
Valko terus menyeretku keluar dari gedung ini. Wajahnya masih nampak murka. Akhirnya, kami sampai di dalam mobil. BRAK!!! Valko membanting pintu mobil dengan kasar.
"PULANG, CEPAT!" teriak Valko.
"Ba...ik....Tu....an...." jawab Sekretaris May.
Aku tidak berani berbicara apa pun. Aura Valko yang marah tetap saja menakutkan bagiku. Meski kami sudah sedikit lebih dekat sekarang. Wajahnya diamnya nampak menyimpan aura kemurkaan. Kepalanya menyandar di kaca mobil.
Cepatlah sampai ke rumah! 😣 Perjalanan ini terasa menyesakkan bagiku. Aku tak suka jika Valko marah seperti ini. Nampak pintu gerbang yang kukenali. Pintu gerbang warna abu-abu yang megah dan besar. Syukurlah, sudah sampai di rumah.
"Su...dah...sam...pai, Tu...an...." ucap Sekretaris May terbata-bata. Pak May, jika Anda saja ketakutan apalagi aku! 😢
"Ehm...." sahut Valko. Dia lalu masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikanku.
Kak Vio, lagi! 😟 Valko marah karena Kak Vio. Kenapa ya aku merasa di hati Valko itu Kak Vio tetap saja masih mendominasi 😳. Kak Vio memang sahabat yang sudah kuanggap kakak sendiri tapi, aku juga tak suka jika dirinya terus membayangiku seperti ini.
Apa Valko juga marah padaku? 😦 Tapi, aku kan tidak ikut bergosip tadi. Aku hanya mendengarkan cerita dari Kak Hana dan Kak Vina. Aku tak suka jika Valko marah seperti saat ini. Suasana rumah bisa jadi menyesakkan. Sudahlah, lupakan masalah Kak Vio. Aku harus menghibur Valko atau lebih tepatnya meredam amarahnya. Tapi, bagaimana caranya?
"Maaf, Nona. Barang belanjaan tadi mau ditaruh dimana?" tanya Sekretaris May. Suatu ide terlintas di benakku.
__ADS_1
"Taruh saja di kamarku, Pak May," ucapku sambil turun dari mobil.
Nampak beberapa kardus besar dikeluarkan dari dalam mobil yang kutumpangi serta dua mobil pengawal. Banyak juga ya barang yang dibeli. Oh iya, tadi kan Valko juga membelikanku tas. Ah, besok aku harus lebih tegas bersikap lagi. Meski Valko kaya, tapi tak baik menghambur-hamburkan uang. Lebih baik uangnya ditabung untuk masa depan anak kelak. Tunggu! 😨 Kenapa aku malah memikirkan anak, sih! 😣 Zeta! Ini bukan saatnya memikirkan hal itu.
"Semua belanjaan sudah dimasukkan ke dalam kamar, Nona," ucap Sekretaris May.
"Terima kasih, Pak May. Sudah malam, sebaiknya Anda istirahat," ucapku sambil menutup pintu kamar ini.
Astaga, nampak kardus-kardus memenuhi lantai kamarku. Jika kurapikan bisa perlu waktu lebih dari satu jam. Sudahlah, aku harus meredakan amarah Valko terlebih dahulu. Kubongkar kardus dengan tulisan mini dress. Valko memintaku memakai benda ini. Baiklah, aku akan memakainya malam ini juga. Untuk lingerie, mencobanya besok sajalah. Model-model bentuk lingerie itu membuatku geli.
Aku pun mandi sebersih mungkin. Kutambahkan aroma mawar ke dalam bak mandiku. Selesai mandi kupakai mini dress warna pink cerah. Aku juga menyemprotkan banyak minyak wangi ke tubuhku. Rambutku kubuat bergelombang. Ini pertama kalinya, aku memakai catokan rambut setelah menikah. Tak perlu memakai make up-lah. Cukup pakai lip cream saja. Jika aku merayunya dengan berpenampilan seperti ini berhasil tidak ya? Sudahlah, coba saja.
Kuhela napasku sejenak, sebelum membuka pintu kamar itu. Nampak Valko berada di depan meja rias. Rambutnya terurai ke belakang. Dia hanya memakai celana panjang warna putih. Aroma wangi tercium dari tubuhnya. Kurasa dia habis mandi.
"Hubby...." panggilku manja sambil memeluk tubuhnya dari arah belakang.
"Beraninya kau menunjukkan wajahmu di depanku!" ucap Valko sambil melepaskan pelukanku dengan kasar. Gerakannya membuatku nyaris terhuyung jatuh. Ini reaksi yang tak kuduga, wajah Valko nampak menyeramkan.
"Kau berani muncul di hadapanku setelah menjelek-jelekkan Vio! Wanita macam apa kau!" Valko menunjuk ke arahku. "Di depanku kau memuji Vio sebagai saudaramu, tapi di belakangku kau menusuknya dari belakang!" Valko memojokkanku hingga menyandar di dinding.
__ADS_1
"Dasar wanita bermuka dua!" teriak Valko. Wanita bermuka dua? Aku tak sehina itu.
"CUKUP!" teriakku sambil mendorong tubuh Valko.
Valko nampak tertegun karena terkejut. Aku tak tahu darimana keberanian ini berasal. Mungkin ini puncak dari kejengkelanku karena terus dibandingkan dengan Kak Vio atau karena kesal bayangan Kak Vio terus membayangiku.
"KAK VIO LAGI! KAK VIO LAGI! AKU MUAK, VALKO! MUAK!" teriakku. "Aku bukan wanita bermuka dua! Hubunganku dengan Kak Vio tulus, tahu! Aku tulus menemaninya saat kau, menghilang!" aku menunjuk ke arah Valko.
"Aku tak menusuk dari belakang! Telingaku tak sengaja mendengar gosip dari temanmu itu! Kau mengatakan jika aku bermuka dua, lalu bagaimana denganmu, hah? Kau mengatakan padaku untuk memulai hubungan ini dari awal, melupakan hubunganku dengan pria lain! Aku sudah berusaha melakukannya, Valko! Tapi, bagaimana denganmu! Kau marah padaku karena mantan kekasihmu yang bahkan sudah meninggal! Aku muak, Valko! Muak!" entah mengapa air mata mengalir dari mataku.
"Kau yang bermuka dua, Valko! Kau menjalin hubungan dengan banyak wanita dengan alasan untuk memancing Kak Vio. Cara macam apa itu? Kau pikir hati wanita adalah mainan, hah? Jika kau memang tak menyukaiku, katakan saja sejujurnya! Jangan bersikap lembut padaku seolah-olah kau menyayangiku!" aku berlari keluar dari kamar Valko.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