dermaga nampak di pinggir pulau itu. Nampak kapal-kapal mewah berupa Luxury Yacht bersandar di dermaga pulau itu. Wah, ini akan jadi pesta yang dihadiri orang-orang kelas atas.


"Kita sudah sampai, Tuan," ucap Nakhoda itu.


"Ehm, terima kasih." Valko langsung bergegas berdiri. Dia menggandeng tanganku. Nahkoda itu nampak terperangah. Kurasa dia belum pernah mendengar Valko mengucapkan terima kasih.


"Eh ... sama-sama, Tuan," balas Nakhoda itu.


Valko menggandengku menuju ke bagian belakang kapal. Dia menggandeng tanganku saat menuruni tangga untuk sampai menuju dermaga itu. Di dermaga itu sudah nampak para petugas berpakaian serba hitam. Kurasa mereka petugas keamanan yang bertugas mengamankan acara ini.


"Bro!" sapa seseorang. Ternyata itu Ricko, sahabat dekat Valko. Valko dan Ricko saling berpelukan.


"Kau sudah lama sampai di sini?" tanya Valko.


"Ya, bisa dibilang seperti itu, hahaha. Wah, enaknya punya pasangan. Zeta makin cantik saja," ujar Ricko sambil menatap ke arahku.


"Huh!" Valko menatap tajam ke arah Ricko.


"Hahaha, aku hanya bercanda, Bro!" sahut Ricko sambil menyikut bahu Valko.


"Varko!" terdengar teriakan. Nampak seorang perempuan berambut pirang. Dia berlari ke arah Valko. "Varko!" teriaknya lagi. "Aku merindukanmu!" dia langsung memeluk Valko. Lancang! Siapa gadis ini? Beraninya dia! 😡


________________________________________


Terima kasih sudah setia membaca, memberi like, vote dan komentar pada novel saya 😍


Mohon maaf selama kurang lebih dua bulan ke depan novel ini hanya akan update setiap hari Sabtu 😊


Hal itu karena author sedang fokus mengejar target wisuda tahun ini 😁


Mohon doanya ya agar author diberi kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi 😊


Mohon doanya juga semoga bulan ini bisa selesai dalam menyusun skripsi 😄 dan semoga bisa segera sidang dengan lancar dan tak bayak revisi 😊


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2