
"Ini yang disebut memancing ular keluar dari sarangnya...." ucap Valko.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Kak Hana. Dia mencoba melawan dengan meronta-ronta. Perlawanan yang dilakukan Kak Hana sia-sia saja, empat orang pengawal Valko dengan sigap menahannya. Tubuhku masih kaku dan merasa gemetar. Seolah aku tak punya kekuatan untuk berbicara.
"Lepaskan aku! Lepas!" teriak Kak Hana. Tangannya sudah ditahan di belakang tubuhnya. Kedua tangan itu diborgol. "Valko! Aku mencintaimu! Aku melakukan ini karena aku mencintaimu!" teriak Kak Hana kencang.
"Tutup mulutmu!" teriak Valko. "Tahu apa kau tentang cinta, Hana! Kau hanya tahu cara menyakiti seseorang! Kau dulu menyakiti Vio dengan menguncinya di kamar mandi dan menyebarkan kabar bahwa Vio meninggal karena mendapat kiriman penyakit aneh. Orang macam apa kau! Kau tak berhak bicara tentang cinta! Kau monster yang hanya tahu cara menyakiti orang! Aku sudah tahu apa yang kau lakulan pada Vio di masa lalu tapi aku hanya bisa diam karena terhalang oleh kekuasaan kakekku. Ya, kakekku memang tak menyetujui hubunganku dan Vio tapi aku tetap menyelidiki pelakunya dengan bantuan Tyo dan Ricko. Dulu aku membiarkanmu lepas karena Vio menghilang. Aku sudah memilih diam dan tak memgungkit masa lalu karena aku ingin membuka lembaran baru bersama Zeta. Tapi sekarang aku takkan membiarkanmu lagi! Aku takkan tinggal diam jika kau berani menyakiti istriku! Aku pastikan kau akan mendapat hukuman setimpal!" teriak Valko lantang.
"Hahaha! Hahaha! Hahaha!" Kak Hana justru tertawa. "Aku bahagia, Valko! Hahaha!" dia justru tersenyum. "Aku rupanya berhasil membuatmu memikirkanku! Oh, Sayangku! Betapa bahagianua diriku! Aku tahu jika memang hanya aku yang ada di pikiranmu kan, Sayang?" Hahaha!" teriak Kak Hana.
Astaga, mengapa Kak Hana berubah jadi seperti ini, sih? 😦 Apa dia punya gangguan mental? 😨.
"Iya, benar! Aku itu aku. Aku yang mengunci Vio di kamar mandi! Aku juga yang menyebarkan gosip jika Vio meninggal akibat penyakit aneh! Aku jugalah yang menjatuhkan pot itu! Aku juga yang menghancurkan ruko jelek dan kumuh itu! Hahaha! Itu kulakukan agar wanita sialan itu menjauh darimu, Sayangku! Muach!" Kak Hana memajukan bibirnya seolah mencium Valko. Astaga, kurasa dia benar-benar memiliki gangguan mental 😨.
"Jangan pernah menyebutku dengan panggilan itu. Aku tak pernah sudi dipanggil seperti itu olehmu!" teriak Valko sambil mencengkeram dagu Kak Hana.
"Kenapa kau melakukannya?!" teriakku. "Kau wanita! Kenapa kau tega menyakitiku dan Kak Vio?!" teriakku sambil menunjuk wanita itu.
"Kenapa? Kenapa? Hahaha!" dia tertawa. "Kenapa....huhuhu....." Kak Hana tiba-tiba saja menangis. "Kau tak tahu bagaimana rasanya memendam perasaan pada seseorang. Kau tak tahu bagaimana rasanya menginginkan seseorang tapi hanya bisa diam saja. Huhuhu....kekuargaku broken home....aku juga ingin bahagia. Aku ingin Valko....hahaha...aku ingin jadi istri Valko....hahaha...." Kak Hana tiba-tiba tertawa lagi. "Tapi...huhuhu...." Kak Hana menangis kembali tapi Valko sama sekali tak melirikku...huhuhu...dia hanya melirik Vio...si adek tingkat jelek itu! Aku kurang apa, sih? Aku cantik dan juga menarik! Kenapa dia tak melirikku....huhuhu.... Valko, Sayangku! Aku selalu memikirkanmu siang dan malam! Namamu selalu kusebut di setiap napasku...aku mencintaimu, Sayang! Hahaha!" Kak Hana tertawa lagi.
"May!" teriak Valko. "Bawa wanita ini! Pastikan kau mengawasinya dengan ketat! Aku ingin dia segera mendapat hukuman setimpal!" teriak Valko sambil menatap tajam ke arah Kak Hana.
"Hahaha! Kau takkan lolos, Zeta! Kau takkan lolos! Aku akan memastikan kau mati di tanganku! Lau harus mati! Kau harus mati!" teriak Kak Hana.
Mati? Kepalaku merasa berdenyut. Pandanganku mulai kabur. Entah mengapa dunia gelap seketika!
"Zeta! Zeta!" terdengar teriakan Valko sebelum aku merasa semuanya menjadi gelap.
Dimana aku? Kubuka mataku perlahan-lahan. Nampak sesuatu berwarna putih. Samar-samar benda itu semakin terlihat. Oh, rupanya plafon yang berwarna putih.
__ADS_1
"Bagaimana kau ini! Kenapa istriku belum bangun? Kau bilang dia baik-baik saja!" terdengar teriakan. Itu kan suara Valko. Nampak Valko sedang mencengkeram kerah leher seorang pria berjas putih. "Cepat! Buat dia bangun!" teriak Valko lagi.
"Tuan, mohon bersabarlah!" nampak Sekretaris May mencoba melerai keduanya.
