Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episide 117 - Mempertanyakan....


__ADS_3

Sorot matanya amat tajam. Kenapa dia berubah drastis sih? Apa dia sebenarnya memendam amarah? Duh, Valko, kau masih saja sulit ditebak.


Valko berjalan di depanku. Dia berjalan sangat cepat. Aku cukup kesulitan untuk mengimbangi langkah kakinya. Valko tak menggandeng tanganku. Duh, kurasa dia benar-benar marah nih. Tak terasa sudah sampai di lobi. Sebuah mobil nampak sudah terparkir di depan lobi. Valko tak berkata apa pun dia langsung masuk ke dalam mobil itu. Aku pun turut masuk ke dalam mobil itu.


Mobil mulai berjalan. Aku dan Valko duduk di deretan kursi baris kedua. Valko duduk di ujung sana, menyisakan space yang luas di bagian tengah. Tatapan matanya dingin, dia terus menatap ke arah luar jendela. Suasana sangat hening. Pak Sopir dan Sekretaris May nampak diam. Kurasa mereka juga takut untuk berbicara. Aku harus bagaimana, ya? Rasanya canggung dan takut.


"Hub...by," panggilku lirih. Kuberanikan diriku untuk memulai pembicaraan. Kuarahkan tangan kananku untuk menyentuh Valko.


"BERHENTI!!!" teriak Valko kencang. Teriakan itu entah mengapa seperti pisau yang membuatku merasa sakit. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku tapi rasanya air mataku ingi menetes. Aku pun tertunduk dan berusaha keras menahan air mataku.


"Ada apa Tuan?" tanya Sektetaris May saat mobil ini berhenti di tepi jalan.


"Ada toko buah yang bagus, May. Itu, aku ingin membeli buah untuk Papa," terdengar suara Valko. Astaga, dia berteriak sekencang itu hanya karena ingin membeli buah. Untung aku belum sempat menangis sungguhan.


"Baik, Tuan," ucap Sekretaris May. Mobil ini mulai memasuki area toko buah itu. Mobil sudah berhenti di halaman parkir toko buah itu.


"Belilah parsel buah yang paling bagus dan mahal, May. Ajak juga dia untuk menemanimu," perintah Valko sambil menunjuk ke arah Pak Sopir.


"Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar," ucap Sekretaris May.


Suasana kembali hening tanpa suara. Valko masih saja menatap ke arah luar jendela mobil. Dia juga masih memilih untuk duduk menjauh dariku. Duh, kalau seperti ini Valko benar-benar marah.


"Zeta!" panggil Valko lirih.

__ADS_1


"Ehm, iya," sahutku.


"Apa kau bahagia menikah denganku?" tanya Valko sambil menatap ke arahku.


"Apa maksudmu, Valko?" tanyaku balik. Kukira dia akan marah karena pertemuan dengan Kai tadi. Ternyata justru pertanyaan yang tak terduga yang keluar dari mulutnya.


"Jawab saja! Kau bahagia atau tidak!" desak Valko. "Cepat jawab, Zeta!" teriak Valko sambil memegang kedua bahuku.


Kutatap mata Valko, nampak sinar kegundahan di mata itu. Itu bukan sorot mata penuh keyakinan dan keangkuhan yang biasa dia tunjukkan di depan publik. Apa dia terpengaruh oleh ucapan Kai?


"Hubby," kupegang kedua pipi Valko. "Kau selalu berusaha membuatku bahagia. Tentu aku merasakan itu," sahutku lembut. "Kenapa kau menanyakannya, Valko?"


"Aku lelah, Zeta," ucap Valko dengan suara lirih. Sorot matanya semakin meredup. Pegangan di bahuku dilepaskan. "Aku lelah," ucap Valko. Dia memelukku dengan erat. "Aku lelah untuk kehilangan. Aku lelah untuk berebut. Aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia. Aku sudah pernah kehilangan Vio, Mama dan Papa. Hidupku selalu dipenuhi dengan ambisi dan persaingan. Aku lelah, aku ingin hidupku tenang tanpa ada yang mengusik. Aku lelah untuk merasakan kembali kecewa lagi. Aku lelah untuk berpura-pura kuat hanya untuk memenangkan sesuatu. Tapi, aku juga tak mau jika orang lain mengusikku...." ucap Valko dengan suara bergetar.


"Zeta," panggil Valko. "Apa kau masih mencintai Kai?" tanya Valko. Pertanyaan itu membuatku terkejut. Tanganku spontan berhenti membelai kepala Valko.


"Dia pernah menghuni hatiku,Valko. Tapi, aku ingin melepaskannya sekarang. Aku memgatakan ini bukan karena untuk menghiburmu, tetapi karena kurasa aku ingin terbebas darinya...."


"Kau bohong, Zeta! Kau tak menjawab dengan tegas saat Kai bertanya apa kau mencintaiku!" Valko tiba-tiba bangkit. Dia menatapku tajam. "Kau pasti masih mencintai Kai kan? Jawab dengan jujur!" teriak Valko.


"Valko! Jika aku masih mencintainya lalu kenapa aku menolak saat dia mengajakku pergi? Aku menolak sebisa mungkin saat dia mengajakku pergi bersamanya! Dan, aku juga tak suka saat dia menyuruhku untuk bercerai denganmu! Aku memang tak berani menjawab dengan tegas saat itu! Tapi jika ada orang lain yang menyuruhku untuk berpisah denganmu aku tidak mau!" teriakku kencang. Ini adalah isi hatiku. Valko tiba-tiba mencium bibirku.


"Jawabanmu sudah memuaskanku, Zeta. Kata-kata tak mau berpisah denganku lebih berarti untukku daripada kata aku mencintaimu," ucap Valko.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kau yakin pada jawabanku?" tanyaku balik.


"Zeta, pernikahan kita bukan hanya butuh cinta tetapi juga membutuhkan komitmen. Cinta bisa saja naik dan turun setiap saat tapi jika kau memiliki komitmen untuk tak mau berpisah denganku, maka itu akan sangat membantu untuk memguatkan pernikahan ini. Aku belajar hal ini dari kakek dan nenekku. Valko mencium dahiku.


"Maaf, lama menunggu, Tuan," terdengar suara Sekretaris May.


"Segera pergi ke rumah sakit, May. Papa pasti sudah menungguku!" perintah Valko.


Valko menempatkan kepala di pangkuanku lagi. Matanya kembali terpejam. Valko, kau ternyata juga memikirkan ucapan Kai, ya? Kau bahkan menguping pembicaraanku dan Kai tadi meski tak cukup detail.


Kai, kuharap kita segera memiliki waktu untuk menyelesaikan hubungan ini. Aku tak ingin menyakitimu, tapi juga tak ingin terikat lagi denganmu. Aku tak inginembebani diriku dengan bayang-bayangmu terus-menerus.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2