Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episide 132 - Parfum Bunga Bangkai


__ADS_3

"Aku merindukanmu!" dia langsung memeluk Valko. Sial! Siapa gadis ini? Beraninya dia! 😡 Pandanganku tertuju pada wanita itu. Ih, dia menyebalkan sekali.


"Bella, lama tak bertemu!" celetuk Valko. Valko justru bereaksi biasa saja saat wanita itu memeluknya. "Kapan kau kembali?" tanya Valko sambil menerima pelukan wanita itu.


Ih, Valko! Kau menyebalkan! Kau bahkan tak mengizinkanku tersenyum pada sekertarismu sendiri tapi kau dengan enteng membiarkan wanita lain memelukmu! 😡


"Aku baru saja sampe beberapa hari yang lalu. Aku merindukanmu, Varko!" ucap wanita itu lagi.


"Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini!" sahut Valko.


Uh! Valko! Kau menyebalkan! 😡. Apa kau lupa jika aku ada tepat di dekatmu. Aku hanya beberapa langkah dari tempatmu berdiri. Ih! Siapa sih wanita menyebalkan ini! 😡


"Itu Bella, Zeta. Dia adalah adik sepupunya Tyo. Bella dan Valko dulu adalah teman satu kelas saat menempuh pendidikan magister di Eropa. Bella punya bisnis di Eropa. Bisa dibilang Bella adalah teman dekat Valko saat bersekolah di Eropa. Kata Tyo, hubungan keduanya sudah dekat layaknya saudara. Bella itu agak cadel," terdengar suara seseorang. Rupanya itu suara Ricko, sahabatnya Valko.


Oh, jadi wanita ini adalah sepupunya Tyo. Dia juga kebetulan adalah teman dekat Valko saat menempuh kuliah di Eropa. Ih, tapi jika cuma teman tak mungkin memeluk selengket itu.


Bella! Kau sudah berani menyentuh Valko. Jangan salahkan aku jika membalasmu. Aku adalah wanita yang tidak suka diganggu. Jika kau berani mengusikku maka aku akan membalasmu. Biar kutunjukkan duri-duriku! Atau namaku bukan Zeta (mawar)!


Aku harus main halus. Tidak elegan rasanya jika bermain kasar dengan langsung memisahkan Valko dan Bella. Ah, iya, aku bisa memanfaatkan Ricko. Dia kan pria yang lumayan tampan. Bella! Lihat bagaimana kubuat Valko langsung berpaling darimu!


"Aduh, kepalaku!" Kupegangi kepalaku dengan tangan kananku. Kuubah wajahku menjadi ekspresi kesakitan karena sakit kepala. Aku adalah ratu akting teater kampus, berakting adalah urusan kecil bagiku. "Aduh!" Kugerakkan badanku agar seolah nyaris terhuyung jatuh. Kujatuhkan diriku di depan Ricko.


"Zeta!" terdengar suara Ricko. Seperti rencanaku dia langsung menopang tubuhku. Bahu kanan dan tangan kiriku dipegang oleh Ricko. "Kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?" tanya Ricko.


"Kepalaku pusing, Kak Ricko!" sahutku. Suaraku sengaja kukeraskan agar Valko dan Bella memdengarnya. "Aku tadi mengalami mabuk laut saat naik kapal menuju kemari! Sekarang rasanya tubuhku lemas dan pusing!" Kutatap mata Ricko. Suaraku sengaja kukeraskan. "Kepalaku sangat pusing, Kak!" Kusandarkan kepalaku di bahu kanan Ricko.


"Zeta!" terdengar suara teriakan. Kuarahkan mataku ke arah suara itu. Nampak Valko menatap ke arahku dengan tatapan tajam. Itu tatapan kecemburuan pastinya. Valko langsung mendorong wanita bernama Bella itu. Hihihi, rasakan itu.


"Kepalaku pusing!" ujarku lagi.


"Astaga! Kau kenapa?" Valko langsung mendekat ke arahku.


"Kepalaku pusing, Hubby. Tubuhku rasanya lemas, Hubby!" sahutku. Sengaja kukeraskan suaraku pada kata 'Hubby' agar Si Bella mendengarnya. "Aku nyaris terjatuh karena tak kuat berdiri. Untung ada Kak Ricko. Kak Ricko, terima kasih sudah menopang tubuhku. Kakak memang pria yang tampan yang punya sifat sigap dan peka!" ujarku. Valko langsung memberi tatapan mematikan ke arah Ricko.

