
DRT! DRT! DRT! Terdengar bunyi getaran smartphone. Kurasa itu suara smartphone-ku. Nampak tas selempangku tergeletak di atas ranjang tempatku berbaring. Kuambil smartphone itu. Astaga! Ini video call dari ayah Valko!😨
Nampak gambar wajah Tuan Kenrick di layar smartphone itu. Duh, apa yang harus kulakukan ya? Aku belum berhasil memperbaiki hubungan Valko dan ayahnya. DRT! DRT! DRT! Video call itu masih berlangsung.
"Aku ke kamar mandi dulu, Zeta!" ucap Valko tiba-tiba. Dia segera meletakkan piring berisi bubur itu di atas meja kecil di dekat tempat tidurku. Valko segera melangkah menuju kamar mandi di kamar ini.
Aku menghela napas! 😥. Untunglah! Segera kupencet tanda reject. Maaf, Ayah Mertua, ini bukan saat yang tepat untuk menghubungiku. Bukannya aku tak mau berbicara denganmu. Ini karena aku dan Valko baru saja mengalami peristiwa yang cukup menyita emosi.
"Hah! Betapa leganya!" Valko sudah keluar dari kamar mandi. Segera kusimpan smartphone itu ke dalam tas selempangku.
"Maaf, Tuan," nampak Sekretaris May masuk ke dalam kamar lagi. "Nona sudah diperbolehkan pulang," ucapnya.
"Baguslah!" ucap Valko.
"Eh!" ucapku spontan. Valko langsung menggendongku. "Aku kuat berjalan sendiri, Hubby," ucapku sambil menatap Valko.
"Kau sedang sakit, Zeta!"
"Tapi...ehm...." ucapanku tertahan. Valko langsung mencium bibirku. Astaga, Valko, ini di lorong rumah sakit, tahu! Meski sepi tapi tetap saja para dokter dan perawat yang ada di sekitar sini melirik ke arahku.
"Jangan protes!" ucap Valko. Sudahlah, aku pun menunduk. Diriku hanya pasrah ketika Valko menggendongku sampai ke dalam mobil. Valko mendudukkanku di kursi deretan kedua.
"Tuan, ada telepon dari rekan bisnis Anda!" ucap Sekretaris May.
Valko keluar dari mobil. Aku tak bisa terjebak di keadaan ini terus-menerus. Secepat mungkin harus kutemukan cara menyatukan kembali Valko dan ayah mertua.
***
Kulihat ke dalam layar laptop. Meski yang kubuka proposal skripsiku tapi tetap saja sebenarnya pikiranku memikirkan cara penyatuan Valko dan ayah mertua. Aku harus punya momen yang tepat untuk mempertemukan keduanya. Tapi, momen apa? 😟
Saat ini masih weekend, tepatnya minggu pagi. Valko ada di ruang kerjanya bersama Sekretaris May. Kurasa membahas hal yang penting. Duh, aku harus bagaimana, ya? 😦
Pikiranku tak fokus untuk memperbaiki proposal skripsiku. Kusandarkan kepalaku di atas meja belajar. Tangan kananku hanya memggerak-gerakkan touchpad tanpa arah yang jelas. Mataku menatap ke arah layar laptop. Panah itu bergerak tak tentu arah.
"Zeta!" terdengar suara. "Ck! Ini hari Minggu! Jangan mengerjakan skripsi!" Valko menutup layar laptopku.
Astaga! Kenapa dia datang tiba-tiba, sih? 😨. Jika ditutup tentu laptopku langsung berubah jadi mode sleep. Untung saja sudah kusimpan file-nya. Kulihat Valko, dia nampak sudah rapi dengan jaket jeans serta celana jeans yang dipadukan dengan kaos warna putih. Kacamata hitam bertengger di kepalanya.
"Eh!" Valko langsung menggendongku tanpa basa-basi. "Kau mau apa?" tanyaku.
"Ayo, aku ingin mengajakmu berkeliling dengan anakku tercinta!" ucap Valko.
__ADS_1
"Anak tercinta?" ucapku sambil melongo. Dia mau apa sih sebenarnya?
Valko menggendongku menuju sebuah lift. Lift itu terasa turun ke bawah. TRING! Pintu lift itu terbuka.
"WOW!!!" aku langsung melongo.
Nampak ruangan yang sangat luas. Lantainya berupa lantai beton yang diberi lapisan semen sehingga halus. Dinding ruangan ini berwarna abu-abu cerah. Mataku takjub, ada banyak mobil mewah di dalam ruangan ini. Jumlahnya mungkin lebih dari 50 buah. Semuanya mobil-mobil mewah yang harganya ratusan bahkan mungkin milyaran rupiah.
Sebagian besar mobil itu kurasa dari dua pabrikan mobil mewah asal luar negeri. Dua logo itu sangat familiar bagiku. Kuda jingkrak warna hitam dan banteng warna emas. Kurasa ruangan ini ada di bawah tanah. Pasti ini ruang garasi. Diantara mobil-mobil itu nampak mobil mungil warna pink yang mencolok.
"Pinky!" ucapku.
"Oh ya, itu mobilmu, Zeta!" Valko memggendongku menuju mobilku. Mobil itu nampak sangat bersih, seperti baru.
"Apa ini benar-benar Pinky?" ucapku takjub.
"Kenapa? Kau menemukan kerusakan? Bagian yang mana? Aku akan memarahi pegawai yang ceroboh itu nanti, Zeta!" ucap Valko sambil berkacak pinggang.
"Ehm...Valko, tak ada bagian yang rusak. Aku hanya takjub karena mobilku nampak sangat bersih. Bahkan, mungkin setitik debu pun tak ada...." ucapku jujur.
