Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 48 - Menemaniku....


__ADS_3

Valko masih berbincang-bincang bersama Opa, Oma dan para rekan bisnis itu. Aku justru bersyukur sudah dibawa ke kamar ini. Belum tentu aku paham apa yang mereka bicarakan. Mungkin Valko benar-benar ingin aku beristirahat lebih awal.


Meski sudah berada di kamar tapi tetap saja aku belum tidur. Aku justru memilih pindah ke kamar tamu yang pernah kutempati waktu itu. Bukan karena tak bisa tidur karena Valko tak ada di sampingku tapi karena tanggungjawabku. Skripsiku yang membuatku tak bisa tidur 😢. Aku harus segera mencari judul cadangan dan dijadikan draft pra proposal untuk diajukan ke dosen pembimbingku.


Kadang aku berpikir, kurasa aku terlalu terjebak pada cerita-cerita di film atau novel. Kukira kuliah itu tak banyak beban, bebas seperti di film atau novel itu. Ternyata, kuliah itu cukup banyak tuntutannya. Yang ditampilkan di film atau novel itu biasanya cuma dari kisah cinta atau cerita horor di kampus. Jarang ada yang menyorot perjuangan mahasiswa semester tua sepertiku untuk keluar dari kampus dengan jalan wisuda, bukan dengan Drop Out (DO).


Di dalam film atau novel jarang ada yang cerita perjalanan seorang mahasiswa mencari judul skripsi hingga ditolak berulang kali. Jarang ada yang mengupas apa itu skripsi sebenarnya. Aku juga baru tahu jika sebenarnya skripsi itu semacam PR bagi mahasiswa. PR itu terdiri dari 5 bab : Bab 1 intinya latar belakang, Bab 2 kajian teori, Bab 3 metode penelitian, Bab 4 pembahasan dan hasil penelitian dan Bab 5 kesimpulan dan saran. Nampak mudah tapi untuk mencapai hingga tahap Bab 1 saja perjuangannya berdarah-darah seperti yang kualami.


Untung saja di kamar tamu ini ada komputer yang tidak dipakai. Komputernya juga tersambung ke internet. Aku jadi bisa men-download file revisian draft pra-proposal skripsiku. Untungnya, lagi kampusku sudah memakai sistem bimbingan online. Jadi, aku bisa tahu letak kesalahanku. Saat kubuka file di website bimbingan online....


Astaga, draft pra proposalku banyak sekali revisiannya. Bahkan dari komentarnya nampaknya judulku kurang kuat untuk skripsi. Aku harus cari masalah lagi. Kalau begini kapan aku bisa lulus dan wisuda? 😭


"Kau sedang apa?" terdengar suara Valko. "Apa kau masih murka sehingga aku tak dapat jatah belaian malam ini? Aku kan sudah minta maaf," Valko memeluk tubuhku dari arah belakang. Pipi kananku bahkan dicium berulang kali. Valko, tak bisakah kau tak menggangguku dulu! 😔 Aku sedang pusing.


"Cayang...." aku melihat ke arahnya. Nampak Valko sudah rapi dalam balutan setelan piyama warna biru tua. "Ehm...aku tak marah. Kau tidurlah terlebih dahulu ehm...aku akan menyelesaikan revisian skripsiku dulu, ya," aku tersenyum ke arahnya. Aku malas berdebat dengannya. "Valko!" teriakku. Valko justru menggendongku. "Turunkan aku! Biarkan aku mengerjakan skripsiku dulu!" aku protes padanya.


"Kau bisa mengerjakannya di kamarku. Kau bisa memakai laptopku. Jadi, diamlah!" balas Valko. Dia benar-benar menggendongku menuju ke kamarnya. Aku di dudukkan di atas kasur. Valko mengambil sebuah meja lipat dan sebuah laptop tipis berwarna silver. Valko duduk di belakangku, kedua kakinya lurus terbuka. Tubuhku menyandar di dadanya.


"Valko, biarkan aku...." aku ingin peotes kembali.


CTAR! CTAR! DUAR! Astaga, kenapa sih harus ada petir di saat seperti ini? 😭 BRASH! Hujan deras mulai terjadi. Mau bagaimana lagi, ini memang sedang musim hujan.