__ADS_1


"Huh! Ayo, Zeta!" Valko menarik tubuhku. Dia langsung menggendongku. "Sebaiknya kau istirahat di kamar yang sudah disiapkan Tyo untuk kita!"


Valko melangkah menuju pintu masuk di dermaga itu. Kepalaku kusandarkan pada bahu Valko. Kucuri pandang ke arah Bella, dia nampak tak suka. Ekspresi itu tergambar dengan jelas di wajahnya yang masam. Hihihi, rasakan pembalasanku.


"Tuan Valko, silahkan masuk. Maaf membuat Anda menunggu," sapa seorang petugas penjaga pintu itu. Dia memberikan prioritas kepads Valko untuk masuk duluan menuju pintu pemeriksaan. Valko tetap berusaha memggendongku saat melewati metal detector yang terpasang di pintu masuk itu.


"Istriku sedang sakit. Jangan mempersulit pemeriksaanku!" ucap Valko sambil menatap dingin ke arah para petugas keamanan itu.


"Tentu, Tuan. Anda adalah tamu VVIP, Tuan Muda Tyo sudah mengganggap Anda seperti saudara sendiri. Mari saya antarkan menuju kamar Anda," sahut salah seorang petugas.


Petugas itu mengantar menuju sebuah bangunan megah berwarna putih. Bangunan itu bertingkat-tingkat menjulang tinggi ke angkasa. Wow, bahkan rumah orang super kaya di pulau pribadi itu mirip hotel, ya. Dua pengawal penjaga pintu membukakan pintu masuk yang terbuat dari kaca. Begitu masuk ke dalam lobi, nuansa kuning yang elegan langsung menyambut. Dari lobinya saja, sudah nampak mewah. Bagian dinding dan atap lobi dihiasi ornamen-ornamen flora dan fauna yang megah berwarna keemasan. Lampu gantung kristal yang megah tergantung di tengah-tengah lobi itu. Lantainya berlapis marmer warna putih abu-abu. Ini hunian pribadi atau hotel, ya? Megah sekali.


"Silahkan, Tuan," pengawal itu memandu Valko masuk menuju ke sebuah lift. Tak lama berselang pintu lift terbuka. "Ini kamar yang dipersiapkan oleh Tuan Tyo. Kamar ini sudah diperiksa oleh tim keamanan kami. Tim keamanan Anda juga sudah memeriksanya ulang, Tuan," ujar pengawal itu.


"Tuan," terdengar suara Sekretaris May.


"May, buatkan minuman pereda mabuk laut lagi. Zeta kembali lemas dan pusing!" perintah Valko.


"Istirahatlah, Honey." Valko membaringkanku di atas ranjang. "Apa kau ingin muntah?" tangan Valko membelai kepalaku. Aku hanya menggeleng. "Baiklah, mungkin kau hanya butuh tidur. Sudah, sekarang tidurlah." Valko berbaring di sampingku, dia lalu memeluk tubuhku. "Sudah tidurlah, kau butuh istirahat!" Valko mulai membelai kepalaku dengan lembut. Tunggu! Aku masih harus menyingkirkan sesuatu. Segera kubuka kancing kemeja putih dan dasi merah di leher Valko.


"Hey, Zeta! Apa yang kau lakukan? Aku menyuruhmu untuk tidur. Kenapa kau jadi melepas pakaianku? Apa kau ingin ...." Valko menatapku.


"Aku tak bisa tidur jika ada tanda bekas wanita lain masih menempel di tubuhmu!" ucapku spontan. Ih, kenapa mulutku berkata yang sebenarnya sih.


"Wanita lain? Siapa yang kau maksud? Maksudmu Bella?" Valko menatapku semakin tajam.


"Iya, Bella. Aku tak suka jika bau parfum wanita itu menempel di pakaianmu!" ucapku asal. Ini hanya alasan asal saja. Jika dipikir memang kurang masuk akal sih. Mana mungkin bau parfum bisa menempel di pakaian orang lain. "Cepat! Lepas!" Kutarik kemaja dan jas yang dikenakan Valko.


"Iya, iya. Mana mungkin parfum bisa menempel di pakaian semudah itu," sahut Valko. Dia melepas kemeja putih, dasi dan jasnya. "Sepertinya ada yang sedang terbakar api cemburu!"


