
HUA! 😭 Bonekaku Tercinta! Valko, mengapa kau jadi sangat pencemburu sih? 😭 Aku benar-benar merasa muak. Aku hanya membeli boneka, boneka kan benda mati. Valko kan bisa memindahkannya jika tak suka. Mengapa sampai harus dimusnahkan sih? 😭
Kurasa mukaku cemberut. Aku jadi muak untuk melihat ke arah ruang meeting. Ah, sudahlah! Lebih baik aku mencari hiburan di dunia maya. Kukeluarkan smartphone dan wireless headset dari kantong celanaku.
"Pak May, apa password wifi di kantor ini?" tanyaku pada Sekretaris May.
"Biar saya ketikkan, Nona," aku pun menyerahkan smartphone-ku. Jaringan wifi sudah terkoneksi ke smartphone-ku. Lebih baik aku melihat drama korea yang diperankan artis idolaku saja. Kubuka aplikasi menonton drama korea. Kuletakkan smartphone-ku di atas meja di depanku. Dan...aku pun larut dalam dunia drama korea nan mempesona.
"Maaf, Nona," terdengar suara seseorang. Ck! Padahal ini baru adegan yang seru! Aku pun menekan tombol pause. Aku menatap ke sumber suara itu. "Saatnya makan siang, Nona...ehm...Tuan Valko meminta Nona untuk menunggu di sana terlebih dahulu."
"Ya, sudah," aku hendak berdiri untuk melangkahkan kakiku.
"Ehm...maaf, Nona. Tuan Valko berpesan agar Nona tetap duduk di kursi roda. Ini agar luka di kaki Anda tidak menjadi parah." sahut Sekretaris May.
"Ya sudah, ayo ke sana!" jawabku singkat. Aku pun kembali memutar drama korea di smartphone-ku. Tak peduli, bahkan masa bodoh, dimana tempat makan siang itu. Sikap Valko yang berlebihan tadi sudah membuatku muak.
"Kita sudah sampai, Nona!" terdengar suara Sekretaris May.
__ADS_1
"Hem...." jawabku singkat. Aku sibuk menonton adegan di drama korea dengan fokus. Tak lupa mulutku terus kumasuki es krim dari susu sapi tadi.
"Apa kau suka tempat ini, Tupai?" terdengar suara yang amat kukenali. HUH! 😡 Biarkan saja aku pura-pura tak dengar. Aku masih muak dengan sikapmunya yang over protektif. "Aku tak suka dicueki!" Valko berusaha merebut smartphone-ku dengan tangannya. PLAK! Kutangkis tangan itu.
"Jangan ganggu aku! Aku muak dengan sikapmu yang menyebalkan itu!" teriakku kencang. Aku sengaja tak menatap ke arah wajah Valko. Biarkan saja dia! 😡 Aku sudah muak dengan sikapnya tadi! 😡 "Valko!" teriakku. "Turunkan aku!" tiba-tiba saja tubuhku sudah terangkat di gendongan Valko. Sekarang aku ada di pangkuannya. Kedua tangan Valko memeluk tubuhku dari arah belakang.
"Aku hanya... ingin...diperhatikan...." terdengar suara Valko. Kepalanya menyandar di bahu kiriku. "Hiks...hiks...hiks...." terdengar suara tangisan.
Astaga! 😣 Kenapa Valko jadi menangis? Aku jadi merasa bersalah. Apa perkataanku membuka luka lamanya lagi? Kenapa dia jadi mudah rapuh sih sekarang ini? 😣 Padahal dulu dia biasa saja saat kubentak. Kenapa sekarang jadi mudah menangis?
"Maafkan...aku...." kubelai kepalanya dengan tangan kananku. "Maafkan, aku..." hanya kata ini yang bisa kuucapkan. Aku salah karena tak ingat jika Valko memiliki trauma yang berat di masa kecilnya. Kurasa dia sudah percaya kepadaku sepenuhnya. Jika aku membentaknya, itu sama saja merobek hatinya yang sesungguhnya serapuh kaca itu.
"Aku hanya ingin diperhatikan...." Valko masih saja menangis. "Kau tak pernah merasakan rasanya harus pura-pura kuat dan baik-baik saja selama belasan tahu. Aku kehilangan Mama, Papa dan Vio. Aku selalu sendirian dan harus berpura-pura kuat terus-menerus. Kakek, Oma dan Opa selalu menuntutku untuk kuat. Aku akan ditekan dan dihukum jika menunjukkan perasaanku yang sebenarnya. Aku hanya diperhatikan dan disayang jika aku memasang muka kuat yang palsu dan melelahkan itu. Itu melelahkan...." Valko menangis. "Aku tak pernah diperhatikan dengan tulus oleh gadis-gadis yang menjadi pacar palsuku. Aku harus terus berakting bahagia dan kuat agar Vio melihatku...tapi...ternyata...." Valko menangis semakin parah. "Ternyata Vio sudah tiada...aku hanya ingin diperhatikan olehmu saja...aku sudah memasang wajah bahagia dan kuat yang palsu selama ini...apa aku salah jika aku ingin terus diperhatikan sekarang? Aku hanya ingin lebih diperhatikan, aku tak menuntut yang lain...." Valko menangis.
"Maafkan aku...." ucapku sambil menghapus air matanya.
Jika pria lain mungkin aku akan mengganggapnya cengeng dan lebay. Tapi, ini Valko. Dia sudah mengalami peristiwa yang berat dan membuat trauma mendalam di masa kecilnya. Ditambah lagi dia juga sudah kehilangan Kak Vio. Dia tumbuh di lingkungan keluarga yang menuntutnya harus terus-menerus terlihat baik-baik saja. Takdir menuntutnya menjadi seorang pewaris tunggal dari sebuah keluarga yang kaya raya.
__ADS_1
Mungkin menyenangkan kaya raya tapi pasti hatinya terasa kosong dan sakit karena semua terasa palsu. Para pacar palsu Valko hanya perhatian karena dibayar. Kakek, Opa dan Oma hanya perhatian karena Valko adalah pewaris tunggal yang harus dibesarkan. Dia tak punya pilihan lain selain harus kuat dan kuat meski hatinya sebenarnya rapuh dan butuh tempat mengeluh.
Kurasa dia sekarang mempercayaiku sepenuhnya. Dia mempercayakan perasaannya padaku. Dia menjadikanku tempat untuk mengeluh dan sumber kehangatan. Dia bahkan tak segan menangis dan menunjukkan kerapuhan serta perasaan berat yang disembunyikan selama belasan tahun. Sekarang aku paham mengapa dia amat overprotektif, dia ingin perhatian yang lebih, secara tulus dan murni. Dia hanya ingin perhatian yang terus terfokus padanya. Dia tak ingin ada hal lain yang merenggut kembali perhatian untuknya.
"Sudah, jangan menangis. Aku minta maaf...." ucapku sambil membelai kepala Valko.
Ini berat, amat berat bagiku. Aku sudah dipercayai oleh Valko hingga seperti ini. Padahal aku tak mengganggapnya sebagai raja yang memiliki hatiku. Aku hanya mengganggapnya sebagai pasangan sementara yang kelak harus kuusir dari hidupku. Tapi...jika seperti ini, aku jadi tak tega untuk berbuat kasar atau melukainya lagi.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1