"Ehm...baiklah, aku akan pergi. Aku akan pergi ke kamar Oma dan Opa. Kau tinggalah di sini sendirian," Valko beranjak pergi. Sial, aku sangat takut pada petir. Mana mungkin kubiarkan dia pergi.


"Cayang...." panggilku. "Temani aku...ehm...aku hanya bercanda tadi...."


"Tidak, kau tak bercanda. Kau benar-benar tak suka aku ada di sampingmu. Ya sudah, aku pergi saja," Valko tetap melangkah pergi.


"Jangan, aku takut! Temani aku!" akhirnya aku merengek. "Temani aku, Valko! Cayangku....Kumohon!" untuk pertama kalinya aku benar-benar memohon pada Valko.


"Kiss dulu!" ucap Valko sambil menunjuk ke pipi kanannya.


Astaga, dia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sudahlah, turuti saja. Aku pun menuruti keinginannya, cium pipi kanan, cium pipi kiri, cium dahi dan cium bibir. Semuanya kulakukan berulang kali hingga dia puas.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menemanimu," Valko kembali duduk di belakangku. Dia memelukku dari arah belakang. "Tunggu, aku ambil sesuatu," Valko pergi keluar. Dia kembali dengan senampan penuh makanan ringan dan minuman dalam beberapa tumbler berukuran satu literan.


"Skripsi bisa membuatmu semakin kurus seperti lidi. Aku sudah membawa kopi, jus jambu, jus jeruk dan makanan ringan," Valko duduk di belakangku lagi. Tangan Valko melingkarkan selimut tebal menutupi area belakang tubuhnya hingga ke bagian depan tubuhku.


"Cuacanya hujan. Udaranya dingin," ia memeluk tubuhku lagi. Astaga, ini terlalu berlebihan. "Hujan-hujan seperti ini membuatku butuh kehangatan. Tak bisakah kau mengerjakan hal ini besok," bisik Valko. Astaga, apa maksudnya apa ini kode untuk bermain di balik selimut lagi? Valko, apa kau jadi ketagihan melakukannya? 😣


"Ehm....aku jarus segera mengerjakannya, Cayang...." aku memfokuskan pikiranku kembali.


Kunyalakan laptop Valko. Nampak gambar tiga orang yang sedang bergandengan tangan. Seorang anak laki-laki yang digandeng seorang pria dan seorang wanita.


"Itu foto keluargaku,"ucap Valko lirih. "Saat masa bahagia." dia tertunduk.


Gawat! Aku harus segera mengalihkan pembicaraan. Segera kusambungkan laptop itu ke wifi. Kubuka website sistem bimbingan online lalu ku-download file draft pra-proposal skipsiku. Kubaca komentar dari dosen pembimbingku. Komentarnya membuatku meras merana. Kurasa aku benar-benar harus ganti judul.


"Kapan aku lulus kalo begini caranya!," ucapku spontan meluapkan kekecewaanku.


"Kau jurusan apa sih?" Valko melihat ke arah layar laptop. "Judulmu terlalu mainstream, Tupai. Pantas jika dosenmu menolak. Ehm, tenyata kau jurusan manajemen. Sama sepertiku rupanya," Valko mulai memakan kripik kentang. Kok kelihatannya enak ya, aku pun mulai memakannya juga.


"Otakku buntu, Valko. Jangan cuma bisa mengkritik! Apa kau bisa memberiku solusi?" sahutku ketus.


"Huh, dasar sombong!" balasku. Aku haus, akhirnya kuambil tumbler berisi jus jeruk. Segarnya, otakku berasa agak dingin.


"Kau seharusnya memilih topik-topik tentang masalah terkini yang sedang update. Kau punya usaha di bidang fashion kan. Coba cari permasalahan di bidang itu, misal tentang manajemen pemasaran fashion di dalam negeri yang bersaing dengan produk-produk impor. Atau tentang pengelolaan manajemen sumber daya manusia di era revolusi industri 4.0. Atau bisa juga tentang dampak adanya beauty vlogger masa kini terhadap manajemen pemasaran produk kosmetik. Bisa juga tentang pengelolaan manajemen sumber daya manusia usaha start up. Atau manajemen risiko di usaha start up. Usaha start up kan masih berpotensi untuk gagal...." Valko terus menyebutkan ide-ide lain. Dia bahkan mengetiknya di sebuah file bentuk word.