"Siapa yang cemburu? Aku tak cemburu! Aku hanya tak suka bau parfumnya itu, tahu! Baunya menyengat, lebih mirip seperti bau bunga bangkai! Bisa saja dia memakai banyak parfum di pergelangan tangannya. Makanya baunya menempel di pakaianmu!" sahutku ketus.


"Iya, iya, sudah. Aku sudah melepasnya, sekarang ayo tidurlah," Valko memelukku kembali. Tubuh Valko kupeluk dengan erat. Valko memang guling tidur yang paling nyaman untuk dipeluk. Valko mulai membelai kepalaku lagi. Mataku mulai kupejamkan. "Kurasa aku harus lebih hati-hati mulai sekarang, ada api cemburu yang mudah terbakar, hihihi," bisik Valko di telingaku.

__ADS_1


"Aku tak cemburu!" Kubuka mataku kembali. "Sudah kubilang aku tak cemburu! Huh!" Kubaringkan tubuhku membelakangi Valko. Aku berpindah berbaring di pojokan ranjang, sejauh mungkin dari Valko. Lebih baik aku memeluk guling yang asli. Kupejamkan kembali mataku.


"Ck! Kepala pusing badan lemas tapi masih punya tenaga untuk marah seperti ini," terdengar suara Valko.


"Siapa yang marah! Aku tak marah!" teriakku sambil memandang ke arah belakang.


Nampak Valko sudah tak ada. Kemana dia kok hilangnya cepat sekali. Kurasakan ada yang memeluk tubuhku dari arah depan. Ternyata itu Valko, dia memaksa tidur di tepi ranjang.


"Ih, Valko! Kan ada tempat kosong! Cepat pindah!"


"Tak mau! Aku juga ingin tidur siang. Hanya aku yang boleh kau peluk, Honey!" Valko menyingkirkan melempar guling yang kupeluk ke arah belakang. Ih, dia menyebalkan. Kubalik lagi posisi tidurku agar membelakanginya.


"Ih, kau ini! Katanya sakit dan lemas tapi masih punya tenaga untuk ngambek seperti ini!" Valko berpindah lagi. Dia berbaring tepat di depanku lagi.


"Siapa yang ngambek? Aku nggak ngambek! Huh!"


Kutarik selimut tebal warna putih itu. Kuselimuti tubuhku dengan selimut itu. Selimut itu kumonopoli. Posisi tidurku kuubah agar membelakangi Valko lagi. Valko menyebalkan, dia terus mengungkit wanita menyebalkan itu. Aku bisa kok tidur tanpa memeluk Valko. Kenapa tubuhku jadi berasa berat seperti tindihan, ya? Kubuka selimut itu.


"Valko!" teriakku. Ternyata Valko sudah berbaring di atas tubuhku. Pantas saja berat. "Turun! Aku tak bisa tidur!" teriakku.


"Tak mau! Aku takkan mengizinkanmu tidur jika kau masih ngambek padaku! Aku juga ingin tidur siang, Zeta!" ujar Valko.


"Tidur ya tinggal tidur. Aku kan di sampingmu tidak pergi kemana pun! Cepat turun!" ucapku lagi.


Tiba-tiba saja Valko menyemprotkan sesuatu daei suatu tabung kecil. Aku tidak tahu itu apa tapi baunya harum dan menyengat. Dia menyempotkan benda itu ke seluruh permukaan selimutku dan juga tubuhnya. Astaga! Ini parfum.


"Sudah! Aku sudah menyemprotkan parfum yang kusimpan di saku jasku. Tak ada lagi aroma parfum bunga bangkai. Jangan ngambek lagi!" ujar Valko sambil menatapku.


"Aku tak ngambek!" sahutku. "Valko!" Valko dengan paksa menarik selimut yang menyelimuti tubuhku.


"Sudah, tidurlah, Honey. Kau butuh istirahat," Valko mencium dahiku dan memelukku dengan erat. "Simpan energimu untuk tidur saja. Sudah, lupakan masalah ini," Valko membungkus tubuhnya dan tubuhku dengan selimut itu.


Ih, kalo aku menyerah marahku receh sekali, tapi Valko terus membelaiku. Ehm, jadi mengantuk. Apalagi bau parfumnya enak dan wangi jadi ingin tidur sambil memeluk Valko.

__ADS_1


__ADS_2