Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 86 - Menjenguk....


__ADS_3

Sepanjang perjalanan aku lebih memilih pura-pura tertidur. Kepalaku menyandar di kursi bus ini. Ribet sekali sih, hidupku. Kukira jadi istri CEO kaya itu enak, semua serba berkecukupan tapi ternyata justru membuatku muak. Aku menghela napas, aku jadi rindu kehidupanku yang sederhana dan bebas, tidak ribet seperti ini.


"Nona," terdengar suara seseorang menyentuh pundakku. "Maaf, Nona, saat ini sudah tiba di rumah sakit," bahuku berasa disentuh dengan lembut. Mataku pun kubuka.


"Ehm...baiklah," sahutku sambil membenahi penampilanku. Sebaiknya aku memakai masker saja, topi dan kacamata hitam sebaiknya kulepas.


"Nona, mengapa Anda melepas topi dan kacamata hitam yang diberikan Tuan Valko?" ucap Ninda dengan panik. "Cepat, pakai kembali, Nona!" ucapnya lagi.


"Aku akan berkunjung ke rumah sakit. Aneh jika aku memakai topi dan kacamata hitam! Sudahlah, biar nanti aku yang menjelaskan hal ini pada Valko. Oh ya, yang ikut masuk ke dalam kau saja, Ninda!" ucapku tegas sambil berdiri.


"Tapi, Nona...." Ninda berusaha mendebatku.


"Aku akan memgunjungi ayah mertuaku, Tuan Kenrick. Di dalam sana juga ada kakek Valko. Lagipula ini di rumah sakit! Jika banyak orang yang ikut masuk akan membuat gaduh! Sudah, ayo masuk! Tolong bantu aku membawa parcel itu!" aku pun berjalan keluar dari bus diikuti oleh Ninda.


Nampak gedung rumah sakit bertingkat sepuluh. Gedung itu bernuansa biru muda. Nampak tulisan berwarna biru tua yang berbunyi "Rumah Sakit XYZ". Kurasa bus ini jadi kendaraan paling antimainstream yang terparkir di area parkir rumah sakit ini. Kendaraan lain hanya berupa mobil atau sepeda motor. Lobi rumah sakit berada tak jauh dari area rumah sakit ini. Nampak seorang perempuan sudah berdiri di dekat lobi itu. Aku segera melepas masker yang menutupi wajahku.


"Tata!" panggil perempuan itu. "Ah! Putriku tercinta! Aku rindu padamu, Sayang!" ia memelukku dengan erat. Mama, kenapa kau tak ada bedanya dengan Valko sih? Wajahku juga dicium tanpa henti. "Kau lama sekali. Aku sampe bosan menunggumu, Ta. Oh ya, siapa dia? Apa gadis ini asisten pribadimu?" tanya Mama. Dia menatap ke arah Ninda.


"Ehm...ya...anggap saja seperti itu, Ma," sahutku singkat. Aku malas menceritakan keribetan yang sudah kualami agar bisa sampai di sini. "Dia namanya Ninda."


"Ayo, kita masuk, Ta!" ajak Mama.


Mama menuntunku masuk ke dalam area rumah sakit itu. Sama seperti bagian luarnya, bagian dalam rumah sakit ini juga bernuansa biru muda. Lantainya berupa keramik warna putih. Mama menutunku menaiki sebuah lift. TRING! Tak berselang lama, pintu lift terbuka. Nampak sebuah ruangan dengan pintu warna coklat tua. Di pintu itu ada sebuah tulisan "Ruang Rawat VVIP". Mama membuka pintu ruangan itu.


Nampak sebuah ruangan yang luas. Kamar itu berwarna biru muda. Ada dua buah sofa lengkap dengan sebuah meja kaca. Ada juga televisi layar datar berukuran besar. Kulkas dua pintu juga tersedia di ruangan itu. Dua buah AC juga terpasang di ruangan itu. Ini ya yang namanya ruang perawatan mewah? 😮. Seorang pria nampak terbaring di ranjang besi itu. Seorang perempuan dan pria yang sudah uzur setia menemani di sampingnya.

