
(Valko Varrel Wijaya's Point of View)
Kejadian itu tak dapat kulupakan, masih teringat jelas di benakku. Kejadian yang tak lekang dari ingatanku meski sudah berganti tahun berulang kali. Malam itu seharusnya saat yang membahagiakan untukku tapi ternyata nasib berkata lain.
"Sayang!" suara itu membangunkanku dari alam tidurku. "CEPAT BANGUN!" ia mengguncang-guncang tubuhku. Aku yang masih setengah sadar akhirnya terbangun.
"Ada apa, Ma?" tanyaku sambil mengucek-kucek mata.
BRAK!!! BRAK!!! Terdengar suara pintu terus berusaha didobrak paksa.
"Cepat sembunyi! Apapun yang terjadi jangan keluar!!" ucapnya padaku. "Ingatlah, Mama selalu mencintaimu! Kelak kau harus menemukan wanita yang baik yang sebagai pendampingmu kelak. Saat kau sudah menemukannya, jangan lupa perkenalkan dia ke Mama, ya!" aku tak mengerti apa yang dikatakan Mama waktu itu. Dia memelukku dan mencium dahiku.
Aku disembunyikan di kolong tempat tidur. Aku terbaring tertelungkup sambil memeluk sebuah bantal di kolong tempat tidur ini. BRAK! Nampak pintu berhasil di dobrak paksa.
"HAHAHA! Ada wanita cantik di sini!" terdengar suara seorang pria.
"Mau apa kalian? HAH!" terdengar suara Mama.
"Wanita yang galak, Bos!" terdengar suara pria lain.
"Serahkan hartamu...." terdengar suara pria lain lagi.
"TOLONG! TOLONG! TOLONG!" terdengar suara teriakan Mamaku.
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! Terdengar suara tembakan yang memengkakkan telingaku. BRUK! Aku tak percaya apa yang ada di hadapanku. Nampak Mama jatuh ke lantai. Darah merah mengalir dari tubuhnya. Tubuhku gemetar seluruhnya, aku ingin berteriak tapi entah mengapa suaraku seakan hilang.
"Wanita kaya, sayang dia memilih tempat yang salah untuk menginap! Hahaha!" terdengar suara pria lain lagi.
"Jangan pernah menyewa rumah yang terpencil sendirian, hahaha!" terdengar suara pria lagi.
"Barang-barang berharganya hanya sedikit, Bos. Bos, apa yang akan kita lakukan pada wanita ini? Dia cantik lho, Bos. Meski sudah jadi mayat. Hahaha!" terdengar suara pria yang berbeda.
"Kita akan berpesta malam ini! Hahaha!" ucap pria yang nampaknya pemimpin kelompok ini.
Jangan! Jangan! Apa yang kalian lakukan? Nampak tubuh Mamaku dilucuti pakaiannya. Para pria itu menodai Mamaku. Mama digilir secara bergantian.
"Hahaha! Meski sudah jadi mayat tapi wanita ini lezat juga!" ucap pria itu.
"Iya, Bos!" ucap pria lain.
"Ayo, kita pergi dari sini!" ucap pria yang satunya. Mereka pergi.
Jantungku berdetak amat kencang. Aku ingin berbicara tapi tak bisa. Suaraku tak keluar, tubuhku gemetar. Aku berusaha keluar dari kolong tempat tidur ini.
"MAMA!" teriakku kencang. "MAMA!" aku menangis sangat kencang sambil mengguncang-guncang tubuh Mama.
Apa salah Mama? Mengapa Mama harus mengalami hal ini? Nampak tubuh Mama bersimbah darah merah. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku hanya menangis sambil terus mengguncang-guncang tubuh Mama.
__ADS_1
"Astaga, apa yang terjadi?" nampak orang-orang mulai datang ke tempat ini. Aku tak tahu siapa yang memanggil mereka.
"Dek, yang sabar, ya!" seorang wanita memelukku. "Ibumu sudah meninggal. Sabar, ya!" ucapnya sambil menjauhkanku dari tubuh Mama.
"Mama! Mama!" aku terus-menerus memanggil Mama. Tubuh Mama nampak ditutupi kain sprei kamar ini. Aku dibawa keluar dari ruangan ini.
"Parrel! Valko!" nampak suara memanggilku.
Ternyata itu Opa Dedy, Oma Wulan dan Kakek Wijaya. Mereka memelukku, aku hanya bisa menangis dan menangis terus-menerus. Kurasa aku lelah sehingga tak terasa aku tertidur. Hari tetap saja berganti tak terasa sudah pagi kembali. Aku tak menyangka hal ini begitu cepat terjadi.
"Sabar ya, Nak! Sabar!" Oma Wulan terus menenangkanku.
Nampak jenazah Mama sudah dimasukkan ke dalam lubang kuburan. Aku terus menangis dan menangis. Papa, Papa dimana? Kenapa Papa belum kembali? Prosesi pemakaman sudah selesai, nampak kayu bertuliskan nama mamaku 'Parama Purnomo'. Aku terus-menerus memegangi kayu itu sambil menangis.
"Sudah, Valko! Ayo, kita pulang!" Kakek Wijaya menarik tanganku dengan paksa. "Cowok tak boleh cengeng!" ucapnya sambil terus menyeretku menuju mobil.
Mama, Mama, panggilku dalam hati sambil menoleh ke arah makam itu. Aku ingin melawan tapi rasanya aku tak memiliki kekuatan. Akhirnya, mobil ini sampai di rumah.
"Dimana anak itu?!" terdengar suara yang kukenali. Itu suara Papa, Papa akhirnya pulang. Papa, akhirnya pulang. Aku merasa sangat senang saat itu.
