
"Valko!" sial, kenapa dia justru mencengkeram daguku semakin kencang.
"Kau meragukanku? Kau tak percaya padaku?" mata Valko memancarkan aura kemurkaan. "Diammu sudah menjawab seluruh pertanyaanku."
"VALKO!" dia justru mengangkat tubuhku lalu membuatku ada di dalam pangkuannya.
Astaga, apa yang dia lakukan? Dia justru menyerang bibir dan leherku lagi. Serangannya justru lebih ganas daripada tadi siang.
"Dengarkan ini, Tupai! Kau adalah kau, Vio adalah Vio. Aku sudah memperjelas kepemilikanku terhadapmu! Jadi, jangan pernah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu lagi!" teriak Valko.
Jantungku berdetak kencang, Valko semakin agresif. Sebaiknya kukontrol mulut terkutukku ini mulai sekarang. Aku tertunduk diam di pelukannya, kami saling mendiamkan satu sama lain. Hal ini berlangsung cukup lama.
"HOAHM!" aku menguap.
Astaga! 😣 Tubuhku tercinta tak bisakah kau tak mengantuk dulu di saat seperti ini. Ini bukan saat yang tepat untuk lelah dan menguap 😭. Tubuhku digendong oleh Valko. Aku tak berani berbicara. Jika aku salah bicara bisa-bisa dia semakin agresif. Valko diam saja, dia menggendongku menuju tempat tidur. Apa dia ingin melakukan hal itu lagi?
"Va...val...ko...." panggilku dengan nada ketakutan.
Ck! Padahal tadi siang aku sudah menyerahkan diriku padanya. Kenapa sekarang malah ketakutan lagi? Diriku memang aneh! 😔
"Hentikan pikiran negatifmu tentangku, Tupai," Valko membaringkan tubuhku dengan lembut di ranjang sebelah kanan. Dia mengambil sebuah kotak plastik.
"Jangan ceroboh! Luka di kakimu masih perlu dirawat!" Valko mengambil sebuah bantal sofa lalu meletakkannya sebagai alas bagi kaki kananku. Dia mulai melepas perban di telapak kaki kananku. "Aku akan mengoleskan obat dan mengganti perbanmu," Valko mengambil salep, cotton bud dan segulung perban.
"Tutuplah matamu jika kau takut, tapi ingatkan jika aku mengoleskan salep dan mengikat perbannya terlalu kencang," Valko mulai mengoleskan salep itu.
Rasanya masih perih, mataku terpejam. Kurasa sekarang kakiku sedang dibalut perban. Mataku kubuka kembali, terlihat wajah Valko. Dia ternyata bisa, ya, lembut dan perhatian seperti ini.
"Sudah selesai!" Valko membereskan kotak obat itu. "Kenapa kau tak berkedip, Tupai? Apa kau sangat terpesona padaku sekarang?" ucapan Valko mengagetkanku. Sial, aku ketahuan tertegun sambil menatap tanpa berkedip. Ini memalukan! 😔
"Tidak, jangan terlalu percaya diri," aku tidur membelakanginya. Dia berbaring di ranjang sebelah kiri. Valko mengambil selimut tebal dari dalam lemari. Selimut itu digelar hingga menyelimuti tubuh kami berdua.
__ADS_1
"Jika kau tak ingin, aku takkan memaksamu, Zeta," Valko menarik tubuhku ke dekapannya lagi. "Kau punya kebebasan karena kau bukan budak," Valko mendekap tubuhku dengan erat. Kepalaku menyandar di dadanya lagi.
Kurasakan tangan kanan Valko mulai menepuk-nepuk punggungku ringan. Lama-kelamaan tepukan itu melambat dan berhenti. Dia sudah tertidur, ya? Aku menggerakan kepalaku agar sejajar dengan wajahnya. Mata Valko sudah terpejam. Wajah itu nampak tenang tapi tetap memesona.
Kebebasan, ya? Jika dia memberiku kebebasan bukankah itu berarti aku bukan hanya pelampiasan saja. Dia juga mengatakan aku bukan budak. Bukankah itu berarti dia mengganggapku bukan bawahannya. Mengapa aku merasa senang, ya? Kupandangi Valko kembali.
Rambut panjangnya terurai begitu saja. Aku tak menampik jika Valko memang memesona. Dia itu tak hanya memesona dari segi fisik dan kekayaannya saja tapi juga dari sentuhannya. Sentuhannya membuatku nyaman dan terbuai. Padahal dulu, aku tak sudi disentuh olehnya tapi...mengapa sekarang aku justru terjerumus dalam sentuhannya. Yah, meski terkadang masih merasa takut atau geli.
Aku ini perempuan normal, jika ada makhluk dengan paras indah yang tertidur di sampingku seperti saat ini. Tentu saja aku terpesona. Apalagi dia memang jauh lebih tampan daripada kekasihku.