"Tuan, mohon sabarlah...." ucap pria itu. "Nona, hanya pingsan karena ehm...shock dan punya gejala mag... Kondisi Nona baik-baik saja, Tuan...."
"Lalu kenapa dia belum bangun! Bangunkan dia! Atau aku akan membuatmu terkapar di ranjang! Percuma aku mendirikan rumah sakit kelas elit jika hanya menolong wanita yang paling kucintai saja tak becus!" teriak Valko lantang. Ah! Valko, mengapa hatiku berbunga-bunga mendengar ucapanmu? 😍
"Hub...by...." panggilku lirih. Ketiga pasang mata itu langsung mengarah kepadaku.
"Zeta!" teriak Valko. Dia langsung memelukku erat. "Aku takut! Aku takut kau tak bangun lagi..." ucap Valko. "Ini salahku, Zeta! Salahku! Seharusnya aku tak melibatkanmu! Aku sudah membuatmu jadi begini! Maafkan aku! Maafkan aku!" ucap Valko. Valko, kenapa nada bicaramu terlihat sedih sih? Sebegitu khawatirnya kau denganku? 😢
"Aku baik-baik saja, Hubby. Tenangah...." sahutku sambil memeluk Valko.
"Kenapa kau tak bilang jika punya sakit mag? Pantas saja dulu kau sampai kabur dengan memanjat pohon saat lapar. Aku takkan membiarkanmu terlambat makan lagi, Zeta...." ucap Valko sambil membelai kepalaku. Tunggu, dia belum menjelaskan apa yang sudah dia lakukan tadi. "AU! Sakit!" teriak Valko saat kucupit perutnya. "Sakit, Zeta!" Valko melepaskan pelukannya. "Kenapa kau mencubitku? Aku salah apa?" tanya Valko.
"Ehm...tapi jangan lama-lama.... Aku tak suka jika pria lain berada di dekatnya!" ucap Valko sambil berkacak pinggang.
"Baiklah, Tuan...." ucap dokter itu sambil memeriksaku. Pak Dokter, sabar ya. Valko memang super posesif! 😓
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Valko.
"Nona, baik-baik saja, Tuan. Nona hanya butuh istirahat sebentar dan segera makan serta minum obat," ucap dokter itu.
Seorang perawat nampak masuk ke ruangan ini. Perawat itu membawa nampan. Nampan itu diletakkan di meja di dekat ranjang tempatku tidur.
"Ini makanan serta obat untuk Nona, Tuan," ucap Dokter itu.
"Ehm...kalian boleh pergi!" ucap Valko. Valko duduk di tepi ranjang. "Biar aku menyuapimu, Zeta!" Valko mulai menyuapiku.
__ADS_1
Tak enak punya sakit mag 😭. Kambuh sedikit saja rasanya menyakitkan. Aku harus makan bubur, padahal aku ingin makan makanan korea di restoran tadi 😢. Kuterima suapan dari tangan Valko.
"Valko...." panggilku. "Kepalamu bagaimana? Kau membuatku khawatir, tahu!" ucapku sambil membelai kepala Valko.
"Tenang, kepalaku baik-baik saja. Tudung hoodie itu melindungiku dari benturan. Darah yang kau lihat hanya darah palsu. Darah itu kuletakkan di tudung hoodie-ku, sehingga saat aku pura-pura terjatuh seperti berdarah sungguhan," Valko menyuapiku.
"Lalu....bagaimana dengan para pengawalmu? Dan....juga penabrak itu?" tanyaku sambil menekan bubur itu.
"Mereka stuntman profesional yang sudah biasa melakukan adegan tertabrak atau aksi lainnya. Begitu juga penabrak itu."
"Kenapa kau tak menangkap Kak Hana secara langsung? Kenapa kau harus melibatkan dirimu! Kau kan bisa terluka...." ucapku sambil membelai kepala Valko.
"Aku belum punya cukup bukti untuk menjerat Kak Hana. Di masa lalu penyelidikanku tidak berjalan sepenuhnya karena kakekku membatasiku gerakanku. Dulu aku gagal melindungi Vio karena tak punya kekuasaan yang kuat. Sekarang aku tak mau gagal melindungimu, Zeta. Ayo, makan lagi!" Valko menyuapiku kembali.
"Hana melakukannya aksinya hampir tanpa meninggalkan jejak. Butikmu tak ada CCTV. CCTV di sekitar juga tak bisa memberi banyak petunjuk karena Hana selalu memakai menutupi wajahnya dengan masker, tudung hoodie dan kacamata hitam. Dia juga merusak CCTV sebelum beraksi saat kasus pot itu. Dia juga selalu memakai sarung tangan sehingga tak ada bukti sidik jari. Tapi, dia lupa jika chat-nya tetap saja bisa dilacak. Aku bisa menjebloskannya ke penjara dengan tuduhan ancaman lewat media elektronik tapi itu bukan hukuman yang setimpal. Karena itu aku sengaja berpura-pura terluka sehingga dia bisa keluar dari persembunyiannya dan mengakui perbuatannya. Pelan-pelan makannya, Zeta. Jangan belepotan!" tangan Valko mengusap bibirku. Ah, Valko, kenapa ya jika seperti ini kau membuatku melting! 😍
DRT! DRT! DRT! Terdengar bunyi getaran smartphone. Kurasa itu suara smartphone-ku. Nampak tas selempangku tergeletak di atas ranjamg tempatku berbaring. Kuambil smartphone itu. Astaga! Ini video call dari ayah Valko! 😨
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Valko dan Zeta bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
Thank you 😍
__ADS_1