"Papa...." aku memanggilnya dengan suara lemah. Tanganku hendak memeluknya.
PLAK!!! Pipiku terasa sakit dan panas. Satu tamparan diarahkan ke pipi kananku. DUAK!!!! Satu tinjuan tangan diarahkan padaku. Tubuhku langsung jatuh terpental ke dinding. Pipi kiriku terasa amat sakit, pukulan tangan itu mengenai pipiku.
Papa, apa salahku? Mengapa Papa melakukan ini? Aku tak memiliki keberanian untuk melawan Papa. Papa berdiri di hadapanku dengan aura yang mengerikan. Matanya menatapku dengan tajam.
"KENRICK!" terdengar suara Kakek Wijaya. "Apa yang kau lakukan? Dia anakmu!" Kakek Wijaya memegang tubuh Papa.
"MINGGIR, AYAH!" teriak Papa sambil mendorong tubuh Kakek Wijaya. Tubuh Kakek Wijaya tersungkur ke lantai.
"Tuan!" terdengar suara pegawai rumah mendekat kemari. Keduanya berdiri di depan Papa.
"Tolong hentikan, Tuan!" terdengar suara seorang pria.
"Tuan Valko masih kecil, beliau tak tahu apa-apa!" terdengar suara seorang wanita.
"PARREL!" terdengar suara memanggilku. Aku dipeluk oleh kedua orang ini. "Jangan takut, Nak. Ada Opa dan Oma!" ucap Oma Wulan.
"MINGGIR!" teriak Papa.
Papa berlalu pergi begitu saja. Peristiwa itu terus tergiang di kepalaku. Setiap malam aku tak bisa tidur. Aku terus teringat suara tembakan pistol dan para penjahat itu. Aku takut jika ada yang menyakitiku lagi saat aku sedang tidur. Beragam obat dan metode dari dokter sudah kucoba. Tapi, aku tetap saja tak bisa tidur nyenyak dalam waktu yang lama. Hingga aku menemukan sosok di sampingku ini.
Zeta Belvia Nugraha, dulu aku menikahinya hanya untuk memancing Vio. Siapa sangka pelukannya terasa hangat seperti pelukan Mama. Dia kujuluki Tupai. Yah, dia cerdik seperti Tupai. Meski kecil tapi dia dapat menipuku dengan lincah layaknya kecerdikan seekor tupai.
Aku menghela napas, dia sempat mengelabuiku ketika pernikahan. Aku tahu jika sebenarnya kulitnya tak hitam. Sebelum menikah tentu aku diberi fotonya oleh Kakek Wijaya. Dia gadis berkulit putih dengan mata bening yang menawan. Tapi, saat pernikahan justru gadis berkulit gelap yang ada. Dia pasti sengaja mengelabuiku. Tapi kubiarkan dia, dia kan hanya mainanku saja. Siapa sangka sekarang justru aku tak ingin melepaskannya.
"Valko!" panggilnya. Dia selalu memanggil namaku, dia hanya memanggil Cayang ketika sedang merajuk atau meminta sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa?" ucapku lewat headphone di helikopter ini.
"Kemana kau membawaku? Kita sedang naik helikopter kan? Kau tak bermaksud membuangku dari ketinggian kan?" tanyanya.
Ck! Apa kau pikir aku akan jahil hingga seekstrim itu? Dasar Tupai! Tak bisakah kau tak berprasangka buruk padaku? Aku menghela napas. Dia tak salah, dulu aku memperlakukannya dengan kasar. Wajar jika dia masih berprasangka negatif padaku.
"Bagaimana bisa kau berpikir itu terjadi?" sahutku. Kusentil dahi Si Tupai Kecil ini.
"Sakit, Valko!" dia memegangi dahinya.
"Hentikan prasangka burukmu padaku!" ucapku lagi. Tak terasa helikopter ini sudah mendarat. Petugas melepas sabuk pengamanku dan Zeta.
"Bisakah aku membuka penutup mata ini sekarang?" Zeta memegangi sapu tangan hitam itu.
"Jangan!" sahutku sambil menggendongnya lagi. Kubawa dia turun dari dalam helikopter ini.
"Valko, kita di dalam mobil, ya? Kau ingin membawaku kemana, sih?" tanya Zeta lagi.
"Kau akan tahu sebentar lagi!" jawabku sambil memeluknya dengan erat.
Mobil sudah melaju meninggalkan area helipad itu. Mobil melaju melalui jalan pegunungan yang berkelok-kelok. Mobil ini turun ke daerah yang lebih datar.
"Valko, tak bisakah aku mengintip sedikit saja? Boleh, ya! Boleh, ya! Please!" ucap Zeta lagi.
"Sabarlah, kita akan segera sampai!" dari kejauhan nampak tempat itu. Tempat yang paling spesial dari semua tempat yang dimiliki oleh keluargaku.
"Kita sudah sampai, Tuan!" ucap May sambil membukakan pintu mobil. Aku menggendong Si Tupai Kecil ini.
"Boleh aku membuka penutup mata ini sekarang?" ucap Zeta.
"Sebentar lagi, sabarlah!" aku menggendongnya memasuki area itu.
Nampak sebuah padang rumput hijau menghampar. Di sana tempat bersemayamnya para leluhurku. Ini adalah komplek peristirahatan terakhir khusus untuk keluargaku. Aku menggendong Zeta menuju salah satu makam.
"Sudah sampai!" ucapku. Kududukkan Zeta di atas rumput di tepi makam. Kulepas ikatan penutup mata itu.
"Valko...ini...." Zeta tertegun. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangan mungilnya mengusap batu marmer penanda makam itu. Mama, aku datang membawa menantumu....
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1