Tanpa sadar tangan kananku menyentuh pipi kiri Valko. Rasanya lembut dan hangat. Jika aku terus terpikat pada Valko, bukankah itu sama halnya aku mengkhianati perasaan Kai padaku. Tapi...Valko kan suamiku, terlepas dari cerita pernikahan kami. Ck! Hidup itu kadang aneh. Kukira aku akan terus membenci Valko, tapi sekarang...ehm...tubuhku justru reflek menunjukkan tanda-tanda aneh semacam kecemburuan.
Apa aku mulai suka padanya? Tapi, terkadang aku masih suka geli, takut atau tak suka jika dia menyentuhku. Ck! Hati memang membingungkan.
DUAR! DUAR! Terdengar suara petir. BRASH!!! Hujan deras kurasa kembali terjadi. Cuacanya dingin ditambah lagi ada makhluk memesona ada di hadapanku. Diriku entah mengapa seolah-olah terus terpanggil oleh bibir Valko.
Aku mungkin aneh dan sudah gila. Kepalaku sudah mendekat menuju bibir itu. Tahan, Zeta! tahan! Aku berusaha menahan diri agar tak mencium bibir Valko. Sial, semakin kuat aku menahan seolah-olah semakin kuat panggilan dari bibir itu.
BLAR! Astaga! 😱. Mata Valko justru terbuka. Aku ingin mengakhirinya sampai di sini tapi kurasa Valko justru semakin menjerumuskanku. Entah bagaimana, tapi sekarang aku justru terbuai kembali. Anehnya aku tak melawan saat Valko membuang hambatan yang mungkin ehm...membatasiku dan dirinya.
Ehm...kurasa malam ini waktu tidurku akan berkurang sedikit. Makhluk di hadapanku ini baru saja memulai serangan di bawah selimut ini. Sekali lagi, aku terjerumus dan terbuai. Sekali lagi, hartaku yang berharga berhasil diraihnya lagi. Sekarang aku merasakan apa yang dirasakan oleh wanita dalam adegan film atau kisah novel itu lagi. Saat ehm...sebut saja adegan pertempuran kecil di bawah selimut.
Mungkin aku memang benar-benar sudah aneh dan gila. Mungkin bisa dibilang aku bermuka dua karena kadang sok-sok jaim dengan menolak Valko, tapi sekarang aku justru menyerahkan diriku padanya. Tapi, sudahlah! Lupakan hal itu terlebih dahulu.
***
Kurasakan ada cahaya menembus ke ruangan ini. Kubuka mataku perlahan-lahan. Sial, siapa yang membuka tirai jendelanya? Aku semakin menyembunyikan diriku di balik selimut. Mataku masih belum ingin diajak melihat dunia kembali.
"Hey, ayo bangun!" terdengar suara menarik-narik selimutku. "Ayo, bangun! Ini sudah pagi. Kau seorang wanita, tak baik jika bangun terlalu siang!" selimut itu masih saja ditarik-tarik. "Ayo, bangun! Ayo, bangun, Zeta!" selimutku ditarik hingga wajahku terlihat.
"Ehm...." aku membenamkan kembali tubuhku di dalam selimut.
__ADS_1
"Ayolah bangun, Tupai! Jangan malas!" Valko menarik-narik selimutku lagi.
"Jangan ganggu aku!" protesku.
"Ayolah, kau ini kenapa?" Valko duduk di tepi ranjang. Dia menarik kembali selimut hingga wajahku terlihat.
"Mengapa kau bertanya seperti itu?" aku kembali berbaring membelakanginya. "Memangnya siapa yang membuatku masih mengantuk dan kelelahan seperti ini? Ini bukan salahku, ini salahmu, tahu!" teriakku.
"Ehm....mengapa kau jadi menyalahkanku? Siapa yang memprovokasi duluan semalam?" Valko membela diri. "Apa kau masih ingin bermain lagi di balik selimut?" Valko kembali masuk ke dalam selimut.
Sial! 😣 Serigala Gila, menjauh dariku! Aku segera menarik selimut itu untuk membungkus tubuhku dan menggelinding menjauhi Valko.
"Apa yang kau inginkan? Aku masih mengantuk!" protesku pada Valko.
Kuamati Valko, dia sudah nampak rapi dalam balutan jas berwarna soft pink. Rambutnya memang masih terurai tapi tetap saja dia membuat mataku yang masih mengantuk menjadi bangun seketika.
"Aku ingin membangunkanmu. Ayo, segeralah mandi dan berdandan. Kau harus menemaniku pergi ke suatu tempat!" ucap Valko. Pergi ke suatu tempat? Kemana? 😮
"Kemana?" tanyaku penasaran.
"Kau akan tahu nanti!" jawab Valko.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1