
Valko! Apa yang kau lakukan? 😣 Valko mencium bibirku tepat di depan Kai. Valko sangat berhasrat untuk menciumku. Dia menekan kepalaku dengan kuat agar menempel ke bibirnya. Aku ingin melawan Valko tapi apa daya, kekuatan tubuhku tak sebanding dengan tubuh Valko. Kai, maafkan aku....😢
"Bibirmu memang selalu manis, Zeta," Valko akhirnya melepaskanku. "Rasanya tetap menyenangkan meski sudah berulang kali kita lakukan," Valko tersenyum ke arahku.
Valko, kau benar-benar sudah tahu hubunganku dengan Kai atau belum sih? 😢 Sikapmu yang terus menunjukkan sikap mesra di depan Kai sama saja dengan menabur garam di atas luka bagi Kai 😢. Itu lebih menyakitkan daripada mendapat pukulan di tubuh. Valko menatap Kai.
"Terima kasih, Tuan Putrakusuma," ucap Valko sambil menerima smartphone itu lagi. Kulihat Kai, tangannya terus mengepal sedari tadi. Dia tertunduk, jika dilihat secara detail, tangan Kai nampak gemetar.
"Saya mohon undur diri, Tuan Valko," ucap Kai sambil menunduk. Aku terus menatap Kai hingga menghilang di balik pintu. Kakak, maafkan Adek....😢.
"Bagaimana menurutmu, Zeta?" ucapan Valko membuyarkan lamunanku. "Seperti itulah aku memperlakukan sainganku...." ucap Valko lagi. "Aku selalu menyelidiki dengan detail setiap hal di sekitarku," Valko menatapku tajam.
Aura mengerikan nan dingin terpancar dari diri Valko. Dia pasti sudah tahu! Dia pasti sudah tahu hubunganku dan Kai.
"Valko...aku....." aku ingin menjelaskan hubunganku dengan Kai tapi tetap saja mulutku tak berani berbicara.
"Kenapa kau ketakutan, Tupai Kecil?" Valko menyentil hidungku. Kubuka mataku, wajah Valko berubah menjadi ramah. "Aku berbicara soal bisnis, nampaknya gaya bahasaku terlalu menakutkan, ya, untukmu. Aku tak bermaksud menakut-nakutimu," Valko mengusap-usap kepalaku.
"Eh...Valko...." panggilku sambil menatap Valko. "Ehm...setelah ini kemana kita akan pergi?" kualihkan pembicaraan. Aku tak tahu bagaimana caranya menghadapi Kai setelah hari ini.
"Ehm...kita akan menjenguk kakekku terlebih dahulu," Valko kembali menggendongku.
Aku sedang malas untuk protes. Pikiranku masih berusaha kutenangkan setelah kejadian ini. Kulihat Valko, wajahnya sekarang nampak seperti biasanya. Wajah dingin nan garang tapi tetap memancarkan aura pesona yang kuat. Jika Valko memang sudah tahu, mengapa dia tak marah atau membentak Kai? Mengapa dia bersikap biasa saja, seolah-olah tak tahu apapun. Pikiranku terus digelayuti pertanyaan itu.
"Kita sudah sampai, Tuan, Nona," ucap Sekretaris May.
__ADS_1
Ucapan itu membuat pikiranku kembali ke alam nyata. Dari kaca jendela nampak rumah besar tingkat dua bercat putih. Delapan pilar yang tebal nan kokoh menyangga atap rumah itu. Tepat di depan rumah itu ada air mancur bundar tingkat sepuluh. Rumput hijau nampak mengelilingi rumah itu.
"Kakekku sudah boleh pulang ke rumah setelah dirawat di rumah sakit. Sekarang beliau ada di dalam bersama Nenek Vani," Valko langsung menggendongku lagi.
