Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko

Istri CEO Muda : Terpaksa Menikahi Tuan Valko
Episode 61 - Pakai Ini....


__ADS_3

"Model ini cocok untukmu, Zeta!" ucap Valko dengan nada meninggi. Dia menaruh lingerie itu di depan tubuhku. Kurasa aku tak perlu bertanya lagi.


"Jangan khawatir, aku juga akan membeli warna kesukaanmu!" Valko mengambil lingerie warna pink tua. "Nah, ini model yang kusukai!" Valko menempelkan lingerie itu ke depan tubuhku lagi. Sudahlah, setidaknya Valko hanya membeli dua buah saja kan. "Kau suka model yang lain juga ya, Tupai?" ucap Valko.


"Hah?!" sahutku kaget. Bagaimana Valko bisa menyimpulkan seperti itu, sih? Aku kan daritadi hanya diam saja sambil menatap ke arah deretan lingerie.


"Aku paham dari maksud tatapanmu. Jangan khawatir, aku akan membelikan setiap model dengan warna yang berbeda agar kau bisa memakainya setiap malam!" Valko tersenyum licik. Astaga, jadi setiap malam aku harus memakai lingerie. "Aku ingin lingerie dengan seluruh model dan warna yang ada di toko ini. Carikan yang sesuai dengan ukuran tubuhnya!" perintah Valko.


"Baik, Tuan!" manajer wanita itu mengeluarkan sesuatu dari saku roknya. Tenyata, itu meteran jahit. Dia mulai mengukur ukuran tubuhku. Valko kembali menyeretku berjalan ke arah area lain di dalam toko ini.


"Ini bagus untukmu, Zeta!" Valko mengambil sebuah gaun model mini dress warna merah.


Gaun merah itu terbuat dari bahan kain satin. Modelnya tanpa lengan dengan panjang rok di atas lutut. Valko, kau ingin aku memakai mini dress juga?


"Ayo, coba!" perintah Valko.


"Mencoba?" ucapku.


Valko sudah menarik tanganku menuju ruang ganti. Aku ada di depan Valko, Valko sudah mengunci pintu ruang ganti ini dari dalam. Tangan Valko menyerahkan gaun mini dress itu.


"Cepat coba, Tupai!" ucap Valko ketus. Dia lalu melepas kacamata hitam yang kupakai.


"Ehm...Hubby, bisakah kau meninggalkanku sebentar?" tanyaku lirih.


"Kenapa? Aku ini suamimu, Tupai. Takkan ada yang protes jika aku ikut masuk ke dalam sini. Lagi pula...aku sudah pernah melihat setiap inchi tubuhmu...." bisik Valko di telingaku. "Kau malu untuk berganti pakaian di depanku, hah? Kau ingin aku membantumu?" Valko sudah membuka salah satu kancing kemejaku.


"Aku bisa melakukannya sendiri!" sahutku sambil membelakangi Valko.


Kemeja, rok dan syal itu kulepas. Aku memakai gaun merah yang dipilih Valko. Kulihat diriku di depan cermin yang ada di ruang ganti ini. Astaga, gaun ini sangat seksi. Ini pertama kalinya seumur hidupku aku memakai pakaian yang kata orang terkesan seksi.


"Cocok sekali denganmu, Tupai Kecilku Sayang!" Valko sudah memeluk tubuhku dari arah belakang. Kepalanya menyandar di bahu kananku. Embusan napas Valko terasa jelas di telingaku.

__ADS_1


"Aku ingin kau memakai pakaian seperti ini...." ucap Valko sambil menatap ke arah cermin.


"Ehm...kau ingin aku memakainya saat pergi denganmu?"


"Tentu saja tidak, Tupai!" ucap Valko dengan nada meninggi dan keras. Telingaku terasa berdengung mendengarnya. "Kau hanya boleh memakai mini dress ketika di rumah! Hanya di hadapanku kau boleh berpakaian seperti ini! Paham!" Valko mencengkeram daguku dengan tangan kanannya.


"Pa...ham...." sahutku lirih.


Syukurlah. Setidaknya aku tak harus memakai pakaian minim seperti ini ketika di luar rumah. Aku merasa tak percaya diri jika memakai pakaian seperti ini di depan umum.


"Bagus, kau harus memakai mini dress setiap hari ketika berada di rumah! Aku akan membeli seluruh model mini dress agar kau bisa memakainya setiap hari!" ucap Valko sambil memelukku dari arah belakang lagi.


