
"Valko lama banget sih!" kakiku terasa pegal karena berdiri cukup lama. Suatu ide terlintas di pikiranku. "Sepertinya acara ini bisa jadi momen yang tepat untuk menyatukan kembali Valko dan ayahnya. Tapi, kapan acaranya? Aku bahkab belum tahu waktunya. Ehm...aku juga harus bisa mendapat ijin untuk mengundang orang luar. Bagaimana caranya, ya?"
"Maaf, Nona," terdengar suara seseorang diikuti tepukan di bahu kananku. Aku segera berbalik ke arah belakang. Ternyata itu Sekretaris May.
"Iya, ada apa, Pak May?" tanyaku.
"Tuan sudah menunggu Nona di pintu keluar. Untuk belanjaannya biar saya saja yang mengurusnya," ucap Sekretaris May sambil mendorong troli itu. "Mari Nona, saya antar ke pintu keluar."
Aku pun mengikuti Sekretaris May. Valko, kau benar-benar pemalu, ya? 😂. Hihihi, jika kau berbuat posesif yang membuatku merasa malu kurasa sekarang aku tahu bagaimana harus menghentikanmu 😆. Langkah kakiku sampai ke pintu keluar supermarket ini. Nampak Valko berdiri di pintu.
"Iya, iya. Nanti akan segera kuselesaikan laporannya, Kakek. Kakek tenang saja!" nampak Valko sedang sibuk melakukan videocall.
"Jangan bermain-main terus! Aku tahu kau sudah punya perusahaan sendiri. Tapi tetap saja kebun tehku akan kuserahkan padamu kelak. Kau juga harus ikut mengurusnya! Jangan anak tirikan kebun teh tersayangku!"
"Iya, Kakek. Iya, aku tak bermaksud begitu. Nanti malam akan kuselesaikan laporannya," sahut Valko lagi. Kebun teh? Kurasa videocall itu dari Opa Dedy.
"Kau juga bilang begitu kemarin! Jangan main-main terus, Valko!" ucap Opa Dedy lagi.
"Aku tak bermain aku...."
"Hay, Opa!" aku menyela masuk ke dalam videocall itu.
"Oh, Tata! Ah! Lama tak berjumpa. Kenapa kau terlihat kurus? Apa Valko tak mengurusmu dengan baik? Apa dia tak memberimu makan yang cukup?" tanya Opa Dedy.
Astaga, kakek dan cucu sama saja. Tubuhku tak kurus, aku begini karena berusaha menjaga tubuhku agar tetap langsing.
"Tidak, Opa. Valko mengurusku dengan baik. Dia bahkan mengajakku jalan-jalan hari ini," sahutku sambil menatap ke arah layar smartphone.
"Lihat, Kakek. Aku tak bermain-main. Aku sedang mengajak jalan-jalan Zeta. Kakek, jangan mengganggu! Kami sedang membahas sesuatu yang penting tadi," ucap Valko.
__ADS_1
"Memangnya apa yang kalian bahas?" tanya Opa Dedy.
"Zeta memberiku kode jika dia ingin segera menjadi ibu. Kakek, kurasa Zeta ingin agar segera ada Valko junior atau Zeta junior. Dia tidak sabar jadi kurasa malam nanti...." ucap Valko. Valko! 😣. Kenapa sih kau membicarakan hal itu lagi! 😣.
"Wah, aku juga ingin segera menimang cicit. Tunggu! Jangan mengalihkan pembicaraan! Selesaikan saja laporan itu secepatnya!" desak Opa Dedy. "Kutunggu laporannya malam ini!" ucap Opa Dedy lagi.
"Iya, iya," sahut Valko.
"Kupegang ucapanmu, Cu. Oh ya, aku menunggu kabar baik tentang kehadiran Valko junior, hahaha!" celetuk Opa Dedy. Sambungan videocall itu berakhir.
Aduh! Kenapa jadi begini, sih? Padahal aku tak bermaksud memberi kode seperti itu tadi 😓.
"Sudah, ayo kita pulang, Zeta!" ucap Valko sambil menatapku. "Betulkan dulu masker dan kacamata hitammu!" Valko membenahi masker dan kacamata hitam yang bertengger di wajahku. "Ayo, kita pulang!" Valko menggandeng tanganku dengan erat.
***
"Hubby," panggilku.
"Aku sudah kenyang, Zeta. Ini sudah larut malam. Kurasa laporan ini selesainya masih lama. Kau tidur saja duluan jika sudah mengantuk," perintah Valko. Dia tak memandangku saat mengatakan hal itu. Kurasa laporannya cukup rumit hingga butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.
"Baiklah, Hubby," ucapku sambil membawa nampan berisi makanan itu keluar dari ruang kerja Valko. Kapan aku punya kesempatan untuk membahas hal itu? Ini momen yang tak boleh terlewatkan.
"Biar pelayan saja yang membereskannya, Nona," ucap Sekretaris May. Dia setia menunggu di luar ruang kerja ini rupanya. Seorang pelayan mengambil nampan itu dari tanganku. Tunggu, kenapa tak tanya pada Sekretaris May saja?
"Pak May," panggilku.
"Iya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sekretaris May.
"Ehm...kapan acara peringatan ulang tahun mendiang ibu Valko?" tanyaku.
__ADS_1
"Acaranya besok sore, Nona...." jawab Sektetaris May.
"Hah, besok?" aku tertegun. Tak masalah, kurasa Ayah Mertua pasti juga punya waktu luang. Dia kan masih dalam tahap pemulihan akibat cedera kepala.
"Tenang saja, Nona. Semua sudah disiapkan. Anda dan Tuan Valko tinggal menghadirinya saja," ucap Sekretaris May sambil tersenyum.
"Pak May, apa aku boleh mengundang keluargaku?" tanyaku.
"Keluarga? Maaf, Nona, ini acara yang tertutup untuk Anda dan Tuan Valko saja...."
"Tapi, Pak May...." aku berusaha membujuk.
"Saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Valko. Jika Nona ingin mengundang keluarga Anda, sebaiknya minta ijin saja secara langsung kepada Tuan Valko," ucap Sekretaris May. "Saya permisi, Nona. Ada urusan yang harus saya kerjakan," Sekretaris May pergi.
"Duh, aku harus gimana, ya?" kulangkahkan kakiku menuju kamarku. "Sudahlah, lebih baik mandi dulu," kubuka lemari pakaian. Nampak minidress yang masih baru. "Aku jarang memakai minidress saat tidur. Valko lucu, dia memberikanku benda ini tapi tak pernah protes saat aku tidur hanya memakai piyama atau bahkan kaos," kuambil minidress berwarna merah itu. Suatu ide terlintas di kepalaku.
"Lebih baik aku mandi lagi," aku pun segera mandi. Ide itu terus berputar di kepalaku. Segera kuakhiri mandiku lalu memakai piyama. "Sesibuk apa pun Valko, dia pasti akan selalu mencariku untuk mendapat belaian saat tidur. Itu waktu yang tepat untuk membujuknya agar memgijinkanku mengundang orang luar. Aku akan bilang jika aku memgundang keluargaku. Padahal sebenarnya aku ingin mengundang Ayah Mertua. Karena dia mungkin lembur, kurasa aku harus membuatnya mencariku lebih cepat, hihihi," kulangkahkan kakiku menuju dapur.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
Thank you 😍
__ADS_1