
"AWAS!!!" terdengar teriakan. BRUK!!! Tubuhku terdoriong jatuh di tanah. TAK!!! Terdengar suara benturan pot itu.
"PAK TUA! PAK TUA!" ucapku panik sambil memgguncang-guncang tubuh Pak Tua ini. Dia sudah mendorongku jatuh sehingga dia sendiri yang terkena pot itu.
Pak Tua ini pingsan, kepalanya berdarah. Siapa yang berani nelakukan ini? Apakah Vita? Kulihat ke arah atas, di rooftop gedung ini memang banyak terdapat pot tanaman.
"Siapa itu?" ucapku sambil berdiri.
Nampak ada seseorang memakai hoodie warna hitam. Wajahnya tak terlihat karena tertutup kacamata hitam dan masker warna hitam. Dia nampak berdiri di tepi rooftoop sebelum akhirnya pergi menjauh. Kakiku hendak melangkah masuk ke dalam restoran lagi.
"Pak Tua! Pak Tua!" terdengar teriakan. Suara itu menyadarkanku kembali.
Lupakan orang misterius itu. Menyelamatkan nyawa orang lebih penting. Kudekati tubuh Pak Tua yang terbaring di atas halaman restoran ini.
"Pak Tua! Pak Tua!" Della mencoba membangunkan Pak Tua itu. Ini bukan saatnya panik, Zeta! Tenang! Tenang!
__ADS_1
"Astaga, apa yang terjadi?" terdengar suara Ogi.
"Ini Gi, Zeta hampir ketimpa pot dari rooftop. Tapi yang kena malah Pak Tua ini. Sekarang dia pingsan dan kepalanya ada darahnya!" ucap Della.
"Ya, udah cepat panggil ambulans aja!" celetuk Ogi. "Ta, mama kamu kan dokter, panggil dari rumah sakit tempat dia bekerja aja! Biar aku yang panggilin, kamu tenangin diri dulu aja!" ucap Ogi.
Benar, jantungku rasanya masih deg-degan. Tadi nyaris saja nyawaku bisa melayang. Kulihat Pak Tua itu, semoga dia baik-baik saja.
"Wah! Wah! Ada apa ini?" terdengar suara yang memuakkan. "Duh, sepertinya ada yang luka di sini!" terdengar suara lagi. "Luka karena kejatuhan pot, ya?" suara itu membuat telingaku memerah. Apa dia tak memiliki empati sama sekali? Atau jangan-jangan dia pelakunya?
"Heh! Dengar, ya! Kalo kamu nggak punya bukti jangan nuduh sembarangan. Aku bisa melaporkanmu atas tuduhan palsu, tahu!" Vita menunjuk ke arahku. "Minggir sana! Gadis rendahan kayak kamu nggak level bicara sama aku!" dia berjalan sambil sengaja menyikut tubuhku.
"Kamu!" aku hendak membalasnya. Terdengar suara ambulans datang kemari.
"Udah, Ta, Udah," Della menggenggam tangan kananku dengan erat. "Sudah, ayo kita ke rumah sakit dulu, kasihan Pak Tua ini!"
__ADS_1
Nampak tubuh Pak Tua itu diangkat ke atas ranjang besi. Dua pria petugas kesehatan yang berseragam putih memasukkan tubuh Pak Tua itu ke dalam ambulans. Orang-orang mulai ramai mengngerubungi area ini.
"Sudah, ayo kita ke rumah sakit!" ajak Ogi.
Aku dan Della pun masuk mendampingi di bagian belakang ambulans. Ogi ada di depan bersama Pak Sopir. Kulihat Pak Tua itu, dia masih belum sadarkan diri. Kepalanya masih mengeluarkan darah meski sudah diperban. Ambulans ini terus melaju menembus keramaian kendaraan di jalan raya.
Pasti Vita yang melakukannya, pasti dia pelakunya! Vita, jangan harap kau bisa lolos kali ini! 😡
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