
"Pelan-pelan sakit!" ucapku. Telapak kaki kananku yang melepuh diobati oleh seorang dokter wanita yang sudah nampak uzur. Aku diobati di ruang tamu. Kakiku tergeletak lurus di sofa.
"Tahanlah, Sayang. Sebentar lagi selesai...." Oma Wulan memegangi tanganku. Dia menjadi tempatku bersandar.
"Sudah selesai, Nona," ucap Dokter itu.
"Apa lukanya parah? Berapa lama luka ini sembuh?" tanya Opa Dedy.
"Tak perlu khawatir, Tuan. Kaki Nona tidak terluka parah. Dua hari lagi lukanya sudah kering," Dokter itu memperban lukaku. "Hindari terkena air, Nona. Ini obatnya." Dokter itu menyerahkan obat pada Oma Wulan. Dokter itu tak pergi, dia justru duduk di sofa lain. Matanya menatap ke arah mata Oma Wulan.
"Tata, apa kau masih marah pada Parrel?" tanya Oma Wulan. Marah? Pada Valko? Sebenarnya aku sudah tak begitu marah. Hanya saja aku masih sebal karena kakiku jadi terluka karena ulah konyolnya.
"Ehm...sudah agak reda, Oma...." sahutku lirih sambil tertunduk.
"Nyonya!" nampak Sekretaris May panik. Dia terlihat sedih. "Tuan Valko terus mengurung diri di kamar mandi. Beliau tak menyahut saat dipanggil. Apa yang harus saya lakukan?"
"Tenanglah, May. Biarlah aku berbicara dengan Tata terlebih dahulu," jawab Oma Wulan. "Tata, Oma tahu kau mungkin masih marah pada Parrel. Mungkin Parrel berlebihan saat mengekspresikan rasa sayangnya padamu," berlebihan? Bukan cuma berlebihan, tapi kian memuakkan. Aku muak dia terus menyentuh tubuhku tanpa henti dan tak kenal waktu seperti saat memasak tadi. "Oma, harap kau mengerti. Oma tak menyalahkanmu karena berteriak pada Parrel tadi. Tapi bisakah kau memaafkan dan kembali bersikap lembut padanya lagi?" aku tertegun mendengar kata-kata itu. Aku masih sebal padanya. Bagaimana mau bersikap lembut secepatnya?
"Tuan Muda Parrel punya trauma masa lalu yang cukup berat, Nona. Itu yang membuatnya memiliki gangguan tidur." sambung Dokter itu. "Dia mungkin terlihat kokoh tapi sebenarnya rapuh...." ucap Dokter itu.
__ADS_1
Tunggu, kata-kata itu seperti pernah kudengar. Kokoh tapi rapuh? Aku kembali teringat sesuatu. Itu kata-kata Kak Vio. Dia pernah berkata : "Pangeran Bulanku itu sebenarnya kokoh tapi rapuh. Dia sendirian sejak kecil dan memiliki masa lalu yang berat". Apa ini yang dimaksud Kak Vio? Valko rapuh karena luka trauma masa lalu?
"Trauma masa lalu? Apa maksudnya?" aku tak paham. Aku semakin penasaran.
"Saat Parrel masih kecil, hidupnya masih normal dan bahagia seperti anak lainnya. Punya orang tua yang lengkap dan penuh kasih sayang. Tapi semua itu berubah saat Parrel lulus SD. Saat itu sedang musim liburan sekolah pertengahan tahun. Parrel akan masuk SMP. Dia ingin sekali pergi berlibur seperti anak-anak lain," Opa Dedy mulai bercerita. "Ayah Parrel sangat sibuk. Dia terus menolak untuk pergi liburan bersama, tapi ayahnya masih sempat untuk pergi mengurus urusan bisnis di luar negeri. Parrel sedih dan merasa kecewa. Putriku atau ibunda Parrel, Parama, tentu tak tega melihat putra semata wayangnya bersedih. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengajak Parrel pergi liburan diam-diam tanpa pengawalan yang lengkap. Keduanya pergi berlibur hanya berdua saja. Mereka berlibur di daerah pantai. Parama memilih menyewa sebuah hotel sederhana sebagai tempat berlibur. Liburan mereka baru berjalan selama satu hari hingga akhirnya petaka itu datang...." Opa Dedy tak bisa menahan air matanya. Oma Wulan, Sekretaris May bahkan Dokter itu juga menangis.
