
Kubuka mataku perlahan-lahan. Ternyata aku sudah tak memeluk apa pun. Nampak space di sebelahku kosong. Valko sudah bangun rupanya. Ini jam berapa ya? Aku menggeliat sejenak sambil mengangkat kedua tanganku ke udara.
"Hoahm!" mulutku terbuka. Kugerakkan leherku ke arah samping kanan dan sampimg kiri. Tubuhku juga kugerakkan seirama dengan leher. Tidur yang menyenangkan.
Tunggu! Apa itu? Kenapa ada benda memanjang berwarna hitam di atas tempat tidur ini? Benda itu bentuknya pipih dan memanjang. Warnanya hitam mengkilap. Jangan-jangan itu ular! 😨
"AAAA!!!" teriakku sekencang mungkin. Aku lanjut melompat dari tempat tidur.
"ZETA!!! ADA APA??" terdengar suara Valko. Dia nampak keluar dari kamar mandi. Rambutnya nampak basah terurai. Tubuh bagian bawah hanya ditutupi selembar handuk putih.
"VALKO!!!" teriakku sambil memeluk Valko dengan erat. "A...DA U...LAR!!! A...DA U...LAR!!! AKU TAKUT!!!" ucapku terbata-bata.
"Ular? Dimana ularnya?" tanya Valko.
"Itu....itu...di atas tempat tidur...." ucapku ketakutan. Kaki Valko terasa bergerak. "Apa yang kau lakukan?" ucapku.
"Mengeceknya, Zeta," sahut Valko. "Tenanglah, ada aku. Kau tak perlu takut. Bersembunyilah di belakangku," perintah Valko.
"Baiklah," ucapku sambil berpindah posisi ke belakang tubuh Valko. Aku takut pada ular, takut kena gigitannya. Valko hendak melangkah, aku sudah ada di belakangnya. "Ehm...." tubuhku secara spontan memeluk punggung Valko.
__ADS_1
"Tenanglah, ada aku," ucap Valko sambil berjalan perlahan menuju ke tempat tidur.
"Hati-hati!" ucapku lirih sambil menatap ke arah depan.
"ZETA!!!" panggil Valko. "Mana ularnya?" ucap Valko. "Ini bukan ular, Zeta. Ini ikat pinggangku!"
"HAH? IKAT PINGGANG?" teriakku.
Aku langsung mendekat ke arah benda yang dipegang Valko dengan tangan kanannya. Benda yang kusangka ular teryata hanyalah ikat pinggang biasa warna hitam. Ikat pinggang itu kurasa terbuat dari kulit asli sehingga teksturnya bersisik. Aku jadi merasa maku sudah heboh sendiri 😓.
"Hahaha!" Valko tertawa. "Zeta, Zeta, kenapa kau bisa ketakutan hanya karena sebuah ikat pinggang saja. Oh atau...." Valko menatapku. Kepalanya di dekatkan ke arah wajahku. "Apa kau sedang modus padaku?"
"Benarkah? Sudahlah!" Valko langsung menggendongku. "Jika kau rindu mandi bersamaku, bilang saja. Tak perlu membuat heboh seperti ini, Zeta!"
"Tapi...tapi...." aku berusaha menjelaskan.
"Ssst! Tak usah malu. Aku tahu kau sangat merindukanku, Sayang," ucap Valko sambil membawaku ke dalam kamar mandi. Dia menurunkanku di dalam bathtub. Bathtub itu sudah terisi dengan sabun dan juga air. Padahal tadi aku sudah mandi pagi. "Kau ikut berendam saja, Zeta. Tak perlu ikut mandi. Waktu kita tak banyak!" ucap Valko.
"Heh?" aku tertegun. Valko memang terkadang aneh. Aku sudah dimasukkan dalam bathtub tapi tidak disuruh mandi kembali.
__ADS_1
"Aku harus pergi ke suatu tempat secepat mungkin. Kau harus menemaniku. Tunggu, apalagi? Sekarang gosok tubuhku. Aku ingin dimandikan olehmu," ucap Valko. Dia memeluk erat pinggangku.
"Baiklah," sahutku sambil mulai memggosok kedua kaki Valko dengan kedua tanganku. "Memangnya kita mau pergi kemana? Oh, menjenguk Ayah Mertua lagi, ya?"
"Bukan, aku harus menghadiri pernikahan Tyo. Tyo sahabatku, tentu pernikahannya harus kuhadiri. Jangan khawatir, aku sudah meminta ijin pada Papa. Setelah dari pernikahan Tyo, kita akan menjemguk Papa. Sudah, cepat selesaikan menggosok tubuhku, Zeta!" perintah Valko.
"Iya, iya," ucapku. Mungkin ini akan menjadi acara pernikahan yang kuhadiri bersama Valko.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
Thank you 😍
__ADS_1