__ADS_1


"Ah, Zeta!" sapa Nenek Vani. Dia memelukku dengan erat. "Kenapa kau tambah kurus? Apa cucuku nakal dan tak memberimu makan yang cukup?" ucap Nenek Vani sambil mengamatiku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ck! Kenapa aku dianggap kurus sih? 😑 Padahal kan aku hanya menjaga berat badanku saja agar tetap langsung dan ideal.


"Kakek!" segera kusalami Tuan Fajar Wijaya atau Kakek Fajar.


"Oh, kau Zeta!" ucap Kakek Fajar saat kucium tangan kanannya. "Cucu menantu yang baik. Kau pasti datang untuk menjenguk Kenrick kan?"


"Ehm...iya, Kek. Ehm...saya juga membawakan parcel untuk Tuan Kenrick eh maksudku ayah mertua," ucapku sambil tersenyum.


"Ah, kau tak perlu repot-repot membawakan parcel, Cu!" ucap Kakek Fajar. Ninda meletakkan parcel itu di atas meja kaca.


"Saya akan menunggu di luar kamar. Saya permisi Nona, Tuan, dan Nyonya," ucap Ninda. Wow, pengawal Valko sudah terlatih sekali soal etika dan tatakrama. Aku tak perlu menyuruh, tapi mereka sudah peka dengan sendirinya.


"Nona," terdengar suara memanggilku. Ternyata itu suara Tuan Kenrick. Dia nampak membuka matanya. "Ah!" dia berusaha bangun dari posisi berbaring.


"Kenrick!" ucap Nenek Vani. "Kau berbaring saja! Jangan paksakan dirimu, dasar anak nakal!"


"Ken, dia adalah menantumu. Dia istri Valko, putramu. Namanya Zeta," ucap Kakek Fajar.


"Menantuku? Astaga! Kenapa dia nampak berbeda sekali dengan foto yang beredar di media!" Tuan Kenrick menatapku tajam.


"Kau tahu kan kualitas foto yang tercetak di setiap media berbeda-beda. Mungkin saja foto yang kau lihat itu kualitasnya kurang baik," celetuk Nenek Vani. Padahal waktu itu aku memang sengaja membuat kulit wajahku terlihat lebih gelap.


"Ayah mertua," panggilku sambil mendekati Tuan Kenrick.


"Oh, Nak. Betapa beruntungnya putraku bisa menikahimu," Tuan Kenrick menggenggam tanganku. "Kau baik hati pada semua orang. Kau juga cantik mirip dengan Rara."

__ADS_1


"Rara?" ucapku spontan. "Siapa itu?"


"Rara adalah panggilan sayangku untuk istriku Parama," jawab Tuan Kenrick. "Oh ya, bagaimana kabar putraku?" tanya Tuan Kenrick. Duh, aku harus menjawab apa. Valko masih enggan menemui Tuan Kenrick.


"Ehm...Valko...." aku harus mengatakan apa.


"Valko masih trauma akibat ulahmu. Aku harus bilang berapa kali? Cucuku trauma akibat pernah kau pukuli sewaktu kecil!" ucap Nenek Vani dengan ketus.


"Ehm...jadi begitu," Tuan Kenrick tertunduk. "Seharusnya dulu aku tak memukulnya. Aku memang ayah yang buruk!" mata Tuan Kenrick nampak berkaca-kaca.


"Sudahlah, Ken. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Yang terpenting sembuhkanlah dirimu terlebih dahulu. Oh ya, anggap saja sedikit kesalahanmu sudah terbayar dengan menyelamatkan menantumu," ucap Kakek Fajar. "Aku heran bagaimana bisa pot jatuh dari rooftop restoran itu. Aneh, pot yang menimpamu ukurannya cukup besar. Mana mungkin jatuh akibat tertiup angin."


"Sudahlah, jangan bahas hal itu lagi. Cucuku Valko sedang menyelidikinya. Yang terpenting cucu menantuku dan putraku dalam kondisi selamat," sahut Nenek Vani. "Oh ya, Ken, apa kau tak ingin menceritakan kepada menantumu kemana saja kau selama ini? Zeta pasti penasaran."


"Benar, Ibu. Kurasa aku harus menjelaskan hal itu agar menantuku tak bingung," Tuan Kenrick menatapku.


Ayah mertua, salah satu tujuanku kemari memang untuk mendengar penjelasanmu tentang hal ini....😐


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2