"Nona Parama dirampok saat Tuan Varrel sedang tertidur. Dia dirampok di malam hari oleh segerombolan pria yang membawa senjata api. Tuan Varrel selamat karena sengaja di sembunyikan di kolong tempat tidur oleh Nona Parama. Perampok itu sungguh sadis! Mereka membunuh Nona Parama dengan tembakan bertubi-tubi setelah itu...." Dokter ini tak bisa berhenti menangis. "Setelah itu perampok itu merebut kehormatan Nona Parama. Mereka tak hanya mengambil nyawanya tapi juga merenggut kehormatan diri Nona Parama yang sudah tak bernyawa. Nona Parama ditemukan dalam kondisi tak memakai busana bersama Tuan Varrel. Tuan Varrel terus menangis tanpa bisa berkata-kata. Tuan Varrel mengalami trauma yang berat hingga saat ini. Beliau mengalami gangguan tidur. Beliau sulit tidur karena ketakutan akan ada yang menyakitinya lagi saat tertidur. Apalagi ayahnya menjauhinya setelah peristiwa ini. Ayah Tuan Varrel, Tuan Kenrick Wijaya sangat mencintai Nona Parama. Dia mengganggap peristiwa meninggalnya Nona Parama diakibatkan oleh Tuan Varrel. Saya adalah Dokter Keluarga Wijaya yang sudah bekerja sejak Tuan Varrel masih bayi. Saya melihat perubahan besar pada diri Tuan Kenrick. Saat pemakaman Nona Parama, Tuan Kenrick menampar dan memukul wajah Tuan Varrel....." Dokter itu kembali menangis.
"Saya melihat sendiri, Nona. Tuan Kenrick berteriak pada Tuan Valko. 'Kau adalah pembawa celaka! Kau adalah pembunuh! Parama takkan mati jika anak pembawa sial sepertimu tak lahir! Kau bukan anakku!'teriak Tuan Kenrick," Sekretaris May menangis. " Setelah saat itu Tuan Valko terlantar, Nona. Saya adalah mantan Sekretaris Tuan Kenrick, saya sudah mengabdi pada Keluarga Wijaya sejak Tuan Kenrick masih remaja. Tuan Valko akhirnya dirawat oleh Tuan Wijaya, Tuan Dedy dan Nyonya Wulan. Saat hari sekolah Tuan Valko berada di rumah di bawah pengawasan Tuan Wijaya. Saat weekend, beliau dibawa kemari. Tuan Valko memang tak kekurangan harta tapi beliau kekurangan kasih sayang orang tua. Tuan Kenrick tak pernah lagi mengunjungi atau menemui Tuan Valko. Tuan Valko berubah dari anak yang ceria dan lembut menjadi anak yang keras dan dingin. Saya harap Nona mengerti...." Sekretaris May akhirnya bercerita.
Jadi, ini cerita yang selama ini ditutupi olehmu, Pak May? Jadi, Valko mengalami gangguan tidur akibat trauma masa kecil yang mengerikan itu. Mengapa aku jadi merasa bersalah. Aku sudah membentaknya dengan kata-kata kasar yang mungkin membuka luka lamanya lagi. Pantas saja orang tua Valko tak hadir saat pernikahanku.
"Opa! Jangan lakukan ini!" astaga, Opa Dedy sampai berlutut memohon di depanku.
"Saya sudah memaafkan....eh...justru saya merasa bersalah sudah berbicara kasar padanya. Maafkan saya, Opa, Oma," ucapku lirih.
"Tak apa-apa, Nak. Sekarang kau tahu kan kenapa cucuku sangat suka melampiaskan kasih sayangnya padamu dan manja? Kuharap kau mau menemuinya sekarang," Oma Wulan menggenggam tanganku. Aku menggangguk.
Aku berjalan tertatih-tatih menuju kamar Valko dibantu Oma. Untung saja di rumah ini ada lift. Jika tidak mungkin hal ini akan menyiksa diriku. Di hadapanku sudah ada pintu kamar Valko. Oma Wulan membukanya. Astaga, kamar itu nampak berantakan. Kurasa Valko melampiaskan perasaannya di sini. Valko, aku tak tahu jika kau memiliki luka seperti ini. Nampak pintu kamar mandi yang terkunci.
__ADS_1
"Ini kunci cadangannya, Nak." Oma Wulan menyerahkan kunci itu padaku. "Tolong jaga, Parrel ya!" Oma Wulan beranjak pergi.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
________________________________________
Kunjungi juga karya saya yang lain 😄
Judulnya : Rektorku, Dosenku, Suamiku
Ceritanya juga seru 😄 dijamin bikin ketawa, baper dan gemes 😂😍
__ADS_1