Setiap hari? 😨 Jadi, ini balas jasa yang diinginkan Valko? Dia ingin aku memakai mini dress setiap hari dan lingerie saat malam hari? Valko, kau benar-benar mengeruk keuntungan untuk dirimu sendiri di setiap kesempatan! 😡 Dasar Licik! 😑


"Ganti bajumu lagi, Tupai!" perintah Valko. "Kau harus menemaniku pergi ke tempat lain!"


Valko mengambilkan kemeja, syal dan rokku yang tadinya tergantung di dinding. Kulepas mini dress itu lalu berganti pakaian lagi. Valko membuka pintu ruang ganti ini.


"Baik, Tuan," sahut Manajer itu. "Ada lagi yang bisa saya bantu?"


"Tidak! Kau boleh melanjutkan pekerjaanmu!" perintah Valko. Valko memakai kacamata hitam itu lagi. Aku juga kembali memakai kacamata hitam itu.


"Kita akan pergi kemana lagi, Hubby?" tanyaku dengan nada lembut sambil tersenyum.


"Aku ingin makan siang!" Valko menyeretku dalam lift.


Pintu lift kembali terbuka. Kurasa ini di lantai tiga. Nampak berbagai stand makanan dari merek lokal hingga merek terkenal dari luar negeri ada di sini. Valko menuntunku berjalan kembali, dia menuntunku menuju ke suatu tempat makan. Para pengawal itu tentu saja mengikuti dengan setia.


Langkah Valko berhenti di sebuah stand makanan. Ini adalah sebuah toko roti semacam bakery. Nampak roti-roti lezat tersusun di dalam etalase kaca. Valko membawaku masuk ke dalamnya lewat sebuah pintu kaca. Pada pintu kaca itu ada tulisan "Welcome to Vani's Cake and Icecream Land'.


Vani? Itu kan nama neneknya Valko dari jalur ayah. Astaga, jadi setiap anggota keluarga Valko punya bisnis, ya? 😮 Pantas saja keluarganya kaya raya. Itu sebanding dengan usaha yang didirikan.

__ADS_1


"Tuan Valko!" sapa seorang pria tambun dengan kemeja merah tua dan celana biru dongker. "Suatu kehormatan Anda berkunjung kemari."


"Aku ingin meninjau usaha ini sekaligus makan siang di sini!" ucap Valko sambil melepas kacamata hitamnya. Ada pin bertuliskan 'Manager' di pakaiannya.


"Tentu, Tuan. Silahkan!" Manajer itu mempersilahkan duduk di meja yang terletak tengah-tengah ruangan.


Meja di ruangan ini berwarna putih. Sebagai pasangannya ada kursi panjang warna putih dengan alas duduk warna pink. Nuansa ruangan ini putih dan pink. Dindingnya berwarna putih dipadukan dengan kursi dan meja yang berwarna putih. Kesan pink timbul dari lukisan ehm...kurasa ini lukisan pohon bunga sakura Lukisan iti terlukis di setiap sudut di dinding ruangan ini. Suasananya nyaman tapi elegan.


Stand makanan ini nampak ramai. Meja-meja penuh dengan pengunjung yang menikmati kue dan es krim. Para pengawal yang mengikuti berjaga dengan setia di luar stand.


"Mau pesan apa, Tuan?" tanya seorang pelayan wanita berpakaian kemeja putih dengan celana warna pink.


Kulihat daftar menu itu. Nama kuenya asing semua. Ada lava cake di sini! Sepertinya enak! 😍


"Saya pesan lava cake dan es krim rasa vanila," ucapku. "Eh!" mataku tertegun. Valko tiba-tiba sudah berbaring dengan kepala menyandar di pangkuanku.


"Aku pesan menu favoritku! Tanya pada manajemurmu!" perintah Valko.


"Baik, Tuan," pelayan itu meninggalkan kami.


"Pijat kepalaku...." celetuk Valko. Aku pun melakukan perintahnya.


Kedua tanganku memijat kepala Valko dengan pelan dan lembut. Valko memejamkan matanya. Pengunjung lain nampak menatap ke arahku. Kurasa mereka heran dengan sikap Valko yang sangat santai dan dengan percaya diri bersikap seperti ini di depan umum. Valko nampak tak bergerak. Apa dia benar-benar tertidur? 😮


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2