"Valko, ternyata kau pintar ya," ucapku heran. Tenyata otak Valko encer juga ya.


"Ck! Aku memang sudah pintar dari dulu, Tupai. Kau saja yang terlambat menyadarinya," ucap Valko. "Sebelum menentukan judul cari dulu berita terkini dari sumber yang terpercaya untuk latar belakang masalah. Bisa juga dari penelitian. Kau juga harus membaca buku-buku referensi agar bisa membuat landasan teori yang bagus," Valko nampak membuka sebuah folder. "Aku masih menyimpan buku-buku e-book tentang manajemen saat aku kuliah S1 maupun S2," Valko mulai membuka salah satu e-book.


"Ehm...sebaiknya aku mengajukan judul apa ya?" aku benar-benar bingung.


"Jangan bingung, pikirkan dulu masalah yang ada serta jenis penelitian yang sekiranya cukup kau pahami...." Valko mengambil sebuah buku tulis dan bolpen dari dalam laci.


Aku dan dia pun saling berdiskusi. Ternyata dibalik tingkahnya yang menyebalkan dan konyol, dia seorang yang bijak dan pintar. Setelah cukup lama berdiskusi, aku pun memiliki beberapa judul cadangan.

__ADS_1


"Ayo, segera kubantu kau membuat draft-nya. Kau harus tetap membuatnya sendiri. Aku akan membantu dari segi pencarian referensinya. Yah, besok masih bisa diperbaikilah saat kau mau menghadap dosen pembimbingmu."


Aku pun menuruti perintahnya, kutulis poin-poin penting pada draft proposalku di buku tulis itu. Valko sibuk mencari jurnal, berita atau e-book tentang permasalahan yang akan kuteliti. Setelah poin-poin penting selesai kutulis, aku mulai membuat draft pra-proposal penelitianku sesuai format dari kampus.


Valko masih setia menemaniku, padahal ini sudah amat larut malam bahkan mungkin dinihari. Dia setia memperhatikanku sesekali sedikit berkomentar untuk mengarahkan atau menyemangatiku. Mulutku juga tetap mendapat asupan dari suapan cemilan dari tangan Valko. Saat kepalaku mulai pusing dan ingin menyerah, dia memberi belaian kepadaku. Hari sudah larut, cuacanya hujan berhawa dingin. Jika sedang mengerjakan tugas akhir sambil dibelai lembut oleh seorang pria seperti ini bagaimana aku tidak baper.


"Jangan menyerah, kau pasti bisa!" ucap Valko sambil membelai kepalaku. Sesekali dahiku dikecup dengan lembut. Aku merasa senang mendapat perlakuan seperti ini darinya.


Valko, kau tahu dari semua hal yang kau lakukan, saat inilah yang membuatku benar-benar baper. Menemani di kala senang itu biasa tapi menemani di kala sedang susah seperti ini itu baru luar biasa. Tak terasa, draft pra proposalku dengan judul yang baru selesai. Aku juga masih sempat merevisi draft pra proposalku yang lama.


"Akhirnya selesai! Hore!" aku berteriak kegirangan.


"Hoahm!" Valko menguap. Dia mematikan laptop dan menekuk meja lipat itu kembali. Keduanya kembali di simpan di dalam laci. "Waktunya tidur!" Valko memeluk punggungku dengan erat. Mata Valko sudah benar-benar terpejam. Kulihat wajah itu, aku tersenyum ketika melihatnya.


"Terima kasih, Valko!" ucapku sambil membelai pipinya. Tubuhnya kuselimuti.


Aku teringat pada smartphone-ku yang ku-charger sedari tadi. Kunyalakan smartphone itu, data selulernya menyala kembali. Nampak ada notifikasi pesan chat masuk. Salah satu pesan menyedot perhatianku.Pesan itu dari Kai. Kubuka isi chat-nya. Pesan itu berbunyi :


Adek, siapa pria itu tadi?


Adek, jawab chatku ini


Aku sudah pulang dari luar negeri, Dek. Urusan bisnis keluargaku sudah selesai. Pesawatku sudah mendarat tadi siang.


Jantungku ingin berhenti berdetak. Kai sudah kembali, dia sudah kembali dari luar negeri. Astaga! 😣 Bagaimana aku harus menjelaskan kondisiku saat ini pada Kai? 😭


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2