
"AAAAAA!!!!!" teriakku sekencang mungkin. Tubuhku sudah ada di dekapan Valko. BRUK!!! Tanpa pikir panjang kutendang dia. BUMMM!!!! Suara benda jatuh terdengar. Apa yang terjadi? Apa tadi malam dia sudah melakukan hal itu padaku? 😢
"ADUH!!!!" Terdengar teriakan memengkakkan telinga. Astaga, aku lupa jika aku sudah menendang Valko. "Apa kau sudah gila?" ia berteriak padaku.
"Ampun, Tuan. Ampun!" aku berjongkok pura-pura meminta maaf padanya. "Saya tidak tahu jika Tuan tidur di sofa! Ampuni saya, Tuan! Saya benar-benar tak sengaja!" aku memang sengaja menendangmu Valko.
"Kau menyalahkanku karena tidur di sofa?" ia menekan daguku. "Kau pikir siapa dirimu?" mata Valko menatapku.
"Saya tak berani, Tuan. Saya salah! Tolong kasihani hamba yang tak berdaya ini. Saya hanya manusia kecil yang tak berguna. Saya benar-benar mimpi buruk!" aku pura-pura menunduk memohon di kakinya. Tapi sebenarnya, kujalankan strategi pertamaku hari ini...
"HUH!!! ia menghempaskan wajahku. "Kau kulepaskan kali ini, Tupai Kecil!" ia berjalan membelakangiku. Dalam hati kuhitung mundur, satu...dua...tiga....GUBRAK!!! BUM!!! Terdengar suara benda jatuh. "ADUH!!!" terdengar teriakan Valko, Si Serigala Playboy itu. Ia tersandung oleh tali sepatunya sendiri. Ia nampak memegangi dahinya yang benjol karena terbentur. Aku menahan tawaku sebisa mungkin. Rasakan itu Valko! Itu pelajaran pertama untukmu hari ini!
"Apa yang kau lakukan padaku, Tupai Kecil?!" ia menunjuk ke arahku. "Kau sengaja melukaiku?" astaga, apa dia melihat apa yang sudah kulakukan tadi? "Kau kan yang membuatku terjatuh? HAH?! Cepat! Mengakulah!"
__ADS_1
"Apa maksud, Tuan? Saya tak tahu apa pun, Tuan. Bukankah dari tadi saya berjongkok di lantai?" aku mengelak. "Bagaimana hamba yang lemah dan tak berdaya ini memiliki kemampuan dan keberanian mencelakai Tuan?" mataku sengaja kubuat sememelas mungkin. Jika ini tak berhasil maka sia-sia saja pelajaran aktingku sebagai aktris di organisasi teater kampus.
"May! May!" teriak Valko, kurasa dia percaya pada ucapan dan aktingku. Nampak seorang pria botak yang selalu memakai jas hitam membuka pintu kamar. Dia adalah Sekretaris May, sekretaris pribadi Valko.
"Iya, Tuan. Ada apa?"
"Panggilkan dokter! Aku terluka!" gertak Valko. Dasar manja! Padahal itu hanya luka benjol yang tak seberapa. Aku tak peduli, kuperiksa pakaianku. Sepertinya tadi malam Valko mengingau dan tak sengaja berpindah tempat saja. Untunglah! Tubuhku yang berharga itu masih selamat! Kulipat selimutku dan bergegas pergi menuju kamar lain.
"Saya ingin pergi ke kamar lain, Tuan. Tupai Jelek ini tak pantas berada sekamar dengan Tuan," jawabku.
"Kau tetap di kamar ini sebagai pelayanku setiap malam!" teriaknya. Aku hanya santai saja, hal ini sudah kuduga sebelumnya.
"Tuan, Tupai Jelek ini memiliki penyakit kulit! Saya takut akan menulari Tuan jika kita sekamar. Saya mohon pertimbangkan lagi. Demi kesehatan kulit Tuan yang berharga seperti mutiara!" aku pura-pura memujinya padahal sebenarnya hanya menjilat saja agar tak tidur sekamar dengan Valko, Si Serigala ini.
__ADS_1
"Kalau begitu temani aku mandi!" ucapnya sambil tersenyum licik. "Aku ingin melihat dimana saja sakit kulit, Tupai Kecilku ini!" ia memegangi daguku.
WHAT? Mengapa jadi begini? Sial, aku terperangkap senjataku sendiri. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1