"Tentu, ini adalah anak kesayanganmu, Zeta. Tentu harus dirawat dengan baik seperti anak-anakku!" ucap Valko.
Oh, jadi yang dimaksud anak tercinta oleh Valko adalah mobil? Kurasa dia penggemar fanatik mobil sampai-sampai memanggil mobil koleksinya dengan sebutan anak tercinta.
"Ehm...." Valko menggendongku menuju sebuah mobil.
Astaga, ini mobil mewah seharga belasan milyar itu? 😮. Nampak mobil berwarna silver metalik. Lambang banteng berwarna emas nampak di body mobil itu. Mobil itu tanpa atap. Nampak tempat duduk untuk dua orang. Tempat duduk itu berwarna merah. Interior di dalam mobil hampir seluruhnya berwarna merah. Petugas itu membukakan pintu mobil itu. Valko mendudukkanku di kursi dekat pengemudi. Setelah memasangkan sabuk pengaman padaku. Valko duduk di kursi pengemudi.
BRUM! BRUM! Mesin mobil itu dinyalakan oleh Valko. Suaranya meraung-raung. Aku masih saja melongo karena kagum. Keluargaku memang cukup berada tapi tak sampai punya mobil seharga belasan milyar seperti ini. Paling mahal harganya ratusan juta rupiah, tak sampai 1 milyar bahkan.
"Pake ini!" Valko memakaikan masker hijau, topi hitam dan kacamata hitam padaku. "Aku tak suka pria lain melirikmu!" ucap Valko.
Cahaya nampak mulai menerobos masuk ke dalam ruangan ini. Ternyata itu pintu garasi yang mulai terbuka. BRUM! Mesin mobil itu kembali meraung. Mobil ini mulai melaju keluar dari area garasi. Dalam sekejap mobil sudah sampai di jalan raya.
Valko memacu mobil itu semakin kencang sehingga tanpa kusadari sudah masuk ke dalam area jalan tol. Mobil berhenti sejenak untuk mengantri di gerbang masuk tol. Setelah membayar, palang pintu itu terangkat. Mobil ini belum dipacu dengan kencang. Baru kusadari jika ada dua mobil jenis SUV warna hitam di depan dan belakang mobil ini. Kurasa itu mobil para pengawal Valko. Mobil di depan seolah sengaja menepi. BRUM!!! Valko langsung memacu kencang mobil yang dipanggil Grey-Ko ini.
Angin menerpa wajahku dari arah depan. Rambutku hanya kukuncir satu di belakang. Tentu saja rambutku berkibar-kibar terkena angin. Rambut Valko apalagi, rambutnya tak dikuncir, jadi tentu saja berkibar ke segala arah karena tertiup angin.
Mobil melaju semakin kencang. Apa aku sedang bermimpi? Aku berasa mimpi bisa naik mobil sport semewah ini. Rasanya aku seperti terjebak di kisah film saja. Saat aku melihat Valko, mataku seolah tak berkedip. Valko terlihat cool saat menyetir mobil sport seperti ini. Oh, Valko, kenapa sih, kau tambah memesona! 😍
"Apa ini mimpi? Valko, kau sangat memesona!" ucapku tanpa sadar. Mulutku langsung kubekap.
__ADS_1
"Hahaha!" terdengar suara tawa. "Kau memang lucu, Zeta! Kurasa level kebucinanmu padaku semakin meningkat drastis! Hahaha!" ucap Valko. Ih, ini memalukan! 😳.
Laju mobil ini berkurang karena ada mobil sport sejenis warna coklat tua di depan. Valko mencoba menyalip mobil itu. Tapi, seolah mobil itu menolak untuk menyingkir.
"Kau mau menantangku, ya!" ucap Valko.
Valko menggerakkan mobil ini ke arah kiri dan kanan. Mobil itu seolah enggan memberikan jalan. Tiba-tiba saja Valko memelankan mobil ini. Kenapa? Apa Valko sudah menyerah menyalip mobil itu? 😮
BRUM!!! WUSH!!! Tiba-tiba Valko kembali mempercepat mobil ini. Mobil di depan sudah menepi ke arah kanan. Dengan cepat dan gesit Valko menyalip dari arah kiri.
"YEEEE!!!!" teriakku spontan sambil mengangkat kedua tanganku ke atas.
"Kau sepertinya mulai menikmati suasana ya, Sayangku, Taeyang!" ucap Valko.
"Tentu, kau hebat, Hubby. Bisa menyalip mobil sombong tadi!" sahutku.
"Hahaha!" Valko tertawa. "Tak kusangka kau bisa tahan kuajak kebut-kebutan. Kukira kau akan mabuk. Kurasa aku mendapat pasangan yang tepat untuk mengajak jalan-jalan anak-anakku tercinta!" ucap Valko sambil menambah kecepatan mobil ini.
"Valko," panggilku.
"Ehm? Kenapa? Kau kepanasan, ya?" ucap Valko. Atap mobil ini turun secara otomatis.
"Aku tak kepanasan, Hubby. Aku hanya ingin tahu, kenapa mobil eh...maksudku anak ini namanya Grey-Ko?"
"Oh, itu rupanya. Grey itu artinya abu-abu dan Ko asalnya dari namaku Valko. Jika diartikan artinya si abu-abu milik Valko," ucap Valko.
"Apa semua mobil di garasi itu punya nama?" tanyaku penasaran.
"Tentu saja. Aku akan memperkenalkannya nanti. Satu demi satu," ucap Valko sambil memperlambat laju mobil ini. Mobil ini mulai memasuki area jalan raya di perkotaan.
"Hubby, kita mau kemana? Ini bukan arah menuju rumah...."
"Tentu saja, melanjutkan kencan kita, Sayangku!" ucap Valko sambil mencolek daguku.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
Thank you 😍