Valko membawaku turun dari mobil. Aku dan Valko memasuki rumah mewah nan megah itu. Meski bukan pertama kalinya kemari tapi tetap saja aku kagum pada interior yang serba berwarna kuning keemasan di dalam rumah ini. Apa mungkin interiornya berlapis emas? 😮
Aku jadi teringat Kai lagi. Kami pernah berjanji di masa depan akan membangun rumah megah bak istana yang dilapisi dengan emas seperti di negeri dongeng. Tapi, apa sekarang hal itu masih bisa terwujud? 😢
"Cucuku Valko!"terdengar teriakan seorang perempuan.
Perempuan itu berambut panjang terkepang di samping kepala. Kacamata tebal bertengger di hidungnya. Mesti nampak termakan usia tapi tetap saja, sinar pesona terpancar dari wajahnya. Dia adalah Nenek Vani, nenek Valko.
"Astaga, kurasa cucuku yang nakal sudah berhasil kau taklukkan, Nak," perempuan ini mengusap-usap kepalaku. "Apa sudah ada cicit kecilku di sini?" perempuan itu mengusap perutku. Ehm...kenapa langsung membahas hal itu sih? 😳
"Tupai Kecil?" Nenek Vani langsung menjewer telinga kanan Valko.
"Aduh, sakit, Nek! Sakit!" teriak Valko.
"Siapa yang mengajarimu memanggil seorang perempuan dengan nama hewan, hah?! Dia istrimu, dia perempuan sama sepertiku. Menghinanya sama saja menghinaku!" bentak Nenek Vani. Aku berusaha menahan tawaku. Hihihi, rasakan itu Serigala menyebalkan! 😂
"Nek, Nenek salah paham. Itu panggilan kesayanganku untuk Zeta. Dia imut dan lincah seperti seekor tupai. Apalagi saat bermain di bawah selimut...." ucap Valko.
Valko! 😣 Apakah setiap orang harus tahu cerita tentang hal privasi semacam ini? 😣
"Iya, Nek. Iya, tupai kecil adalah panggilan kesayangan untukku," aku terpaksa mengiyakan agar pembicaraan hal privasi itu sampai di sini saja.
__ADS_1
"Oh, begitu," Nenek Vani melepas jeweran itu. "Kakekmu sudah tak sabar ingin bertemu denganmu dan Zeta," Nenek Vani memimpin kami masuk ke sebuah kamar di lantai dua rumah itu. "Hubby, cucu dan cucu menantu kita sudah datang!"
Begitu pintu kamar dibuka nampak sebuah kamar bernuansa hijau muda. Cat dindingnya berwarna hijau muda. Furnitur serta sprei di kamar itu juga berwarna hijau muda. Di ranjang kamar itu nampak seorang lelaki yang duduk menyandar. Dia berambut putih panjang. Kumis putih menghiasi wajahnya. Matanya nampak terpejam.
"Tak bisakah kau berhenti berteriak-teriak, Marmut Kecil!" sahutnya ketus. Dia adalah Tuan Fajar Eka Wijaya atau akrab disapa Tuan Wijaya. Aku sekarang paham, darimana Valko mewarisi sikap dingin dan menyebalkan itu.
"Ck! Biarpun aku marmut tapi aku marmut yang membuatmu tergila-gila hingga sekarang!" balas Nenek Vani.
"Jangan dengarkan Si Marmut Alay ini," ucap Tuan Wijaya sambil menatap ke arahku dan Valko. "Kurasa dia lupa meminum obat untuk akalnya pagi ini," celetuk Tuan Wijaya.
"Apa kau bilang! Kau bilang aku gila, hah? Kau berani bilang begitu padaku?" ucap Nenek Vani. "Rasakan ini! Rasakan ini!" dia menggelitiki tubuh Tuan Wijaya. Kenapa kedua orang ini justru seperti anak kecil, sih 😑.
"Hentikan! Hentikan! Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Tuan Wijaya tiba-tiba batuk-batuk. Dia bahkan terlihat sesak napas. "Uhuk! Uhuk! Ah!" teriak Tuan Wijaya sambil memegangi dadanya.
Astaga! 😱 Tuan Wijaya tiba-tiba kehilangan kesadarannya. Tubuhnya tergeletak di ranjang itu.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1