Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 46 - Istri yang Baik?


__ADS_3

Valko...ini...." aku tertegun.


Di hadapanku nampak sebuah pasang rumput yang hijau. Di padang rumput itu terdapat penanda makam yang nampaknya dari batu marmer. Salah satu makam itu tepat ada di depanku. Tepat di depanku, ada sebuah makam dengan penanda berupa batu marmer warna putih keabu-abuan berbentuk kotak. Pada batu marmer itu ada tulisan 'Parama Purnomo'.


Parama? Bukankah itu ibunya Valko? Astaga, Valko mengajakku mengunjungi makam ibunya. Mataku mulai berkaca-kaca, aku teringat cerita tentang penyebab ibu Valko meninggal. Sungguh itu adalah cara yang sangat kejam dan sadis apalagi untuk seorang wanita. Tanganku mulai mengusap batu marmer penanda makam itu. Aku tak bisa lagi menahan air mata di kedua mataku.


"Apa kau kecewa?" Valko mengusap air mataku lembut dengan kedua jari jempol di tangannya. "Mama pernah bilang saat aku menemukan wanita baik untuk menjadi pendampingku, aku harus memperkenalkannya pada Mama," tangan kanan Valko mengusap batu marmer itu. "Kuharap kau tak kecewa, aku tak membawamu ke tempat yang romantis setelah mendandanimu seperti ini. Ehm...aku hanya...." Valko menutup matanya. Kurasa ia menahan rasa sedih di hatinya. Valko membuka matanya lagi, dia benar-benar menahan rasa sedih di kedua matanya. "Aku hanya...ingin memperkenalkanmu pada Mama. Beliau tentu tak bisa hadir saat pernikahan kita. Aku sangat menyayangi Mamaku, karena itu kuharap kau tak kecewa jika aku membawamu kemari...."


"Mamamu orang yang baik, Valko...." aku tak bisa menahan air mataku. "Dia seharusnya...hiks...tak pantas meninggal dalam keadaan seperti itu...." kuungkapkan apa yang ada di pikiranku.


"Jangan menangis...." Valko mengusap air mataku lagi. "Apa kau tak mau memberikan hadiah untuk Mamaku?" Valko menatapku dalam.


"Hadiah? Aku tak tahu....aku tak menyiapkan apa pun....." ucapku jujur. Jika aku tahu pasti aku akan menyiapkan rangkaian bunga yang bagus tadi.


"Hadiah terindah untuk Mamaku bisa kau berikan kapanpun...." Valko mengusap kepalaku sambil tersenyum.


"Apa maksudmu?" aku benar-benar bingung.

__ADS_1


"Hadiah terindah untuk Mamaku adalah kiriman doa darimu untuknya. Kita mulai doanya ya...." Valko memimpin doa sambil menengadahkan kedua tangannya. Dia mulai membaca doa, aku mengikutinya dengan serius.


Valko, kau benar-benar mempercayakan hatimu padaku? Dia sudah membawaku ke makam Mamanya. Bukankah itu berarti Valko benar-benar menitipkan hatinya padaku dan mempercayaiku sepenuhnya. Valko, kau benar-benar serius ya mengganggapku sebagai istrimu? Ini beban yang cukup berat untukku. Doa itu akhirnya selesai.


"Mama," panggil Valko lirih sambil mengusap batu marmer itu. "Kenalkan ini Zeta Belvia Nugraha, dia istri Valko, Ma. Mama tak perlu khawatir. Zeta baik kok, Ma. Dia istri yang baik...." ucap Valko.


Valko, kau mengganggapku istri yang baik? Itu adalah ucapan yang berat untukku. Ucapan itu memukul nuraniku yang paling dalam. Istri yang baik? Mana ada istri yang baik yang menduakan suaminya di dalam hatinya? Valko, aku tidak sebaik itu.


"Mama, Valko sengaja membawa Zeta kemari. Mama, jika Mama bisa lihat, menantu Mama itu sangat cantik. Dia baik dan cantik seperti Mama. Mama...." air mata Valko mengalir. "Valko...harap Mama bisa tenang di alam sana...." ucap Valko sambil berurai air mata. "Valko sudah menikah, Ma. Valko sudah menemukan wanita baik sebagai pendamping Valko. Mama tak perlu mengkhawatirkan Valko lagi...." Valko benar-benar menangis.


Valko, kau benar-benar memberikanku posisi dalam hatimu? Valko, jika kau tahu apa yang ada di hatiku yang sesungguhnya pasti kau akan merasa sakit. Valko, aku sangat kejam padamu selama ini. Aku sering membentak dan berkata kasar padamu. Tapi, kau tetap memgganggapku istri yang baik. Aku bukan istri yang baik. Valko ada di pelukanku untuk waktu yang cukup lama.


"May!" teriak Valko sambil melepas pelukanku. Sekretaris May datang membawa sebuah kamera. "Foto aku bersama Zeta di sini!" perintahnya. "Kau harus tersenyum, Tupai! Jangan membuat foto ini terlihat jelek!" ucap Valko.


Astaga, Valko! Kau baru saja menangis di pelukanku, sekarang kau memanggilku tupai lagi. Dasar Menyebalkan! 😑 Sudahlah, tak baik berdebat di area pemakaman. Aku pun hanya menuruti keinginan Valko.


Aku dan Valko berfoto di samping makam itu. Aku ada di samping kiri sedangkan Valko ada di samping kanan. Aku berusaha menunjukkan ekspresi bahagia tapi tak berlebihan. Mungkin senyumku seperti Valko, tersenyum sedikit saja. Cahaya flash dari kamera itu mengenai wajahku. Kurasa ini akan menjadi foto paling mengesankan dari foto-foto itu.

__ADS_1


"Ayo, berdiri!" Valko bangkit untuk berdiri. Dia menggenggam kedua tanganku.


PLUK! Sesuatu nampak terjatuh dari saku yang ada di gaunku. Itu smartphone-ku. DRT! DRT! DRT! Smartphone itu menyala. Ada video call yang masuk. Jantungku rasanya berhenti berdetak seketika. Nama kontaknya memang sudah kuganti, gambar kontak juga sudah kuhapus tapi aku tak pernah menduga hal ini akan terjadi. Nampak panggilan video call dengan nama 'Kak Kai' ada di layar smartphone-ku.


"Ada yang menghubungimu," Valko memungut smartphone-ku.


Jangan! Jangan! Ah!😱 Gawat! Valko sudah menekan tanda accept pada layar untuk menerima video call itu.....


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2